<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Manusia Sederhana</title>
	<atom:link href="http://sosok.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sosok.wordpress.com</link>
	<description>Ajari aku tentang hidup.</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Nov 2009 08:46:42 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='sosok.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/ef28d29f10c02a310fbc26c40f8dba45?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Manusia Sederhana</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Beni, Perajin &#8220;Tulang&#8221; dari Tlatar</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2009/10/29/beni-perajin-tulang-dari-tlatar/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2009/10/29/beni-perajin-tulang-dari-tlatar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 10:25:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas.
Dua tahun lalu Beni menjadi korban pemutusan hubungan kerja massal. Ia lalu mencoba beternak lele. Ketika tengah menguras kolam untuk panen, Beni dan rekannya menemukan tumpukan tulang ikan dan ayam, sisa pakan lele, tiba-tiba muncul ide di kepalanya. Tulang belulang yang sering kali dianggap orang tak berharga itu, mereka ubah menjadi ”sepeda onthel”, ”naga”, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=178&subd=sosok&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/07/03330583/beni.perajin.tulang.dari.tlatar">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Dua tahun lalu Beni menjadi korban pemutusan hubungan kerja massal. Ia lalu mencoba beternak lele. Ketika tengah menguras kolam untuk panen, Beni dan rekannya menemukan tumpukan tulang ikan dan ayam, sisa pakan lele, tiba-tiba muncul ide di kepalanya. Tulang belulang yang sering kali dianggap orang tak berharga itu, mereka ubah menjadi ”sepeda onthel”, ”naga”, ”motor besar”, sampai ”becak”.</p>
<p>Kerajinan dengan bahan baku tulang belulang pula yang membuat laki-laki bernama lengkap Beni Tri Bawono ini mengikuti berbagai pameran kerajinan, di antaranya di Yogyakarta dan Jakarta.</p>
<p>Dalam berbagai pameran itu, miniatur sepeda onthel, monster, sepeda motor gede atau moge seperti Harley Davidson, becak, dan kapal layar diberi harga sekitar Rp 1 juta. Adapun kerajinan berbentuk naga yang panjangnya lebih dari satu meter ditawarkan sekitar Rp 10 juta. Harga yang relatif tinggi, menurut Beni, merupakan bagian dari penghargaan atas kreativitas mencipta. <span id="more-178"></span></p>
<p>Bahan baku utama kerajinan itu dari tulang belulang ”gratisan” yang sebagian merupakan limbah warung makan di sekitar rumahnya. Bahan baku kerajinan itu tak hanya tulang ayam, tetapi juga tulang ikan dan tulang bebek. Sebagian besar tulang itu tidak dibentuk sesuai kebutuhan, tetapi kreativitaslah yang disesuaikan dengan bentuk tulang-tulang yang tersedia.</p>
<p>Sadel untuk sepeda onthel, misalnya, dibuat dari potongan punggung ayam, ban sepeda dari leher ayam yang dibentuk melingkar. Jeruji dibuat dari patahan tulang sayap, sedangkan kemudi sepeda dari tulang bebek. Ini yang menyebabkan pembuatan kerajinan seperti sepeda onthel bisa memakan waktu 10-15 hari, sementara untuk membuat naga yang lebih rumit diperlukan waktu hampir empat bulan.</p>
<p>Proses pembuatan kerajinan itu diawali dengan membersihkan tulang dari sisa-sisa daging. Untuk menghemat tenaga, hasil berburu tulang pada malam hari di warung-warung makan itu dia lemparkan ke kolam lele di belakang rumahnya. Setelah tiga hari, tulang itu diangkat dan direndam dalam air berformalin selama sehari semalam. Tulang-tulang itu kemudian dijemur hingga berwarna putih kering sambil sesekali disemprot formalin.</p>
<p>Tulang yang sudah benar-benar kering lalu mulai direkatkan dengan lem, sesuai dengan ide bentuk benda yang muncul. Setelah jadi, sebagai sentuhan akhir, rangkaian itu disemprot dengan cairan pembersih dan disapu dengan pewarna mutiara. Untuk memberi nilai tambah pada produknya, kerajinan itu dimasukkan ke dalam bingkai kaca.</p>
<p>”Kaca bingkainya juga kami potong sendiri dan sengaja dibentuk agar bisa dibuka. Ini supaya orang mudah membersihkannya, cukup disemprot cairan pembersih supaya awet. Asal tidak berada di tempat lembab, kerajinan ini bisa tahan lama,” kata Beni yang tinggal di Kelurahan Kebonbimo, Kecamatan Boyolali, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.</p>
<p><strong>Andil rekan</strong></p>
<p>Kreativitas membuat kerajinan tulang yang diberi label nama Boneart-Tlatar itu tak terlepas dari andil teman mainnya sejak kecil, Parmono atau Mono (27), panggilannya. Tentang nama merek produknya itu, kata Beni, ”boneart” untuk menggambarkan kerajinan ini terbuat dari tulang belulang. Adapun ”Tlatar” adalah tempat kelahirannya.</p>
<p>Mono membantu Beni mengurus 13 kolam lele di belakang rumahnya. Memelihara lele adalah usaha yang dijalani Beni untuk menyambung hidup setelah terkena PHK massal dari pabrik tekstil di Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, akhir tahun 2007.</p>
<p>Pada awal tahun 2008, Beni dan Mono mulai memanen lele. Setelah menguras habis air kolam, di tepian kolam teronggok tumpukan tulang-tulang sisa pakan tambahan lele. Mono melihat kepala ayam yang sudah menjadi kerangka. Entah mengapa, ketika itu imajinasinya melayang, membayangkan kepala ayam itu seperti kepala monster. Hari itu juga Mono dibantu Beni mencoba membentuk sosok monster yang tergambar dalam benak mereka.</p>
<p>Hasilnya ternyata lumayan unik meski masih sederhana. ”Monster” itu lalu dipajang di ruang tamu rumah Beni. Beberapa kenalannya yang melihat ”monster” berbahan tulang sisa pakan lele itu tertarik dan memesan produk serupa.</p>
<p>Merasa ada peluang, jiwa bisnis Beni muncul. Dia mengajak Mono membuat lebih banyak kreasi hingga kemudian hasil karya mereka juga diketahui dinas usaha kecil dan menengah setempat. Mereka kemudian diajak ikut pameran ke berbagai tempat dan kota.</p>
<p>”Sewaktu pameran di Yogyakarta, kami sudah mendapat pesanan meski jumlahnya relatif kecil. Namun, karena ini produk kerajinan tangan, memang tak bisa langsung dikerjakan dalam waktu cepat,” katanya.</p>
<p>Duet Beni dan Mono lalu mencoba mengembangkan bentuk selain sosok monster. Mereka mencoba membuat sesuatu yang lebih menantang. Namun, Mono memutuskan untuk berhenti dua bulan lalu. Maka, Beni bekerja sendiri meneruskan usaha kerajinan berbahan baku tulang belulang itu.</p>
<p><strong>Tawaran lewat ”blog”</strong></p>
<p>Meski bisa dikatakan unik, kata Beni, pemasaran produk kerajinan tulang ini masih tertatih-tatih. Ia baru bisa berharap dari pameran ke pameran. Dia masih enggan menawarkan kerajinan tulang itu melalui galeri seni.</p>
<p>”Saya berencana membuat galeri sendiri di rumah, tetapi masih belum terwujud karena terkendala modal. Untuk membuat karya yang dipamerkan di Jakarta saja, saya sudah habis-habisan. Uang dari hasil menjual lele nyaris semuanya dipakai untuk modal membuat kerajinan,” tuturnya sambil menunjukkan belasan kerajinan tulang.</p>
<p>Untuk mengatasi masalah pemasaran, sekitar sebulan lalu Beni dibantu sepupunya mencoba menggunakan jejaring internet. Dia membuat blog yang berisi foto-foto dan narasi singkat tentang kerajinan tulang produknya dalam www.boneart-tlatar.blogspot.com. Namun, media ini masih sangat sederhana, baik tampilan maupun isinya.</p>
<p>”Saya tetap merasa kerajinan ini unik dan bernilai tinggi. Saya berharap setelah pemasarannya bisa lebih luas, saya bisa mengajak orang-orang di kampung untuk ikut membuatnya. Sepanjang ada kreativitas, pasti ada jalan,” ungkapnya optimistis. <strong>[]</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/178/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/178/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/178/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=178&subd=sosok&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2009/10/29/beni-perajin-tulang-dari-tlatar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61b0cc28d1b2b3cfab07b785c8fa9f41?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Moelyono, Seni untuk Rakyat</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2009/10/29/moelyono-seni-untuk-rakyat/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2009/10/29/moelyono-seni-untuk-rakyat/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 08:01:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Etos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas.
