Sumber: Kompas.

Di tengah gaung wacana bahan bakar minyak alternatif, diam-diam Aryanto (54), warga Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, telah melakukan langkah nyata. Sekitar sepuluh tahun lalu ia membikin bahan bakar dengan bahan minyak sawit mentah, dan kini ia mencoba bikin avtur dari bahan nabati.

Gara-garanya, ketika masih bekerja di Jakarta, ia diminta bosnya mencarikan avtur untuk pesawat aeromodeling milik anak bos.

“Kesulitan mendapatkan avtur membuat saya berpikir untuk membuatnya sendiri,” ujar Aryanto yang memang suka melakukan berbagai percobaan. Kesenangan melakukan berbagai percobaan itu ditunjang hobi membaca.

“Saya senang membaca buku teknik dan kimia,” ujar lelaki lulusan SMA ini. Bagi dia, rumah merupakan tempat berbagai percobaan. “Laboratoriumnya di meja makan,” ujarnya tertawa.

Dulu, ia membuat avtur dari bahan nabati. Tidak banyak memang, tetapi ia bisa melayani kebutuhan para pehobi aeromodeling. “Tiap Minggu saya berjualan di lokasi lomba aeromodeling dengan harga Rp 2.500 per botol. Dagangan saya laris manis,” tuturnya.

Namun, ia tidak meneruskan usaha ini. Bahkan, sekeluar dari bekerja di pabrik ban, ia justru menekuni pembuatan suku cadang kendaraan bermotor dengan bendera usaha AKASHU Inter. Itu akronim dari Allah Kuasa Atas Segala Hasil Usaha, Insya Allah Niat Tercapai.

Kini, usaha pembuatan suku cadang kendaraan bermotor memang masih berjalan. Namun, Aryanto kembali berkecimpung dalam pembuatan bahan bakar minyak (BBM) alternatif. Ini diawali dari “keluhan” seorang kepala bidang di Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislakan) Kabupaten Cirebon tentang kesulitan para nelayan untuk membeli BBM setelah harganya naik.

“Harga BBM yang mahal membuat nelayan memakai minyak tanah untuk mesinnya. Padahal, minyak tanah jelas-jelas bisa membuat mesin tidak tahan lama,” papar pria kelahiran Semarang yang beristrikan Anah Rohanah (44) ini.

Misel

Atas dorongan berbagai pihak, Aryanto berhasil memproduksi kembali temuan lamanya. Bahan bakar untuk mesin diesel ini dia buat dari minyak nabati dan formula bahan kimia dengan perbandingan 80:20. “Sebelumnya, pernah saya coba dengan berbagai perbandingan, tetapi akhirnya formula ini yang paling tepat,” tutur Aryanto. Untuk hasil percobaannya ini ia namai Misel, alias minyak diesel.

Ada dua macam minyak nabati yang digunakan dalam percobaan membuat Misel, yakni minyak sawit mentah dan minyak jelantah. Dua bahan ini sangat mudah didapatkan sehingga Aryanto yakin produksi dalam skala besar tidak akan dihadang kendala ketersediaan bahan baku.

“Untuk minyak sawit mentah, jelas kita termasuk negara produsen terbesar di dunia. Sedangkan untuk minyak jelantah, saya pernah mencari informasi ke beberapa pabrik makanan. Dan jumlahnya cukup besar,” ungkap kakek satu cucu ini. Bahan kimia yang ia gunakan pun bukan termasuk bahan yang langka.

Sebagai pembuktian, Aryanto sudah mengujicobakan hasil temuannya pada beberapa nelayan. Bahkan, ia pernah mencoba menggunakan Misel untuk menempuh jarak Cirebon-Muara Angke, Jakarta, dengan perahu motor. Hasilnya, Misel lebih hemat sekitar 40 persen dibandingkan dengan menggunakan solar atau minyak tanah. “Waktu itu cuma menghabiskan Misel sekitar 50 liter. Padahal, kalau memakai solar atau minyak tanah bisa habis kurang lebih 90 liter,” ujar Aryanto.

Selain hemat, hasil percobaan menunjukkan, penggunaan Misel membuat mesin tidak cepat panas. Bila dipasarkan, Misel buatan Aryanto berharga Rp 3.000 per liter.

Pertengahan Juli ini, atas fasilitas Dislakan Kabupaten Cirebon Aryanto memeragakan uji coba Misel di depan para tokoh nelayan dan petani. Dislakan pun memesan 1.000 liter untuk percobaan dalam skala lebih luas. Peluang pasar pun terbuka lebar mengingat untuk skala Kabupaten Cirebon saja kebutuhan BBM nelayan mencapai 75.000 liter per hari. Sedangkan untuk penggilingan padi dan traktor, kebutuhan bisa mencapai 24.000 per hari.

Saat ini, pesanan masih dia kerjakan secara manual. Namun, di rumahnya, Jalan Ki Jaka, Kecamatan Lemahabang, Cirebon, terdapat bagan instalasi produksi Misel dalam skala besar. Kendala satu-satunya hanyalah pada ketersediaan dana. Dalam perhitungan kasar, untuk produksi 200.000 liter per hari butuh modal sekitar Rp 2 miliar.

Terkait ini, Aryanto pernah ditawari modal oleh seorang pengusaha swasta. Namun, harapan utama tetap ia sandarkan pada pemerintah, mengingat masalah BBM menyangkut hajat hidup orang banyak. Agar idenya tidak dicuri, ia berencana untuk segera mematenkan hasil temuannya itu.

Ia juga membuat bahan bakar dari minyak jarak. Namun, untuk produk ini ia terkendala ketersediaan bahan baku. Sebagai orang yang senang melakukan berbagai percobaan, Aryanto gemas oleh kondisi Indonesia yang menurutnya kurang menghargai hasil karya anak bangsanya sendiri. “Apa harus jadi penyanyi dulu supaya hasil-hasil temuan saya ini diperhatikan?” ujar Aryanto bernada canda. []