Sumber: Kompas.

Murjiyo (63) sungguh tak menyangka. Dari usaha sederhana memurnikan lima kilogram benih padi menthik wangi, kini ratusan hektar lahan di berbagai daerah telah ditanami padi organik. Akhirnya, bumi kita dapat bernapas sedikit lebih lega.

Tahun 1980 merupakan tahun yang berat bagi Murjiyo, petani di Dusun Paten, Sumberagung, Jetis, Bantul, DIY. Didasari keinginan untuk menyelamatkan tanah, Murjiyo merombak kembali sistem olah tanam. Sistem baru ini ia namai ”kembali ke cara nenek moyang kita”.

Selama dua minggu menjelang masa tanam, ia membawa kotoran sapi basah, setumpuk jerami, dan dedaunan ke sawah, campuran itu diaduk pada lahan basah dengan bajak. Ia membajak sawah hingga dua tahapan sehingga campuran bahan-bahan tersebut berproses membusuk selama 14 hari.

Warga setempat sempat menyebut Murjiyo orang aneh karena memasukkan kotoran ternak dan jerami ke lahannya. Namun, ia hanya diam.

Lima kilogram padi menthik wangi, yang dibeli dari seorang petani di Sleman, ditanamnya pada lahan itu.

Hasil panen perdana memang tak sebanyak saat Murjiyo masih memanfaatkan pupuk urea. Pada keluasan satu hektar, hasilnya hanya empat ton gabah, atau 1,3 ton lebih sedikit dibanding hasil panen terdahulu.

Namun, pada masa tanam berikutnya, Murjiyo menyaksikan perubahan pada alam. Tanah yang merah dan keras itu berangsur lebih hitam dan lembut. ”Ahh… ini berarti kandungan humus di tanah mulai bertambah. Struktur tanah yang semula telah kembali,” ujarnya antusias.

Murjiyo makin semangat bertanam dengan bahan-bahan alami. Tak hanya kotoran sapi dan jerami, berbagai jenis tumbuhan lain pun dibawanya ke sawah sebagai racikan pupuk alami. ”Saya sampai dibilang gila karena membawa segala macam tumbuhan ke sawah, seperti orang yang putus asa karena hasil panennya hanya sedikit,” ujarnya.

Menjelang tahun 1990 hasil panennya terus meningkat hingga 5,5 ton per hektar atau melampaui hasil panen anorganik saat itu yang rata-rata 5,3 ton per hektar. Bahkan, saat ini hasil panennya rata-rata 5,8 ton per hektar.

Mandiri

Hasil yang dicapai Murjiyo sedikit banyak menumbuhkan kesadaran di kalangan petani memperjuangkan hak kemandirian dan kemerdekaan petani, khususnya dalam menentukan nilai jual gabah. Menurut Murjiyo, petani organik berhasil melepaskan diri dari ketergantungan pada pasar. Kualitas gabah organik sangat baik sehingga petani memiliki posisi tawar yang tinggi terhadap pembeli.

Meski saat ini harga beras organik semakin mahal, konsumen tidak berkurang. Harga beras rojolele sudah naik dari Rp 5.000 menjadi Rp 6.500 per kilogram.

Tak hanya pupuk, pembasmi hama dan penyakit dibuat dari tumbuhan dan kotoran hewan. Hingga kini, Murjiyo berhasil menciptakan 87 resep pembasmi hama dan penyakit, serta 16 resep pupuk kompos, pupuk cair, dan perangsang tumbuh. Semuanya berbahan alami dan dibantu proses pembusukan dengan biolahang, yaitu campuran air nira dan cacahan batang pisang.

Sebanyak 13 varietas benih padi organik jenis lokal juga berhasil dikumpulkan Murjiyo lewat pencarian ke berbagai daerah, antara lain rojolele, rening, dusel, andelabang, andelrantai, sampangantal, sirendah, jago, superwin, dan mayangsari.

Baru-baru ini wilayahnya ditanami 48 varietas benih padi organik lokal atas kerja sama dengan Retoe Boemi, beranggotakan para mahasiswa. Benih-benih ini lalu ditangkar dan sebagian hasilnya disebar ke petani lain untuk ditanami. Berbekal kerja sama dengan komunitas mahasiswa pertanian dan paguyuban petani pemandu, sebanyak 48 varietas padi lokal kini ditangkar di desanya.

”Januari nanti, koleksi padi lokal di sini akan bertambah 25 varietas lagi, didatangkan dari Kalimantan Barat,” tutur suami Legiyem (58), dan ayah dari Eko Purwadi (37), Rahmat Nurdianto (35), dan Didi Krismianto (33).

Berbagi

Di Bantul, setidaknya minimal 100 hektar lahan telah ditanami padi organik murni. Banyak petani, kalangan akademisi, maupun kalangan dinas pertanian dari luar daerah mendatanginya untuk studi banding.

Murjiyo tanpa enggan membagi benih padi dan resep pupuk dan pembasmi hama organik bagi siapa saja yang mau bertanam organik.

Sebagian lahan pertanian di Kalimantan Barat kini telah menerapkan pertanian organik. Begitu pula di wilayah Lampung, Sumatera Utara, Jombang, Trenggalek, Tulungagung, Kebumen, Lombok, Sragen, Sukoharjo, dan Karanganyar, mulai dikembangkan menjadi lahan yang dipulihkan. Mereka semua belajar dari Murjiyo dengan datang ke tempat petani itu atau mengundang dia ke tempat mereka.

Melalui upayanya menyelamatkan alam, Murjiyo mendapat juara pertama Kalpataru Provinsi DIY Tahun 2003, dan Peringkat 10 Tingkat Nasional Tahun 2004. Ia sendiri masih mengetuai Paguyuban Petani Penangkar Benih Provinsi DIY.

Katanya, jika kita bisa memulihkan kembali tanah yang subur seperti dahulu, kenapa tidak dilakukan. Dan, bumi pun akan bernapas sedikit lebih lega. []