Jika banyak seniman kontemporer menikmati hidup di tengah kota besar, dia minggir dan tinggal di kampung. Ketika para pelukis gencar mengangkat budaya urban seraya berpameran dari galeri ke galeri, dia berkelana di desa-desa demi memberdayakan rakyat miskin lewat kesenian. Saat sebagian seniman makin makmur dan berjarak dari kehidupan nyata, dia masih setia pada komunitas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=176&subd=sosok&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/18/02560733/moelyono.seni.untuk.rakyat">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Jika banyak seniman kontemporer menikmati hidup di tengah kota besar, dia minggir dan tinggal di kampung. Ketika para pelukis gencar mengangkat budaya urban seraya berpameran dari galeri ke galeri, dia berkelana di desa-desa demi memberdayakan rakyat miskin lewat kesenian. Saat sebagian seniman makin makmur dan berjarak dari kehidupan nyata, dia masih setia pada komunitas desanya.</p>
<p>Dialah Moelyono (52), seniman yang memilih tinggal di Desa Winong, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Jawa Timur. Dia bergabung dalam kehidupan masyarakat desa, mengajak mereka berkesenian, dan mengungkapkan masalahnya lewat bahasa rupa. Bersama komunitas itu, kemudian dia berusaha mendorong penyadaran, kebebasan berpikir, daya kritis, dan kemandirian. <span id="more-176"></span></p>
<p>Gerakan semacam itu membuat sosok ini lekat dengan gagasan  ”seni rupa penyadaran”. Dalam pemahamannya, para seniman seyogianya masuk dalam geliat kehidupan nyata rakyat bawah. Lewat kesenian, seniman dan rakyat bersama-sama melakukan pemberdayaan sosial, ekonomi, dan politik.</p>
<p>Dia percaya, seni bisa jadi cara yang dipelajari dan ditularkan untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran kelompok masyarakat. Seni bisa menjadi media untuk mengungkapkan berbagai masalah sosial dan mendialogkannya demi mencari jalan keluar. Rakyat dan seniman sama-sama jadi subyek yang aktif memperjuangkan perubahan hidup lebih baik. Gagasan ini dipraktikkan Moelyono lebih dari 20 tahun, sejak tahun 1980-an sampai sekarang. Berawal dari pergumulan bersama nelayan miskin di Brumbun, Tulungagung selatan, dia lantas berkeliling menjelajah pelosok Nusantara: mulai dari Pacitan, Surabaya, Lombok, Kupang, Aceh, sampai Papua dan Wamena. Gerakan ini berhasil merekam dan menyuarakan berbagai persoalan mendasar di masyarakat bawah lewat bahasa seni rupa.</p>
<p>”Dalam estetika Jawa, seni itu disebut kagunan. Artinya, seni itu harus berguna. Apa pun yang dilakukan seniman seharusnya punya manfaat bagi seniman sendiri dan masyarakat,” kata Moelyono di Jakarta beberapa waktu lalu.</p>
<p>Kami berbincang saat penyelenggaraan pameran ”Topografi Ingatan: Fragmen Kesaksian Moelyono/Guru Gambar” di Koong Gallery, City Plaza, Wisma Mulia, Jakarta, September. Dalam pameran dengan kurator Hendro Wiyanto itu, seniman ini menampilkan beberapa instalasi, lukisan, dan drawing. Sejumlah instalasi dilapisi lumpur tanah.</p>
<p>Karya-karya itu merekam sosok seniman dan wong cilik di Tulungagung, Pacitan, dan Blitar. Ada pemain ludruk, penari, pemain wayang, penjual nasi bungkus, dan petani. Orang-orang yang sebagian tersangkut dalam kasus G30S tahun 1965 itu diabadikan lewat drawing, instalasi yang dibungkus lumpur, lukisan potret, dan video.</p>
<p>”Kesenian itu membuat mereka bertahan menghadapi berbagai kesulitan hidup. Seni juga jadi media rekonsiliasi dan penyembuhan diri,” kata Moelyono.</p>
<p><strong>Guru gambar</strong></p>
<p>Moelyono tertarik dengan gerakan seni rupa di akar rumput saat bergabung dengan masyarakat nelayan pantai selatan di Brumbun, Tulungagung Selatan. Dia mengajar anak-anak di kawasan terpencil itu untuk menggambar.</p>
<p>”Saya ke sana setiap Sabtu-Minggu. Saya naik sepeda, lalu jalan kaki di atas jalan setapak selama satu jam,” katanya.</p>
<p>Kemiskinan membuat para nelayan tak mampu menyediakan alat dan buku gambar. Anak-anak menggambar dengan pakai kaki, ranting, atau apa saja di atas pasir pantai. Lewat bahasa gambar, anak-anak itu mengeluarkan unek-unek soal kehidupan sehari-hari, mulai dari gambar nyamuk malaria, sakit malaria, atau orang bertengkar karena selang air.</p>
<p>Dua tahun kemudian, hasil karya anak-anak dipamerkan di gedung Arena Remaja di Tulungagung. Melihat berbagai persoalan sosial-ekonomi dalam gambar anak-anak itu, Bupati Tulungagung bersama jajaran pejabat daerah mengunjungi Brumbun. Mereka melihat sendiri kemiskinan dan ketertinggalan kawasan itu.</p>
<p>Setelah itu, dibuat jalan beraspal menuju Brumbun. Pantainya dijadikan daerah wisata. Orang-orang dari sana akhirnya bisa jualan ikan dan lobster ke pasar sehingga ekonomi meningkat</p>
<p>”Ternyata, gambar seni rupa anak-anak itu bisa mendorong perubahan sosial.”</p>
<p>Pengalaman itu mengantarkan Moelyono memperoleh semacam beasiswa Ashoka Fellowships Inovator for the Public dari Yayasan Ashoka Indonesia tahun 1989-1992. Dia berkenalan dengan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), membaca teori dan referensi pendidikan masyarakat tertinggal, terutama dari gagasan Paulo Freire. Dan seniman bisa menjadi salah satu pendorong perubahan.</p>
<p>Bagaimana posisi seniman dalam masyarakat?</p>
<p>Seniman menguasai media, seperti gambar. Media itu bisa ditularkan kepada anak-anak dan masyarakat untuk dijadikan sarana mengungkapkan berbagai persoalan. Persoalan itu memancing dialog dan akhirnya mendorong perubahan.</p>
<p>Untuk menguatkan kepercayaan diri dan masyarakat serta menguasai media kesenian, seniman harus menjadi guru dan fasilitator. Untuk membangun kebersamaan di antara komunitas, seniman perlu menjadi organisator. Dalam semua proses itu, seniman juga seorang peneliti. Jadi, seniman itu haruslah seorang pekerja seni, guru, organisatoris, sekaligus peneliti.</p>
<p><strong>Pendidikan anak</strong></p>
<p>Moelyono lantas berusaha memperkuat metode untuk pemberdayaan masyarakat lewat seni. Metode itu diformulasikan dalam konsep early childhood care for development (ECCD) atau pendidikan anak-anak usia dini untuk pengembangan. Artinya, membangun masyarakat baru harus dimulai dari pendidikan anak pada saat usia emas (1-5 tahun).</p>
<p>Usaha Moelyono mendapat dukungan dari banyak pihak. Dia diundang mengikuti pelatihan, forum dan pameran di berbagai tempat sampai luar negeri. Dia bekerja sama dengan sejumlah aktivis, seperti Wiji Tukhul, Halim HD, dan Semsar Siahaan.</p>
<p>Dia semakin mantap dengan metode seni sebagai media penyadaran. Pengalaman di Brumbun dan metode itu ditularkan kepada masyarakat di berbagai tempat. Ketika mengajar di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) dan Desain Grafis Universitas Petra, Moelyono memilih tinggal di Rungkut, kawasan tempat kost para buruh.</p>
<p>Di sana, dia mengajar anak-anak buruh untuk menggambar. Saat Marsinah terbunuh tahun 1993, dia mengajak para buruh membuat pameran Marsinah. Meski ditutup militer, pameran ini dicatat sebagai salah satu ekspresi perlawanan lewat media seni.</p>
<p>Moelyono bergerak ke Ponorogo dan Pacitan, Jawa Timur. Bersama beberapa LSM, dia mengembangkan child center community development (CCCD). Dia mendidik anak untuk mengembangkan potensi seni budaya lokal yang lebih luas, tak hanya seni rupa.</p>
<p>Bersama para aktivis LSM, Moelyono mendirikan sekolah informal bagi anak-anak dan ibu-ibu. Mereka diajari kembali mengenal lagu-lagu lokal, menguasai seni tari kampung. Seni itu mengajarkan kembali kebijakan pertanian bagaimana menanam padi, menjaga ekosistem persawahan, dan menjaga kebersamaan.</p>
<p>”Kami membantu membangun desa dengan basis potensi lokal,” katanya.</p>
<p><strong>Titik nol</strong></p>
<p>Semua pencapaian Moelyono itu diraih dengan penuh keprihatinan. Masa-masa susah itu mendera pada awal hingga pertengahan perjalanan keseniannya. Saat itu, tak mudah menaklukkan godaan meninggalkan idealisme pengembangan seni rakyat demi masuk dalam jalur lebih praktis.</p>
<p>Pada awal menjadi guru gambar anak-anak di Brumbun, misalnya, dia sempat diinterogasi militer. ”Saya ditanya, nama, pekerjaan, orangtua, partainya apa, mengapa sarjana masuk daerah miskin? Brumbun ini kan daerah pelarian PKI. Kegiatan saya dinilai mirip gerakan PKI.”</p>
<p>Seluruh kegiatan mengajar dihentikan. Moelyono baru bisa masuk lagi setelah mendapat surat izin dari Kodim, polres, dan diknas di Tulungagung. Saya mencari surat itu. ”Waktu masuk mengajar kembali, saya dikawal militer.”</p>
<p>Pengalaman lain terjadi di Surabaya. Gaji mengajar di STKW dan Desain Grafis Universitas Petra saat itu hanya Rp 250.000 per bulan. Pameran Marsinah yang diusahakannya ditutup polisi.</p>
<p>”Saat itu, saya jatuh di titik nol. Rumah kontrakan dipinjami mahasiswa. Untuk menghidupi anak-istri, saya jadi kuli bangunan untuk patung,” katanya.</p>
<p>Apakah keluarga bisa menerima kondisi sulit itu?</p>
<p>Keluarga kalang kabut. Mau hari raya, tak punya uang. Dapat sedikit uang, saya pakai untuk beli baju. Baju tadi dicantolkan di sepeda motor orang lain. Eh, ternyata terbawa orang itu. Sampai di rumah, baju yang dicari tak ada. Rasanya frustrasi sekali.</p>
<p>Istri saya stres. Dia meminta saya tidak usah berkesenian lagi. Untung datang kurator dari Australia. Kurator itu yang mengingatkan istri saya agar tetap mendukung pilihan kesenian saya.</p>
<p>Moelyono juga diselamatkan beberapa kawan dan donatur. Selain itu, dia menambah penghasilan dengan menulis di koran, yang kemudian dibukukan menjadi Seni Rupa Penyadaran (tahun 1997). <strong>[]</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=176&subd=sosok&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2009/10/29/moelyono-seni-untuk-rakyat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61b0cc28d1b2b3cfab07b785c8fa9f41?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Samsuri, Seniman &#8220;Kentrung&#8221; Demak</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2009/09/08/samsuri-seniman-kentrung-demak/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2009/09/08/samsuri-seniman-kentrung-demak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 08:40:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas.
