Sumber: Kompas.

Siang hari itu Alimun memperlihatkan buah-buah kakao dari kebunnya di Desa Bobo, Kecamatan Palolo, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Dengan bangga ia menunjukkan buah-buah kakao yang rata-rata sebesar buah pepaya lokal.

Buah kakao itu ada yang berwarna kuning, ada yang merah tua. Semuanya tampak segar. Ini jauh berbeda dibandingkan dengan buah kakao biasa yang kecil dan kulit buahnya mengerut. Perbandingannya, bila 1 kilogram kakao lokal berisi 25 buah, kakao dari kebun Alimun 10-16 buah.

Buah-buah kakao di kebunnya adalah hasil sambung samping dan persilangan antara bibit kakao lokal dan bibit asal Jember dan dari beberapa daerah lain. Persilangan dan sambung samping dilakukan sendiri oleh Alimun.

Ada dua alasan mengapa ia bersemangat menerapkan sistem sambung samping pada tanamannya. Pertama, akibat serangan hama penggerek buah yang sudah bertahun-tahun menyerang tanaman kakao petani setempat dan hampir semua petani kakao di Sulteng. Hasilnya, selain mendapat batang dan buah baru dari pohon yang sama, hama penggerek buah juga sedikit demi sedikit teratasi. (more…)

Sumber: Kompas.

Tiap kali angin musim barat dan angin musim timur berembus, wilayah pesisir pantai Rembang, Jawa Tengah, selalu bergejolak. Nelayan tidak melaut, tambak-tambak rusak, dan sejumlah permukiman diempas gelombang pasang.

Peristiwa itu terjadi sejak 48 tahun silam. Waktu itu, warga pesisir pantai membabat habis mangrove untuk tambak bandeng. Hal serupa terjadi pada era 1990-an tatkala budidaya udang windu merebak. Warga kembali menebangi mangrove untuk memperluas tambak. Tak heran jika keberadaan mangrove di pesisir sepanjang 60 kilometer itu sangat minim.

Dari enam kecamatan yang masuk kawasan pesisir, sabuk hijau mangrove hanya terpusat di tiga desa dalam tiga kecamatan. Wilayah itu adalah Desa Tungulsari (Kecamatan Kaliori), Desa Pasar Bangi (Kecamatan Rembang), dan Desa Dasun (Kecamatan Lasem). Di tiga daerah itulah warga pesisir dapat tidur nyenyak. Gelombang pasang tak lagi segarang dulu. Para petani garam dan petambak pun dapat bekerja dengan tenang. (more…)

Sumber: Kompas.

Lasem, kota tua berhawa panas di pesisir utara Jawa Tengah pada tahun 1961. Seorang hoakiao muda membuat udara Lasem tambah gerah setelah mempersunting gadis Jawa, putri seorang panitera dan keponakan wedono dari Tulungagung, Jawa Timur.

Hoakiao—istilah untuk China perantauan—itu bernama Njo Tjoen Hian, putra perajin batik. Pernikahannya tersebut melawan arus masyarakat waktu itu, yang masih menganggap miring pernikahan antar-etnis dan antar-agama.

”Pada waktu itu perkawinan Tionghoa dan Jawa biasanya delik-delik (sembunyi-sembunyi). Sementara saya menikah resmi di catatan sipil,” kata Njo Tjoen Hian, yang sejak tahun 1959 lebih sering menggunakan nama Sigit Witjaksono ini.

Tentang namanya ini, Njo Tjoen Hian menjelaskan, ”Sigit Witjaksono itu merupakan versi bahasa Jawa dari Njo Tjoen Hian. Artinya sama, yaitu kebaikan dan kebijaksanaan.” (more…)

Sumber: Kompas.

Penampilannya biasa saja. Bahkan, sebagian orang yang belum mengenal dia merasa heran karena lelaki yang salah satu kakinya tidak lagi utuh itu tetap lancar mengemudikan mobil Nissan Terano. Dialah Paulus Tadeus Bambang Triono (61), juragan agen koran dan majalah tunggal di Nusa Tenggara Timur. Omzetnya sekitar satu miliar rupiah per bulan.

Untuk mencapai semua itu, kata Bambang, kuncinya sederhana saja, yakni semangat dan jangan pernah mengeluh. Menurut dia, keluhan itu merupakan awal dari kemiskinan.

Meskipun dia dilahirkan di Kota Solo, Jawa Tengah, tetapi pria ini mengaku sudah telanjur cinta dengan tanah Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia merasa kerasan tinggal di NTT bersama sang istri, Lucia Widihartati (61), dan kedua anak serta menantunya. Mereka tinggal dikelilingi ribuan ekor ayam dan beraneka jenis tanaman. (more…)

Sumber: Kompas, Rabu, 12 Maret 2008 | 00:41 WIB

Sore itu, Ing Han (62) menjelaskan cara menggambar prisma segi lima kepada Maya, murid les privatnya yang duduk di kelas I SMA. ”Kita mulai dengan prinsip menggambar sudut kelipatan 18 derajat tanpa memakai busur derajat,” ujar Ing Han sambil menggambar segitiga di papan tulis.

Tangan Ing Han menggores garis tanpa sekalipun mengangkat spidol. Ia menempelkan empat potongan magnet di papan tulis sebagai patokan. Tangan kanan memegang spidol, tangan kirinya menyentuh empat magnet itu untuk memastikan posisi. Hanya sesekali ia bertanya kepada Maya, apakah tanda yang ia gambar sudah berada pada tempat yang tepat.

