<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Manusia Sederhana</title>
	<atom:link href="http://sosok.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sosok.wordpress.com</link>
	<description>Ajari aku tentang hidup.</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 09:18:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sosok.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Manusia Sederhana</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sosok.wordpress.com/osd.xml" title="Manusia Sederhana" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sosok.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Joris Lilimau, Pendidik Suku Hoaulu</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2010/07/21/joris-lilimau-pendidik-suku-hoaulu/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2010/07/21/joris-lilimau-pendidik-suku-hoaulu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 03:02:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etos]]></category>
		<category><![CDATA[Guru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas. Saat tak ada yang peduli pendidikan bagi suku Hoaulu, Joris Lilimau tampil berperan. Ia mengenalkan sekolah bagi suku yang tinggal di kawasan hutan Taman Nasional Manusela, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, itu. Jumat (30/4) pukul 06.30 waktu setempat, masih terluang waktu satu jam sebelum pelajaran di Sekolah Dasar Kecil Hoaulu dimulai. Namun, para murid [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=190&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: <a href="http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/read/2010/06/02/20394259/Joris.Lilimau..Pendidik.Suku.Hoaulu.">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Saat tak ada yang peduli pendidikan bagi suku Hoaulu, Joris Lilimau tampil berperan. Ia mengenalkan sekolah bagi suku yang tinggal di kawasan hutan Taman Nasional Manusela, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, itu.</p>
<p>Jumat (30/4) pukul 06.30 waktu setempat, masih terluang waktu satu jam sebelum pelajaran di Sekolah Dasar Kecil Hoaulu dimulai. Namun, para murid sudah datang dan duduk di kelas. Saat sang guru datang, 30 murid di dua kelas itu mengikuti kegiatan belajar-mengajar, tanpa seorang pun berani mengobrol. <span id="more-190"></span></p>
<p>Dua tahun lalu, jangan membayangkan antusiasme anak-anak Hoaulu seperti itu. ”Ketika sekolah darurat masih dirintis, tak ada siswa yang mau datang,” kenang Joris.</p>
<p>Saat itu, bangunan sekolah beratap sirap, berdinding batang kayu. Ruang keras kerap kosong. Padahal, masyarakat Hoaulu secara gotong royong selama enam bulan telah membangunnya. ”Kesadaran masyarakat untuk membangun sekolah ternyata tidak serta-merta dibarengi kesadaran para orangtua untuk menyekolahkan anak mereka,” katanya.</p>
<p>Harap maklum, mereka sejak ratusan tahun lalu terbiasa menghabiskan hari-hari dengan berburu atau bekerja di ladang. Pendidikan sama sekali tak dikenal sehingga mereka tidak melihatnya sebagai hal penting. Jadi, meski pendidikan di sekolah itu gratis dan anak-anak tak perlu membawa alat tulis dan berseragam sekolah, tetap saja tidak satu pun anak Hoaulu yang mau sekolah.</p>
<p>Joris yang lahir dan dibesarkan di Kanike, desa pedalaman di Manusela, menyadari kondisi itu, tetapi ia tak patah arang. ”Tahun 2008, saya minta dipindahkan ke Hoaulu untuk mengajar masyarakat pedalaman Hoaulu agar mereka tak terus tertinggal. Kasihan, mereka tidak pernah bisa membaca, menulis, atau menghitung. Sekolah yang ada jaraknya puluhan kilometer dari kampung mereka,” katanya.</p>
<p>Untuk ke sekolah, warga Hoaulu harus berjalan kaki melintasi hutan dan Sungai Oni yang saat musim hujan aliran airnya amat deras. Perjalanan itu membutuhkan waktu sekitar tiga jam.</p>
<p><strong>Kue dan permen</strong></p>
<p>Joris mengakui, hanya tekad kuatlah yang membuatnya tetap sabar, mendatangi satu per satu warga Hoaulu untuk menjelaskan pentingnya pendidikan. Biar anak-anak mau bersekolah, ia memberi mereka kue atau permen. ”Selama dua bulan, saya melakukan hal itu. Perlahan, mereka mulai mau belajar. Sekarang, justru murid yang datang ke sekolah jauh lebih cepat daripada gurunya, ha-ha-ha,” katanya.</p>
<p>Belakangan, tak hanya anak-anak yang mau belajar. Para remaja berusia 14-16 tahun pun hadir di sekolah. Joris tak mempermasalahkan perbedaan usia tersebut. ”Lebih penting membuat mereka bisa membaca dan menulis biar bisa mengejar ketertinggalan dengan dunia luar,” katanya.</p>
<p>Joris mengajari mereka dengan modal 10 buku pelajaran pemberian murid dan guru dari SD di Rumah Sokat, Seram Utara, tempat dia mengajar sebelumnya.</p>
<p>Tak hanya mendekati warga dan anak-anak Hoaulu, Joris pun berupaya menyampaikan kondisi di Hoaulu kepada Dinas Pendidikan dan DPRD Kabupaten Maluku Tengah.</p>
<p>Berulang kali dia mendatangi pejabat Dinas Pendidikan dan DPRD Kabupaten Maluku Tengah agar mau memerhatikan warga Hoaulu. Padahal, untuk itu, Joris harus ke Masohi, ibu kota Kabupaten Maluku Tengah yang jaraknya sekitar 140 kilometer dari Hoaulu. Perjalanan itu ditempuhnya dengan menumpang angkutan umum atau sepeda motor sekitar lima jam.</p>
<p>Sekitar setahun ia berjuang, pada April 2009 sekolah darurat di Hoaulu itu diakui pemerintah. September 2009, pemerintah memberikan bantuan berupa uang untuk pembangunan dua ruang kelas di Hoaulu.</p>
<p>Pemerintah juga menugaskan seorang guru honorer, Mike Lilimau (21), untuk membantunya mengajar. Namun, setelah sekolah selesai dibangun, perhatian pemerintah malah menghilang.</p>
<p>Alat tulis, buku pelajaran, dan keperluan lain penunjang kegiatan belajar-mengajar tidak pernah diberikan. ”Saya sampai menangis meminta barang-barang itu, tetapi tidak pernah diberi,” keluhnya.</p>
<p><strong>Uang pribadi</strong></p>
<p>Tak ingin semangat belajar anak-anak mengendur, Joris mengeluarkan uang dari kocek pribadi guna membeli barang penunjang kegiatan belajar. Dua papan tulis dengan spidol untuk keperluan dua kelas di SD Kecil Hoaulu itu dibelinya seharga Rp 300.000.</p>
<p>Meski dengan kondisi dan sarana penunjang amat terbatas, Joris tak ingin kegiatan belajar-mengajar yang sudah diperjuangkannya itu terhenti. Kini, sebagian warga Hoaulu mulai bisa membaca, menulis, dan menghitung.</p>
<p>Setamat sekolah pendidikan guru (SPG) di Ambon pada tahun 1982, Joris menjadi guru sejak tahun 1984. Dia senang saat ditugaskan mengajar di Kanike, kampung tempatnya dilahirkan. ”Saya memang ingin mengabdi di kampung halaman,” katanya.</p>
<p>Sama seperti Hoaulu, Kanike juga berada di tengah belantara hutan di Manusela. Untuk mencapai kampung itu, orang harus berjalan kaki selama satu hingga dua hari dari Hoaulu. Saat musim hujan, Kanike kerap kali tidak bisa dicapai karena derasnya aliran sungai yang melintas di antara Kanike dan Hoaulu.</p>
<p>Meski harus pindah dari Kanike, tekad Joris untuk membuat warga di kampung terpencil bisa melek huruf tetap membara. Tahun 1988, dia harus mengajar di SD Kobisonta, Seram Utara, kemudian pada tahun 1994 ia pindah mengajar di SD Rumah Sokat, Seram Utara.</p>
<p>Ketika itu, kedua tempat tersebut termasuk pelosok. Joris bercerita, sekitar tahun 2007 keterisolasian Desa Kobisonta dan Desa Rumah Sokat akhirnya terbuka. Ini dimungkinkan setelah pembangunan Jalan Trans Seram yang menghubungkan Kabupaten Maluku Tengah dan Seram bagian Timur selesai dibangun.</p>
<p>”Memang, menjadi guru ya harus seperti ini. Di mana pun guru ditugaskan harus siap. Jangan seperti guru yang waktu ditugaskan di daerah pelosok langsung minta pindah atau hanya mau gajinya. Tetapi, mereka (sebagian guru) hanya sesekali saja mengajar di sekolah itu. Kasihan anak murid,” tuturnya.</p>
<p>Mengajar di daerah terpencil membuat dia merasa amat bahagia. ”Ini sesuatu yang tak ternilai harganya,” ujar Joris tentang anak-anak didiknya yang sebagian sudah menjadi polisi, bidan, juga guru seperti dia.</p>
<p>”Anak-anak pedalaman itu tak ada bedanya dengan anak-anak di perkotaan. Berilah mereka kesempatan mengenyam pendidikan, maka mereka akan membuktikan diri sama pintarnya dengan anak-anak di kota,” tegasnya. <strong>[]</strong></p>
<p><strong>JORIS LILIMAU</strong></p>
<p>• Lahir: Kanike, Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, 10 November 1961</p>
<p>• Istri: Debora Limehue (44)</p>
<p>• Anak: 5 orang</p>
<p>• Pendidikan: Sekolah Pendidikan Guru Ambon, 1982</p>
<p>• Pekerjaan:</p>
<p>- Guru di Sekolah Dasar (SD) Kanike, Seram Utara, 1984-1988</p>
<p>- Guru di SD Kobisonta, Seram Utara, 1988-1994 &#8211; Guru di SD Rumah Sokat, Seram Utara, 1994-2008</p>
<p>- Guru di SD Kecil Hoaulu, Seram Utara, 2008-kini</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosok.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosok.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosok.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosok.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/190/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/190/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/190/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=190&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2010/07/21/joris-lilimau-pendidik-suku-hoaulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4b14912ffae1bb15c4cd5823f79a614?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wirausahawan Sampah Plastik</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2010/07/21/wirausahawan-sampah-plastik/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2010/07/21/wirausahawan-sampah-plastik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 02:39:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etos]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas. Awalnya Baharuddin Sanian tengah mencari kemungkinan kerabatnya yang hilang atau meninggal akibat gempa dan gelombang tsunami. Sesampai di Banda Aceh, di antara ribuan mayat korban bencana dahsyat itu, ia termangu melihat tumpukan sampah berbagai jenis, dari besi hingga plastik. Saat sampah mulai dibersihkan, Baharuddin heran. Tak banyak orang mau memunguti sampah plastik. Pemulung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=188&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: <a href="http://lipsus.kompas.com/topikpilihan/read/2010/07/06/10570249/Wirausahawan.Sampah.Plastik..">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Awalnya Baharuddin Sanian tengah mencari kemungkinan kerabatnya yang hilang atau meninggal akibat gempa dan gelombang tsunami. Sesampai di Banda Aceh, di antara ribuan mayat korban bencana dahsyat itu, ia termangu melihat tumpukan sampah berbagai jenis, dari besi hingga plastik.</p>