Rekor penonton seni kentrung pecah tahun 2008, saat Mochammad Samsuri manggung tunggal di pentas Demak Art Festival di Tembiring, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Ketika itu ribuan penonton asyik menyimak gaya Samsuri bertutur tentang Syaridin alias Sheikh Jangkung. Alkisah, Sheikh Jangkung lahir di Desa Landoh, Tayu, Pati. Sheikh Jangkung diperkirakan hidup semasa Sunan Muria atau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=174&subd=sosok&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/09/02/0324174/samsuri.seniman.kentrung.demak">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Rekor penonton seni kentrung pecah tahun 2008, saat Mochammad Samsuri manggung tunggal di pentas Demak Art Festival di Tembiring, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Ketika itu ribuan penonton asyik menyimak gaya Samsuri bertutur tentang Syaridin alias Sheikh Jangkung. Alkisah, Sheikh Jangkung lahir di Desa Landoh, Tayu, Pati. Sheikh Jangkung diperkirakan hidup semasa Sunan Muria atau Raden Umar Said menjadi penyebar agama Islam. Dia punya karomah yang disegani pada zamannya. Dia menyebarkan Islam hingga ke Sumatera.</p>
<p>Atas partisipasi menggelar seni tutur di Demak Art Festival 2008, Samsuri memperoleh penghargaan sebagai pelestari kebudayaan, terutama sebagai tokoh kentrung. Samsuri menjadi satu-satunya seniman kentrung yang bertahan di pantai utara-timur Jawa Tengah, meskipun dia sudah uzur. <span id="more-174"></span></p>
<p>Penghargaan dari Dewan Kesenian Demak itu diletakkannya di atas lemari tua di ruang tamu rumahnya di Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak.</p>
<p>”Ini rumah almarhum bapak saya, Ahmad Pudjo Prayitno, yang juga seniman kentrung. Saya ini seperti dijebak nasib. Wong waktu masih kelas V sekolah rakyat sudah sering menggantikan peran bapak kalau berhalangan,” katanya.</p>
<p>Cerita rakyat Syaridin itu menjadi favoritnya. Hampir 30 tahun cerita Syaridin menjadi legenda tersendiri bagi Samsuri yang seakan tanpa lelah menuturkannya kepada masyarakat lewat pentas kentrung. Ada tiga nilai utama dalam cerita itu, yakni tentang kebenaran, kepasrahan, dan kejujuran.</p>
<p>Konon Syaridin termasuk orang sakti. Ia naik pohon kelapa, lalu menjatuhkan diri ke tanah dan tak mati. Kalau kini Indonesia disibukkan aksi teroris, kata Samsuri, seni tutur seperti kentrung bisa dipakai untuk meredam terorisme. Dia bisa merekayasa cerita dengan tetap mengacu kepada Syaridin. Sosok yang menyebarkan Islam secara damai itu.</p>
<p><strong>Suguhan langka</strong></p>
<p>Sebagai seniman kentrung, Samsuri kini tengah prihatin. Tradisi lisan kentrung sudah jauh ditinggalkan masyarakat. Di pesisir pantura Jawa Tengah, kentrung menjadi suguhan langka. ”Bisa juga karena perekonomian rakyat lagi surut. Memanggil saya untuk pentas memang tak murah,” ucapnya.</p>
<p>Tahun 1959 tiap kali pentas dia dibayar Rp 500 yang ketika itu relatif bernilai, dan ditonton ribuan orang di pedesaan. Kini honornya pentas selama empat jam di kampung di Demak sebesar Rp 450.000. Jika dipanggil ke kota lain di Jawa Tengah, honornya Rp 600.000 hingga Rp 800.00 dan di Jakarta lebih dari Rp 1 juta.</p>
<p>Terlepas dari besarnya honor itu, kisah Samsuri mempertahankan kentrung pun mengalami pasang-surut. Sebelum 2004 tawaran naik panggungnya relatif ramai. ”Saya sampai tak tidur di rumah. Sehari main di Solo (Studio RRI Solo), berlanjut main di Yogyakarta.”</p>
<p>Namun, ketenaran kentrung makin redup seiring meninggalnya satu demi satu seniman kentrung seangkatan Samsuri. ”Saya seperti ditinggal sendiri, seolah disuruh main seni tutur kentrung sendirian.”</p>
<p>Untuk menularkan ilmu kentrung pun tak mudah. Samsuri pernah mengajari kedua anak lelakinya. Namun, keduanya kemudian justru memilih bekerja biasa daripada menjadi dalang seni tutur kentrung. Ia tak bisa memaksa mereka.</p>
<p>Samsuri lalu bercerita, saat almarhum ayahnya sakit-sakitan sebelum meninggal tahun 1967, dia dipercaya meneruskan laku seni tutur itu. Ia pun rajin menyerap ilmu kentrung lewat penceritaan langsung dari sang ayah.</p>
<p>Maka, dia hafal dan bisa berimprovisasi bukan hanya tentang sosok Kiai Syaridin, melainkan juga Sunan Kalijaga. ”Kisah para kiai itu membangkitkan kebanggaan masyarakat,” kata Samsuri yang rumahnya tak jauh dari makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, Demak.</p>
<p>Meski begitu, Samsuri pun piawai membawakan cerita rakyat lainnya, seperti legenda Baruklinthing, Raja Angling Dharma, Sunan Gunungjati, Sunan Muria, Sunan Brayat, Kiai Ageng Pandanaran, Marmaya Ngentrung, Nabi Yusuf, dan kisah Babad Tanah Jawi.</p>
<p>”Saya bertutur dalam bahasa Jawa, sesekali diselipi bahasa Indonesia. Penonton suka karena mereka butuh hiburan dari kisah para tokoh masa lalu yang punya kedigdayaan. Mereka juga merindukan sosok teladan,” katanya.</p>
<p><strong>Untuk Agustus-an</strong></p>
<p>Meski mendapat penghargaan, Samsuri justru merasa mulai ditinggalkan pemerintah ataupun masyarakat sejak tahun 2004. Rasa itu muncul seiring dengan semakin sedikitnya tawaran bermain kentrung di berbagai kesempatan.</p>
<p>”Belakangan ini, kalau dapat tawaran tiga kali dalam sebulan saja, sudah bagus,” ujarnya.</p>
<p>Apalagi setahun belakangan ini, tawaran pentas kentrung yang diterimanya bisa dihitung dengan jari. ”Tawaran paling ramai hanya pada bulan Agustus. Ada saja panitia perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan (Indonesia) yang meminta saya pentas, bercerita tentang kepahlawanan para pejuang melawan Belanda.”</p>
<p>Bahkan, permintaan pentas dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Dinas Pendidikan di Kabupaten Demak pun sepi. Padahal, dulu dia sempat diajak dinas pendidikan berpentas keliling sekolah-sekolah.</p>
<p>”Saya diminta untuk mengajarkan budi pekerti dan semangat kebenaran lewat kisah-kisah dalam seni tutur kentrung,” ujar Samsuri, yang juga sempat diajak dinas pariwisata berpentas di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.</p>
<p>Meski sudah rusak, Samsuri masih menggunakan rebana warisan sang ayah saat pentas kentrung. Dia memainkan rebana (terbangan) dengan tiga ukuran, yakni ketipung (rebana kecil), kemplang (sedang), dan rebana jedur (besar). Terkadang ia meminjam rebana milik masjid di kampungnya.</p>
<p>”Saya tak punya uang untuk membeli rebana baru. Tiga rebana baru harganya sampai Rp 650.000,” kata Samsuri yang masih setia memenuhi panggilan pentas kentrung untuk hajatan khitanan, mantenan (pernikahan), pupak puser (puputan), selapanan bayi, thedak siti, syukuran bayi berusia sembilan bulan, sampai perayaan Hari Kemerdekaan RI di pabrik rokok.</p>
<p>Bagaimanapun kondisinya, Samsuri bertekad melestarikan seni tutur kentrung hingga akhir hayatnya. Dia rindu memiliki murid yang meneruskan kentrung. Samsuri bersedia melatih siapa pun yang mau belajar kentrung dengan sungguh-sungguh.</p>
<p>”Jangan biarkan seni kentrung (sering juga disebut kentrungan) punah. Kentrung itu salah satu warisan budaya Jawa yang sekarang di ambang senja,” ujarnya lirih.</p>
<p><strong>Data Diri</strong></p>
<p>• Nama: Mochammad Samsuri • Lahir: Bintoro, Demak, Jawa Tengah, 1949 • Pendidikan: Sekolah rakyat kelas V • Istri: Surilah • Anak: 1. Djumadi (40) 2. Suparlan (37) 3. Tuminah (35) • Profesi: seniman kentrung</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/174/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=174&subd=sosok&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2009/09/08/samsuri-seniman-kentrung-demak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61b0cc28d1b2b3cfab07b785c8fa9f41?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dokter Lo Siaw Ging, Tak Sudi Berdagang</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2009/09/08/dokter-lo-siaw-ging-tak-sudi-berdagang/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2009/09/08/dokter-lo-siaw-ging-tak-sudi-berdagang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 08:36:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kemanusiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas.
Ketika biaya perawatan dokter dan rumah sakit semakin membubung tinggi, tidak ada yang berubah dari sosok Lo Siaw Ging, seorang dokter di Kota Solo, Jawa Tengah. Dia tetap merawat dan mengobati pasien tanpa menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasiennya justru tidak pernah dimintai bayaran.
Maka, tak heran kalau pasien-pasien Lo Siaw Ging tidak hanya warga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=172&subd=sosok&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/15/03321720/dokter.lo.siaw.ging.tak.sudi.berdagang">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Ketika biaya perawatan dokter dan rumah sakit semakin membubung tinggi, tidak ada yang berubah dari sosok Lo Siaw Ging, seorang dokter di Kota Solo, Jawa Tengah. Dia tetap merawat dan mengobati pasien tanpa menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasiennya justru tidak pernah dimintai bayaran.</p>
<p>Maka, tak heran kalau pasien-pasien Lo Siaw Ging tidak hanya warga Solo, tetapi juga mereka yang berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Klaten, Boyolali, dan Wonogiri. Usianya yang sudah menjelang 75 tahun tak membuat pria itu menghentikan kesibukannya memeriksa para pasien.</p>
<p>Dokter Lo, panggilannya, setiap hari tetap melayani puluhan pasien yang datang ke tempatnya praktik sekaligus rumah tinggalnya di Jalan Jagalan 27, Kelurahan Jebres, Kota Solo. Mayoritas pasien Lo adalah keluarga tak mampu secara ekonomi. Mereka itu, jangankan membayar ongkos periksa, untuk menebus resep dokter Lo pun sering kali tak sanggup. <span id="more-172"></span></p>
<p>Namun, bagi Lo, semua itu dihadapinya dengan ”biasa saja”. Dia merasa dapat memahami kondisi sebagian pasiennya itu. Seorang pasiennya bercerita, karena terlalu sering berobat ke dokter Lo dan tak membayar, ia merasa tidak enak hati. Dia lalu bertanya berapa biaya pemeriksaan dan resep obatnya.</p>
<p>Mendengar pertanyaan si pasien, Lo malah balik bertanya, ”Memangnya kamu sudah punya uang banyak?”</p>
<p>Pasiennya yang lain, Yuli (30), warga Cemani, Sukoharjo, bercerita, dia juga tak pernah membayar saat memeriksakan diri. ”Saya pernah ngasih uang kepada Pak Dokter, tetapi enggak diterima,” ucapnya.</p>
<p>Kardiman (45), penjual bakso di samping rumah dokter Lo, mengatakan, para tetangga dan mereka yang tinggal di sekitar rumah dokter itu juga tak pernah diminta bayaran. ”Kami hanya bisa bilang terima kasih dokter, lalu ke luar ruang periksa,” katanya.</p>
<p>Cara kerja Lo itu membuat dia setiap bulan justru harus membayar tagihan dari apotek atas resep-resep yang diambil para pasiennya. Ini tak terhindarkan karena ada saja pasien yang benar-benar tak punya uang untuk menebus obat atau karena penyakitnya memerlukan obat segera, padahal si pasien tak membawa cukup uang.</p>
<p>Dalam kondisi seperti itu, biasanya setelah memeriksa dan menuliskan resep untuk sang pasien, Lo langsung meminta pasien dan keluarganya menebus obat ke apotek yang memang telah menjadi langganannya. Pasien atau keluarganya cukup membawa resep yang telah ditandatangani Lo, petugas di apotek akan memberikan obat yang diperlukan.</p>
<p>Pada setiap akhir bulan, barulah pihak apotek menagih harga obat tersebut kepada Lo. Berapa besar tagihannya? ”Bervariasi, dari ratusan ribu sampai Rp 10 juta per bulan.”</p>
<p>Bahkan, pasien tak mampu yang menderita sakit parah pun tanpa ragu dikirim Lo ke Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Dengan mengantongi surat dari dokter Lo, pasien biasanya diterima pihak rumah sakit, yang lalu membebankan biaya perawatan kepada Lo.</p>
<p><strong>Kerusuhan 1998</strong></p>
<p>Nama dokter Lo sebagai rujukan, terutama bagi kalangan warga tak mampu, relatif ”populer”. Namun, mantan Direktur RS Kasih Ibu ini justru tak suka pada publikasi. Beberapa kali dia menolak permintaan wawancara dari media.</p>
<p>”Enggak usahlah diberita-beritakan. Saya bukan siapa-siapa,” ujarnya.</p>
<p>Bagi Lo, apa yang dia lakukan selama ini sekadar membantu mereka yang tak mampu dan membutuhkan pertolongan dokter. ”Apa yang saya lakukan itu biasa dilakukan orang lain juga. Jadi, tak ada yang istimewa,” ujarnya.</p>
<p>Di kalangan warga Solo, terutama di sekitar tempat tinggalnya, Lo dikenal sebagai sosok yang selalu bersedia menolong siapa pun yang membutuhkan. Tak heran jika saat terjadi kerusuhan rasial di Solo pada Mei 1998, rumah dokter keturunan Tionghoa ini justru dijaga ketat oleh masyarakat setempat.</p>
<p>Lo juga tak merasa khawatir. Justru para tetangga yang meminta dia tidak membuka praktik pada masa kerusuhan itu mengingat situasinya rawan, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo menolak permintaan itu, dia tetap menerima pasien yang datang.</p>
<p>”Saya mengingatkan dokter, kenapa buka praktik. Wong suasananya kritis. Eh, saya yang malah dimarahi dokter. Katanya, dokter akan tetap buka praktik, kasihan sama orang yang sudah datang jauh-jauh mau berobat,” cerita Putut Hari Purwanto (46), warga Purwodiningratan, yang rumahnya tak jauh dari rumah Lo.</p>
<p>Bahkan, meski tentara datang ke rumah Lo untuk mengevakuasi dia ke tempat yang aman, Lo tetap menolak. Maka, wargalah yang kemudian berjaga-jaga di rumah Lo agar dia tak menjadi sasaran kerusuhan.</p>
<p>”Saya ini orang Solo, jadi tak perlu pergi ke mana-mana. Buat apa?” ucapnya.</p>
<p><strong>Anugerah</strong></p>
<p>Menjadi dokter, bagi Lo, adalah sebuah anugerah. Dia kemudian bercerita, seorang dokter di Solo yang dikenal dengan nama dokter Oen, seniornya, dan sang ayahlah yang membentuk sosoknya. Dokter Oen dan sang ayah kini telah tiada.</p>
<p>Lo selalu ingat pesan ayahnya saat memutuskan belajar di sekolah kedokteran. ”Ayah saya berkali-kali mengatakan, kalau saya mau jadi dokter, ya jangan dagang. Kalau mau dagang, jangan jadi dokter. Makanya, siapa pun orang yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus terbuka. Saya tidak pasang tarif,” kata Lo yang namanya masuk dalam buku Kitab Solo itu.</p>
<p>Papan praktik dokter pun selama bertahun-tahun tak pernah dia pasang. Kalau belakangan ini dia memasang papan nama praktik dokternya, itu karena harus memenuhi peraturan pemerintah.</p>
<p>Tentang peran dokter Oen dalam dirinya, Lo bercerita, selama sekitar 15 tahun dia bekerja kepada dokter Oen yang dia jadikan sebagai panutan. ”Dokter Oen itu jiwa sosialnya tinggi dan kehidupan sehari-harinya sederhana,” ujarnya.</p>
<p>Dari kedua orang itulah, Lo belajar bahwa kebahagiaan justru muncul saat kita bisa berbuat sesuatu bagi sesama. ”Ini bukan berarti saya tak menerima bayaran dari pasien, tetapi kepuasan bisa membantu sesama yang tidak bisa dibayar dengan uang,” katanya sambil bercerita, sebagian pasien yang datang dari desa suka membawakan pisang untuknya.</p>
<p>Gaya hidup sederhana membuat Lo merasa pendapatan sebagai dokter bisa lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Apalagi, dia dan sang istri, Maria Gan May Kwee atau Maria Gandi, yang dinikahinya tahun 1968, tak memiliki anak.</p>
<p>”Kebutuhan kami hanya makan. Lagi pula orang seumur saya, seberapa banyak sih makannya?” ujar Lo.</p>
<p>Bahkan, di mata para pasien, Lo seakan tak pernah ”cuti” praktik. Lies (55), ibu dua anak, warga Kepatihan Kulon, Solo, yang selama puluhan tahun menjadi pasiennya mengatakan, ”Dokter Lo praktik pagi dan malam. Setiap kali saya datang tak pernah tutup. Sepertinya, dokter Lo selalu ada kapan pun kami memerlukan.”</p>
<p><strong>DATA DIRI</strong></p>
<p>• Nama: Lo Siaw Ging • Lahir: Magelang, 16 Agustus 1934 • Istri: Maria Gan May Kwee (62) • Pendidikan: &#8211; Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 1962 &#8211; S-2 (MARS) Universitas Indonesia, 1995 • Profesi: &#8211; Dokter RS Panti Kosala, Kandang Sapi, Solo (sekarang RS dokter Oen, Solo) &#8211; Mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=172&subd=sosok&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2009/09/08/dokter-lo-siaw-ging-tak-sudi-berdagang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61b0cc28d1b2b3cfab07b785c8fa9f41?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Alimun, Penjaga Hutan Palolo</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/alimun-penjaga-hutan-palolo/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/alimun-penjaga-hutan-palolo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 05:38:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=170</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas.
