Sumber: Kompas.

Sikap bangsa Indonesia yang kurang peduli terhadap apa yang dimiliki, dan sikap pemerintah yang tak kalah kurang pedulinya, menjadi keprihatinan Mohammad Apriza Suska (32). Pemuda yang murah senyum ini sangat sedih dan malu terhadap nasib yang menimpa kantong semar atau Nepenthes spp yang merupakan tanaman asli Indonesia.

Jika sudah bicara soal tumbuhan pemakan serangga ini, Suska tidak akan berhenti. Topik yang dibicarakan dari soal budi daya tanaman eksotis ini hingga bagaimana menyelamatkan nepenthes yang banyak musnah karena pembangunan. “Dulu di Bekasi dan Bidaracina, Cawang, banyak sekali ditemukan nepenthes, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi. Nepenthes tergusur oleh pembangunan rumah-rumah warga,” cerita Suska.

Banyaknya nepenthes yang musnah itu diketahui Suska dari literatur-literatur peninggalan Belanda dan napak tilas yang dilakukan Suska untuk mencari nepenthes.

Bersama kelompoknya, Divisi Nepenthes Indonesia, sudah berbagai gunung dia rambah baik di Jawa, Sumatera, maupun di Kalimantan. Terakhir, sekitar Mei-Juni, dia mendaki Gunung Slamet di Jawa Tengah. Di sana Suska mengajarkan penduduk untuk berbudi daya nepenthes.

“Ada dua spesies nepenthes di sana, yakni gymnamphora dan adrianii. Keduanya diambil oleh penduduk lalu dijual ke pedagang. Yang paling banyak diambil adalah Nepenthes adrianii. Jika diambil terus tanpa dibudidayakan, lama-lama nepenthes di sana punah. Nepenthes sudah menjadi salah satu tanaman yang dilindungi pemerintah,” kata Suska.

Menguntungkan pedagang

Divisi Nepenthes Indonesia melihat pengambilan nepenthes dari alam hanya menguntungkan pedagang, tetapi merugikan alam, penduduk, dan juga tumbuhan itu sendiri. Penduduk hanya menjual nepenthes dengan harga Rp 2.500-Rp 5.000 ke pedagang, sedangkan pedagang menjual ke konsumen hingga ratusan ribu rupiah. Penduduk sama sekali tidak diuntungkan. Karena sering diambil, lama kelamaan nepenthes punah.

Selain itu, nepenthes yang diambil dari alam lalu ditanam di pot dalam waktu dua bulan akan mati karena stres. Konsumen yang telah membeli nepenthes itu akhirnya kapok karena sudah membeli dengan harga mahal, tetapi tanaman mati. Akhirnya muncul pendapat, tidak mudah menanam nepenthes.

“Pendapat ini yang ingin saya hilangkan. Nepenthes itu mudah ditanam jika bibitnya diambil dari budi daya. Harganya pun tidak mahal, tidak sampai seratus ribu rupiah, bahkan ada nepenthes yang saya jual dengan harga Rp 5.000. Jika banyak orang menanam nepenthes, maka tanaman ini makin dikenal dan Indonesia tidak akan kehilangan kekayaan alamnya. Orang tidak mau lagi membeli nepenthes dari alam,” ujar sarjana lulusan Institut Pertanian Bogor ini.

Selain itu, Suska juga terlibat dalam penyelamatan nepenthes di daerah-daerah yang sedang giat-giatnya melakukan pembangunan. “Pemerintah sering menerapkan standar ganda. Di satu sisi pemerintah melarang keras pengambilan nepenthes dari alam, tetapi jika membawa bendera pembangunan, pemerintah tidak marah nepenthes-nepenthes mati karena habitatnya rusak oleh pembangunan,” ujarnya.

Suska sekarang sedang merawat nepenthes-nepenthes korban pembangunan sebuah gelanggang olahraga di Penajam, Kalimantan Timur, dan pembakaran hutan di Kutai, Kalimantan Timur. Saat ini Suska dan Divisi Nepenthes Indonesia sedang bersiap-siap menyelamatkan nepenthes yang akan tergerus proyek pelurusan jalan Kelok 9, Sumatera Barat.

Merasa malu

Ketertarikan Suska akan nepenthes ini juga berawal dari rasa malu. Ketika awal 2003 dia mendapat kesempatan untuk magang di rumah kaca terbesar di Ohio State University, Amerika Serikat, dia bertemu dengan Lawrence Mellichamp yang memiliki sebuah rumah kaca yang berisi nepenthes. Mellichamp bilang, nepenthes ini berasal dari Indonesia, dan Suska diminta untuk menceritakan keberadaan nepenthes di Indonesia.

“Saya malu karena tidak ada sedikit pun yang bisa saya ceritakan. Saya tidak kenal tanaman itu. Pulang ke Indonesia, saya membawa pulang 12 macam nepenthes dan bertekad untuk mendalaminya,” ujar Suska yang sehari-hari menjadi petani tanaman hias ini.

Sekarang, di rumahnya di Kampung Ciderum, Desa Ciderum, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, penuh dengan nepenthes berbagai spesies. “Saya punya 84 spesies dan masih ada lagi yang belum terdeteksi spesiesnya. Tetapi, kalau digabungkan dengan varietas dan hibrida, kira-kira jumlahnya ada 200 macam,” ungkap Suska.

Di samping rumah, Suska membuat rumah kaca sederhana yang di dalamnya berisi ribuan nepenthes ukuran kecil dan besar, sedangkan di halaman rumah banyak nepenthes besar tumbuh liar menjalar-jalar di pagar, di pohon, dan di tembok.

“Nepenthes sebenarnya tidak mau rumah kaca karena panas. Rumah kaca ini dulu saya gunakan untuk menanam bunga krisan. Ketika saya mulai tertarik nepenthes, bisnis krisan saya juga turun. Akhirnya rumah kaca itu saya manfaatkan untuk nepenthes,” tuturnya.

Berbagai macam nepenthes itu ada yang dijual, tetapi ada juga yang tidak dijualnya. Biasanya Suska hanya mau menjual nepenthes di pameran tanaman karena dia belum sempat memisahkan mana nepenthes yang bisa dijual dan mana yang masih harus dikembangkan lebih lanjut. []

About these ads