<p>Saat sampah mulai dibersihkan, Baharuddin heran. Tak banyak orang mau memunguti sampah plastik. Pemulung tak banyak yang mau mengambil sampah plastik. ”Mungkin karena nilainya rendah, sampah plastik tak banyak yang mengambil. Berbeda dengan besi yang harganya mahal kalau dijual kembali,” katanya. <span id="more-188"></span></p>
<p>Timbul niat Baharuddin untuk ikut membersihkan sampah plastik karena sadar plastik tak mudah terurai. Ia lalu belajar kepada pemulung bagaimana memanfaatkan sampah plastik. Dia berkenalan dengan Dardak, agen pemulung di Banda Aceh. Dari Dardak ia tahu, sampah plastik hanya dimanfaatkan ala kadarnya. Pemulung di Aceh menggolongkan sampah plastik dalam dua jenis, atom plastik dan cong atau samsam.</p>
<p>Atom plastik berupa bekas kemasan air berbentuk gelas, kursi plastik, hingga bekas ember. Adapun cong atau samsam merupakan campuran berbagai sampah plastik. Penggolongan yang sederhana itu membuat nilai sampah plastik saat dijual ke agen atau pengepul sangat murah.</p>
<p>Baharuddin yang penasaran dengan sampah plastik mencoba mencari tahu lewat internet. Dia kemudian tahu, sampah plastik, seperti halnya ketika masih berupa bahan jadi plastik, terdiri dari berbagai jenis. Sampah plastik pun dibedakan sesuai senyawa kimia pembentuknya. ”Di internet saya tahu, sampah plastik secara garis besar ada tujuh jenis.”</p>
<p>Tujuh jenis itu adalah PET (polyethylene therephthalate) yang biasanya berupa botol air mineral; HDPE (high density polyethylene) berupa botol oli, kosmetik hingga keresek; PVC (polyvinyl chloride) berupa pipa dan bahan konstruksi; LDP (low density polyethylene) berupa tutup botol air kemasan galon; PP (polypropylene) berupa kemasan air dalam gelas hingga peralatan makan; PS (polystyrene) biasanya styrofoam; dan HIPC (high impact plastic cover) untuk perangkat elektronik.</p>
<p>Harga tiap jenis sampah plastik itu berbeda-beda. Sayang, lanjut Baharuddin, pemulung tak tahu jenis-jenis sampah plastik karena mereka menggolongkannya secara sederhana. Dia mencontohkan, satu bekas kemasan botol air minum terdiri dari empat jenis plastik. ”Botolnya itu PET, labelnya PP, tutupnya HDPE, dan segelnya PVC.”</p>
<p>Jika pemulung memilah keempat jenis plastik dalam satu botol kemasan air minum, maka mereka bakal mendapatkan uang lebih saat menjualnya ke agen. Umumnya pemulung tak pernah memilahnya. Akibatnya, agen menyamaratakan harga beli.</p>
<p>”Bekas gelas air minum kemasan kalau sudah dibersihkan dari penutupnya harganya bisa Rp 6.500 per kilogram. Kalau penutupnya dibersihkan seadanya, paling dihargai Rp 4.500,” ujar Baharuddin.</p>
<p>Harga bekas kemasan gelas plastik air minum yang dibersihkan penutupnya bisa mahal karena seluruhnya terdiri dari PP. Sebagai insinyur teknik mesin, ia berinovasi menciptakan mesin yang dapat membersihkan penutup kemasan air minuman dalam gelas plastik.</p>
<p>”Kami menyebutnya PP bening. Bila dicacah dan dijadikan bijih plastik, bisa untuk bahan pembuat kantong plastik berkualitas tinggi. Ini membuat bekas gelas plastik air minum menjadi mahal. Kalau gelas plastiknya tak bersih, masih ada sisa penutupnya, maka kualitas bijih plastiknya jelek,” katanya.</p>
<p><strong>Mendirikan PPRF</strong></p>
<p>Baharuddin pun berniat membagi pengetahuannya kepada pemulung meskipun oleh teman dekat dan keluarga ia dianggap ”gila”. Sudah enak bekerja di Exxon, malah sibuk mengurus pemulung. Lima bulan setelah bencana tsunami di Aceh, Mei 2005, ia mendirikan yayasan, Palapa Plastic Recycle Foundation (PPRF) di Lhokseumawe.</p>
<p>Dibantu Dardak, PPRF menjadi semacam agen atau pengepul sampah plastik. Dardak meminta anak buahnya menjual sampah plastik ke PPRF. Para pemulung lalu diajarkan memilah berbagai jenis sampah plastik sesuai dengan senyawa kimianya.</p>
<p>PPRF juga membeli sampah plastik lebih mahal dibanding agen pemulung lain di Lhokseumawe karena pemulung telah memilah berbagai jenis sampah sesuai senyawa kimianya.</p>
<p>Ini membuat banyak pemulung menjual sampah plastik ke PPRF. Ia juga belajar, kebanyakan agen pengumpul di Aceh mengirim rongsokan plastik ke Medan tanpa dicacah atau di-grinding sehingga kendaraan pengangkut tak bisa memuat banyak sampah plastik. Lewat internet, ia mengenal seorang pengusaha pencacahan sampah plastik di Bekasi. Dia lalu membeli mesin pencacah sampah plastiknya.</p>
<p>Selain menjadi tempat penampungan sampah plastik para pemulung di Lhokseumawe, PPRF mempekerjakan masyarakat sekitar tempat penampungan di Panggoi, Lhokseumawe, untuk memilah sampah plastik. ”Pemulung memilah secara kasar, pekerja di penampungan memilah lebih detail.”</p>
<p>Kini, sekitar 100 pemulung menjual sampah plastik ke PPRF. Kegiatan PPRF pun menarik lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional yang beroperasi di Aceh. Mereka menilai PPRF membantu memberdayakan masyarakat miskin di Aceh.</p>
<p>”Ada anggapan di Aceh ini, pekerjaan pemulung itu ’rendahan’ sehingga tak banyak yang mau. Padahal kalau tahu potensinya, pemulung juga bisa menghidupi keluarga dengan layak,” kata Baharuddin.</p>
<p>Juni 2006, LSM asal Belanda, PUM Nederland, memberi bantuan mesin grinding berkapasitas 50 ton per bulan. Bantuan ini sebagian hibah, sekitar 30 persen sisanya pinjaman lunak selama lima tahun. Pada 2007, LSM lain dari Belanda membantu PPRF mendirikan 20 rumah bagi pemulung di sekitar lokasi pabrik pencacahan sampah plastik.</p>
<p>Upayanya memberdayakan pemulung dengan PPRF membuat dia dinilai sebagai social entrepreneur. Tahun 2007, Auscare dan UNDP memberi hibah PPRF Rp 1,6 miliar untuk membangun pabrik pencacahan sampah plastik di Banda Aceh.</p>
<p>Sayang, upaya Baharuddin belum dihargai pemerintah daerah. Saat menawarkan program penanganan sampah anorganik di Lhokseumawe, pemerintah daerah malah minta bantuan pengadaan tong sampah ke PPRF.</p>
<blockquote><p>Satu mimpi Baharuddin yang belum terwujud adalah mendirikan pabrik pengolahan sampah plastik menjadi barang jadi.</p></blockquote>
<p>”Pabrik untuk mengolah sampah plastik yang telah berupa bijih menjadi barang jadi, seperti kantong keresek hingga tali rafia. Selama ini sampah plastik dari Aceh dibawa ke Medan, diolah menjadi barang jadi, lalu dikirim lagi ke Aceh,” katanya. <strong>[]</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosok.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosok.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosok.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosok.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=188&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2010/07/21/wirausahawan-sampah-plastik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4b14912ffae1bb15c4cd5823f79a614?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masril, Pendekar dari Agam</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2010/06/30/masril-pendekar-dari-agam/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2010/06/30/masril-pendekar-dari-agam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 09:01:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etos]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas Masril Koto adalah pendobrak kebekuan fungsi intermediasi industri perbankan di bidang pertanian. Bersama sejumlah rekannya, petani yang tak tamat sekolah dasar itu mendirikan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) Prima Tani di Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada 2007. LKMA Prima Tani di Nagari Koto Tinggi itu menjadi cikal bakal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=186&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/29/02563192/.masril.pendekar.dari.agam">Kompas</a></strong></p>
<p>Masril Koto adalah pendobrak kebekuan fungsi intermediasi industri perbankan di bidang pertanian. Bersama sejumlah rekannya, petani yang tak tamat sekolah dasar itu mendirikan Lembaga Keuangan Mikro Agribisnis (LKMA) Prima Tani di Nagari Koto Tinggi, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada 2007. </p>
<p>LKMA Prima Tani di Nagari Koto Tinggi itu menjadi cikal bakal program pengembangan usaha agribisnis pedesaan (PUAP) nasional. Kini, lebih dari 300 unit LKMA telah berdiri di seantero Sumbar atas dorongannya. <span id="more-186"></span></p>
<p>Setiap hari, Masril berkeliling ke beberapa wilayah Sumbar dengan sepeda motor keluaran tahun 1997, yang disebutnya suka ”agak berulah sedikit” hingga kadang masuk-keluar bengkel.</p>
<p>Akibat sering berkeliling, Masril relatif sulit ”ditangkap”. Ketika ditemui Kamis (3/6) malam di Kota Padang, ia baru tiba dari Kabupaten Tanah Datar dan Kota Payakumbuh. Lalu, Jumat subuh ia berangkat menuju Kabupaten Solok.</p>
<p>Selama singgah dari satu tempat ke tempat lain itu, atas undangan kelompok tani, Masril selalu memotivasi agar LKMA didirikan sebagai solusi permodalan petani. Maka, dalam ranselnya tersimpan aneka perlengkapan penunjang aktivitas, seperti spidol, beragam contoh dokumen pendukung pendirian dan operasional LKMA, serta laptop.</p>
<p>”Laptop ini hadiah dari (ekonom) Faisal Basri, waktu kami undang ke Agam melihat LKMA,” kata Masril, yang mengaku bermodal keberanian untuk berhubungan dengan banyak orang. Segudang pengalaman dan orang dia temui dalam perjalanan yang menghabiskan biaya Rp 500.000 per bulan itu.</p>
<p>Perjalanan tersebut juga membuat dia jarang berkumpul dengan keluarga. Dalam sebulan hanya dua hari ia bersama istri dan anaknya di Nagari Tabek Panjang, Baso, Agam. Selebihnya, mereka berkomunikasi lewat telepon.</p>
<p><strong>Sekolah lapangan</strong></p>
<p>Proses panjang perjuangan Masril mendirikan LKMA diawali pada 2003. Sebagai petani, ia menanam padi serta membudidayakan jagung dan ubi jalar. Waktu itu ia ingin beralih menjadi petambak lele. Sampai suatu hari, ia bertemu seniman-petani Rumzi Sutan yang mendendangkannya lagu tentang cita-cita kemandirian petani.</p>
<p>Sejak itulah Masril bertekad memajukan petani. Ia lalu mengikuti sekolah lapangan (SL) petani dari Dinas Pertanian Sumbar di Nagari Tabek Panjang, Baso, Agam. Di sekolah lapangan itu, ia tersadar bahwa persoalan utama petani adalah permodalan. Hal ini tak bisa dipecahkan industri perbankan. Maka, tercetus ide untuk membuat bank petani, demi memenuhi kebutuhan mereka.</p>
<p>Di benak para petani pun relatif alergi terhadap pendirian koperasi. Jadilah ide Masril tak bersambut. ”Berdasarkan rapat evaluasi dan pengalaman kami selama ini, koperasi hanya menguntungkan para ketuanya,” ujar anak pertama dari delapan bersaudara ini.</p>
