December 2006


Sumber: Kompas.

“Waktu pertama kali mencoba memberdayakan petani setempat, golok yang saya hadapi,” kenang Pemimpin Pondok Pesantren Al-Ittifaq KH Fuad Affandi (58). Ihwalnya, saat itu dia menganjurkan masyarakat menanam tomat dan kubis. Tak disangka, harga kedua komoditas itu jatuh sehingga membuat petani murka.

Mereka mendatangi pondok pesantren (ponpes) yang berlokasi di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu. Untunglah kemarahan petani dapat diredakan, tetapi Fuad sempat tertekan atas kejadian tersebut. Meski demikian, tekadnya meningkatkan harkat dan derajat hasil agrobisnis petani tak luntur. (more…)

Sumber: Kompas.

Air keruh kembali keruh/banjiri sungai menjadi air mata/gemuruh di hulu menyeret langkah/menjadi mimpi yang menakutkan/mengikis buih menghanyutkan lumut. Menjelma pekik memilukan/malam menjadi sangat kelam/ratusan hujan bersahutan/meluapkan musibah banjir Galang.

Penggalan puisi berjudul Air Keruh Kembali Keruh itu dibaca Syamsu Indra Usman dengan hikmat di rumahnya di Desa Lubuk Puding, Kecamatan Ulu Musi, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, pada suatu malam yang dingin, akhir September lalu.

Puisi itu ditulis untuk mengenang banjir bandang Sungai Betung, anak Sungai Musi, yang menghantam Desa Galang tahun 1996. Banjir yang menerjang saat warga terlelap pada dini hari itu menyapu habis perkampungan di tepian sungai serta menewaskan banyak orang. (more…)

Sumber: Kompas.

Pengalaman adalah guru terbaik bagi Saparudin (39). Betapa tidak. Pengalaman disertai amatan, semangat mencoba, dan ingin tahulah yang telah mengantarkan warga Dusun Mapak Dasan, Desa Kuranji, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat ini, mampu memproduksi pestisida alami yang dia beri nama Superbio.

Pestisida alami tersebut memang bahan bakunya dari alam. Saparudin menggunakan gula merah, air beras, kunyit, jahe, kencur, temu lawak, temu ireng, lengkuas, legundi, tetunggeng (istilah lokal), tembakau, dan beberapa akar tanaman, serta tuak manis. Ada satu materi yang enggan diungkap, yaitu bakteri plus, dengan alasan menjadi “rahasia perusahaan”. (more…)

Sumber: Kompas.

Selain menawarkan pesona alam, kawasan Danau Ranau di Sumatera Selatan juga menyimpan tradisi unik. Saat banyak kalangan nekat menangkap ikan dengan dinamit, racun, dan setrum listrik yang merusak ekosistem, sebagian masyarakat Ranau masih mempertahankan budaya memanah ikan yang ramah lingkungan.

Salah satu pelestari tradisi itu adalah Darul Qotni (32), pemuda yang kerap dijuluki raja pemanah ikan.

Mendung menyelimuti Danau Ranau di Kecamatan Banding Agung, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, suatu petang pertengahan November lalu. Puncak Gunung Seminung yang berdiri tegak di pinggir danau samar-samar di antara awan putih. Hamparan air danau membiru dan udara sedikit dingin. (more…)

Sumber: Kompas.

Tidak terbayangkan jika mantan pengemudi bemo di Kota Bogor tahun 1968-an ini suatu saat menjadi pengelola Pasar Mobil Kemayoran, Jakarta. Dari semula lahan kecil di kawasan Kota Baru Bandar Kemayoran yang dipenuhi semak belukar, dia garap menjadi sebuah kawasan Pasar Mobil Kemayoran terbesar di Indonesia. Bahkan boleh dikata terbesar di Asia.

Tak terbayangkan, karena awalnya susah mengajak pedagang datang kemari, kata Johnnie Syam (56), akhir Juni lalu. Pasar Mobil Kemayoran (PMK) yang mulai dirintis tahun 1995 dengan 30-an pedagang mobil, termasuk sejumlah agen tunggal pemegang merek (ATPM) mobil, awalnya menempati lahan seluas 28.000 meter persegi. Secara bertahap sampai tahun 2003 hingga kini luas lahan yang dipergunakan mencapai 90.000 meter persegi atau 9 hektar. Adapun Kota Baru Bandar Kemayoran (KBBK) luas totalnya 454 hektar. (more…)

Sumber: Kompas.

Tahun 1987, Harto Alkarim menjual kompor dan tabung gas untuk membeli beras guna makan sehari-hari. Hal itu dilakukan karena sudah tiga bulan tidak mendapat pekerjaan.

Usaha kerajinan aneka cendera matanya lesu. Adapun kompor dan tabung gas itu merupakan barang terakhir yang Harto jual untuk makan sehari-hari. Uang hasil penjualan sebesar Rp 20.000 itu oleh istrinya langsung dibelikan beras dan lauk-pauk. (more…)

Sumber: Kompas.

Banyak nelayan menempuh jalan pintas untuk panen besar. Menggunakan bahan peledak, racun sianida, atau potas. Tetapi, cara itu tidak pernah menggoda Udu, nelayan kecil di pantai barat Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Sebagai nelayan tradisional, penghasilan Udu sangatlah kecil, sama seperti umumnya nelayan di Desa Tapitapi, Muna. Tetapi, dia tidak pernah tergoda menempuh jalan pintas, kendati cukup banyak anggota keluarga yang menjadi tanggungannya.

Ke mana nelayan harus mencari ikan jika habitatnya hancur dibom adalah pertanyaan yang selalu menghantui Udu. Padahal, tanpa dibom atau diracun pun potensi ikan perairan dangkal makin berkurang akibat pertambahan nelayan dan peningkatan produksi sejalan makin modernnya alat tangkap. (more…)

Next Page »