Siang hari itu Alimun memperlihatkan buah-buah kakao dari kebunnya di Desa Bobo, Kecamatan Palolo, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Dengan bangga ia menunjukkan buah-buah kakao yang rata-rata sebesar buah pepaya lokal.
Buah kakao itu ada yang berwarna kuning, ada yang merah tua. Semuanya tampak segar. Ini jauh berbeda dibandingkan dengan buah kakao biasa yang kecil dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=170&subd=sosok&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/02/01170121/alimun.penjaga.hutan.palolo">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Siang hari itu Alimun memperlihatkan buah-buah kakao dari kebunnya di Desa Bobo, Kecamatan Palolo, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Dengan bangga ia menunjukkan buah-buah kakao yang rata-rata sebesar buah pepaya lokal.</p>
<p>Buah kakao itu ada yang berwarna kuning, ada yang merah tua. Semuanya tampak segar. Ini jauh berbeda dibandingkan dengan buah kakao biasa yang kecil dan kulit buahnya mengerut. Perbandingannya, bila 1 kilogram kakao lokal berisi 25 buah, kakao dari kebun Alimun 10-16 buah.</p>
<p>Buah-buah kakao di kebunnya adalah hasil sambung samping dan persilangan antara bibit kakao lokal dan bibit asal Jember dan dari beberapa daerah lain. Persilangan dan sambung samping dilakukan sendiri oleh Alimun.</p>
<p>Ada dua alasan mengapa ia bersemangat menerapkan sistem sambung samping pada tanamannya. Pertama, akibat serangan hama penggerek buah yang sudah bertahun-tahun menyerang tanaman kakao petani setempat dan hampir semua petani kakao di Sulteng. Hasilnya, selain mendapat batang dan buah baru dari pohon yang sama, hama penggerek buah juga sedikit demi sedikit teratasi. <span id="more-170"></span></p>
<p>Hal yang lebih penting, nilai jual kakao berkualitas bagus jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kakao biasa. Kalau kakao hasil sambung samping Alimun bisa menembus harga Rp 17.000 per kg, kakao biasa umumnya dihargai Rp 10.000 per kg.</p>
<p>Alasan lain, mengajak petani kakao dan warga setempat untuk bercocok tanam komoditas yang lebih menjanjikan. Alimun berharap petani atau warga setempat lebih berminat bercocok tanam dan tak lagi menebang pohon. Ia juga mengajak peladang berpindah yang kerap membabat hutan untuk kebun agar beralih menanam kakao.</p>
<p>Upayanya tak sia-sia karena banyak peladang berpindah yang lalu bercocok tanam secara menetap dan tak lagi masuk-keluar hutan, membabat pohon untuk kebun. Untuk usahanya ini, Alimun mendapat penghargaan dari Ditjen Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan, Departemen Kehutanan.</p>
<p>”Memang yang membabat hutan itu orang luar, tetapi kadang mereka memanfaatkan warga sini atau orang lain. Ya, namanya dijanjikan uang dalam jumlah banyak dan waktu yang tak lama, tentu banyak yang berminat. Ini tanpa memperhitungkan akibat dari kerusakan hutan. Nah, kalau tanaman kakao tumbuhnya bagus, harganya bagus, semoga mereka berminat menanam kakao dan meninggalkan pekerjaan membabat hutan,” ujarnya.</p>
<p>Tak hanya bercocok tanam kakao kualitas bagus, Alimun juga memelihara lebah hutan. Untuk ini, Alimun punya alasan sederhana. Sebab, lebah membutuhkan makanan dari hutan, mau tidak mau hutan harus dijaga. Selain itu, lebah berfungsi mengawinkan tanaman bunga, tanpa perlu tangan manusia.</p>
<p>Tentu saja madu hasil dari lebah hutan ini bernilai jual tinggi. Pasarnya jelas ada, bahkan kerap Alimun kewalahan memenuhi pesanan. Lebah pun bisa dimanfaatkan untuk pengobatan.</p>
<p>Apa yang ia lakukan, kendati pada awalnya tak digubris warga setempat, perlahan-lahan mulai diikuti orang. Warga mulai belajar sambung samping dan memelihara lebah hutan. Alimun juga membantu pemasarannya kendati dengan cara konvensional, promosi dari mulut ke mulut dan menitipkan barang kepada pedagang.</p>
<p><strong>Menjaga hutan</strong></p>
<p>Apa yang dilakukan Alimun adalah urusan menjaga hutan. Berada di kawasan sekitar Taman Nasional Lore Lindu, ia merasa bertanggung jawab ikut menjaga. Tanggung jawabnya tak sekadar karena ia menjadi Ketua Lembaga Adat Pitunggota Nagata Kaili di Desa Bobo, Kecamatan Palolo. Tanggung jawabnya juga karena kesadaran betapa penting menjaga hutan demi menyelamatkan lingkungan.</p>
<p>Sebagian hutan di sekitar Kecamatan Palolo yang juga tanah adat adalah bagian dari Taman Nasional Lore Lindu. Luasnya sekitar 48,5 hektar. Jadi, penjagaannya pun diserahkan kepada masyarakat dan lembaga adat setempat bersama petugas taman nasional.</p>
<p>Di Desa Bobo, Kecamatan Palolo, Alimun—melalui lembaga adat setempat—membentuk Badan Konservasi dan Penyelamat Hutan yang beranggotakan pemuda setempat. Dengan pemahaman pentingnya menjaga hutan, mereka rela bekerja masuk-keluar hutan tanpa bayaran.</p>
<p>Warga dengan senang hati melaporkan bila tahu ada aktivitas mencurigakan di hutan, semisal suara mesin gergaji. Melalui badan konservasi ini, informasi tentang aktivitas penebangan liar di hutan bisa cepat diketahui.</p>
<p>”Dalam perjalanan kami memantau hutan, sering kami dapati bagian di dalam hutan yang gundul. Saya sering berjalan-jalan di hutan dan melihat bagian dalam hutan itu sudah sangat rusak. Kadang kami bertemu dengan mereka yang menebang pohon. Kami lakukan pendekatan dan memberi mereka pemahaman,” ujarnya.</p>
<p>Pendekatan yang dilakukan Alimun, kendati membuat ia sampai harus menginap berhari-hari di hutan, menampakkan hasil. Setidaknya penebangan liar di sekitar desanya makin berkurang.</p>
<p>Sebagai Ketua Lembaga Adat Desa Bobo, Kecamatan Palolo, Alimun tetap menghidupkan petuah pendahulu tentang menjaga mata air dan hutan. ”Sejak tahun 1950-an kami punya aturan, apabila mata air dirusak, hutan diganggu, akan dihukum denda. Dendanya bisa berupa kambing, sapi, kerbau, dan lainnya. Kayu tebangan disita. Sampai sekarang ini masih dipatuhi,” tuturnya.</p>
<p><strong>Bencana banjir</strong></p>
<p>Kesadaran Alimun menjaga hutan bukan tanpa sebab. Bencana banjir yang melanda desanya pada 2003 dan 2004 membuka matanya betapa hutan mulai rusak.</p>
<p>”Kalau hutan di sini rusak, bukan hanya desa ini yang menerima dampaknya, melainkan juga Kota Palu. Banyak sungai dari daerah Donggala yang melewati Kota Palu dan bermuara di Teluk Palu. Kalau hutan di Donggala rusak, Palu yang letaknya di dataran rendah, paling parah terkena dampaknya,” katanya.</p>
<p>Alimun tak salah. Sejak beberapa tahun lalu sejumlah wilayah di Palu menjadi langganan banjir atau genangan air. Setiap kali hujan di wilayah Donggala, terutama di hulu sungai, sungai-sungai yang melewati jalan dan permukiman penduduk di Palu meluap.</p>
<p>Kenyataan ini pula yang membuat Alimun terus mencari cara untuk menggugah kesadaran warga atau penebang liar untuk menghentikan aktivitas menebang pohon. Bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat, ia aktif mengikuti berbagai pertemuan tentang lingkungan. <strong>[]</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sosok.wordpress.com/170/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sosok.wordpress.com/170/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/170/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/170/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/170/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=170&subd=sosok&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/alimun-penjaga-hutan-palolo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61b0cc28d1b2b3cfab07b785c8fa9f41?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suyadi, Pelestari Hutan Mangrove Pesisir Rembang</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/suyadi-pelestari-hutan-mangrove-pesisir-rembang/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/suyadi-pelestari-hutan-mangrove-pesisir-rembang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 05:07:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas.
Tiap kali angin musim barat dan angin musim timur berembus, wilayah pesisir pantai Rembang, Jawa Tengah, selalu bergejolak. Nelayan tidak melaut, tambak-tambak rusak, dan sejumlah permukiman diempas gelombang pasang.