<p>Seusai mengikuti sekolah lapangan, ia mengumpulkan sejumlah rekan dan membentuk tim beranggotakan lima orang. Tugasnya, mencari tahu seluk-beluk pendirian bank petani. Tim itu dibekali dana pencarian informasi Rp 600.000. Mereka menemui para mantan pegawai bank, dinas terkait, dan mendatangi bank-bank umum.</p>
<p>”Saya ke (Kota) Bukittinggi mendatangi bank yang ada. Saya bilang ingin membuat bank, bisakah diberi pelatihan,” cerita Masril, yang dijawab para bankir itu, ”tak mungkin”.</p>
<p>Tahun 2006 mereka ke Padang guna mengikuti diskusi dari Yayasan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Andalas (AFTA). Saat itu sisa dana pencarian informasi Rp 150.000, masih dipotong uang bukti pelanggaran (tilang) lalu lintas Rp 40.000 gara-gara salah membaca rambu lalu lintas.</p>
<p>Dalam diskusi yang dihadiri pejabat Bank Indonesia itu, Masril diberi tahu bahwa dana perbankan cukup banyak. Dana itu bisa dimanfaatkan untuk modal kelompok tani.</p>
<p>”Saya bilang, kami ingin modal itu untuk membuat bank. Saya tanya caranya,” kata Masril, yang diyakinkan bisa mendirikan LKMA. Sejak itu dia rajin membaca buah pikiran Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Prof Mubyarto.</p>
<p><strong>Saham</strong></p>
<p>Modal mendirikan LKMA diperoleh lewat penjualan saham Rp 100.000 per lembar kepada ratusan petani. Setelah modal diperoleh, muncul masalah pembukuan. Mereka lalu mengikuti pelatihan konsultan dari Yogyakarta.</p>
<p>”Waktu itu ada LKMA di Kabupaten Pasaman yang sudah berdiri. Sewaktu kami mau belajar, ternyata harus membayar. Jadilah kami belajar langsung dari ahlinya,” kata Masril yang tak memungut uang jasa setiap kali berbagi pengalaman tentang LKMA.</p>
<p>Beragam produk tabungan atau pinjaman berbasis kebutuhan langsung petani secara spesifik ditelurkan LKMA, seperti tabungan ibu hamil, tabungan pajak motor untuk pengojek, dan tabungan pendidikan anak.</p>
<p>Tahun 2007, Menteri Pertanian Anton Apriyantono meresmikan LKMA Prima Tani. Ia tercenung mendengar cerita Masril. ”Kalau Pak Menteri bikin seperti yang saya lakukan, tentu hasilnya lebih cepat bagi petani,” ceritanya tentang pertemuan itu. Setelah itu, pemerintah meluncurkan program PUAP.</p>
<p>Perjuangan Masril bukan tanpa hambatan. Berbagai cibiran pun datang, juga dari keluarga. ”Kepada istri saya katakan, jika kita ikhlas mengerjakan sesuatu, Insya Allah ada balasannya,” kata Masril.</p>
<p>Hal itu terbukti. Tahun 2008 ia dikontrak perusahaan Jepang dengan gaji Rp 2,5 juta per bulan. Kini, ia menjadi konsultan perusahaan Belanda bergaji Rp 3,5 juta sebulan.</p>
<p>Masril bertahan memajukan petani sebab ia tak ingin mereka terus-menerus dieksploitasi, terutama saat menjelang pemilihan umum. Kini, ia menyiapkan pembentukan lembaga bernama Lumbung Pangan Rakyat. Targetnya, mengganti peran Bulog yang tak bertugas menurut fungsi yang diamanatkan.</p>
<p>”Lumbung Pangan Rakyat sudah saya uji coba, tetapi masih memerlukan penyempurnaan. Tunggu saja, petani sudah punya kelompok tani sebagai ’perusahaan’, LKMA sebagai ’bank’, dan Lumbung Pangan Rakyat sebagai ’Bulog’-nya,” kata Masril bersemangat. <strong>[]</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosok.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosok.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosok.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosok.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/186/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/186/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/186/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=186&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2010/06/30/masril-pendekar-dari-agam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4b14912ffae1bb15c4cd5823f79a614?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kiat Guntoro Mandirikan Petani</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2010/06/30/kiat-guntoro-mandirikan-petani/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2010/06/30/kiat-guntoro-mandirikan-petani/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Jun 2010 08:52:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etos]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=183</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas Berawal dari tekad mencegah kepunahan kambing gembrong (termasuk ”Capra aegragrus”), Suprio Guntoro berhasil membuka cakrawala tentang metode peternakan dan pertanian yang lestari. Hasil penelitiannya tentang probiotik hewan ruminansia atau memamah biak telah memberdayakan sekaligus menjadi tumpuan ribuan peternak dan petani di Bali, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara. Bali menyajikan fenomena subtil sekaligus ironis. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=183&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/06/30/03082122/kiat.guntoro.mandirikan.petani">Kompas</a></strong></p>
<p>Berawal dari tekad mencegah kepunahan kambing gembrong (termasuk ”Capra aegragrus”), Suprio Guntoro berhasil membuka cakrawala tentang metode peternakan dan pertanian yang lestari. Hasil penelitiannya tentang probiotik hewan ruminansia atau memamah biak telah memberdayakan sekaligus menjadi tumpuan ribuan peternak dan petani di Bali, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara. </p>
<p>Bali menyajikan fenomena subtil sekaligus ironis. Di satu sisi pariwisata diagungkan meski secara fisik mengorbankan sebagian alamnya. Lahan subur pertanian disesaki hotel dan vila. Kaum muda tenggelam dalam bisnis pariwisata, meninggalkan pertanian. <span id="more-183"></span></p>
<p>Di sisi lain muncul pribadi dan kelompok yang percaya pertanian lestari adalah sumber dan daya hidup yang sesungguhnya menunjang pariwisata, selain religi dan budayanya. Dalam kerangka itulah Guntoro, panggilannya, memberi warna.</p>
<p>Di Kecamatan Busung Biu, Buleleng, gerakan pertanian integratif atau organik menjadi penegas fenomena itu. Ribuan hektar kebun kopi tumbuh subur dengan hasil melimpah, bersamaan dengan hasil ternak berbagai jenis kambing dan turunannya, seperti susu, keripik susu, hingga produk wine salak bali. Sarjana atau warga setempat yang mengadu nasib ke Denpasar sebagai tukang kebun hotel mewah pun kembali ke kampung. Mereka ikut mengembangkan pertanian di desa.</p>
<p>”Waktu harga kopi jatuh, tanaman kopi sempat akan diganti tanaman semusim. Itu jelas berbahaya dari sisi lingkungan karena kecamatan itu di dataran tinggi yang rawan longsor. Kami lalu kenalkan mereka dengan peternakan kambing yang pakannya antara lain dari kebun kopi,” katanya.</p>
<p>Pengembangan pertanian integratif di Busung Biu bisa pesat karena sentuhan teknologi yang dimotori Badan Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali lewat program Prima Tani. Di lembaga itulah Guntoro menjadi penelitinya.</p>
<p>Di Busung Biu, BPTP antara lain menciptakan mesin pengupas kulit kopi dan kacang, membantu proses pembuatan pupuk cair dari kencing sapi dan kambing, serta cairan probiotik yang dicampur pakan aneka hewan ruminansia sehingga bobot tubuh hewan naik optimal.</p>
<p>Ketika berhasil diterapkan, daerah binaan diperluas. Di Busung Biu, misalnya, ada lima desa dengan puluhan kelompok petani yang menerapkan pertanian integratif. BPTP Bali sekaligus memfasilitasi petani dan kelompok petani daerah lain di Indonesia untuk belajar sistem pertanian ini di Busung Biu.</p>
<p>Gerakan itu menyebar ke beberapa daerah lain di Bali, seperti Sukasada dan Gerokgak di Kabupaten Buleleng, Pupuan (Tabanan), Petang (Badung), Kintamani dan Susut (Bangli), serta Rendang (Karangasem), dengan cakupan areal ribuan hektar.</p>
<p><strong>Ujung timur Bali</strong></p>
<p>Penelitian Guntoro perihal probiotik ruminansia bermula dari pengalamannya di ujung timur Bali, Kabupaten Karangasem. Ia menyurvei desa-desa di Kabupaten Karangasem, habitat asli kambing gembrong, pada 1998. Hasilnya, kambing gembrong tinggal 64 ekor. Ini memprihatinkan. Kambing gembrong harus diselamatkan.</p>
<p>Dengan dana bantuan Yayasan Kehati, BPTP mengembangbiakkan 25 ekor di antaranya dengan sistem gaduh di kalangan petani- nelayan. ”Program itu kurang berhasil, terbentur kondisi perekonomian warga yang rata-rata petani-nelayan. Sejumlah kambing dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup warga,” ujarnya.</p>
<p>Guntoro melihat kambing itu cenderung kurus karena kurang pakan. Hampir tak mungkin memberi makan kambing dengan konsentrat yang dibeli di pasaran. Ia lalu berpikir untuk menghasilkan konsentrat buatan sendiri dengan probiotik hewan ruminansia.</p>
<p>Probiotik itu diisolasi dari rumen (lambung depan) sapi bali. Eksperimen dimulai tahun 2001 dan disempurnakan pada 2004. Selain menggunakan laboratorium di BPTP Bali, ia pun memakai Laboratorium Universitas Udayana sebagai tempat penelitian.</p>
<p>Salah satu hasil penelitian Guntoro yang sudah memperoleh hak paten Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, adalah proses pembuatan tepung sampah dan komposisi pakan untuk menggemukkan ternak ruminansia.</p>
<p>Bersama lima rekan di BPTP Bali, penelitian Guntoro perihal instalasi biogas, biourine, dan biokultur masuk dalam buku 100 Inovasi Badan Litbang Pertanian 2008. Penelitian itu menjelaskan proses pengolahan aneka limbah ternak, seperti urine ternak yang diolah untuk pupuk, gas untuk memasak dan penerangan, dan sludge (limbah biogas) berbentuk pasta menjadi biokultur.</p>
<p>Ia juga mengembangkan teknologi produksi trichoderma (sejenis jamur tanah) cair. Fermentasi trichoderma digunakan sebagai bahan campuran pakan ternak, dan pengendalian penyakit (biopestisida), terutama pada tanaman perkebunan seperti mete dan kakao.</p>
<p>Hasil penelitian Guntoro lainnya, cairan probiotik Bio-CAS. Bio-CAS merupakan singkatan dari bio curcumae alicin scordinin. Probiotik itu mempercepat pertumbuhan, menjaga kesehatan, dan menghilangkan bau kotoran ternak. Cairan ini juga meningkatkan bobot lahir anak sapi pada sapi betina bunting.</p>
<p>Umumnya bobot sapi bali lahir sekitar 16 kilogram. Dengan konsumsi Bio-CAS, bobotnya naik menjadi 18-19 kg. Probiotik digunakan sedikitnya oleh 1.500 peternak sapi di Jember (Jawa Timur), Bali, dan Nusa Tenggara Barat.</p>
<p>Bagi Guntoro, pengalaman dengan kambing gembrong itu amat membekas. Ia jadi tahu ternyata uang peternak habis untuk pakan. Maka pilihannya berujung pada dua cara: membuat pakan murah atau mengefisienkan penggunaan pakan. Di Bali, bahan pakan terbatas, demikian pula pabriknya. Maka, efisiensi pakan menjadi pilihan. Ia lalu mengoptimalisasi mikroba di pencernaan hewan ruminansia untuk membuat aneka asupan pakan ternak.</p>
