Sumber: Kompas.

Selain menawarkan pesona alam, kawasan Danau Ranau di Sumatera Selatan juga menyimpan tradisi unik. Saat banyak kalangan nekat menangkap ikan dengan dinamit, racun, dan setrum listrik yang merusak ekosistem, sebagian masyarakat Ranau masih mempertahankan budaya memanah ikan yang ramah lingkungan.

Salah satu pelestari tradisi itu adalah Darul Qotni (32), pemuda yang kerap dijuluki raja pemanah ikan.

Mendung menyelimuti Danau Ranau di Kecamatan Banding Agung, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, suatu petang pertengahan November lalu. Puncak Gunung Seminung yang berdiri tegak di pinggir danau samar-samar di antara awan putih. Hamparan air danau membiru dan udara sedikit dingin.

Darul duduk tenang di tengah sampan kayu kecil yang bercadik satu. Adik bungsunya, Bendri (12), duduk di bagian depan sambil mengayuh sampan pelan- pelan menuju tengah danau. Sambil mencari lokasi yang diduga dihuni banyak ikan, Darul menyiapkan peralatan berburu.

Meski disebut panah, sebenarnya alat itu lebih menyerupai senapan laras panjang berbusur. Gagang kayu lurus sepanjang sekitar 0,5 meter menjadi tumpuan dan menggapit anak panah. Anak panah dari kawat dengan mata runcing (tempulai) itu ditarik dengan tali karet yang dihubungkan dengan pelatuk di bagian bawah gagang. Jika pelatuk ditarik, anak panah itu langsung melesat ke depan.

Dengan menenteng panah siap tembak dan mengenakan kacamata bening, Darul mencebur dalam air dan menyelam hingga ke dasar danau yang berkedalaman 7-10 meter, tanpa alat bantu pernapasan. Sekitar 2-3 menit dalam air, dia muncul kembali untuk menghirup udara segar. Setelah menyelam beberapa kali, dia muncul dengan ujung anak yang telah menusuk seekor ikan nila besar seberat sekitar 1 kilogram.

Setelah beristirahat sejenak, dia menyelam lagi beberapa kali, dan selalu muncul dengan seekor ikan di ujung anak panah. Begitu seterusnya. Dalam waktu satu jam, sudah sembilan ikan berukuran sedang-besar yang ditangkapnya. Sore itu, dia pulang dengan membawa ikan nila serta mujair seberat enam kilogram, dan laku dijual Rp 80.000.

“Hari ini, air danau agak keruh, seperti setiap musim pancaroba tahun-tahun sebelumnya,” tutur Darul, seraya mengelap rambutnya yang basah. “Kalau airnya pas jernih, saya bisa menangkap lebih banyak ikan. Jika beruntung, dapat memanah ikan semah yang bobotnya mencapai 20-an kilogram. Uang yang saya bawa pulang bisa ratusan ribu rupiah.”

Memanah ikan sudah menjadi profesi tetap lelaki itu selama 22 tahun lebih. Setiap hari, dia menyelam untuk berburu ikan dengan bedil panah sederhana itu. Sempat mencoba bertani atau berdagang di pasar, tetapi dia kembali kepincut kerja memanah ikan.

Dia terbiasa berburu ikan sendirian dengan berenang menjelajahi danau. Ikan-ikan yang tertangkap diikat di pinggang. Jika cuaca cerah, dia juga berburu pada malam hari dengan dibantu lampu senter.

Keahlian langka itu cukup dihargai masyarakat di kawasan Danau Ranau. Darul memiliki pelanggan yang membeli ikan hasil buruannya. Saat Lebaran, biasanya dia kebanjiran permintaan dari banyak warga yang butuh ikan untuk pesta keluarga. Masyarakat Ranau menyebutnya Raja Pemanah Ikan.

Pekerjaan memanah ikan diandalkan Darul untuk menafkahi istri, Yusnika (29), dan dua anaknya, Dayu (12) dan Agung (4). Dari penghasilan itu juga, dia membangun rumah kayu bersahaja, mengkredit motor tril besar, dan membiayai sekolah satu anaknya. Hidup keluarga itu lumayan berkecukupan.

Warisan budaya

Darul tak segan mengajarkan teknik memanah ikan kepada bocah-bocah di Ranau. Dia kerap mengajak mereka berburu ikan mengelilingi danau. Saat ini, dua adiknya, Budi (25) dan Joni (20), sudah cukup terampil memanah. Bedil panah dan kacamata renang dibuat dari bahan-bahan bekas yang mudah ditemukan di sekitar rumah.

Darul lahir di Banding Agung, 10 Oktober 1974. Keahlian memanah ikan diwarisi dari ayahnya, Damiri (60). Dengan bimbingan ayahnya, yang juga dikenal jago memanah ikan, Darul belajar berenang, menyelam, dan memanah ikan sejak usia 10 tahun. Dia hanya bertahan di bangku sekolah sampai kelas II SMP karena telanjur sibuk berburu ikan di danau.

Keahlian memanah ikan merupakan warisan budaya suku Ranau yang menetap di tepian danau seluas sekitar 44 kilometer persegi itu sejak abad ke-15 Masehi. Sebenarnya masyarakat juga mengenal cara lain untuk menangkap ikan, seperti memancing, menjaring, menjala, atau memasang bubu—kurungan penangkap ikan yang dibuat dari bambu. Ada juga tradisi menombak ikan. Namun, memanah ikan masih dilestarikan sebagai tradisi khas Ranau.

Lebih dari itu, memanah ikan telah menjadi ikon kampanye pelestarian lingkungan. Para pemanah ikan termasuk kalangan yang getol melawan penangkapan ikan yang merusak lingkungan, seperti dengan menebarkan racun apotas, setrum listrik, atau meledakkan dinamit. Budaya panah ikan bakal tetap lestari selama air danau tersebut bening, tidak tercemar, dan dihuni banyak ikan.

“Kalau lingkungan rusak, air danau menjadi keruh dan ikan makin berkurang. Jadinya, kami tidak bisa memanah ikan lagi,” ungkap Darul. Bersama belasan pemanah ikan lain, dia tak segan melawan kelompok yang nekat menebar apotas atau menyetrum ikan di danau.

Kerja memanah ikan bukan tanpa risiko. Darul pernah terpanah pahanya oleh sesama pemanah ikan, tahun 1999. Musibah itu bermula ketika dia berburu ikan bersama seorang temannya. Saat itu musim pancaroba sehingga air danau keruh dan ikan tak terlihat jelas. Kebetulan, dia berburu dengan mengenakan celana dalam warna putih.

“Tanpa sengaja, kami saling berhadapan. Melihat celana dalam putih saya berkelebat, teman itu mengiranya ikan yang berenang. Dia langsung menembak, panah meluncur, dan mata panahnya menancap di pangkal paha kanan saya. Aduh!” tuturnya mengenang.

Darul dioperasi untuk mengeluarkan mata panah yang bersarang di daging pahanya di Rumah sakit Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu. Dia sempat trauma dan berhenti memanah selama beberapa bulan. Sejak musibah tersebut, di selalu memilih berburu sendirian.

“Saya akan terus memanah sampai tak kuat lagi,” katanya bersemangat. []

About these ads