Peristiwa itu terjadi sejak 48 tahun silam. Waktu itu, warga pesisir pantai membabat habis mangrove untuk tambak bandeng. Hal serupa terjadi pada era 1990-an tatkala budidaya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=167&subd=sosok&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/08/00373034/suyadi.pelestari.hutan.mangrove.pesisir.rembang">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Tiap kali angin musim barat dan angin musim timur berembus, wilayah pesisir pantai Rembang, Jawa Tengah, selalu bergejolak. Nelayan tidak melaut, tambak-tambak rusak, dan sejumlah permukiman diempas gelombang pasang.</p>
<p>Peristiwa itu terjadi sejak 48 tahun silam. Waktu itu, warga pesisir pantai membabat habis mangrove untuk tambak bandeng. Hal serupa terjadi pada era 1990-an tatkala budidaya udang windu merebak. Warga kembali menebangi mangrove untuk memperluas tambak. Tak heran jika keberadaan mangrove di pesisir sepanjang 60 kilometer itu sangat minim.</p>
<p>Dari enam kecamatan yang masuk kawasan pesisir, sabuk hijau mangrove hanya terpusat di tiga desa dalam tiga kecamatan. Wilayah itu adalah Desa Tungulsari (Kecamatan Kaliori), Desa Pasar Bangi (Kecamatan Rembang), dan Desa Dasun (Kecamatan Lasem). Di tiga daerah itulah warga pesisir dapat tidur nyenyak. Gelombang pasang tak lagi segarang dulu. Para petani garam dan petambak pun dapat bekerja dengan tenang. <span id="more-167"></span></p>
<p>Keberadaan mangrove di tiga desa itu tak lepas dari peran Suyadi, petani garam Kaliuntu, Desa Pasar Bangi, Kecamatan Rembang. Bermula dari keprihatinan terhadap tambaknya yang sering rusak akibat gelombang pasang, pada 1964, ia mulai menanam mangrove.</p>
<p><strong>Awal berat</strong></p>
<p>Pria lulusan Sekolah Teknik Pertama Rembang (sekarang setingkat SMP) itu menyisihkan uang untuk mendapatkan biji-biji mangrove di pesisir Rembang dan Demak. Biji-biji itu ditanam di pantai tak jauh dari tambaknya.</p>
<p>”Awalnya, saya menjadi bahan tertawaan. Mereka menilai penanaman mangrove tak akan membawa hasil lantaran waktu itu hampir separuh bibit mangrove yang sudah ditanam terbawa gelombang,” kata Suyadi.</p>
<p>Meski begitu, ayah tujuh anak itu tetap berupaya keras mewujudkan hutan mangrove untuk melindungi tambak. Setiap kali ada bibit yang hanyut, ia mengganti dengan yang baru. Delapan tahun kemudian, kerja keras Suyadi berbuah. Meski belum terlalu rimbun, mangrove yang ditanam dengan jarak berdekatan itu mampu mengurangi empasan gelombang pasang.</p>
<p>Para petani garam dan petambak yang dulu menertawakannya menjadi tertarik menanam mangrove. Pada 20 Januari 1972 ia mengajak mereka membentuk kelompok tani mangrove dengan nama Kelompok Tani Sidodadi Makmur.</p>
<p>”Sidodadi Makmur berarti biar menjadi makmur. Agar kemakmuran terwujud, butuh kerja keras, ketelatenan, dan kesabaran,” ujarnya.</p>
<p>Sekarang mangrove yang ditanam di pesisir Desa Pasar Bangi sepanjang 3 kilometer itu luasnya 50 hektar dengan ketebalan 40-160 meter. Usia mangrove bervariasi, mulai dari 2 tahun hingga 15 tahun.</p>
<p>Bersama Kelompok Tani Sidodadi Makmur, ia juga mengembangkan mangrove di Desa Tungulsari dan Dasun. Di Desa Tungulsari, panjang hamparan mangrove mencapai 2 kilometer dengan ketebalan rata-rata 2 meter. Luas mangrove di kawasan itu mencapai 4,2 hektar.</p>
<p>Adapun di Desa Dasun, mangrove ditanam di sepanjang Sungai Babagan yang dikenal sebagai Kali Lasem. Hamparan mangrove itu membentang sepanjang 2 kilometer dengan ketebalan 3-5 meter.</p>
<p><strong>Hukum mangrove</strong></p>
<p>Suyadi tidak sekadar melestarikan mangrove dengan membudidayakan dan menanam bibit mangrove di sepanjang pesisir pantai. Ia juga berupaya menjaga kelestarian dan keamanan mangrove.</p>
<p>Anggota kelompok tani yang merusak satu batang mangrove wajib menanam 200 batang baru. Apabila perusakan itu dilakukan oleh orang di luar kelompok tani, pelaku harus membuat dan menandatangani surat pernyataan tak akan mengulangi lagi perbuatan itu.</p>
<p>”Jika tetap nekat, kelompok tani akan memprosesnya secara hukum. Itulah hukum penegakan mangrove,” kata Suyadi yang kerap menjadi tutor dan pembicara pelestarian mangrove.</p>
<p>Hal itu berlaku pula bagi para penembak burung di sekitar hutan mangrove. Sejak 10 tahun silam, hutan mangrove di Desa Pasar Bangi menjadi tempat tinggal atau singgah kawanan burung, seperti burung blekok, kuntul, derkuku, dan jalak.</p>
<p>Pada waktu angin musim timur berembus, ia mengajak anggota kelompok tani membersihkan ganggang lumut di bibit mangrove. Ganggang lumut yang menempel di batang bibit mangrove lama-lama membuat batang tanaman air payau itu mudah patah. ”Kalau dibiarkan, tingkat kematian mangrove sekitar 40-50 persen,” katanya.</p>
<p><strong>Tingkatkan perekonomian</strong></p>
<p>Penanaman dan pembibitan mangrove di sepanjang pantai Desa Pasar Bangi tak saja mengamankan kawasan pantai dan permukiman penduduk dari abrasi. Pembudidayaan itu turut meningkatkan penghasilan warga setempat. Keberadaan hutan mangrove memudahkan warga mendapat propagul atau biji mangrove. Biji mangrove dibudidayakan dengan dua cara, yaitu ditanam bersanding dengan mangrove dewasa dan di tambak.</p>
<p>Penanaman bibit mangrove bersanding dengan mangrove dewasa sangat efektif. Bibit mangrove mendapat air langsung dari laut sehingga petani tak perlu mengeluarkan biaya operasional pompa penyedot air laut. ”Berbeda jika ditanam di tambak, setiap seminggu dua kali petani harus mengganti air tambak,” katanya.</p>
<p>Pada usia 6-7 bulan, bibit-bibit itu dipasarkan antara lain ke Pati, Jepara, Pemalang, Semarang, Situbondo, Pasuruan, Gresik, Jakarta, dan Kalimantan Barat. Harga satu bibit mangrove dalam polybag Rp 400, sedangkan harga sebiji propagul Rp 300. Dari penjualan itu, petani mangrove memperoleh Rp 175 per polybag bibit mangrove.</p>
<p>Budidaya mangrove itu menambah penghasilan sebagian besar warga Dusun Kaliuntu yang berprofesi sebagai nelayan, petambak, dan petani garam. Setiap kali panen mangrove, mereka mendapat Rp 500.000–Rp 1 juta.</p>
<p>Budidaya itu juga semakin memperluas hamparan sabuk hijau di pesisir Dusun Kaliuntu. Bibit mangrove sisa penjualan menjadi tambahan bibit mangrove yang disiapkan untuk ditanam. Tak heran jika setiap tahun mangrove di sepanjang pantai itu bertambah sekitar 10.000 batang.</p>
<p>Suyadi juga menggagas program kredit bergulir bagi warga Desa Pasar Bangi yang menanam mangrove. Uang kredit itu berasal dari selisih pembagian hasil penjualan bibit mangrove yang disimpan dalam kas Kelompok Tani Sidodadi Makmur.</p>
<p>”Bunganya 1 persen. Sebanyak 0,5 persen untuk kas kelompok dan sisanya untuk biaya administrasi dan pengurus,” katanya.</p>
<p>Warga yang punya ”gawe”, misalnya khitanan atau pernikahan, dapat meminjam uang tanpa bunga. Syaratnya, uang itu harus dikembalikan dalam waktu lima hari. (NAW)</p>
<p><strong>Biodata</strong></p>
<p>Nama: Suyadi</p>
<p>Lahir: Rembang, 15 Juni 1940</p>
<p><strong>Pendidikan:<br />
</strong><br />
- Sekolah Rakyat Tritunggal Rembang</p>
<p> &#8211; Sekolah Teknik Pertama Rembang</p>
<p><strong>Pekerjaan:<br />
</strong><br />
 &#8211; Petani garam</p>
<p>- Petambak bandeng dan udang vaname</p>
<p>- Ketua Kelompok Tani Sidodadi Makmur</p>
<p>- Tutor dan narasumber pelestarian mangrove</p>
<p><strong>Penghargaan:</strong></p>
<p> 1. Piagam Pelestarian Bakau Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah, 27 Februari 1990</p>
<p>2. Piagam Pembudidayaan Mangrove di Kawasan Pesisir Menteri Lingkungan Hidup, 1996</p>
<p>3. Piagam Perintis Lingkungan Hidup Bupati Rembang, 15 Juni 2006</p>
<p> 4. Piagam Perintis Lingkungan Hidup Gubernur Jateng, 18 Desember 2006</p>
<p> 5. Piagam Pengabdi Lingkungan Hidup Calon Penerima Kalpataru Menteri Lingkungan Hidup, 5 Juni 2006</p>
<p>6. Pemenang Lomba Insan Peduli Pesisir Perorangan Bidang Kelautan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil Se-Jateng, 16 November 2007</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sosok.wordpress.com/167/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sosok.wordpress.com/167/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=167&subd=sosok&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/suyadi-pelestari-hutan-mangrove-pesisir-rembang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61b0cc28d1b2b3cfab07b785c8fa9f41?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sigit Witjaksono, &#8220;Hoakiao&#8221; dari Lasem</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/164/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/164/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 04:59:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas.
Lasem, kota tua berhawa panas di pesisir utara Jawa Tengah pada tahun 1961. Seorang hoakiao muda membuat udara Lasem tambah gerah setelah mempersunting gadis Jawa, putri seorang panitera dan keponakan wedono dari Tulungagung, Jawa Timur.