<p>”Saya melakukan ini karena prihatin pada praktik kapitalisasi pertanian. Sebaiknya peneliti tak hanya kaya metodologi, tapi juga ideologi. Bagaimana kekuatan peneliti melawan kapitalisasi pertanian, demi rakyat kecil. Teknologi adalah alat tawar agar kita tidak terkapitalisasi. <strong>[]</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosok.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosok.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosok.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosok.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=183&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2010/06/30/kiat-guntoro-mandirikan-petani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4b14912ffae1bb15c4cd5823f79a614?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Beni, Perajin &#8220;Tulang&#8221; dari Tlatar</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2009/10/29/beni-perajin-tulang-dari-tlatar/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2009/10/29/beni-perajin-tulang-dari-tlatar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 10:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas. Dua tahun lalu Beni menjadi korban pemutusan hubungan kerja massal. Ia lalu mencoba beternak lele. Ketika tengah menguras kolam untuk panen, Beni dan rekannya menemukan tumpukan tulang ikan dan ayam, sisa pakan lele, tiba-tiba muncul ide di kepalanya. Tulang belulang yang sering kali dianggap orang tak berharga itu, mereka ubah menjadi ”sepeda onthel”, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=178&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/07/03330583/beni.perajin.tulang.dari.tlatar">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Dua tahun lalu Beni menjadi korban pemutusan hubungan kerja massal. Ia lalu mencoba beternak lele. Ketika tengah menguras kolam untuk panen, Beni dan rekannya menemukan tumpukan tulang ikan dan ayam, sisa pakan lele, tiba-tiba muncul ide di kepalanya. Tulang belulang yang sering kali dianggap orang tak berharga itu, mereka ubah menjadi ”sepeda onthel”, ”naga”, ”motor besar”, sampai ”becak”.</p>
<p>Kerajinan dengan bahan baku tulang belulang pula yang membuat laki-laki bernama lengkap Beni Tri Bawono ini mengikuti berbagai pameran kerajinan, di antaranya di Yogyakarta dan Jakarta.</p>
<p>Dalam berbagai pameran itu, miniatur sepeda onthel, monster, sepeda motor gede atau moge seperti Harley Davidson, becak, dan kapal layar diberi harga sekitar Rp 1 juta. Adapun kerajinan berbentuk naga yang panjangnya lebih dari satu meter ditawarkan sekitar Rp 10 juta. Harga yang relatif tinggi, menurut Beni, merupakan bagian dari penghargaan atas kreativitas mencipta. <span id="more-178"></span></p>
<p>Bahan baku utama kerajinan itu dari tulang belulang ”gratisan” yang sebagian merupakan limbah warung makan di sekitar rumahnya. Bahan baku kerajinan itu tak hanya tulang ayam, tetapi juga tulang ikan dan tulang bebek. Sebagian besar tulang itu tidak dibentuk sesuai kebutuhan, tetapi kreativitaslah yang disesuaikan dengan bentuk tulang-tulang yang tersedia.</p>
<p>Sadel untuk sepeda onthel, misalnya, dibuat dari potongan punggung ayam, ban sepeda dari leher ayam yang dibentuk melingkar. Jeruji dibuat dari patahan tulang sayap, sedangkan kemudi sepeda dari tulang bebek. Ini yang menyebabkan pembuatan kerajinan seperti sepeda onthel bisa memakan waktu 10-15 hari, sementara untuk membuat naga yang lebih rumit diperlukan waktu hampir empat bulan.</p>
<p>Proses pembuatan kerajinan itu diawali dengan membersihkan tulang dari sisa-sisa daging. Untuk menghemat tenaga, hasil berburu tulang pada malam hari di warung-warung makan itu dia lemparkan ke kolam lele di belakang rumahnya. Setelah tiga hari, tulang itu diangkat dan direndam dalam air berformalin selama sehari semalam. Tulang-tulang itu kemudian dijemur hingga berwarna putih kering sambil sesekali disemprot formalin.</p>
<p>Tulang yang sudah benar-benar kering lalu mulai direkatkan dengan lem, sesuai dengan ide bentuk benda yang muncul. Setelah jadi, sebagai sentuhan akhir, rangkaian itu disemprot dengan cairan pembersih dan disapu dengan pewarna mutiara. Untuk memberi nilai tambah pada produknya, kerajinan itu dimasukkan ke dalam bingkai kaca.</p>
<p>”Kaca bingkainya juga kami potong sendiri dan sengaja dibentuk agar bisa dibuka. Ini supaya orang mudah membersihkannya, cukup disemprot cairan pembersih supaya awet. Asal tidak berada di tempat lembab, kerajinan ini bisa tahan lama,” kata Beni yang tinggal di Kelurahan Kebonbimo, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.</p>
<p><strong>Andil rekan</strong></p>
<p>Kreativitas membuat kerajinan tulang yang diberi label nama Boneart-Tlatar itu tak terlepas dari andil teman mainnya sejak kecil, Parmono atau Mono (27), panggilannya. Tentang nama merek produknya itu, kata Beni, ”boneart” untuk menggambarkan kerajinan ini terbuat dari tulang belulang. Adapun ”Tlatar” adalah tempat kelahirannya.</p>
<p>Mono membantu Beni mengurus 13 kolam lele di belakang rumahnya. Memelihara lele adalah usaha yang dijalani Beni untuk menyambung hidup setelah terkena PHK massal dari pabrik tekstil di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, akhir tahun 2007.</p>
<p>Pada awal tahun 2008, Beni dan Mono mulai memanen lele. Setelah menguras habis air kolam, di tepian kolam teronggok tumpukan tulang-tulang sisa pakan tambahan lele. Mono melihat kepala ayam yang sudah menjadi kerangka. Entah mengapa, ketika itu imajinasinya melayang, membayangkan kepala ayam itu seperti kepala monster. Hari itu juga Mono dibantu Beni mencoba membentuk sosok monster yang tergambar dalam benak mereka.</p>
<p>Hasilnya ternyata lumayan unik meski masih sederhana. ”Monster” itu lalu dipajang di ruang tamu rumah Beni. Beberapa kenalannya yang melihat ”monster” berbahan tulang sisa pakan lele itu tertarik dan memesan produk serupa.</p>
<p>Merasa ada peluang, jiwa bisnis Beni muncul. Dia mengajak Mono membuat lebih banyak kreasi hingga kemudian hasil karya mereka juga diketahui dinas usaha kecil dan menengah setempat. Mereka kemudian diajak ikut pameran ke berbagai tempat dan kota.</p>
<p>”Sewaktu pameran di Yogyakarta, kami sudah mendapat pesanan meski jumlahnya relatif kecil. Namun, karena ini produk kerajinan tangan, memang tak bisa langsung dikerjakan dalam waktu cepat,” katanya.</p>
<p>Duet Beni dan Mono lalu mencoba mengembangkan bentuk selain sosok monster. Mereka mencoba membuat sesuatu yang lebih menantang. Namun, Mono memutuskan untuk berhenti dua bulan lalu. Maka, Beni bekerja sendiri meneruskan usaha kerajinan berbahan baku tulang belulang itu.</p>
<p><strong>Tawaran lewat ”blog”</strong></p>
<p>Meski bisa dikatakan unik, kata Beni, pemasaran produk kerajinan tulang ini masih tertatih-tatih. Ia baru bisa berharap dari pameran ke pameran. Dia masih enggan menawarkan kerajinan tulang itu melalui galeri seni.</p>
<p>”Saya berencana membuat galeri sendiri di rumah, tetapi masih belum terwujud karena terkendala modal. Untuk membuat karya yang dipamerkan di Jakarta saja, saya sudah habis-habisan. Uang dari hasil menjual lele nyaris semuanya dipakai untuk modal membuat kerajinan,” tuturnya sambil menunjukkan belasan kerajinan tulang.</p>
<p>Untuk mengatasi masalah pemasaran, sekitar sebulan lalu Beni dibantu sepupunya mencoba menggunakan jejaring internet. Dia membuat blog yang berisi foto-foto dan narasi singkat tentang kerajinan tulang produknya dalam www.boneart-tlatar.blogspot.com. Namun, media ini masih sangat sederhana, baik tampilan maupun isinya.</p>
<p>”Saya tetap merasa kerajinan ini unik dan bernilai tinggi. Saya berharap setelah pemasarannya bisa lebih luas, saya bisa mengajak orang-orang di kampung untuk ikut membuatnya. Sepanjang ada kreativitas, pasti ada jalan,” ungkapnya optimistis. <strong>[]</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosok.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosok.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosok.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosok.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/178/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=178&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2009/10/29/beni-perajin-tulang-dari-tlatar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4b14912ffae1bb15c4cd5823f79a614?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Moelyono, Seni untuk Rakyat</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2009/10/29/moelyono-seni-untuk-rakyat/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2009/10/29/moelyono-seni-untuk-rakyat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 08:01:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Etos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas. Jika banyak seniman kontemporer menikmati hidup di tengah kota besar, dia minggir dan tinggal di kampung. Ketika para pelukis gencar mengangkat budaya urban seraya berpameran dari galeri ke galeri, dia berkelana di desa-desa demi memberdayakan rakyat miskin lewat kesenian. Saat sebagian seniman makin makmur dan berjarak dari kehidupan nyata, dia masih setia pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=176&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/18/02560733/moelyono.seni.untuk.rakyat">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Jika banyak seniman kontemporer menikmati hidup di tengah kota besar, dia minggir dan tinggal di kampung. Ketika para pelukis gencar mengangkat budaya urban seraya berpameran dari galeri ke galeri, dia berkelana di desa-desa demi memberdayakan rakyat miskin lewat kesenian. Saat sebagian seniman makin makmur dan berjarak dari kehidupan nyata, dia masih setia pada komunitas desanya.</p>
<p>Dialah Moelyono (52), seniman yang memilih tinggal di Desa Winong, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Jawa Timur. Dia bergabung dalam kehidupan masyarakat desa, mengajak mereka berkesenian, dan mengungkapkan masalahnya lewat bahasa rupa. Bersama komunitas itu, kemudian dia berusaha mendorong penyadaran, kebebasan berpikir, daya kritis, dan kemandirian. <span id="more-176"></span></p>
<p>Gerakan semacam itu membuat sosok ini lekat dengan gagasan  ”seni rupa penyadaran”. Dalam pemahamannya, para seniman seyogianya masuk dalam geliat kehidupan nyata rakyat bawah. Lewat kesenian, seniman dan rakyat bersama-sama melakukan pemberdayaan sosial, ekonomi, dan politik.</p>
