Sumber: Kompas.

Sebagai penulis sastra Jawa, Suwignyo Adi (58) tidak berharap mendapatkan penghargaan atas karya-karyanya. Karena itu, pengarang asal Tulungagung, Jawa Timur, tersebut tidak punya perasaan apa-apa saat perwakilan Yayasan Rancage meminta biodatanya.

Ia malah berpikir yayasan yang dipimpin sastrawan Ajip Rosidi itu sedang membuat pusat data penggiat sastra berbahasa daerah. “Tidak tahunya, itu untuk melengkapi penganugerahan Rancage 2006 untuk kategori pembina sastra Jawa,” tuturnya.

Saat diberi tahu tujuan pengumpulan data itu, ia kurang yakin dirinya pantas menerima anugerah prestisius di kalangan sastrawan berbahasa daerah itu. Keluarganya dan perwakilan Yayasan Rancage akhirnya bisa meyakinkan bahwa dia berhak menerima penghargaan yang diterimakan pada April 2006 itu. Hal itu didasarkan pada pengabdiannya sebagai pengurus Sanggar Sastra Jawa Triwida sejak 18 Mei 1980.

Sanggar yang digagas sesepuh sastra Jawa Tulungagung, almarhum Tamsir, itu mengasah penulis-penulis sastra Jawa dari Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek, antara lain Bonari Nabonenar, Sunarko Budiman, dan ES Listiyani. Sebagian anggota sudah tidak aktif lagi. Namun, Suwignyo tetap setia bergiat di sanggar sambil menulis sastra Jawa.

“Sekarang produktivitas saya sudah berkurang, sudah dekat usia pensiun. Saya berharap banyak anak muda bersedia menulis sastra Jawa,” tutur pengarang kelahiran Tulungagung, 8 Juni 1948, ini.

Honorer

Pergulatan Suwignyo dalam sastra Jawa dimulai dengan keterpaksaan. Saat menjadi guru tidak tetap di salah satu SD di Tulungagung, ia hanya menerima honor Rp 600 per bulan. Untuk menambah penghasilan, sesekali ia menjadi tukang kayu dan menulis cerita pendek sejak tahun 1971.

Menulis dirasakan lebih menyenangkan meski secara materi ia tidak mendapatkan banyak dari hal itu. “Sampai saat ini, honor menulis dalam bahasa Jawa sulit disebut memadai, namun saya telanjur suka,” tutur pengarang yang lebih dikenal dengan nama Tiwik SA ini.

Cerita pendek atau cerita cekak (cerkak) sastra Jawa karya Tiwik yang pertama dimuat di media massa berjudul Milah. Cerkak itu dimuat pada Panjebar Semangat edisi 27 tahun 1972.

Tujuh tahun sejak karyanya rutin dimuat di media massa berbahasa Jawa, ia memublikasikan novelet pertama berjudul Murtini. Novelet itu dimuat secara bersambung di majalah Djaka Lodang dalam 21 edisi selama tahun 1979.

Sampai saat ini Tiwik telah menghasilkan 180 cerkak serta 85 novelet dan cerita bersambung. Ia juga menghasilkan 18 buku cerita rakyat dan dongeng anak-anak. Karya-karyanya menjadi bahan penelitian mahasiswa sastra beberapa perguruan tinggi untuk kepentingan skripsi. “Semua naskah asli dan atau salinan karya-karya itu saya dokumentasikan di rumah,” ungkapnya.

Lewat pendokumentasian itu, Tiwik menjaga harapan, suatu saat ada yang kembali bersedia menerbitkan sastra Jawa seperti tahun 1950-an hingga akhir 1970-an. Saat itu, sastra Jawa bahkan dibaca oleh sebagian besar remaja.

“Saya menyenangi sastra Jawa antara lain karena kebiasaan membaca novel saku berbahasa Jawa. Saya berharap sastra Jawa mempunyai lebih banyak peminat sebelum saya pensiun dari Triwida,” tuturnya.

Ia tahu harapan itu sulit terwujud. Secara bisnis, penerbitan karya sastra Jawa sulit dilakukan. Tidak jarang penerbitan 500 eksemplar membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk laku. “Saya belum bisa menerbitkan karya sendiri. Saat ini, masih banyak tanggungan biaya yang harus saya selesaikan. Sebentar lagi saya pensiun,” ujarnya.

Ia tidak berminat beralih ke sastra Indonesia yang lebih menjanjikan karena telanjur mencintai sastra Jawa sehingga berat meninggalkannya. Apalagi, semakin sedikit orang Jawa yang bersedia bergiat di bidang itu.

Guru

Tiwik merupakan tipikal umum pengarang sastra Jawa. Selain menjadi sastrawan Jawa dan wartawan lepas untuk media berbahasa Jawa, ia adalah seorang guru. Ia lulus Sekolah Pendidikan Guru di Tulungagung tahun 1970.

Sastrawan Jawa senior asal Surabaya Suparto Brata menuturkan, sebagian besar sastrawan Jawa adalah guru yang tinggal jauh dari kota atau pusat keramaian. Sebagian besar karya mereka umumnya bertema kehidupan pedesaan. Sejak lahir hingga sekarang, Suwignyo tinggal di Desa Karangtalun, Kecamatan Kalidawir, sekitar 25 kilometer dari kota Tulungagung.

Namun, sebagian besar karya Tiwik justru dianggap melenceng karena bertema kriminalitas. “Salah seorang sesepuh sastra Jawa pernah mengkritik alur cerita saya yang dianggap keluar pakem,” tutur Suwignyo yang menikahi Ruliyah tahun 1971 dan dikaruniai tiga anak.

“Menulis adalah jalan paling menyenangkan dan memungkinkan saya tidak jauh dari mereka,” tuturnya tentang keberadaan dan peran keluarganya. []