Hoakiao—istilah untuk China perantauan—itu bernama Njo Tjoen Hian, putra perajin batik. Pernikahannya tersebut melawan arus masyarakat waktu itu, yang masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=164&subd=sosok&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/09/00523519/sigit.witjaksono.hoakiao.dari.lasem">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Lasem, kota tua berhawa panas di pesisir utara Jawa Tengah pada tahun 1961. Seorang hoakiao muda membuat udara Lasem tambah gerah setelah mempersunting gadis Jawa, putri seorang panitera dan keponakan wedono dari Tulungagung, Jawa Timur.</p>
<p>Hoakiao—istilah untuk China perantauan—itu bernama Njo Tjoen Hian, putra perajin batik. Pernikahannya tersebut melawan arus masyarakat waktu itu, yang masih menganggap miring pernikahan antar-etnis dan antar-agama.</p>
<p>”Pada waktu itu perkawinan Tionghoa dan Jawa biasanya delik-delik (sembunyi-sembunyi). Sementara saya menikah resmi di catatan sipil,” kata Njo Tjoen Hian, yang sejak tahun 1959 lebih sering menggunakan nama Sigit Witjaksono ini.</p>
<p>Tentang namanya ini, Njo Tjoen Hian menjelaskan, ”Sigit Witjaksono itu merupakan versi bahasa Jawa dari Njo Tjoen Hian. Artinya sama, yaitu kebaikan dan kebijaksanaan.” <span id="more-164"></span></p>
<p>Perjuangan Sigit mempersunting Marpat Rochani, putri priayi dari Jawa Timur, itu memang tidak mudah. Tak ada satu pun keluarga dari pihak istrinya yang mau datang pada cara pernikahan mereka ketika itu. Sigit sampai merasa dipermalukan.</p>
<p>”Saya menangis waktu itu,” kata Sigit.</p>
<p>Akan tetapi, dia tidak pupus harapan. Ia selalu mencoba untuk terus berbuat baik terhadap keluarga istrinya. ”Lambat laun, mereka mulai ikhlas dan bisa menerima, apalagi setelah mereka melihat rumah tangga kami yang rukun. Wong belah gowo damar, Gusti Allah ora samar,” kata Sigit mengutip pepatah Jawa, tentang Tuhan yang akan selalu menjaga.</p>
<p>Ketika keluarga dan warga sekitar mulai menerima perkawinan campur itu, tantangan justru datang dari pemerintah. Akta kelahiran anaknya diberi cap: akte kelahiran untuk warga keturunan Republik Rakyat Tiongkok (RRT).</p>
<p>”Saya RRT saja tidak tahu bentuknya. Tanah Jawa ini tempat lahir dan mungkin tempat nanti saya mati juga. Kenapa seolah-olah kami belum juga diterima?” kata Sigit.</p>
<p>Di mata Njo Tjoen Hian, pembauran antara Jawa-China sebenarnya bukan hal baru. ”Saya keturunan hoakiao (China perantauan) kedelapan di Lasem,” kata Sigit menambahkan.</p>
<p>Rombongan awal para hoakiao ke Lasem itu semuanya laki-laki. Mereka kemudian menikah dengan orang-orang dari pesisir Lasem hingga Tuban. Setelah Belanda berkuasa di Jawa, barulah didatangkan para pekerja dari daratan China untuk bekerja di pertambangan dan perkebunan. Sebagian di antaranya perempuan. Mulailah ada perbedaan antara Tionghoa totok dan Tionghoa peranakan. Antara mereka yang pribumi dan pendatang.</p>
<p>”Belanda yang menciptakan pemisahan itu,” kata Sigit.</p>
<p>Pemisahan itu semakin tajam setelah terjadi geger China—pemberontakan China terhadap Belanda—pada tahun 1740. Waktu itu, Lasem menjadi salah satu pusat perlawanan China terhadap Belanda. Penjajah Belanda sengaja menjauhkan orang China dan Jawa agar mereka tidak kembali bersekutu lalu melawan Belanda.</p>
<p><strong>Batik laseman</strong></p>
<p>Jejak pembauran etnis Jawa dan China di Lasem itu, menurut Sigit, sangat jelas terlihat antara lain dalam selembar kain batik laseman.</p>
<p>”Motif batik lasem merupakan produk silang budaya, terutama antara Jawa dan China,” kata Sigit yang mewarisi usaha batik dari ayahnya, Njo Wat Jiang.</p>
<p>Motif yang terpengaruh budaya China adalah burung hong, bunga seruni, banji, dan mata uang. Adapun motif Jawa terlihat dari motif geometris khas batik vorstenlanden (Surakarta dan Yogyakarta), seperti parang, kawung, dan udan liris.</p>
<p>Selain kedua motif itu, para perajin batik di Lasem juga mencipta motif lokal seperti latohan, gunung ringgit, dan kricak atau watu pecah. Konon, motif kricak (batu kecil) diinspirasikan dari kenangan atas kricak sebagai bahan pembuatan Jalan Raya Pos era Daendels, yang membawa banyak korban pekerja di Lasem. Ketiga motif itu sering dipadu, seperti yang terlihat dalam motif batik tiga negeri.</p>
<p><strong>Melalui budaya</strong></p>
<p>Upaya Sigit untuk pembauran telah mendorongnya untuk membentuk paguyuban seni tari Tunas Harapan pada tahun 1977. Dalam paguyuban ini, Sigit membaurkan anak- anak Tionghoa dengan etnis Jawa. Tarian yang sering mereka tampilkan adalah Srikandi Mustaka Weni dan Menakjingga-Dayun.</p>
<p>Kelompok tari multietnis ini, pada waktu itu, laris diundang ke kota-kota lain hingga Semarang dan Magelang. Bahkan, pada tahun 1979 Tunas Harapan diundang tampil di Balai Sidang Jakarta, di hadapan Presiden Soeharto.</p>
<p>Sigit juga menjadi Ketua Yayasan Sekolah Dasar (SD) Wijayakusuma, yang mengelola SD di Lasem sejak tahun 1979 hingga 2002. Sebelum Sigit menjadi ketua yayasan, SD ini dicap eksklusif oleh masyarakat setempat karena 90 persen siswanya Tionghoa. Dia bertekad menghapus cap itu.</p>
<p>”Saya datang dari rumah ke rumah, menemui keluarga Jawa agar mereka mau menyekolahkan anak mereka ke sekolah kami,” tutur Sigit.</p>
<p>Selain menawarkan pendidikan kesenian tari, Sigit juga menyediakan pelajaran berbagai agama di sekolahnya itu. ”Siswa bebas memilih pelajaran sesuai agama masing-masing. Hasilnya, 60 persen siswa SD Wijayakusuma sekarang etnis Jawa,” kata Sigit yang ikut bermain dalam film Ca Bau Kan pada tahun 2002 ini.</p>
<p><strong>Pewaris</strong></p>
<p>Bulan Agustus 2008, lelaki itu duduk di beranda rumah. Dia mengenakan batik warna merah dan celana panjang katun hitam. Tubuhnya masih sehat dan gagah. Dari tempatnya duduk, dia bisa melihat seorang perempuan tua yang tengah membatik.</p>
<p>”Pembatik di sini rata-rata sudah bekerja sejak saya masih kecil. Tetapi, belum ada anak-anak yang mau meneruskan usaha ini. Semuanya bisa dibilang memilih bekerja di luar kota. Lasem lalu menjadi kota mati,” kata Sigit.</p>
<p>Ada nada getir dari suaranya. Oleh karena itu, bagi Sigit, batik lasem bukan sekadar urusan bisnis.</p>
<p>”Batik lasem adalah saksi sejarah, tentang pembauran budaya, yang tidak boleh hilang,” tuturnya. (RYO)</p>
<p><strong>Biodata</strong></p>
<p>Nama: Njo Tjoen Hian &gt;co &lt;x atau Sigit Witjaksono</p>
<p>Lahir: Lasem, 23 Oktober 1929</p>
<p>Pendidikan: Sarjana muda Hukum, Universitas Airlangga Surabaya</p>
<p>Pekerjaan:</p>
<p>- 1960-1964: Guru Bahasa N Indonesia dan Civics, Hsiao Kuang Hsue Hsiao di Surabaya</p>
<p>- 1967-1968: Menjadi staf  di Perusahaan Bus Lasem</p>
<p>-1969-sekarang: Perajin batik  lasem ”Sekar Kencana”</p>
<p>Istri: Marpat Rochani</p>
<p>Anak: &#8211; Ratna Suandayani &#8211; Agus Setiawan &#8211; Rini Sawitri &#8211; Atik Siswanto</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sosok.wordpress.com/164/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sosok.wordpress.com/164/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=164&subd=sosok&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/164/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61b0cc28d1b2b3cfab07b785c8fa9f41?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penyebar Semangat dari Kupang</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/penyebar-semangat-dari-kupang-2/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/penyebar-semangat-dari-kupang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Sep 2008 04:40:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas.
Penampilannya biasa saja. Bahkan, sebagian orang yang belum mengenal dia merasa heran karena lelaki yang salah satu kakinya tidak lagi utuh itu tetap lancar mengemudikan mobil Nissan Terano. Dialah Paulus Tadeus Bambang Triono (61), juragan agen koran dan majalah tunggal di Nusa Tenggara Timur. Omzetnya sekitar satu miliar rupiah per bulan.
Untuk mencapai semua itu, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=161&subd=sosok&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Sumber: <a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/15/00310698/penyebar.semangat.dari.kupang">Kompas</a>.</strong></p>
<p>Penampilannya biasa saja. Bahkan, sebagian orang yang belum mengenal dia merasa heran karena lelaki yang salah satu kakinya tidak lagi utuh itu tetap lancar mengemudikan mobil Nissan Terano. Dialah Paulus Tadeus Bambang Triono (61), juragan agen koran dan majalah tunggal di Nusa Tenggara Timur. Omzetnya sekitar satu miliar rupiah per bulan.</p>
<p>Untuk mencapai semua itu, kata Bambang, kuncinya sederhana saja, yakni semangat dan jangan pernah mengeluh. Menurut dia, keluhan itu merupakan awal dari kemiskinan.</p>
<p>Meskipun dia dilahirkan di Kota Solo, Jawa Tengah, tetapi pria ini mengaku sudah telanjur cinta dengan tanah Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia merasa kerasan tinggal di NTT bersama sang istri, Lucia Widihartati (61), dan kedua anak serta menantunya. Mereka tinggal dikelilingi ribuan ekor ayam dan beraneka jenis tanaman. <span id="more-161"></span></p>
<p>”Hidup ini perjuangan. Ini harus betul-betul diingat agar kita tidak mengeluh. Sebab, sekali kita mengeluh, itu akan menjadi awal dari kemiskinan,” katanya menegaskan.</p>
<p>Bambang lalu bercerita tentang masa sebelum ia bisa hidup seperti sekarang. Sampai sekitar tahun 1980-an, ia masih sering mendapat cercaan dan hinaan. Kondisi ini berawal dari sakit di kakinya yang tak kunjung sembuh. Ia merasa lelah setelah berusaha berobat ke berbagai tempat, sebelum akhirnya setuju bagian kakinya yang sakit itu diamputasi.</p>
<p>”Setelah itu saya jadi suka terus-menerus becermin. Saya becermin sambil berkata kepada diri sendiri, apa yang sudah kau lakukan untuk kebaikan Bambang? Itu pertanyaan yang selalu saya lontarkan ketika becermin,” ujarnya sambil menirukan gayanya becermin.</p>
<p>Sebelumnya, Bambang bekerja sebagai pegawai negeri sipil pada Departemen Kesehatan di NTT. Namun, perubahan fisiknya kemudian membuat atasannya justru memecat dia secara tak langsung. Ia dianggap tidak produktif. Bambang pun kemudian menjalani pensiun dini.</p>
<p>Meskipun demikian, di lubuk hatinya Bambang menganggap hal itu sebagai suatu hinaan yang tiada terkira. Perasaan itulah yang membuat dia tak ingin mengambil sepeser pun uang pensiunnya sejak sekitar 20 tahun lalu.</p>
<p>”Biarkan saja. Sekarang saya sudah bisa menikmati hasil jerih payah sendiri, daripada sekadar mengambil uang pensiun yang tidak seberapa itu dari pemerintah. Mengambil uang pensiun itu justru menjadikan saya merasa ’sakit’ lagi,” kata Bambang serius.</p>
<p><strong>Membaca gratis</strong></p>
<p>Modalnya bisa dikatakan cuma nekat ketika ia memberanikan diri menjadi agen koran dan majalah. Saat itu ia berpikir, mengapa tidak menjadi agen majalah? Selain mendapat uang dan mempermudah orang lain mendapatkan majalah, Bambang berharap bisa ikut membaca dengan gratis.</p>
<p>”Hal yang penting buat saya adalah bisa ikut membaca. Saya tidak merasa perlu mendapat untung besar, buat apa membohongi konsumen,” kata Bambang yang mendapat ide untuk menjadi agen penerbitan setelah melihat nikmatnya penjaja penerbitan yang bisa ikut membaca dengan gratis.</p>
<p>Maka, tahun 1990-an, dengan gigih Bambang berkeliling ke berbagai tempat mengantarkan majalah dan koran. Ia memulainya dengan melayani 10 pelanggan surat kabar. Jumlah pelanggannya terus bertambah seiring berjalannya waktu.</p>
<p>Awalnya, ia menggunakan gerobak untuk bekerja, lalu kemudian berhasil mengumpulkan uang untuk membeli kendaraan roda dua dan selanjutnya berganti lagi dengan kendaraan roda empat.</p>
<p>Ia mengakui tidak gampang menjadi agen koran atau majalah, khususnya dari penerbitan yang berkantor pusat di Jakarta. Hinaan pernah dia terima dari redaksi sebuah majalah nasional hanya karena penampilan fisik dan kesederhanaannya. Bambang dianggap tak cukup meyakinkan.</p>
<p>”Saya sempat sampai menggebrak meja karena seorang petugas satpam berniat mengusir saya dari ruangan ber-AC itu. Saya pikir, ini ’gila’ karena saya ini kan agen yang juga berjuang secara tidak langsung untuk marketing majalah mereka. Tetapi, mereka malah memperlakukan saya tidak selayaknya seorang tamu,” ceritanya.</p>
<p><strong>Saling membutuhkan</strong></p>
