Sumber: Kompas, Senin, 14 April 2008 | 01:02 WIB
Tradisi yang membekas pada masa lalu, bagi sebagian orang, seperti ingatan. Itulah yang mendorong Djoko Sri Yono membuat reproduksi wayang beber yang pernah populer pada masa Kerajaan Majapahit hingga Mataram pada abad ke-18. Pertunjukan wayang beber kini mati suri. Wayang bebernya pun kondisinya memprihatinkan karena tinggal beberapa dan lapuk dimakan usia.
Sejak akhir 2007 Djoko Sri Yono menggali kembali tradisi melukis wayang beber yang pernah dia tekuni 45 tahun silam. Ia membuat babon atau master wayang beber dengan kisah Joko Kembang Kuning, cerita asmara Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji yang terdiri dari 24 jagong (lembar). Babon itu berbentuk tracing dari bahan plastik bening, yang digambari kontur dengan tinta china.
”Setelah 24 tracing ini selesai, saya baru menggambarnya satu per satu di atas kain. Kalau sudah komplet akan saya pamerkan. Saya tunjukkan, ini lho wayang beber yang sesuai pakem,” paparnya.
Ia membuat babon berdasarkan foto reproduksi wayang beber yang menjadi artefak di Desa Karangtalun, Kecamatan Donorejo, Pacitan (Jawa Timur), serta yang ada di Desa Gelaran, Kabupaten Gunung Kidul (Yogyakarta) sebagai perbandingan. (more…)