<p>Dia percaya, seni bisa jadi cara yang dipelajari dan ditularkan untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran kelompok masyarakat. Seni bisa menjadi media untuk mengungkapkan berbagai masalah sosial dan mendialogkannya demi mencari jalan keluar. Rakyat dan seniman sama-sama jadi subyek yang aktif memperjuangkan perubahan hidup lebih baik. Gagasan ini dipraktikkan Moelyono lebih dari 20 tahun, sejak tahun 1980-an sampai sekarang. Berawal dari pergumulan bersama nelayan miskin di Brumbun, Tulungagung selatan, dia lantas berkeliling menjelajah pelosok Nusantara: mulai dari Pacitan, Surabaya, Lombok, Kupang, Aceh, sampai Papua dan Wamena. Gerakan ini berhasil merekam dan menyuarakan berbagai persoalan mendasar di masyarakat bawah lewat bahasa seni rupa.</p>
<p>”Dalam estetika Jawa, seni itu disebut kagunan. Artinya, seni itu harus berguna. Apa pun yang dilakukan seniman seharusnya punya manfaat bagi seniman sendiri dan masyarakat,” kata Moelyono di Jakarta beberapa waktu lalu.</p>
<p>Kami berbincang saat penyelenggaraan pameran ”Topografi Ingatan: Fragmen Kesaksian Moelyono/Guru Gambar” di Koong Gallery, City Plaza, Wisma Mulia, Jakarta, September. Dalam pameran dengan kurator Hendro Wiyanto itu, seniman ini menampilkan beberapa instalasi, lukisan, dan drawing. Sejumlah instalasi dilapisi lumpur tanah.</p>
<p>Karya-karya itu merekam sosok seniman dan wong cilik di Tulungagung, Pacitan, dan Blitar. Ada pemain ludruk, penari, pemain wayang, penjual nasi bungkus, dan petani. Orang-orang yang sebagian tersangkut dalam kasus G30S tahun 1965 itu diabadikan lewat drawing, instalasi yang dibungkus lumpur, lukisan potret, dan video.</p>
<p>”Kesenian itu membuat mereka bertahan menghadapi berbagai kesulitan hidup. Seni juga jadi media rekonsiliasi dan penyembuhan diri,” kata Moelyono.</p>
<p><strong>Guru gambar</strong></p>
<p>Moelyono tertarik dengan gerakan seni rupa di akar rumput saat bergabung dengan masyarakat nelayan pantai selatan di Brumbun, Tulungagung Selatan. Dia mengajar anak-anak di kawasan terpencil itu untuk menggambar.</p>
<p>”Saya ke sana setiap Sabtu-Minggu. Saya naik sepeda, lalu jalan kaki di atas jalan setapak selama satu jam,” katanya.</p>
<p>Kemiskinan membuat para nelayan tak mampu menyediakan alat dan buku gambar. Anak-anak menggambar dengan pakai kaki, ranting, atau apa saja di atas pasir pantai. Lewat bahasa gambar, anak-anak itu mengeluarkan unek-unek soal kehidupan sehari-hari, mulai dari gambar nyamuk malaria, sakit malaria, atau orang bertengkar karena selang air.</p>
<p>Dua tahun kemudian, hasil karya anak-anak dipamerkan di gedung Arena Remaja di Tulungagung. Melihat berbagai persoalan sosial-ekonomi dalam gambar anak-anak itu, Bupati Tulungagung bersama jajaran pejabat daerah mengunjungi Brumbun. Mereka melihat sendiri kemiskinan dan ketertinggalan kawasan itu.</p>
<p>Setelah itu, dibuat jalan beraspal menuju Brumbun. Pantainya dijadikan daerah wisata. Orang-orang dari sana akhirnya bisa jualan ikan dan lobster ke pasar sehingga ekonomi meningkat</p>
<p>”Ternyata, gambar seni rupa anak-anak itu bisa mendorong perubahan sosial.”</p>
<p>Pengalaman itu mengantarkan Moelyono memperoleh semacam beasiswa Ashoka Fellowships Inovator for the Public dari Yayasan Ashoka Indonesia tahun 1989-1992. Dia berkenalan dengan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), membaca teori dan referensi pendidikan masyarakat tertinggal, terutama dari gagasan Paulo Freire. Dan seniman bisa menjadi salah satu pendorong perubahan.</p>
<p>Bagaimana posisi seniman dalam masyarakat?</p>
<p>Seniman menguasai media, seperti gambar. Media itu bisa ditularkan kepada anak-anak dan masyarakat untuk dijadikan sarana mengungkapkan berbagai persoalan. Persoalan itu memancing dialog dan akhirnya mendorong perubahan.</p>
<p>Untuk menguatkan kepercayaan diri dan masyarakat serta menguasai media kesenian, seniman harus menjadi guru dan fasilitator. Untuk membangun kebersamaan di antara komunitas, seniman perlu menjadi organisator. Dalam semua proses itu, seniman juga seorang peneliti. Jadi, seniman itu haruslah seorang pekerja seni, guru, organisatoris, sekaligus peneliti.</p>
<p><strong>Pendidikan anak</strong></p>
<p>Moelyono lantas berusaha memperkuat metode untuk pemberdayaan masyarakat lewat seni. Metode itu diformulasikan dalam konsep early childhood care for development (ECCD) atau pendidikan anak-anak usia dini untuk pengembangan. Artinya, membangun masyarakat baru harus dimulai dari pendidikan anak pada saat usia emas (1-5 tahun).</p>
<p>Usaha Moelyono mendapat dukungan dari banyak pihak. Dia diundang mengikuti pelatihan, forum dan pameran di berbagai tempat sampai luar negeri. Dia bekerja sama dengan sejumlah aktivis, seperti Wiji Tukhul, Halim HD, dan Semsar Siahaan.</p>
<p>Dia semakin mantap dengan metode seni sebagai media penyadaran. Pengalaman di Brumbun dan metode itu ditularkan kepada masyarakat di berbagai tempat. Ketika mengajar di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) dan Desain Grafis Universitas Petra, Moelyono memilih tinggal di Rungkut, kawasan tempat kost para buruh.</p>
<p>Di sana, dia mengajar anak-anak buruh untuk menggambar. Saat Marsinah terbunuh tahun 1993, dia mengajak para buruh membuat pameran Marsinah. Meski ditutup militer, pameran ini dicatat sebagai salah satu ekspresi perlawanan lewat media seni.</p>
<p>Moelyono bergerak ke Ponorogo dan Pacitan, Jawa Timur. Bersama beberapa LSM, dia mengembangkan child center community development (CCCD). Dia mendidik anak untuk mengembangkan potensi seni budaya lokal yang lebih luas, tak hanya seni rupa.</p>
<p>Bersama para aktivis LSM, Moelyono mendirikan sekolah informal bagi anak-anak dan ibu-ibu. Mereka diajari kembali mengenal lagu-lagu lokal, menguasai seni tari kampung. Seni itu mengajarkan kembali kebijakan pertanian bagaimana menanam padi, menjaga ekosistem persawahan, dan menjaga kebersamaan.</p>
<p>”Kami membantu membangun desa dengan basis potensi lokal,” katanya.</p>
<p><strong>Titik nol</strong></p>
<p>Semua pencapaian Moelyono itu diraih dengan penuh keprihatinan. Masa-masa susah itu mendera pada awal hingga pertengahan perjalanan keseniannya. Saat itu, tak mudah menaklukkan godaan meninggalkan idealisme pengembangan seni rakyat demi masuk dalam jalur lebih praktis.</p>
<p>Pada awal menjadi guru gambar anak-anak di Brumbun, misalnya, dia sempat diinterogasi militer. ”Saya ditanya, nama, pekerjaan, orangtua, partainya apa, mengapa sarjana masuk daerah miskin? Brumbun ini kan daerah pelarian PKI. Kegiatan saya dinilai mirip gerakan PKI.”</p>
<p>Seluruh kegiatan mengajar dihentikan. Moelyono baru bisa masuk lagi setelah mendapat surat izin dari Kodim, polres, dan diknas di Tulungagung. Saya mencari surat itu. ”Waktu masuk mengajar kembali, saya dikawal militer.”</p>
<p>Pengalaman lain terjadi di Surabaya. Gaji mengajar di STKW dan Desain Grafis Universitas Petra saat itu hanya Rp 250.000 per bulan. Pameran Marsinah yang diusahakannya ditutup polisi.</p>
<p>”Saat itu, saya jatuh di titik nol. Rumah kontrakan dipinjami mahasiswa. Untuk menghidupi anak-istri, saya jadi kuli bangunan untuk patung,” katanya.</p>
<p>Apakah keluarga bisa menerima kondisi sulit itu?</p>
<p>Keluarga kalang kabut. Mau hari raya, tak punya uang. Dapat sedikit uang, saya pakai untuk beli baju. Baju tadi dicantolkan di sepeda motor orang lain. Eh, ternyata terbawa orang itu. Sampai di rumah, baju yang dicari tak ada. Rasanya frustrasi sekali.</p>
<p>Istri saya stres. Dia meminta saya tidak usah berkesenian lagi. Untung datang kurator dari Australia. Kurator itu yang mengingatkan istri saya agar tetap mendukung pilihan kesenian saya.</p>
<p>Moelyono juga diselamatkan beberapa kawan dan donatur. Selain itu, dia menambah penghasilan dengan menulis di koran, yang kemudian dibukukan menjadi Seni Rupa Penyadaran (tahun 1997). <strong>[]</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosok.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosok.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=176&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2009/10/29/moelyono-seni-untuk-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4b14912ffae1bb15c4cd5823f79a614?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Samsuri, Seniman &#8220;Kentrung&#8221; Demak</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2009/09/08/samsuri-seniman-kentrung-demak/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2009/09/08/samsuri-seniman-kentrung-demak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 08:40:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas. Rekor penonton seni kentrung pecah tahun 2008, saat Mochammad Samsuri manggung tunggal di pentas Demak Art Festival di Tembiring, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Ketika itu ribuan penonton asyik menyimak gaya Samsuri bertutur tentang Syaridin alias Sheikh Jangkung. Alkisah, Sheikh Jangkung lahir di Desa Landoh, Tayu, Pati. Sheikh Jangkung diperkirakan hidup semasa Sunan Muria [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=174&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/02/0324174/samsuri.seniman.kentrung.demak">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Rekor penonton seni kentrung pecah tahun 2008, saat Mochammad Samsuri manggung tunggal di pentas Demak Art Festival di Tembiring, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Ketika itu ribuan penonton asyik menyimak gaya Samsuri bertutur tentang Syaridin alias Sheikh Jangkung. Alkisah, Sheikh Jangkung lahir di Desa Landoh, Tayu, Pati. Sheikh Jangkung diperkirakan hidup semasa Sunan Muria atau Raden Umar Said menjadi penyebar agama Islam. Dia punya karomah yang disegani pada zamannya. Dia menyebarkan Islam hingga ke Sumatera.</p>
<p>Atas partisipasi menggelar seni tutur di Demak Art Festival 2008, Samsuri memperoleh penghargaan sebagai pelestari kebudayaan, terutama sebagai tokoh kentrung. Samsuri menjadi satu-satunya seniman kentrung yang bertahan di pantai utara-timur Jawa Tengah, meskipun dia sudah uzur. <span id="more-174"></span></p>
<p>Penghargaan dari Dewan Kesenian Demak itu diletakkannya di atas lemari tua di ruang tamu rumahnya di Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak.</p>
<p>”Ini rumah almarhum bapak saya, Ahmad Pudjo Prayitno, yang juga seniman kentrung. Saya ini seperti dijebak nasib. Wong waktu masih kelas V sekolah rakyat sudah sering menggantikan peran bapak kalau berhalangan,” katanya.</p>