<p>Menurut Bambang, redaksi sebuah penerbitan tak berarti ketika tidak ada agen yang mau menjual produknya. Di sisi lain, pihak agen pun bukan apa-apa jika tak ada media yang dipasarkan.</p>
<p>Apalagi agen di NTT yang harus bersikap ”ekstra sabar” menghadapi konsumen sebab sebuah penerbitan sering kali sampai di tangan pelanggan lama setelah tanggal terbit yang tercantum.</p>
<p>”Maklum, penerbangan ke NTT khusus masih jarang dan susah. Kalau melalui laut, perjalanannya akan lebih parah lagi dan lebih berisiko,” ujarnya.</p>
<p>Namun, tidak ada kata menyerah dalam kamus Bambang saat harus menghadapi keluhan para konsumen. Ia berusaha melayani dan mendengarkan keluhan konsumen dengan berbagai cara.</p>
<p>”Ada hal yang saya pegang, yakni kepercayaan itu adalah segalanya,” ujar Bambang yang mengikhlaskan sebagian waktunya untuk berbagi dan mendengarkan keluhan pelanggan.</p>
<p>Jika koran atau majalah telat datang, tanpa merasa mendapat beban tambahan, Bambang sesegera mungkin menulis surat selebaran yang isinya alasan keterlambatan tersebut. Tidak jarang ia menelepon langsung para pelanggannya.</p>
<p>”Saya ingin pelanggan tak dirugikan dan mereka tetap merasa kami perhatikan. Kalau produk penerbitan itu bisa sampai di tangan pelanggan tepat waktu, saya juga menelepon secara random. Saya minta mereka berterima kasih. Ini timbal balik agar pelanggan tak hanya bisa marah bila penerbitan terlambat datang,” ujarnya.</p>
<p>Setelah belasan tahun berjuang, Bambang berhasil menjadi agen tunggal koran dan majalah di Kupang. Sedikitnya 800-an pelanggan surat kabar tetap setia bersamanya.</p>
<p>Bambang juga membangun toko buku dengan nama Semangat. Ia ingin menjadi penyebar semangat bagi masyarakat di Kupang agar mereka tak mudah ”patah arang”.</p>
<p>”Satu juta itu juga berawal dari angka satu. Jadi, jangan pernah menganggap remeh apa yang kita terima, sesedikit apa pun itu. Tetaplah bersyukur,” katanya.</p>
<p>Bambang pun melebarkan sayapnya. Tak hanya berhenti sebagai agen koran dan majalah, ia juga menekuni usaha berbagai jenis tanaman, mulai dari tanaman hias, tanaman buah, hingga tanaman obat-obatan. Meskipun memelihara tanaman tersebut pada awalnya dia lakukan untuk menyalurkan hobi semata.</p>
<p>”Saya memelihara ayam juga karena memang hobi sekaligus memberi contoh langsung. Kalau kita mau berusaha sungguh-sungguh dan mau bekerja keras, pasti ada hasilnya,” kata Bambang.</p>
<p>Diversifikasi usaha terus dia lakukan. Berawal dari sedikit anak ayam, belakangan Bambang pun menjadi juragan ayam. Ribuan ayam kini berada di kandang-kandang yang berdiri di atas tanah miliknya seluas sekitar 20 hektar.</p>
<p>Dalam menjual ayam ia berusaha menyediakan apa pun yang diinginkan konsumen. ”Saya menjual ayam sesuai harga pasar. Jika pelanggan merasa harganya terlalu mahal, saya menawarkan ayam yang berharga lebih murah, meski lebih kecil,” kata Bambang. <strong>[]</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sosok.wordpress.com/161/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sosok.wordpress.com/161/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/161/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=161&subd=sosok&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2008/09/15/penyebar-semangat-dari-kupang-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61b0cc28d1b2b3cfab07b785c8fa9f41?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengabdian Seorang Tunanetra</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2008/04/14/pengabdian-seorang-tunanetra/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2008/04/14/pengabdian-seorang-tunanetra/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 04:24:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas, Rabu, 12 Maret 2008 &#124; 00:41 WIB
Sore itu, Ing Han (62) menjelaskan cara menggambar prisma segi lima kepada Maya, murid les privatnya yang duduk di kelas I SMA. ”Kita mulai dengan prinsip menggambar sudut kelipatan 18 derajat tanpa memakai busur derajat,” ujar Ing Han sambil menggambar segitiga di papan tulis.
Tangan Ing Han menggores [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=157&subd=sosok&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Sumber: <a href="http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.12.00411815&amp;channel=2&amp;mn=160&amp;idx=160">Kompas, Rabu, 12 Maret 2008 | 00:41 WIB</a></strong></p>
<p>Sore itu, Ing Han (62) menjelaskan cara menggambar prisma segi lima kepada Maya, murid les privatnya yang duduk di kelas I SMA. ”Kita mulai dengan prinsip menggambar sudut kelipatan 18 derajat tanpa memakai busur derajat,” ujar Ing Han sambil menggambar segitiga di papan tulis.</p>
<p>Tangan Ing Han menggores garis tanpa sekalipun mengangkat spidol. Ia menempelkan empat potongan magnet di papan tulis sebagai patokan. Tangan kanan memegang spidol, tangan kirinya menyentuh empat magnet itu untuk memastikan posisi. Hanya sesekali ia bertanya kepada Maya, apakah tanda yang ia gambar sudah berada pada tempat yang tepat.</p>
<p>Ing Han adalah guru les privat Matematika dan Fisika. Banyaknya siswa SMP dan SMA yang datang dari berbagai penjuru Jakarta ke rumah Ing Han di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, menunjukkan ia piawai di bidangnya. Tak hanya mampu menjelaskan ilmu ukur ruang, ia juga terbiasa mengerjakan soal atau menurunkan rumus di luar kepala. <span id="more-157"></span></p>
<p>Bercakap-cakap dengan dia atau melihatnya beraksi mengajar anak-anak dari sekolah Pelita Harapan, Kanisius, St Ursula, BPK Penabur, atau Bina Bangsa, orang acap kali lupa ia seorang tunanetra. Selalu ada sesuatu yang ingin ia bagikan dengan orang lain. Ia bahkan menolak memakai kacamata untuk menutupi matanya yang kisut.</p>
<p>”Saya memang buta, lalu kenapa? Buat saya, ini sama dengan kalau orang lain yang kena sakit jantung atau ginjal, ya, saya kebagian buta,” katanya bersemangat.</p>
<p><strong>Orientasi waktu</strong></p>
<p>Awal Oktober 1987 Ing Han yang ketika itu bekerja pada perusahaan Frisian Flag hendak mengambil koran di depan rumah. Pria yang sebelumnya tak pernah berkacamata ini terkejut karena ia tak bisa membaca koran. Mata kirinya tidak bisa melihat sama sekali, sedangkan mata kanan kabur berat. Ia sempat dirawat sebulan lebih di RS Mata Aini, Jakarta, sebelum dokter di Singapura menjatuhkan vonis. Saraf mata Ing Han rusak total.</p>
<p>Sampai di sini, dia tiba pada pertanyaan yang sering diteriakkan anak manusia kepada Tuhan dengan kepedihan dan ketidakmengertian. Dua tahun Ing Han hanya duduk di kursi tamu rumahnya, mencari jawaban pertanyaan: ”Tuhan, mengapa? Kenapa saya? Hidup saya lurus, apa salah saya? Saya tidak main perempuan, tidak pemabuk, kerja pun lurus-lurus saja,” ujarnya.</p>
<p>Tak sedikit orang yang berkunjung dan memberinya nasihat. Kalimat seperti ”Tuhan mencoba tak lebih dari kekuatan kita” berulang kali didengar Ing Han. Begitu seringnya kalimat itu ia dengar, sampai menjadi ungkapan kosong yang saat itu dia tanggapi dengan apatis. ”Ngomong, sih, gampang. Coba mereka yang merasakan&#8230;,” katanya.</p>
<p>Hal paling menyedihkan bagi Ing Han sebagai tunanetra adalah kehilangan orientasi waktu. Semua hal yang saat dia bisa melihat terasa sederhana, seperti matahari terbit dan tenggelam, tiada lagi. Padahal, ia ingin tahu waktu supaya bisa mendengarkan siaran radio yang menjadi satu-satunya penghubung dengan dunia luar.</p>
<p>Setiap hari ia dihadapkan pada pertanyaan: setelah sarapan, lalu apa? Ia tak bisa lagi bekerja di kantor, membaca buku, atau jalan-jalan. Setiap hari ia hanya duduk dan merasa marah, mengapa ia jadi tunanetra?</p>
<p>Namun, realita tidak bisa menunggu. Benturan pada kenyataan membuat Ing Han harus bangkit. Gugatannya kepada Tuhan menjadi tak penting lagi. Ia harus menerima keadaan.</p>
<p>”Saya harus terima. Itu saja. Percuma saya ngeributin Tuhan ada atau enggak. Terima saja. Yang jelas, besok saya dan istri harus makan,” kata suami dari Sri Handayani Soeganda, seorang ibu rumah tangga, ini.</p>
<p>Setelah itu, beberapa titik cerah mulai tampak. Tahun 1989, lewat rentetan kebetulan, ia berhasil mendapatkan jam tangan khusus untuk tunanetra sehingga menyelesaikan masalahnya tentang orientasi waktu. Saat itulah ia menangis dan berdoa, ia percaya Tuhan itu ada.</p>
<p><strong>Pantang menyerah</strong></p>
<p>Semangatnya yang pantang menyerah membuat dia malah merasa bersyukur. Ing Han menyadari ia sebenarnya telah dipersiapkan menghadapi keadaannya kini. Dulu, ketika bersekolah di Salatiga, juara sekolah selalu di tangannya.</p>
<p>Profesi sang ayah sebagai guru membuat ia terbiasa hidup berkekurangan. Kondisi ini membuat Ing Han harus menopang hidup dengan memberi les privat selama ia berkuliah di Institut Teknologi Bandung.</p>
<p>”Saya teringat masa itu. Biarpun menjadi tunanetra, saya bisa memberikan les privat. Saya masih ingat semua rumus-rumus pelajaran (Matematika dan Fisika) itu,” katanya.</p>
<p>Ia mulai dari sekitar kompleks. Dengan sepeda, istrinya mengedarkan selebaran berisi jasa les privat di sekeliling kompleks perumahan mereka. Tiga murid pertama berhasil mereka dapatkan. Saat itu Ing Han belum berani mengakui kalau buta. Ia meminta murid membacakan soal, dengan alasan matanya rabun.</p>
<p>Hingga kini cara itu tetap dipakai walau Ing Han tidak lagi menutupi keadaan sebenarnya. Sehari-hari, kalau menemui masalah, ia langsung membongkar buku-buku lama dari masa dia SMP dan SMA, lalu meminta istrinya membacakan.</p>
<p>Untuk membantu pengajaran, dibuat tabel seperti Bilangan Berpangkat, bagan seperti Proyeksi serta Jarak dan Gradien, yang digantung di ruang tamu rumahnya, tempat dia mengajar.</p>
<p>Dari teman-temannya yang guru, ia memiliki koleksi soal-soal ujian terbaru. Cerita Ing Han, dalam menangani murid yang penting adalah kesan pertama. Pada pertemuan awal ia langsung ”menjatuhkan” mental murid agar mereka percaya kepadanya dan tak berpikir ”orang buta itu tahu apa?”</p>
<p>Ing Han menyemangati diri dengan semboyan dari Napoleon Bonaparte, ”Tak ada kata tidak bisa dalam kamus hidup.”</p>
<p>Menjadi tunanetra tak berarti kecemerlangan pikiran terbengkalai. Kemampuan itu justru membuat dia dapat mandiri. Ia juga bisa membantu orang lain, seperti guru-guru yang meneleponnya saat mereka kesulitan memecahkan soal hingga anak loper koran yang ia beri les privat dengan tarif diskon.</p>
<p>Untuk mereka yang mengalami masalah kebutaan, beberapa kali Ing Han ikut acara berbagi untuk memberi semangat, baik lewat radio maupun pertemuan, di Lembaga Daya Dharma yang berkantor di Gereja Katedral, Jakarta.</p>
<p>Meski tunanetra, Ing Han tetap sibuk. Ia memberi les privat kepada 17 siswa. Bahkan, hari Minggu ia bekerja mulai dari pukul 08.00 sampai 18.00. Dia pun kini tengah berusaha memecahkan problem matematika klasik, yakni membagi sudut apa pun menjadi tiga sama besar. Untuk itu, selain bertemu dengan seorang profesor di Tunghai Unversity, Taiwan, ia juga mengontak dua jurnal matematika internasional guna mengusulkan pemecahannya&#8230;. <strong>[]</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sosok.wordpress.com/157/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sosok.wordpress.com/157/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/157/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/157/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/157/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=157&subd=sosok&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2008/04/14/pengabdian-seorang-tunanetra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61b0cc28d1b2b3cfab07b785c8fa9f41?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Muchson dan Pemberdayaan Tanaman Bakau</title>
		<link>http://sosok.wordpress.com/2008/04/14/muchson-dan-pemberdayaan-tanaman-bakau/</link>
		<comments>http://sosok.wordpress.com/2008/04/14/muchson-dan-pemberdayaan-tanaman-bakau/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 04:13:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Manusia Sederhana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sosok.wordpress.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Kompas, Jumat, 29 Februari 2008 &#124; 02:23 WIB
Menanam bakau di sepanjang pantai bukan perkara mudah. Bibit yang ditanam bisa tersapu ombak, dimakan ketam, atau dijahili tangan manusia, lalu hilang dalam sekejap. Tetapi, Muchson tanpa henti menghijaukan kembali kawasan tempat tinggalnya di Wonorejo, Surabaya, Jawa Timur.
