Kerajinan dari kayu atau batu tidak sulit kita cari tempat pembuatannya, lebih-lebih di Pulau Jawa. Beberapa suku di Papua dan Kalimantan bahkan sudah mengenal seni ukir kayu sebagai bagian dari keseharian mereka. Namun, seni ukir tanduk kerbau, sejauh ini, tercatat hanya ada di dua tempat di Pulau Jawa, yakni di Kabupaten Magelang di Jawa Tengah dan Kabupaten Sukabumi di Jawa Barat.

Di Sukabumi, perajin tanduk kerbau terkonsentrasi di Kampung Inggris, Desa/Kecamatan Sukaraja. Dua orang yang tersisa dari belasan perajin tanduk kerbau di Kampung Inggris sejak tahun 1975 adalah Djudjuh Djuahaedi (53) dan Maman Kasim (50). Dua orang itu jugalah yang sejak kerajinan tanduk mengalami masa kejayaan sejak tahun 1975 hingga tahun 1998 sangat kompak dan rajin mencari celah pasar baru.

Mereka berdua memulai pemasaran produk ke tempat wisata Maribaya, Bandung. Selain membuka toko sendiri, mereka juga menitipkan hasil kerajinan ke toko-toko kerajinan lain di Maribaya. Pada awal tahun 1990-an, mereka mulai melirik pasar kerajinan lain, yakni di tempat wisata Tangkubanparahu, Bandung. Dua tempat wisata itu menjadi pasar potensial yang mereka garap. Namun, krisis ekonomi yang menimpa Indonesia telah menghancurkan pasar kerajinan mereka di Maribaya.

Setelah itu, mereka memfokuskan pemasaran kerajinan ke Tangkubanparahu saja. Sebelum krisis, sebenarnya mereka juga sudah mulai mencari pasar lain yang potensial. Urusan ini pun mereka lakukan dengan kompak sehingga tidak ada perebutan pasar.

Djudjuh memasok kerajinan ke Jakarta, Sumatera, dan Kalimantan, sedangkan Kasim memasok kerajinan ke Yogyakarta, Solo, dan Bali. Setelah krisis, pasar yang sudah mereka bagi itu digarap dengan lebih serius. Itu yang tidak dilakukan para perajin lain sehingga mereka memilih menggulung tikar usaha kerajinan tanduk kerbau yang sudah dirintis sejak tahun 1975.

Semua terpakai

Kerajinan tanduk kerbau yang dihasilkan Djudjuh dan Kasim antara lain cenderamata berbentuk burung, vas bunga, ikan, ukiran naga, dan gantungan kunci. Selain berupa cenderamata, hasil kerajinan tanduk kerbau itu adalah barang-barang fungsional seperti jepit rambut, pipa rokok, dan centong nasi. “Tidak ada yang terbuang dari tanduk itu. Semua bisa dipakai, bahkan sampai sampah bekas ukirannya,” kata Djudjuh.

Tanduk kerbau yang akan dibuat cenderamata biasanya lebih diutamakan. Setelah itu, sisa potongan-potongan tanduk masih bisa dibuat untuk barang-barang fungsional, dan sampahnya sudah ditunggu petani buah pepaya di Bogor yang akan digunakan sebagai pupuk. Cenderamata berbentuk ikan, burung, atau ukiran naga, sangat tergantung dari bentuk dan warna tanduk kerbau. Kesesuaian bentuk tanduk dan proyeksi hasil sangat tergantung dari kemahiran perajinnya. Untuk mendapatkan kemampuan seperti itu, Djudjuh dan Kasim sama-sama mengaku membutuhkan waktu beberapa tahun.

Perajin tanduk kerbau mengenal tiga jenis tanduk, yaitu jenis tanduk kerbau bule/putih, tanduk kerbau coklat, dan tanduk kerbau hitam. Tanduk kerbau bule lebih disukai pembeli, tetapi sangat sulit dicari bahan bakunya. Hasil kerajinan tanduk kerbau bule memang lebih bagus dibandingkan dengan tanduk warna coklat atau hitam. Kreasi juga bisa lebih banyak dilakukan pada tanduk kerbau bule. Cenderamata dari tanduk bule berbentuk ikan atau burung, misalnya bisa mencapai harga Rp 200.000. Padahal, alat-alat fungsional seperti centong nasi dan pipa rokok dari tanduk hitam hanya laku dijual Rp 15.000.

Djudjuh dan Kasim memiliki alasan yang sama kenapa mereka bisa bertahan, sementara belasan perajin lainnya tidak. Selain karena serius menggarap pasar dan mampu melakukan kreasi sesuai dengan kemauan pembeli, Djudjuh dan Kasim juga punya keinginan yang sama untuk melestarikannya karena seni ukir tanduk kerbau di Jawa Barat tinggal ada di Kampung Inggris itu.

Sebelum populer dan booming tahun 1975 hingga tahun 1998, kerajinan tanduk kerbau jauh hari sudah dibuat sejumlah warga Kampung Inggris. Namun, sebelum mereka menjadi perajin tanduk kerbau, generasi pendahulu para perajin itu sebenarnya memulainya dari kerajinan tulang. Kerajinan tulang diperkenalkan sejumlah warga Inggris yang singgah di Sukabumi selama masa imperialisme tahun 1800-an. Menurut catatan Djudjuh, generasi tua warga Kampung Inggris membuat kerajinan tulang untuk keperluan sehari-hari warga Inggris. Barang yang mereka buat antara lain tusuk gigi, gagang sikat gigi, dan pemijit punggung.

Setelah warga Inggris meninggalkan Sukabumi, pengguna kerajinan tulang pun tidak ada lagi. Warga yang sudah menggantungkan hidup dari kerajinan tulang pun berpikir keras untuk menggunakan bahan baku lain yang hasil kerajinannya diterima oleh calon pembeli.

Djudjuh dan Kasim sudah merasakan hasil dari kerja keras mereka selama puluhan tahun. Keluarga mereka masing-masing mendapatkan sumber penghidupan utama dari kerajinan tanduk kerbau itu. Namun, tantangan berat saat terjadinya krisis moneter pun sudah mereka rasakan dan justru menjadi titik balik dari usaha mereka. Kini mereka berharap kerajinan tanduk kerbau tak hanya dilihat sebagai cenderamata, tetapi juga diakui sebagai ciri khas kerajinan Sukabumi dan secara lebih luas Jawa Barat, seperti ukiran Jepara atau songket Palembang. []

Sumber: Kompas.

About these ads