<p>Cerita rakyat Syaridin itu menjadi favoritnya. Hampir 30 tahun cerita Syaridin menjadi legenda tersendiri bagi Samsuri yang seakan tanpa lelah menuturkannya kepada masyarakat lewat pentas kentrung. Ada tiga nilai utama dalam cerita itu, yakni tentang kebenaran, kepasrahan, dan kejujuran.</p>
<p>Konon Syaridin termasuk orang sakti. Ia naik pohon kelapa, lalu menjatuhkan diri ke tanah dan tak mati. Kalau kini Indonesia disibukkan aksi teroris, kata Samsuri, seni tutur seperti kentrung bisa dipakai untuk meredam terorisme. Dia bisa merekayasa cerita dengan tetap mengacu kepada Syaridin. Sosok yang menyebarkan Islam secara damai itu.</p>
<p><strong>Suguhan langka</strong></p>
<p>Sebagai seniman kentrung, Samsuri kini tengah prihatin. Tradisi lisan kentrung sudah jauh ditinggalkan masyarakat. Di pesisir pantura Jawa Tengah, kentrung menjadi suguhan langka. ”Bisa juga karena perekonomian rakyat lagi surut. Memanggil saya untuk pentas memang tak murah,” ucapnya.</p>
<p>Tahun 1959 tiap kali pentas dia dibayar Rp 500 yang ketika itu relatif bernilai, dan ditonton ribuan orang di pedesaan. Kini honornya pentas selama empat jam di kampung di Demak sebesar Rp 450.000. Jika dipanggil ke kota lain di Jawa Tengah, honornya Rp 600.000 hingga Rp 800.00 dan di Jakarta lebih dari Rp 1 juta.</p>
<p>Terlepas dari besarnya honor itu, kisah Samsuri mempertahankan kentrung pun mengalami pasang-surut. Sebelum 2004 tawaran naik panggungnya relatif ramai. ”Saya sampai tak tidur di rumah. Sehari main di Solo (Studio RRI Solo), berlanjut main di Yogyakarta.”</p>
<p>Namun, ketenaran kentrung makin redup seiring meninggalnya satu demi satu seniman kentrung seangkatan Samsuri. ”Saya seperti ditinggal sendiri, seolah disuruh main seni tutur kentrung sendirian.”</p>
<p>Untuk menularkan ilmu kentrung pun tak mudah. Samsuri pernah mengajari kedua anak lelakinya. Namun, keduanya kemudian justru memilih bekerja biasa daripada menjadi dalang seni tutur kentrung. Ia tak bisa memaksa mereka.</p>
<p>Samsuri lalu bercerita, saat almarhum ayahnya sakit-sakitan sebelum meninggal tahun 1967, dia dipercaya meneruskan laku seni tutur itu. Ia pun rajin menyerap ilmu kentrung lewat penceritaan langsung dari sang ayah.</p>
<p>Maka, dia hafal dan bisa berimprovisasi bukan hanya tentang sosok Kiai Syaridin, melainkan juga Sunan Kalijaga. ”Kisah para kiai itu membangkitkan kebanggaan masyarakat,” kata Samsuri yang rumahnya tak jauh dari makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak.</p>
<p>Meski begitu, Samsuri pun piawai membawakan cerita rakyat lainnya, seperti legenda Baruklinthing, Raja Angling Dharma, Sunan Gunungjati, Sunan Muria, Sunan Brayat, Kiai Ageng Pandanaran, Marmaya Ngentrung, Nabi Yusuf, dan kisah Babad Tanah Jawi.</p>
<p>”Saya bertutur dalam bahasa Jawa, sesekali diselipi bahasa Indonesia. Penonton suka karena mereka butuh hiburan dari kisah para tokoh masa lalu yang punya kedigdayaan. Mereka juga merindukan sosok teladan,” katanya.</p>
<p><strong>Untuk Agustus-an</strong></p>
<p>Meski mendapat penghargaan, Samsuri justru merasa mulai ditinggalkan pemerintah ataupun masyarakat sejak tahun 2004. Rasa itu muncul seiring dengan semakin sedikitnya tawaran bermain kentrung di berbagai kesempatan.</p>
<p>”Belakangan ini, kalau dapat tawaran tiga kali dalam sebulan saja, sudah bagus,” ujarnya.</p>
<p>Apalagi setahun belakangan ini, tawaran pentas kentrung yang diterimanya bisa dihitung dengan jari. ”Tawaran paling ramai hanya pada bulan Agustus. Ada saja panitia perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan (Indonesia) yang meminta saya pentas, bercerita tentang kepahlawanan para pejuang melawan Belanda.”</p>
<p>Bahkan, permintaan pentas dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Dinas Pendidikan di Kabupaten Demak pun sepi. Padahal, dulu dia sempat diajak dinas pendidikan berpentas keliling sekolah-sekolah.</p>
<p>”Saya diminta untuk mengajarkan budi pekerti dan semangat kebenaran lewat kisah-kisah dalam seni tutur kentrung,” ujar Samsuri, yang juga sempat diajak dinas pariwisata berpentas di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.</p>
<p>Meski sudah rusak, Samsuri masih menggunakan rebana warisan sang ayah saat pentas kentrung. Dia memainkan rebana (terbangan) dengan tiga ukuran, yakni ketipung (rebana kecil), kemplang (sedang), dan rebana jedur (besar). Terkadang ia meminjam rebana milik masjid di kampungnya.</p>
<p>”Saya tak punya uang untuk membeli rebana baru. Tiga rebana baru harganya sampai Rp 650.000,” kata Samsuri yang masih setia memenuhi panggilan pentas kentrung untuk hajatan khitanan, mantenan (pernikahan), pupak puser (puputan), selapanan bayi, thedak siti, syukuran bayi berusia sembilan bulan, sampai perayaan Hari Kemerdekaan RI di pabrik rokok.</p>
<p>Bagaimanapun kondisinya, Samsuri bertekad melestarikan seni tutur kentrung hingga akhir hayatnya. Dia rindu memiliki murid yang meneruskan kentrung. Samsuri bersedia melatih siapa pun yang mau belajar kentrung dengan sungguh-sungguh.</p>
<p>”Jangan biarkan seni kentrung (sering juga disebut kentrungan) punah. Kentrung itu salah satu warisan budaya Jawa yang sekarang di ambang senja,” ujarnya lirih.</p>
<p><strong>Data Diri</strong></p>
<p>• Nama: Mochammad Samsuri • Lahir: Bintoro, Demak, Jawa Tengah, 1949 • Pendidikan: Sekolah rakyat kelas V • Istri: Surilah • Anak: 1. Djumadi (40) 2. Suparlan (37) 3. Tuminah (35) • Profesi: seniman kentrung</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosok.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosok.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosok.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosok.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/174/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=174&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2009/09/08/samsuri-seniman-kentrung-demak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4b14912ffae1bb15c4cd5823f79a614?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2009/09/08/dokter-lo-siaw-ging-tak-sudi-berdagang/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2009/09/08/dokter-lo-siaw-ging-tak-sudi-berdagang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 08:36:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kemanusiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas. Ketika biaya perawatan dokter dan rumah sakit semakin membubung tinggi, tidak ada yang berubah dari sosok Lo Siaw Ging, seorang dokter di Kota Solo, Jawa Tengah. Dia tetap merawat dan mengobati pasien tanpa menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasiennya justru tidak pernah dimintai bayaran. Maka, tak heran kalau pasien-pasien Lo Siaw Ging tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=172&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/15/03321720/dokter.lo.siaw.ging.tak.sudi.berdagang">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Ketika biaya perawatan dokter dan rumah sakit semakin membubung tinggi, tidak ada yang berubah dari sosok Lo Siaw Ging, seorang dokter di Kota Solo, Jawa Tengah. Dia tetap merawat dan mengobati pasien tanpa menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasiennya justru tidak pernah dimintai bayaran.</p>
<p>Maka, tak heran kalau pasien-pasien Lo Siaw Ging tidak hanya warga Solo, tetapi juga mereka yang berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Klaten, Boyolali, dan Wonogiri. Usianya yang sudah menjelang 75 tahun tak membuat pria itu menghentikan kesibukannya memeriksa para pasien.</p>
<p>Dokter Lo, panggilannya, setiap hari tetap melayani puluhan pasien yang datang ke tempatnya praktik sekaligus rumah tinggalnya di Jalan Jagalan 27, Kelurahan Jebres, Kota Solo. Mayoritas pasien Lo adalah keluarga tak mampu secara ekonomi. Mereka itu, jangankan membayar ongkos periksa, untuk menebus resep dokter Lo pun sering kali tak sanggup. <span id="more-172"></span></p>
<p>Namun, bagi Lo, semua itu dihadapinya dengan ”biasa saja”. Dia merasa dapat memahami kondisi sebagian pasiennya itu. Seorang pasiennya bercerita, karena terlalu sering berobat ke dokter Lo dan tak membayar, ia merasa tidak enak hati. Dia lalu bertanya berapa biaya pemeriksaan dan resep obatnya.</p>
<p>Mendengar pertanyaan si pasien, Lo malah balik bertanya, ”Memangnya kamu sudah punya uang banyak?”</p>
<p>Pasiennya yang lain, Yuli (30), warga Cemani, Sukoharjo, bercerita, dia juga tak pernah membayar saat memeriksakan diri. ”Saya pernah ngasih uang kepada Pak Dokter, tetapi enggak diterima,” ucapnya.</p>
<p>Kardiman (45), penjual bakso di samping rumah dokter Lo, mengatakan, para tetangga dan mereka yang tinggal di sekitar rumah dokter itu juga tak pernah diminta bayaran. ”Kami hanya bisa bilang terima kasih dokter, lalu ke luar ruang periksa,” katanya.</p>
<p>Cara kerja Lo itu membuat dia setiap bulan justru harus membayar tagihan dari apotek atas resep-resep yang diambil para pasiennya. Ini tak terhindarkan karena ada saja pasien yang benar-benar tak punya uang untuk menebus obat atau karena penyakitnya memerlukan obat segera, padahal si pasien tak membawa cukup uang.</p>
<p>Dalam kondisi seperti itu, biasanya setelah memeriksa dan menuliskan resep untuk sang pasien, Lo langsung meminta pasien dan keluarganya menebus obat ke apotek yang memang telah menjadi langganannya. Pasien atau keluarganya cukup membawa resep yang telah ditandatangani Lo, petugas di apotek akan memberikan obat yang diperlukan.</p>
<p>Pada setiap akhir bulan, barulah pihak apotek menagih harga obat tersebut kepada Lo. Berapa besar tagihannya? ”Bervariasi, dari ratusan ribu sampai Rp 10 juta per bulan.”</p>
<p>Bahkan, pasien tak mampu yang menderita sakit parah pun tanpa ragu dikirim Lo ke Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Dengan mengantongi surat dari dokter Lo, pasien biasanya diterima pihak rumah sakit, yang lalu membebankan biaya perawatan kepada Lo.</p>
<p><strong>Kerusuhan 1998</strong></p>
<p>Nama dokter Lo sebagai rujukan, terutama bagi kalangan warga tak mampu, relatif ”populer”. Namun, mantan Direktur RS Kasih Ibu ini justru tak suka pada publikasi. Beberapa kali dia menolak permintaan wawancara dari media.</p>
<p>”Enggak usahlah diberita-beritakan. Saya bukan siapa-siapa,” ujarnya.</p>
<p>Bagi Lo, apa yang dia lakukan selama ini sekadar membantu mereka yang tak mampu dan membutuhkan pertolongan dokter. ”Apa yang saya lakukan itu biasa dilakukan orang lain juga. Jadi, tak ada yang istimewa,” ujarnya.</p>