Kenyataannya, Muchson tidak hanya telah menanam sekitar 10.000 bakau (mangrove) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=156&subd=sosok&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Sumber: <a href="http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.02.29.02232461&amp;channel=2&amp;mn=160&amp;idx=160">Kompas, Jumat, 29 Februari 2008 | 02:23 WIB</a></strong></p>
<p>Menanam bakau di sepanjang pantai bukan perkara mudah. Bibit yang ditanam bisa tersapu ombak, dimakan ketam, atau dijahili tangan manusia, lalu hilang dalam sekejap. Tetapi, Muchson tanpa henti menghijaukan kembali kawasan tempat tinggalnya di Wonorejo, Surabaya, Jawa Timur.</p>
<p>Kenyataannya, Muchson tidak hanya telah menanam sekitar 10.000 bakau (mangrove) di sepanjang 1,5 kilometer di tepian Sungai Wonokromo, tetapi dia bahkan mampu menjadikan bakau memiliki nilai tambah. Dari tangannya, bakau tidak hanya menjadi pelindung pesisir pantai, tetapi juga bisa dijadikan produk yang bernilai jual dan laku di pasaran. <span id="more-156"></span></p>
<p>Dari tanaman bakau jenis Sonneratia sp atau dikenal oleh warga setempat dengan nama bogem, Muchson bisa mengolahnya menjadi sirup apel mangrove, selai, atau jenang. Untuk mengumpulkan buah Sonneratia yang telah masak dan jatuh, Muchson meminta warga setempat membantu dengan menjadikan kegiatan itu sebagai pekerjaan sambilan.</p>
<p>”Saya ingin memberdayakan warga, titi’ akeh, ikut ngopeni,” ujarnya.</p>
<p>Menurut Muchson, sebetulnya hanya jenis Sonneratia alba yang paling pas untuk sirup karena aromanya harum. Namun, rasa asam pada buah bakau bisa terasa manis dan segar juga dengan penambahan gula yang pas. Tak mengherankan kalau sirup apel mangrove hasil ramuannya kini mulai dikenal, kendati Muchson baru melayani pesanan beberapa kantor pemerintah.</p>
<p>Produksi sirup apel mangrove dalam seminggu bisa mencapai sekitar 500 botol, berharga sekitar Rp 20.000-an per botol. Sayangnya, Muchson masih terbentur pada keterbatasan tenaga pemasaran produknya itu.</p>
<p>Selain membuat sirup, Muchson juga mencoba meningkatkan nilai buah bakau jenis lain. Buah tinjang (Rhizopora sp) misalnya, dia olah menjadi tepung agar-agar dan cendol. Sedangkan buah pohon api-api (Avicennia sp) dibuatnya menjadi keripik.</p>
<p><strong>Memberi kuliah</strong></p>
<p>Dengan berbagai usahanya tersebut, Muchson beberapa kali diundang memberikan kuliah tamu di Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS), sekaligus membantu beberapa mahasiswa jurusan Biologi ITS untuk mempelajari masalah bakau. Padahal, dia semula tidak memiliki dasar pengetahuan tentang tanaman yang menjadi penjaga ekosistem pantai itu.</p>
<p>Pengetahuan soal bakau diperolehnya secara otodidak selama sekitar delapan tahun. Dia rajin membaca buku- buku, berselancar di internet, dan ikut pelatihan pengelolaan bakau untuk masyarakat pesisir di Pusat Penelitian Mangrove di Bali pada 2006.</p>
<p>Kecintaannya pada bakau bermula saat lelaki kelahiran Bojonegoro ini pindah ke Surabaya, dan ikut mengerjakan proyek pembangunan gardu PLN di Wonorejo pada 1996. Oleh karena Wonorejo dekat muara Sungai Wonokromo, Muchson yang ahli instalasi penangkal petir dan panel listrik ini jadi sering menikmati pantai. Tahun 1998 dia mengajak beberapa nelayan penunggu tambak untuk membersihkan sampah.</p>
<p>”Senang melihat banyak pohon yang tumbuh alami, tapi eman kalau rusak karena sampah,” ujarnya.</p>
<p>Sekitar tahun 2003, Muchson mulai menanam pohon waru dan bakau jenis Rhizopora mucronata di tepi Sungai Wonokromo. Buah Rhizopora hanya ditancapkan di lumpur dan tumbuh. Namun, tahun 2004 saat tanggul di tepi sungai dibangun, pepohonan bakau yang baru berusia setahun itu pun habis.</p>
<p>”Saya memilih pohon waru dan bakau Rhizopora karena kedua bibit itulah yang paling mudah ditemukan di kawasan ini (pesisir timur Surabaya),” katanya.</p>
<p>Meski sudah dihabisi, tetapi Muchson tak menyerah. Begitu pembangunan tanggul rampung, dia mencoba lagi menanam pohon bakau. Kali ini dia mencoba menanam Sonneratia sp atau bogem dengan metode rumput.</p>
<p>Bibit Sonneratia sp dibungkus rumput dan diikat. Bibit dalam gumpalan rumput lalu dilempar ke tepi sungai. Supaya tidak mudah tersapu air, gumpalan rumput dijejalkan ke tanah berlumpur dengan batang kayu atau bambu. Setidaknya 10.000 bibit sudah ditanam di sepanjang 1,5 kilometer tepi sungai.</p>
<p><strong>Kendala</strong></p>
<p>Menurut Muchson, kegagalan penanaman bakau kerap terjadi karena tidak ada perawatan setelah penanaman. Rhizopora sp yang baru tumbuh di pantai sangat rentan terhadap ketam (wideng). Ketika laut pasang, ketam singgah di pohon dan memotong batang muda itu.</p>
<p>Untuk mengatasi ketam, dia menggunakan bumbung bambu sepanjang satu meter yang ditancapkan sedalam 60 sentimeter di pantai dan diisi lumpur. Di tengah bumbung itu ditancapkan buah Rhizopora mucronata yang berbentuk seperti buncis berdiameter sekitar satu sentimeter dan panjang mencapai 50 sentimeter.</p>
<p>Kendala lainnya adalah ronte, semacam kerang kecil yang mengerubungi batang Rhizopora muda sehingga tidak tumbuh dan akhirnya mati. Karena itu, setiap bulan, bakau yang ditanam harus dibersihkan dari ronte.</p>
<p>Sementara untuk pohon bakau yang disemai di polibag, kata Muchson, benihnya harus dibiasakan dengan air payau. Selama ini, benih bakau yang diadakan pemerintah melalui tender disemai menggunakan air tawar sehingga kegagalan proyek penanaman bakau pun sangat besar.</p>
<p>Ada hal yang perlu diperhitungkan, yaitu ombak. Di Wonorejo, kata Muchson, pantainya cekung sehingga ombak kuat menyapu pantai dan membentuk pusaran. Supaya tidak menantang ombak, pohon bakau ditanam berkoloni dengan formasi segi tiga. Penanaman juga harus memerhatikan waktu. Bakau akan baik ditanam saat angin barat antara Desember-Juli, jangan saat angin timur menyapu semua lumpur di pantai.</p>
<p>Selain ancaman alam, ulah manusia juga tak kalah merusaknya. Apalagi jenis Abasenia sp dan Sonneratia sp kerap ditebang untuk kayu bakar. Kayu Sonneratia sp juga bisa digunakan untuk membangun rumah, sedangkan akarnya untuk tutup botol dan kepala shuttle cock.</p>
<p>Di tengah berbagai ancaman itu, pria kelahiran 7 Mei 1962 yang pernah melakoni beragam pekerjaan, seperti honorer di BPN, jual beli palawija, dan sopir ini, tak putus asa. Bahkan dia juga tidak berhenti mengajak nelayan penunggu tambak untuk terus menanam bakau setidaknya di tepi tambak, lalu berlanjut ke tepi sungai atau pantai.</p>
<p>Sejak 2003, Muchson bekerja sebagai juru ukur di sebuah kompleks perumahan di kawasan Medokan Semampir, Surabaya. Melihat kegigihannya, pengusaha perumahan itu rupanya tergugah. Muchson lalu diberi bantuan dana dan peralatan untuk menanam bakau di tepi pantai timur Surabaya itu. <strong>[]</strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sosok.wordpress.com/156/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sosok.wordpress.com/156/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sosok.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sosok.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sosok.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sosok.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sosok.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sosok.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sosok.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sosok.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sosok.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sosok.wordpress.com/156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sosok.wordpress.com&blog=605420&post=156&subd=sosok&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sosok.wordpress.com/2008/04/14/muchson-dan-pemberdayaan-tanaman-bakau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61b0cc28d1b2b3cfab07b785c8fa9f41?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">TB</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>