Sumber: Kompas.

Ia pernah tidak bisa bangun dari tempat tidur akibat radang sendi parah. Sampai sekarang pun sebagian anggota tubuhnya tidak bisa digerakkan. Namun, Wahyu Handoko tidak menyerah dan berdiam diri. Ia ingin membuktikan bahwa orang difabel, yaitu orang dengan kemampuan berbeda—untuk tidak menyebut sebagai orang cacat—bisa berguna bagi masyarakat.

Untuk membuktikan itu, ia memilih jalan sebagai pengelola sekaligus guru di Yayasan Pendidikan Al Hikmah, Blitar, Jawa Timur. “Padahal, dulu saya benci sekali bila diminta sekolah guru. Sekarang saya menemukan diri saya bisa bermanfaat dengan menjadi guru,” tuturnya.

Yayasan itu mengelola sekolah dasar, taman kanak-kanak, dan taman bermain di Desa Bence, Kecamatan Garum, Blitar. Sebanyak 289 murid diajar oleh 29 guru yayasan tersebut. Yayasan berencana membuat SMP dalam beberapa tahun mendatang. Cikal bakal yayasan itu adalah tempat Handoko mengajar 25 anak desa setempat mengaji. Tempatnya pun menumpang di rumah salah seorang warga desa.

Meski merintis dari awal dan kini menjadi wakil ketua yayasan yang mengelola operasional sekolah-sekolah yayasan, imbalan materi yang didapat Handoko sulit disebut memadai. Saat ini ia menerima imbalan kurang dari Rp 900.000 per bulan. “Saya merasa cukup dengan itu,” tuturnya.

Radang sendi

Selepas SMA, Handoko ingin menjadi insinyur. Orangtuanya meminta dia masuk fakultas kedokteran atau fakultas keguruan dan ilmu pendidikan. “Saya bilang kepada orangtua bahwa masuk kedokteran tidak mudah dan saya tidak suka menjadi guru. Saya pernah masuk Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Malang. Di tahun kedua, tahun 1988, saya pindah ke Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang,” ujarnya.

Kuliah di Unibraw hanya lancar sampai pertengahan semester tiga. Suatu hari, saat pemanasan menjelang bermain badminton, otot panggul kanannya terkilir. Cedera itu menjadi awal penderitaannya. “Cedera itu berkembang menjadi penyakit yang selama bertahun-tahun tidak saya ketahui namanya,” katanya.

Berbagai upaya pengobatan dilakukannya. Berbagai diagnosis disampaikan kepadanya. Sampai akhirnya salah seorang dokter mendiagnosis dia terkena penyakit radang sendi yang menjalar.

“Tahun 1991, selama enam bulan saya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Seluruh tubuh, dari kaki sampai leher, tidak bisa digerakkan. Saat itu saya hampir menyerah menghadapi penyakit ini dan merasa masa depan sudah tidak ada. Tahun 1992 saya terpaksa berhenti kuliah karena tidak bisa bergerak,” ucapnya.

Akhir tahun 1992, penderitaannya berangsur berkurang. Ia bisa bergerak lebih leluasa. Sampai saat ini panggul sampai lehernya tidak bisa digerakkan. Tangannya pun tidak bisa diangkat lebih tinggi dari dada.

Begitu bisa bangun dari tempat tidur, Handoko tak mau berdiam diri. Saat berkunjung ke rumah salah seorang kawannya, ia diminta membantu mengajar anak-anak mengaji. “Setelah beberapa kali, saya berpikir mengapa tidak dilakukan di kampung sendiri,” tuturnya.

Di Desa Bence, ia menyampaikan ide itu kepada Ali Mahmud yang kemudian meminjamkan ruang tamu rumahnya untuk Taman Pendidikan Al Quran (TPA). “Saya bukan orang yang terlalu pandai mengaji, tetapi saya ingin membagikan sedikit pengetahuan itu kepada orang lain. Saya juga merasa hidup kembali setelah menjadi guru,” katanya.

Dalam beberapa bulan, muridnya bertambah sehingga semakin banyak ruang di rumah Ali yang terpakai. Ali bahkan terpaksa membuat ruang baru untuk keperluan keluarganya.

Setelah murid semakin banyak, Ali menyerahkan tanah seluas 300 meter persegi untuk dikelola sebagai TPA yang dipimpin Handoko. Di tanah itu dibuat bangunan yang bisa disekat menjadi empat ruangan. Sesekali, gedung itu dipakai untuk kegiatan warga.

Dengan waktu aktif terbatas, ia dan sebagian pengajar TPA berpikir untuk memanfaatkan gedung agar lebih optimal. Selain itu, sebagian orangtua murid merasa dampak pengajaran keagamaan dan moral di TPA itu tidak optimal karena waktu anak di TPA hanya 1,5 jam. “Kami dan sebagian warga berpikir sekolah formal akan lebih dihargai. Akhirnya, kami mendirikan yayasan dan mulai membuka TK pada akhir 1998,” ujarnya.

Awal 2001, yayasan itu membuka SD. Sebagian guru TK diminta mengajar di SD itu. “Saya bersyukur ada saja yang membantu sekolah kami. Sekarang, sekolah kami menjadi sekolah laboratorium Konsorsium Pendidikan Islam,” tuturnya.

Kebahagiaan Handoko dilengkapi dengan kehadiran putra pertamanya, M Safiq Yasir, yang berusia 15 bulan. Yasir adalah buah perkawinannya dengan Lilis Suryani, guru di SD Al Hikmah, yang disuntingnya pada 22 Oktober 2004.

“Saya ingin membuat sekolah ini lebih bermutu dan berkembang. Suatu saat penyakit saya akan menyebar ke seluruh tubuh dan saya akan kesulitan bergerak. Namun, sebelum saat itu tiba, saya tidak mau berhenti,” tutur putra pertama pasangan Abdul Somad dan Masidatul ini.

Adik Handoko, Gunawan, juga terkena penyakit yang sama. Handoko pun mendorong Gunawan untuk membaktikan diri pada bidang pendidikan dengan mengelola TK milik Yayasan Al Hikmah, Blitar.

“Saya dan adik saya mendapatkan kebahagiaan dengan melakukan ini,” ujar Handoko. []