<p>Di kalangan warga Solo, terutama di sekitar tempat tinggalnya, Lo dikenal sebagai sosok yang selalu bersedia menolong siapa pun yang membutuhkan. Tak heran jika saat terjadi kerusuhan rasial di Solo pada Mei 1998, rumah dokter keturunan Tionghoa ini justru dijaga ketat oleh masyarakat setempat.</p>
<p>Lo juga tak merasa khawatir. Justru para tetangga yang meminta dia tidak membuka praktik pada masa kerusuhan itu mengingat situasinya rawan, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo menolak permintaan itu, dia tetap menerima pasien yang datang.</p>
<p>”Saya mengingatkan dokter, kenapa buka praktik. Wong suasananya kritis. Eh, saya yang malah dimarahi dokter. Katanya, dokter akan tetap buka praktik, kasihan sama orang yang sudah datang jauh-jauh mau berobat,” cerita Putut Hari Purwanto (46), warga Purwodiningratan, yang rumahnya tak jauh dari rumah Lo.</p>
<p>Bahkan, meski tentara datang ke rumah Lo untuk mengevakuasi dia ke tempat yang aman, Lo tetap menolak. Maka, wargalah yang kemudian berjaga-jaga di rumah Lo agar dia tak menjadi sasaran kerusuhan.</p>
<p>”Saya ini orang Solo, jadi tak perlu pergi ke mana-mana. Buat apa?” ucapnya.</p>
<p><strong>Anugerah</strong></p>
<p>Menjadi dokter, bagi Lo, adalah sebuah anugerah. Dia kemudian bercerita, seorang dokter di Solo yang dikenal dengan nama dokter Oen, seniornya, dan sang ayahlah yang membentuk sosoknya. Dokter Oen dan sang ayah kini telah tiada.</p>
<p>Lo selalu ingat pesan ayahnya saat memutuskan belajar di sekolah kedokteran. ”Ayah saya berkali-kali mengatakan, kalau saya mau jadi dokter, ya jangan dagang. Kalau mau dagang, jangan jadi dokter. Makanya, siapa pun orang yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus terbuka. Saya tidak pasang tarif,” kata Lo yang namanya masuk dalam buku Kitab Solo itu.</p>
<p>Papan praktik dokter pun selama bertahun-tahun tak pernah dia pasang. Kalau belakangan ini dia memasang papan nama praktik dokternya, itu karena harus memenuhi peraturan pemerintah.</p>
<p>Tentang peran dokter Oen dalam dirinya, Lo bercerita, selama sekitar 15 tahun dia bekerja kepada dokter Oen yang dia jadikan sebagai panutan. ”Dokter Oen itu jiwa sosialnya tinggi dan kehidupan sehari-harinya sederhana,” ujarnya.</p>
<p>Dari kedua orang itulah, Lo belajar bahwa kebahagiaan justru muncul saat kita bisa berbuat sesuatu bagi sesama. ”Ini bukan berarti saya tak menerima bayaran dari pasien, tetapi kepuasan bisa membantu sesama yang tidak bisa dibayar dengan uang,” katanya sambil bercerita, sebagian pasien yang datang dari desa suka membawakan pisang untuknya.</p>
<p>Gaya hidup sederhana membuat Lo merasa pendapatan sebagai dokter bisa lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Apalagi, dia dan sang istri, Maria Gan May Kwee atau Maria Gandi, yang dinikahinya tahun 1968, tak memiliki anak.</p>
<p>”Kebutuhan kami hanya makan. Lagi pula orang seumur saya, seberapa banyak sih makannya?” ujar Lo.</p>
<p>Bahkan, di mata para pasien, Lo seakan tak pernah ”cuti” praktik. Lies (55), ibu dua anak, warga Kepatihan Kulon, Solo, yang selama puluhan tahun menjadi pasiennya mengatakan, ”Dokter Lo praktik pagi dan malam. Setiap kali saya datang tak pernah tutup. Sepertinya, dokter Lo selalu ada kapan pun kami memerlukan.”</p>
<p><strong>DATA DIRI</strong></p>
<p>• Nama: Lo Siaw Ging • Lahir: Magelang, 16 Agustus 1934 • Istri: Maria Gan May Kwee (62) • Pendidikan: &#8211; Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 1962 &#8211; S-2 (MARS) Universitas Indonesia, 1995 • Profesi: &#8211; Dokter RS Panti Kosala, Kandang Sapi, Solo (sekarang RS dokter Oen, Solo) &#8211; Mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosok.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosok.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosok.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosok.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=172&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2009/09/08/dokter-lo-siaw-ging-tak-sudi-berdagang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4b14912ffae1bb15c4cd5823f79a614?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Alimun, Penjaga Hutan Palolo</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/alimun-penjaga-hutan-palolo/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/alimun-penjaga-hutan-palolo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 05:38:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas. Siang hari itu Alimun memperlihatkan buah-buah kakao dari kebunnya di Desa Bobo, Kecamatan Palolo, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Dengan bangga ia menunjukkan buah-buah kakao yang rata-rata sebesar buah pepaya lokal. Buah kakao itu ada yang berwarna kuning, ada yang merah tua. Semuanya tampak segar. Ini jauh berbeda dibandingkan dengan buah kakao biasa yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=170&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/02/01170121/alimun.penjaga.hutan.palolo">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Siang hari itu Alimun memperlihatkan buah-buah kakao dari kebunnya di Desa Bobo, Kecamatan Palolo, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Dengan bangga ia menunjukkan buah-buah kakao yang rata-rata sebesar buah pepaya lokal.</p>
<p>Buah kakao itu ada yang berwarna kuning, ada yang merah tua. Semuanya tampak segar. Ini jauh berbeda dibandingkan dengan buah kakao biasa yang kecil dan kulit buahnya mengerut. Perbandingannya, bila 1 kilogram kakao lokal berisi 25 buah, kakao dari kebun Alimun 10-16 buah.</p>
<p>Buah-buah kakao di kebunnya adalah hasil sambung samping dan persilangan antara bibit kakao lokal dan bibit asal Jember dan dari beberapa daerah lain. Persilangan dan sambung samping dilakukan sendiri oleh Alimun.</p>
<p>Ada dua alasan mengapa ia bersemangat menerapkan sistem sambung samping pada tanamannya. Pertama, akibat serangan hama penggerek buah yang sudah bertahun-tahun menyerang tanaman kakao petani setempat dan hampir semua petani kakao di Sulteng. Hasilnya, selain mendapat batang dan buah baru dari pohon yang sama, hama penggerek buah juga sedikit demi sedikit teratasi. <span id="more-170"></span></p>
<p>Hal yang lebih penting, nilai jual kakao berkualitas bagus jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kakao biasa. Kalau kakao hasil sambung samping Alimun bisa menembus harga Rp 17.000 per kg, kakao biasa umumnya dihargai Rp 10.000 per kg.</p>
<p>Alasan lain, mengajak petani kakao dan warga setempat untuk bercocok tanam komoditas yang lebih menjanjikan. Alimun berharap petani atau warga setempat lebih berminat bercocok tanam dan tak lagi menebang pohon. Ia juga mengajak peladang berpindah yang kerap membabat hutan untuk kebun agar beralih menanam kakao.</p>
<p>Upayanya tak sia-sia karena banyak peladang berpindah yang lalu bercocok tanam secara menetap dan tak lagi masuk-keluar hutan, membabat pohon untuk kebun. Untuk usahanya ini, Alimun mendapat penghargaan dari Ditjen Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan, Departemen Kehutanan.</p>
<p>”Memang yang membabat hutan itu orang luar, tetapi kadang mereka memanfaatkan warga sini atau orang lain. Ya, namanya dijanjikan uang dalam jumlah banyak dan waktu yang tak lama, tentu banyak yang berminat. Ini tanpa memperhitungkan akibat dari kerusakan hutan. Nah, kalau tanaman kakao tumbuhnya bagus, harganya bagus, semoga mereka berminat menanam kakao dan meninggalkan pekerjaan membabat hutan,” ujarnya.</p>
<p>Tak hanya bercocok tanam kakao kualitas bagus, Alimun juga memelihara lebah hutan. Untuk ini, Alimun punya alasan sederhana. Sebab, lebah membutuhkan makanan dari hutan, mau tidak mau hutan harus dijaga. Selain itu, lebah berfungsi mengawinkan tanaman bunga, tanpa perlu tangan manusia.</p>
<p>Tentu saja madu hasil dari lebah hutan ini bernilai jual tinggi. Pasarnya jelas ada, bahkan kerap Alimun kewalahan memenuhi pesanan. Lebah pun bisa dimanfaatkan untuk pengobatan.</p>
<p>Apa yang ia lakukan, kendati pada awalnya tak digubris warga setempat, perlahan-lahan mulai diikuti orang. Warga mulai belajar sambung samping dan memelihara lebah hutan. Alimun juga membantu pemasarannya kendati dengan cara konvensional, promosi dari mulut ke mulut dan menitipkan barang kepada pedagang.</p>
<p><strong>Menjaga hutan</strong></p>
<p>Apa yang dilakukan Alimun adalah urusan menjaga hutan. Berada di kawasan sekitar Taman Nasional Lore Lindu, ia merasa bertanggung jawab ikut menjaga. Tanggung jawabnya tak sekadar karena ia menjadi Ketua Lembaga Adat Pitunggota Nagata Kaili di Desa Bobo, Kecamatan Palolo. Tanggung jawabnya juga karena kesadaran betapa penting menjaga hutan demi menyelamatkan lingkungan.</p>
<p>Sebagian hutan di sekitar Kecamatan Palolo yang juga tanah adat adalah bagian dari Taman Nasional Lore Lindu. Luasnya sekitar 48,5 hektar. Jadi, penjagaannya pun diserahkan kepada masyarakat dan lembaga adat setempat bersama petugas taman nasional.</p>
<p>Di Desa Bobo, Kecamatan Palolo, Alimun—melalui lembaga adat setempat—membentuk Badan Konservasi dan Penyelamat Hutan yang beranggotakan pemuda setempat. Dengan pemahaman pentingnya menjaga hutan, mereka rela bekerja masuk-keluar hutan tanpa bayaran.</p>
<p>Warga dengan senang hati melaporkan bila tahu ada aktivitas mencurigakan di hutan, semisal suara mesin gergaji. Melalui badan konservasi ini, informasi tentang aktivitas penebangan liar di hutan bisa cepat diketahui.</p>
<p>”Dalam perjalanan kami memantau hutan, sering kami dapati bagian di dalam hutan yang gundul. Saya sering berjalan-jalan di hutan dan melihat bagian dalam hutan itu sudah sangat rusak. Kadang kami bertemu dengan mereka yang menebang pohon. Kami lakukan pendekatan dan memberi mereka pemahaman,” ujarnya.</p>
<p>Pendekatan yang dilakukan Alimun, kendati membuat ia sampai harus menginap berhari-hari di hutan, menampakkan hasil. Setidaknya penebangan liar di sekitar desanya makin berkurang.</p>
<p>Sebagai Ketua Lembaga Adat Desa Bobo, Kecamatan Palolo, Alimun tetap menghidupkan petuah pendahulu tentang menjaga mata air dan hutan. ”Sejak tahun 1950-an kami punya aturan, apabila mata air dirusak, hutan diganggu, akan dihukum denda. Dendanya bisa berupa kambing, sapi, kerbau, dan lainnya. Kayu tebangan disita. Sampai sekarang ini masih dipatuhi,” tuturnya.</p>
<p><strong>Bencana banjir</strong></p>
<p>Kesadaran Alimun menjaga hutan bukan tanpa sebab. Bencana banjir yang melanda desanya pada 2003 dan 2004 membuka matanya betapa hutan mulai rusak.</p>
<p>”Kalau hutan di sini rusak, bukan hanya desa ini yang menerima dampaknya, melainkan juga Kota Palu. Banyak sungai dari daerah Donggala yang melewati Kota Palu dan bermuara di Teluk Palu. Kalau hutan di Donggala rusak, Palu yang letaknya di dataran rendah, paling parah terkena dampaknya,” katanya.</p>
