Sumber: Kompas.

SAMPAH jadi uang! Batok kelapa yang dibuang begitu saja dalam dua tahun terakhir ini berhasil diolah Hariyono Purwanta (35) untuk dibuat menjadi berbagai model tas. Hasil kerajinan batok kelapanya itu tak hanya menjadi monopoli di pasar lokal, tetapi juga ke pasar ekspor, seperti Malaysia dan Iran.

Hariyono, yang selama ini menitipkan hasil karyanya kepada rekannya untuk dipamerkan, kini mulai kewalahan memenuhi order, baik dari dalam maupun luar negeri. “Baru-baru ini ada pembeli dari Iran berminat membeli tas berbagai model. Sebagai tahap awal, calon pembeli itu telah memboyong minimal 50 jenis tas dari batok kelapa ke negaranya. Informasinya, tas berbahan baku batok kelapa seperti ini pasarnya di negara itu sangat potensial,” kata pelaku usaha kecil yang sudah menggeluti usaha peternakan ayam dan pupuk organik itu.

Sebelum menjadi pengusaha tas, Hariyono telah menjajal bisnis pengolahan pupuk organik tanpa bantuan modal dari perbankan dan keluarga. Bisnis yang digeluti memang tidak jauh dari latar belakang pendidikannya di bidang pertanian, Jurusan Agronomi, yang pernah ditekuni di Universitas HOS Tjokroaminoto, Yogyakarta, meski kandas di tengah jalan.

Sejak terjun ke sektor kerajinan batok kelapa, Hariyono memang agak keteteran menggarap pengolahan pupuk organik sehingga mulai ditinggalkan. Pasalnya, mengerjakan tas batok kelapa bukan pekerjaan mudah. Sebab, untuk membuat tas dari batok kelapa, dibutuhkan ketekunan dan keseriusan. Untuk mendapatkan 500 bulatan kecil seperti kancing, dibutuhkan waktu enam hari bagi seorang pekerja.

Kebutuhan batok kelapa pun terus meningkat karena untuk satu karung besar dengan berat 100 kilogram bisa dikerjakan dalam empat hari. “Bahan baku memang mudah diperoleh karena banyak warga yang sudah datang menjual batok kelapa ke sini. Pokoknya sampah sudah jadi duit,” katanya.

TAS yang dibuat Hariyono bersama sekitar 20 perajin diberi merek dagang UD Sumber Makmur. Produk tas batok kelapa ini membuat Hariyono berbeda dengan pengusaha tempurung lainnya di Yogyakarta dan Surabaya, Jawa Timur. Keunggulan buatan Hariyono terletak pada desain produknya yang lebih variatif ketimbang produk serupa yang dibuat oleh pengusaha lain.

Ayah dua anak ini mulai menekuni bisnis tas berbahan baku tempurung sejak dua tahun lalu. Bermodal Rp 16 juta, Hariyono memulai membeli mesin untuk proses produksi. Hariyono, yang sebelumnya juga sudah berbisnis pupuk, mulai belok ke usaha tas berbahan baku tempurung kelapa ini setelah mendengar informasi bahwa peluang pasar produk kerajinan ini di tingkat nasional maupun ekspor cukup kuat. Dengan mesin yang ada, Hariyono bisa menghasilkan produk kerajinan antara lain kalung, gelang, tempat telepon genggam, meja, dan berbagai pernak-pernik yang semuanya terbuat dari tempurung kelapa. Saat memulai usaha, Hariyono dibantu oleh seorang pekerja. Maklum, karena pada waktu itu mesin untuk berproduksi hanya dua. Seiring dengan perkembangan waktu, order pun terus bertambah dari berbagai kota di Indonesia sehingga mesin produksi pun terus bertambah. Kini sedikitnya Hariyono berhasil membuat usahanya lebih besar sehingga mampu menampung 20 tenaga kerja.

Besarnya jumlah tenaga kerja yang mereka pakai adalah karena pada umumnya proses produksi masih banyak yang manual, kata Hariyono. Proses pembuatan tas dari tempurung secara manual ini menyebabkan proses produksi memakan waktu enam hari, yang dikerjakan oleh satu orang. Prosesnya dimulai dari memotong tempurung berbentuk seperti kancing, dihaluskan, ditempel pada satu media, kemudian dihaluskan lagi pada sisi luar, lalu dijahit dengan tangan. Semuanya dilakukan dengan tangan agar memperoleh hasil yang rapi.

Proses produksi inilah yang membuat produknya bisa laku di pasar karena selain unik, pembuatannya juga halus. Beda jika dilakukan dengan menggunakan mesin, sentuhannya pasti tidak serapi dengan menggunakan tangan, yang biasanya jauh lebih terampil.

Keyakinan untuk banting setir ini ternyata berbuah hasil. Dewi Fortuna mendekatinya ketika untuk pertama kali produknya dipamerkan di Forum Kesenian Yogyakarta VIII Tahun 2003. Di ajang pameran itu produknya mendapat sambutan positif. Di pameran itu dia mulai menerima banyak pesanan dari Jakarta, Surabaya, bahkan orang asing membeli langsung ke tempat usahanya.

Pemasaran dilakukan bersama-sama dengan istrinya, Riyanti Tri Utami. “Saya pernah mendapat order membuat 150 tas. Itu order terbesar yang pernah saya dapat,” ujarnya. Kemampuan membuat tas masih sangat minim, yakni 250 tas dengan 55 model per bulan ditambah pernak-pernik lain karena mesin yang dimiliki masih sedikit. Harga tas buatan Hariyono Rp 40.000-Rp 250.000 per buah, sedangkan harga meja kecil yang dibuatnya Rp 400.000.

Padahal, jika ada order 1.000 tas saja setiap bulan, minimal 350 pekerja bisa menggantung hidup pada usaha kerajinan batok kelapa itu. “Saya ingin meningkatkan kapasitas produksi karena pesanan luar biasa banyak. Apalagi beberapa konsumen dari Timur Tengah mulai melakukan order. Cuma, saya sulit memenuhi karena tidak cukup modal untuk membeli mesin yang harganya di atas Rp 10 juta per unit,” ujarnya.

Tak jarang ia bersama istrinya harus pontang-panting ke sana-kemari untuk mencari modal awal memenuhi permintaan pembeli karena barang tidak tersedia. “Kalau ada bantuan modal, mesin bisa saya tambah. Otomatis tenaga kerja yang terserap pun akan bertambah, terutama bagi lingkungan sekitar,” kata Hariyono yang juga memasarkan produknya melalui beberapa koperasi di Yogyakarta. []

About these ads