Ing Han adalah guru les privat Matematika dan Fisika. Banyaknya siswa SMP dan SMA yang datang dari berbagai penjuru Jakarta ke rumah Ing Han di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, menunjukkan ia piawai di bidangnya. Tak hanya mampu menjelaskan ilmu ukur ruang, ia juga terbiasa mengerjakan soal atau menurunkan rumus di luar kepala. (more…)

Sumber: Kompas, Jumat, 29 Februari 2008 | 02:23 WIB

Menanam bakau di sepanjang pantai bukan perkara mudah. Bibit yang ditanam bisa tersapu ombak, dimakan ketam, atau dijahili tangan manusia, lalu hilang dalam sekejap. Tetapi, Muchson tanpa henti menghijaukan kembali kawasan tempat tinggalnya di Wonorejo, Surabaya, Jawa Timur.

Kenyataannya, Muchson tidak hanya telah menanam sekitar 10.000 bakau (mangrove) di sepanjang 1,5 kilometer di tepian Sungai Wonokromo, tetapi dia bahkan mampu menjadikan bakau memiliki nilai tambah. Dari tangannya, bakau tidak hanya menjadi pelindung pesisir pantai, tetapi juga bisa dijadikan produk yang bernilai jual dan laku di pasaran. (more…)

Sumber: Kompas, Senin, 14 April 2008 | 01:02 WIB

Tradisi yang membekas pada masa lalu, bagi sebagian orang, seperti ingatan. Itulah yang mendorong Djoko Sri Yono membuat reproduksi wayang beber yang pernah populer pada masa Kerajaan Majapahit hingga Mataram pada abad ke-18. Pertunjukan wayang beber kini mati suri. Wayang bebernya pun kondisinya memprihatinkan karena tinggal beberapa dan lapuk dimakan usia.

Sejak akhir 2007 Djoko Sri Yono menggali kembali tradisi melukis wayang beber yang pernah dia tekuni 45 tahun silam. Ia membuat babon atau master wayang beber dengan kisah Joko Kembang Kuning, cerita asmara Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji yang terdiri dari 24 jagong (lembar). Babon itu berbentuk tracing dari bahan plastik bening, yang digambari kontur dengan tinta china.

”Setelah 24 tracing ini selesai, saya baru menggambarnya satu per satu di atas kain. Kalau sudah komplet akan saya pamerkan. Saya tunjukkan, ini lho wayang beber yang sesuai pakem,” paparnya.

Ia membuat babon berdasarkan foto reproduksi wayang beber yang menjadi artefak di Desa Karangtalun, Kecamatan Donorejo, Pacitan (Jawa Timur), serta yang ada di Desa Gelaran, Kabupaten Gunung Kidul (Yogyakarta) sebagai perbandingan. (more…)

Sumber: Kompas.

“Saya juga tidak tahu. Saat itu air sudah di atas kepala. Saya juga sudah tidak bisa bergerak karena kaki luka. Saya hanya berpegangan pada balok kayu agar tidak tenggelam. Tahu-tahu, alat itu muncul ke permukaan. Entah bagaimana bisa terlepas dari setang kemudi Vespa,” ujar Ismail Sarong (61) saat ditemui di rumah barunya di Kampung Pande, Kutaraja, Banda Aceh, Oktober lalu.

Bagi Ismail, kemunculan alat musik tiup seurune kalé miliknya dari dalam air saat tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam, 26 Desember 2004, merupakan mukjizat. Dia sudah tidak memikirkan lagi alat itu. Yang terpikirkan kondisi keluarganya, istri dan kelima anak perempuannya yang ditinggal di rumah saat bencana itu melanda. “Hanya itu yang saya pikirkan,” ujarnya. (more…)

Usianya sudah hampir 90 tahun. Kerut di raut wajah, rambut bahkan alis pun memutih, tetapi ia masih tetap bersemangat saat diajak berbincang. Tuturnya lugas dan blak-blakan.

Baba Gendu, demikian lelaki kelahiran 10 Agustus 1916 ini biasa dipanggil warga Kampung Poncol, Bekasi Timur. Di usia tuanya, Baba Gendu menangani dan mengobati ratusan pasien cacat mental dan gangguan jiwa, yang ditampung di pantinya, Yayasan Galuh Rehabilitasi Cacat Mental, di Jalan M Hasibuan, Margahayu, Bekasi Timur. Sebuah kegiatan yang sudah dijalankan Baba Gendu sejak 23 tahun silam.

Ditemui Sabtu (2/7) di panti sekaligus tempat tinggal bagi 220 pasien dan rumah bagi sekitar 20 pengurus panti, Baba Gendu bertutur, beberapa pejabat yang pernah berkunjung ke panti rehabilitasi ini kerap mengeluh soal kebersihan dan kelayakan panti ini. (more…)

Apakah arti koran bekas, ataupun kertas bekas pembungkus semen? Soalnya memang pada kreativitas. Di tangan M Yusuf, pria berusia 35 tahun, barang-barang itu ia manfaatkan sebaik-baiknya, tidak sekadar menjadi penghuni tong sampah.

Ia mengolah koran bekas maupun kertas bekas pembungkus semen menjadi hiasan, yang barangkali bahkan menjadi hiasan yang menghuni ruang tamu mewah. Dia juga mampu mengolah kertas bekas menjadi sandal, yang barangkali dipakai oleh sementara kalangan untuk “tampil beda”. (more…)

Next Page »