<p>Alimun tak salah. Sejak beberapa tahun lalu sejumlah wilayah di Palu menjadi langganan banjir atau genangan air. Setiap kali hujan di wilayah Donggala, terutama di hulu sungai, sungai-sungai yang melewati jalan dan permukiman penduduk di Palu meluap.</p>
<p>Kenyataan ini pula yang membuat Alimun terus mencari cara untuk menggugah kesadaran warga atau penebang liar untuk menghentikan aktivitas menebang pohon. Bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat, ia aktif mengikuti berbagai pertemuan tentang lingkungan. <strong>[]</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sosok.wordpress.com/170/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sosok.wordpress.com/170/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosok.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosok.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosok.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosok.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/170/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=170&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/alimun-penjaga-hutan-palolo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4b14912ffae1bb15c4cd5823f79a614?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suyadi, Pelestari Hutan Mangrove Pesisir Rembang</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/suyadi-pelestari-hutan-mangrove-pesisir-rembang/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/suyadi-pelestari-hutan-mangrove-pesisir-rembang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 05:07:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas. Tiap kali angin musim barat dan angin musim timur berembus, wilayah pesisir pantai Rembang, Jawa Tengah, selalu bergejolak. Nelayan tidak melaut, tambak-tambak rusak, dan sejumlah permukiman diempas gelombang pasang. Peristiwa itu terjadi sejak 48 tahun silam. Waktu itu, warga pesisir pantai membabat habis mangrove untuk tambak bandeng. Hal serupa terjadi pada era 1990-an [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=167&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/08/00373034/suyadi.pelestari.hutan.mangrove.pesisir.rembang">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Tiap kali angin musim barat dan angin musim timur berembus, wilayah pesisir pantai Rembang, Jawa Tengah, selalu bergejolak. Nelayan tidak melaut, tambak-tambak rusak, dan sejumlah permukiman diempas gelombang pasang.</p>
<p>Peristiwa itu terjadi sejak 48 tahun silam. Waktu itu, warga pesisir pantai membabat habis mangrove untuk tambak bandeng. Hal serupa terjadi pada era 1990-an tatkala budidaya udang windu merebak. Warga kembali menebangi mangrove untuk memperluas tambak. Tak heran jika keberadaan mangrove di pesisir sepanjang 60 kilometer itu sangat minim.</p>
<p>Dari enam kecamatan yang masuk kawasan pesisir, sabuk hijau mangrove hanya terpusat di tiga desa dalam tiga kecamatan. Wilayah itu adalah Desa Tungulsari (Kecamatan Kaliori), Desa Pasar Bangi (Kecamatan Rembang), dan Desa Dasun (Kecamatan Lasem). Di tiga daerah itulah warga pesisir dapat tidur nyenyak. Gelombang pasang tak lagi segarang dulu. Para petani garam dan petambak pun dapat bekerja dengan tenang. <span id="more-167"></span></p>
<p>Keberadaan mangrove di tiga desa itu tak lepas dari peran Suyadi, petani garam Kaliuntu, Desa Pasar Bangi, Kecamatan Rembang. Bermula dari keprihatinan terhadap tambaknya yang sering rusak akibat gelombang pasang, pada 1964, ia mulai menanam mangrove.</p>
<p><strong>Awal berat</strong></p>
<p>Pria lulusan Sekolah Teknik Pertama Rembang (sekarang setingkat SMP) itu menyisihkan uang untuk mendapatkan biji-biji mangrove di pesisir Rembang dan Demak. Biji-biji itu ditanam di pantai tak jauh dari tambaknya.</p>
<p>”Awalnya, saya menjadi bahan tertawaan. Mereka menilai penanaman mangrove tak akan membawa hasil lantaran waktu itu hampir separuh bibit mangrove yang sudah ditanam terbawa gelombang,” kata Suyadi.</p>
<p>Meski begitu, ayah tujuh anak itu tetap berupaya keras mewujudkan hutan mangrove untuk melindungi tambak. Setiap kali ada bibit yang hanyut, ia mengganti dengan yang baru. Delapan tahun kemudian, kerja keras Suyadi berbuah. Meski belum terlalu rimbun, mangrove yang ditanam dengan jarak berdekatan itu mampu mengurangi empasan gelombang pasang.</p>
<p>Para petani garam dan petambak yang dulu menertawakannya menjadi tertarik menanam mangrove. Pada 20 Januari 1972 ia mengajak mereka membentuk kelompok tani mangrove dengan nama Kelompok Tani Sidodadi Makmur.</p>
<p>”Sidodadi Makmur berarti biar menjadi makmur. Agar kemakmuran terwujud, butuh kerja keras, ketelatenan, dan kesabaran,” ujarnya.</p>
<p>Sekarang mangrove yang ditanam di pesisir Desa Pasar Bangi sepanjang 3 kilometer itu luasnya 50 hektar dengan ketebalan 40-160 meter. Usia mangrove bervariasi, mulai dari 2 tahun hingga 15 tahun.</p>
<p>Bersama Kelompok Tani Sidodadi Makmur, ia juga mengembangkan mangrove di Desa Tungulsari dan Dasun. Di Desa Tungulsari, panjang hamparan mangrove mencapai 2 kilometer dengan ketebalan rata-rata 2 meter. Luas mangrove di kawasan itu mencapai 4,2 hektar.</p>
<p>Adapun di Desa Dasun, mangrove ditanam di sepanjang Sungai Babagan yang dikenal sebagai Kali Lasem. Hamparan mangrove itu membentang sepanjang 2 kilometer dengan ketebalan 3-5 meter.</p>
<p><strong>Hukum mangrove</strong></p>
<p>Suyadi tidak sekadar melestarikan mangrove dengan membudidayakan dan menanam bibit mangrove di sepanjang pesisir pantai. Ia juga berupaya menjaga kelestarian dan keamanan mangrove.</p>
<p>Anggota kelompok tani yang merusak satu batang mangrove wajib menanam 200 batang baru. Apabila perusakan itu dilakukan oleh orang di luar kelompok tani, pelaku harus membuat dan menandatangani surat pernyataan tak akan mengulangi lagi perbuatan itu.</p>
<p>”Jika tetap nekat, kelompok tani akan memprosesnya secara hukum. Itulah hukum penegakan mangrove,” kata Suyadi yang kerap menjadi tutor dan pembicara pelestarian mangrove.</p>
<p>Hal itu berlaku pula bagi para penembak burung di sekitar hutan mangrove. Sejak 10 tahun silam, hutan mangrove di Desa Pasar Bangi menjadi tempat tinggal atau singgah kawanan burung, seperti burung blekok, kuntul, derkuku, dan jalak.</p>
<p>Pada waktu angin musim timur berembus, ia mengajak anggota kelompok tani membersihkan ganggang lumut di bibit mangrove. Ganggang lumut yang menempel di batang bibit mangrove lama-lama membuat batang tanaman air payau itu mudah patah. ”Kalau dibiarkan, tingkat kematian mangrove sekitar 40-50 persen,” katanya.</p>
<p><strong>Tingkatkan perekonomian</strong></p>
<p>Penanaman dan pembibitan mangrove di sepanjang pantai Desa Pasar Bangi tak saja mengamankan kawasan pantai dan permukiman penduduk dari abrasi. Pembudidayaan itu turut meningkatkan penghasilan warga setempat. Keberadaan hutan mangrove memudahkan warga mendapat propagul atau biji mangrove. Biji mangrove dibudidayakan dengan dua cara, yaitu ditanam bersanding dengan mangrove dewasa dan di tambak.</p>
<p>Penanaman bibit mangrove bersanding dengan mangrove dewasa sangat efektif. Bibit mangrove mendapat air langsung dari laut sehingga petani tak perlu mengeluarkan biaya operasional pompa penyedot air laut. ”Berbeda jika ditanam di tambak, setiap seminggu dua kali petani harus mengganti air tambak,” katanya.</p>
<p>Pada usia 6-7 bulan, bibit-bibit itu dipasarkan antara lain ke Pati, Jepara, Pemalang, Semarang, Situbondo, Pasuruan, Gresik, Jakarta, dan Kalimantan Barat. Harga satu bibit mangrove dalam polybag Rp 400, sedangkan harga sebiji propagul Rp 300. Dari penjualan itu, petani mangrove memperoleh Rp 175 per polybag bibit mangrove.</p>
<p>Budidaya mangrove itu menambah penghasilan sebagian besar warga Dusun Kaliuntu yang berprofesi sebagai nelayan, petambak, dan petani garam. Setiap kali panen mangrove, mereka mendapat Rp 500.000–Rp 1 juta.</p>
<p>Budidaya itu juga semakin memperluas hamparan sabuk hijau di pesisir Dusun Kaliuntu. Bibit mangrove sisa penjualan menjadi tambahan bibit mangrove yang disiapkan untuk ditanam. Tak heran jika setiap tahun mangrove di sepanjang pantai itu bertambah sekitar 10.000 batang.</p>
<p>Suyadi juga menggagas program kredit bergulir bagi warga Desa Pasar Bangi yang menanam mangrove. Uang kredit itu berasal dari selisih pembagian hasil penjualan bibit mangrove yang disimpan dalam kas Kelompok Tani Sidodadi Makmur.</p>
<p>”Bunganya 1 persen. Sebanyak 0,5 persen untuk kas kelompok dan sisanya untuk biaya administrasi dan pengurus,” katanya.</p>
<p>Warga yang punya ”gawe”, misalnya khitanan atau pernikahan, dapat meminjam uang tanpa bunga. Syaratnya, uang itu harus dikembalikan dalam waktu lima hari. (NAW)</p>
<p><strong>Biodata</strong></p>
<p>Nama: Suyadi</p>
<p>Lahir: Rembang, 15 Juni 1940</p>
<p><strong>Pendidikan:<br />
</strong><br />
- Sekolah Rakyat Tritunggal Rembang</p>
<p> &#8211; Sekolah Teknik Pertama Rembang</p>
<p><strong>Pekerjaan:<br />
</strong><br />
 &#8211; Petani garam</p>
<p>- Petambak bandeng dan udang vaname</p>
<p>- Ketua Kelompok Tani Sidodadi Makmur</p>
<p>- Tutor dan narasumber pelestarian mangrove</p>
<p><strong>Penghargaan:</strong></p>
<p> 1. Piagam Pelestarian Bakau Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, 27 Februari 1990</p>
<p>2. Piagam Pembudidayaan Mangrove di Kawasan Pesisir Menteri Lingkungan Hidup, 1996</p>
<p>3. Piagam Perintis Lingkungan Hidup Bupati Rembang, 15 Juni 2006</p>
<p> 4. Piagam Perintis Lingkungan Hidup Gubernur Jateng, 18 Desember 2006</p>
<p> 5. Piagam Pengabdi Lingkungan Hidup Calon Penerima Kalpataru Menteri Lingkungan Hidup, 5 Juni 2006</p>
<p>6. Pemenang Lomba Insan Peduli Pesisir Perorangan Bidang Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Se-Jateng, 16 November 2007</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sosok.wordpress.com/167/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sosok.wordpress.com/167/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sosok.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sosok.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sosok.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sosok.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&amp;blog=605420&amp;post=167&amp;subd=sosok&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/suyadi-pelestari-hutan-mangrove-pesisir-rembang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f4b14912ffae1bb15c4cd5823f79a614?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
