Sumber: Republika.

George Bush asyik menikmati pementasan wayang golek di sebuah hotel berbintang pada awal-awal 1990-an. Di penghujung pementasan, sang dalang memunculkan dua wayang golek bule. Terjadi dialog antara wayang berwajah pribumi dan wayang bule itu.

Sebagai tuan rumah, Semar menyatakan kesenangannya menerima tamu asing, datang dari negeri yang jauh. Sang tamu pun menyatakan kesenangannya. Cerita berakhir, pertunjukan usai. Tepuk tangan terdengar di ruang pertunjukan. Bush –ayah George W Bush, presiden AS saat ini– yang merasa terkejut dan senang menyaksikan sosok dua wayang golek bule itu, segera diundang ke atas panggung.

Presiden ke-41 Amerika Serikat (AS) itu pun menerima dua wayang golek bule yang tadi dimainkan sang dalang, Tizar Purbaya. Sambil memegang wayang, Bush turun dari panggung, masih dengan mengulum senyum. Bush tersanjung, karena dua sosok wayang bule itu mirip dengan dirinya dan istri dia, Barbara Bush. Wayang golek mirip Bush dan Barbara itu sengaja dibuat Tizar Purbaya untuk menyambut kedatangan Bush. ”Ada organizer yang memesan,” kata Tizar.

Mendalang dan membuat wayang golek sudah dijalani lebih dari separuh perjalanan hidup pria berusia 56 tahun ini. Wayang golek pula yang membawanya berkelana ke berbagai negara. Amerika, Belanda, Jepang, India, hingga ke perbatasan Laos-Thailand sudah dijelajahinya untuk mementaskan wayang golek. Dari kegiatannya mendalang melanglang buana itu, ia pun berkenalan dengan wanita Swiss, yang kemudian ia nikahi, dan dikaruniai dua anak.

Dalam perjalanan mendalang ke berbagai negara di Amerika dan Eropa, Tizar membawa lebih 100 buah wayang. Pementasan hari pertama, di Amerika, wayang yang dibawanya habis. Semua dibeli penonton. ”Yang tersisa hanya yang buat dimainkan. Pementasan hari kedua saya tidak punya wayang yang dipajang,” tuturnya.

Beruntung, di negeri itu banyak orang yang mengoleksi wayangnya. Maka, ia pun meminjam wayang-wayang itu untuk dipajang. ”Mereka juga senang saya pinjam,” ucapnya. Selesai pertunjukan, wayang yang ia mainkan pun habis terjual. Dia hanya menyisakan beberapa wayang golek betawi untuk digunakan berceramah ke Belanda dalam perjalanan berikutnya.

Golek Betawi

Tizar tak hanya mendalang. Dia juga membuat wayang. ”Saya pernah belajar membuat wayang dari Aa Him di Bogor,” ucapnya. Tapi, ia mengaku tidak bisa meraut kayu dan membentuknya menjadi wayang. Dia hanya mendesain, orang lain yang meraut. Pada 1978, Tizar membuka stan khusus wayang golek di Pasar Seni Ancol, sebagai perajin. Dia juga membuka gerai di Jl Surabaya, Jakarta, hingga kini. ”Ini untuk menutupi kehidupan, tidak bisa mengandalkan dari seni.”

Pemesan datang dari dalam dan luar negeri. Tidak sedikit yang memesan wayang yang disesuaikan dengan wajah pemesan. Sampai akhir 1990-an, kerusuhan melanda Jakarta. Ada beberapa wayang yang sudah telanjur dibuat, tidak diambil oleh pemesannya. Tizar bingung. ”Kenapa tidak di-jadiin golek betawi aja,” dia terpikir. Wayang bule bisa jadi sosok Belanda dalam cerita semacam Si Pitung.

Gagasan itu ia sampaikan ke Gubernur Sutiyoso. Gayung bersambut. Pada 2001 Tizar mulai memainkan wayang golek betawi. Pementasan diiringi gamelan gambang kromong, dan bergaya lenong. ”Makanya saya sebut wayang golek lenong betawi. Buat saya, itu tidak sulit karena saya punya pengalaman masa kecil nonton lenong,” tuturnya. Beberapa waktu lalu, ia memainkan cerita Si Manis Jembatan Ancol di Gedung Fatahillah, disaksikan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.

Tizar tidak akan bergeser dari wayang, selama masih bisa dan masih ada panggilan. Dia yakin, ”Wayang tidak akan mati selama masih ada kehidupan karena wayang menampilkan kehidupan. Teknologi bisa digunakan untuk wayang atau wayang digunakan dalam teknologi.”

Duduk di kotak wayang

Mengaku hanya numpang lahir di Cikande, Banten, pada 1950, Tizar mengenal wayang justru di Jakarta. Dua bulan setelah lahir, ia diboyong ke Jakarta oleh orang tuanya. ”Ibu saya dari Banten, ayah Betawi,” ungkapnya.

Di Jakarta, akhir 1950-an dan awal 1960-an, masih banyak pementasan wayang golek. Tizar kecil hampir tak pernah melawatkan setiap kali ada pertunjukan wayang golek. Dia selalu berada di kotak, duduk di dekat dalang meski ia tidak mengenal sang dalang. Kerap membantu dalang menyiapkan wayang membuat Tizar hafal wayang yang dibutuhkan, sesuai alur cerita.

Masih di masa belia, Tizar pun sering membuat wayang golek dari tanah liat. Wayang-wayang itu ia mainkan sendiri. Tak heran, perjalanan waktu memuluskan ia menjadi seorang dalang. Pernah belajar dari almarhum Cakrabudaya, seorang dalang di Jakarta, tapi Tizar mengaku lebih banyak belajar dari pengalaman. ”Beruntung karena waktu kecil di Jakarta masih banyak tontonan wayang,” ucapnya.

Sempat bergabung dengan Teater Kecil pimpinan Arifin C Noer, di usia 24 tahun Tizar mengaku menjadi orang pertama yang mementaskan wayang golek sunda dalam Bahasa Indonesia. ”Waktu itu, tahun 1974, kan banyak orang ribut soal pengindonesiaan wayang. Kita main aja (pakai Bahasa Indonesia). Ternyata penonton rensponsif, semua orang mengerti,” katanya.

Di tahun-tahun itu pula ia membuat pementasan teater boneka, mengombinasikan wayang, teater, dan film. Pementasan menggunakan boneka dan wayang. Ada juga orang yang main, ada latar belakang film. Jadi, ”Boneka dimainkan dalang sampai akhirnya dalang jadi boneka,” kata dia.

Apa makna dari itu? Pria yang sudah bermain di lebih 40 film dan banyak sinetron ini bilang, ”Bahwa di atas dalang masih ada dalang lain yang lebih berkuasa. Jadi sebetulnya dalam kehidupan ini kita juga boneka yang diatur sama peraturan-peraturan.” []