Sumber: Kompas.

“Azahari dan dua rekannya tewas tertembak setelah polisi berhasil menggerebek persembunyian mereka di Batu, Malang, Jawa Timur. Ditemukan juga dokumen-dokumen penting, antara lain rencana serangan terhadap sejumlah sasaran…,” demikian berita yang secara resmi disiarkan oleh Mabes Polri atas peristiwa pada 9 November 2005.

Yang tidak disiarkan, “…salah satu sasaran serangan kantor pusat YPPII (Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia) di Jalan Trunojoyo, Batu.”

“Kalau polisi terlambat menggerebek komplotan Azahari, hari ini kita tidak bakal bertemu sebab saya mungkin sudah menjadi korban serangan,” ungkap Petrus Octavianus, pendiri YPPII.

Tetapi, apa kesalahan lelaki tambun, dengan raut wajah selalu riang tersebut, sehingga menjadi sasaran teror?

“Saya tidak tahu. Tetapi, saya tidak mau berburuk sangka kepada mereka. Yang pasti, saya akan terus menapak perjalanan hidup sesuai moto saya: Hidupku untuk Tuhan dan Sesama….”

Bapak Anak Miskin

Panjang jalan berliku harus ditempuh sebelum Pak Octav, begitu panggilan akrabnya, berkarya di Batu. Dia kini memang tidak sendirian. Anak asuhnya, yang sudah ditampung sejak tahun 1960, tersebar di seluruh Indonesia. Sejak Banda Aceh sampai Papua, mulai Minahasa hingga Kupang. Di Malang, dia tampung 7.000 anak. Di seluruh Indonesia, jumlahnya selama ini sekitar 30.000 anak. Sebagian sudah selesai, lulus, berkarya dan menempati posisi atau jabatan strategis di masyarakat.

“Wali Kota Malang sempat memberi julukan Bapak Anak Miskin. Sudah lama saya canangkan tekad, semua anak harus berpendidikan. Mereka yang kekurangan akan saya anggap anak sendiri. Kirimkan kepada saya agar (bisa) saya bantu….”

Tekad ini pernah dikeluhkan anaknya, “Bapak membantu anak orang lain, mengapa tidak anak sendiri didahulukan?”

Jawaban Pak Octav, “Saya memang harus membantu anak orang lain yang kekurangan. Tuhan sendiri yang akan turun tangan membantu kalian….” Terbukti, delapan anaknya, buah pernikahan Octav dengan Henriene Mone, semuanya kini sudah menjadi sarjana dalam beragam disiplin ilmu.

Petrus Octavianus, anak petani miskin, dilahirkan pada 29 Desember 1928 di Desa Laes, Kecamatan Rote Barat Daya, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Anak bungsu dari tujuh bersaudara ini sejak awal sudah akrab dengan derita. “Belum genap usia dua tahun, ayah saya meninggal. Gambaran dan bayangan tentang beliau sama sekali tidak ada sebab kita tak mampu punya potretnya,” tuturnya.

Derita justru menjadi cambuk. Diasuh seorang kerabatnya, Octav bisa masuk sekolah dasar. Kemudian secara meloncat-loncat, sekolah di Kupang, dan akhirnya terdampar di Surabaya.

Orang Sunda

Sambil sekolah di Sekolah Guru Atas Surabaya, Octav juga mengumpulkan kaleng bekas, dibersihkan untuk dijual sebagai biaya hidup. Suatu hari, ketika asyik menangani kotak sampah di Embong, Malang, sebuah mobil mendadak berhenti. Penumpangnya seorang ibu iba melihat anak pakai seragam sekolah mengumpulkan kaleng bekas.

Ditanya orangtuanya? Dia jawab sudah tidak ada.

Ditanya tempat tinggal? Dia jawab hidup menggelandang.

Ditanya apa ingin terus sekolah? Dia jawab ingin sekali.

Sambil menerawang, Pak Octav mengenang, “Ibu itu orang Sunda, namanya Bu Kandar, bekerja di kantor sosial setempat. Beliau langsung membawa saya ke panti asuhan. Karena saya sudah terlalu besar, 21 tahun, kemudian disewakan rumah dekat panti. Bersama tiga rekan lain, dua dari Sumba dan seorang dari Kupang, kami mengalami titik balik. Bisa sekolah secara bener, ada kamar untuk tidur dan tidak usah lagi menjadi pemulung.”

Pengalaman hidup sering menakjubkan.

Berkat ketekunan, doa, dan izin Tuhan, semuanya bisa terjadi. Begitu juga dengan Pak Octav. Anak yatim asal Rote tersebut malah berhasil menapak ke atas, meraih gelar Doctor of Divinity dari Biola University di Los Angeles, AS, tahun 1980, berikut Doctor of Philosophy dari Kennedy Western University, Wyoming, AS, tahun 1999.

Pak Octav yang sudah pernah menjadi politikus, pimpinan Parkindo, akhirnya meninggalkan semua itu untuk sepenuhnya bekerja di ladang Tuhan dengan menjadi pendeta.

Pengalaman sebagai pendeta juga naik turun. Dia pernah mengembara melayani umat di 85 negara di lima benua, ditahan 10 hari di China semasa zaman Mao Zedong karena berceramah tanpa izin, dan diundang makan Presiden Jimmy Carter pada acara peringatan 200 tahun kemerdekaan Amerika Serikat.

Pada sisi lain, kegemaran mengajar mengantarnya menjadi penulis buku sangat produktif. Sudah 29 buku berbahasa Indonesia yang dia selesaikan berikut 21 buku dalam bahasa Inggris mengenai agama, kehidupan masyarakat, manajemen, dan pemerintahan. Buku terbarunya, jilid ketiga dari seri Menuju Indonesia Jaya dan Indonesia Adidaya akan diluncurkan Rabu (15/11) malam ini di Hotel Shangri-La, Jakarta.

Apa makna karya terbarunya?

Menurut Pak Octav, “Kemajemukan masyarakat Indonesia justru modal dasar yang bisa kita manfaatkan untuk peluang menuju pembentukan bangsa dan negara adidaya. Maka, masalah kemajemukan bukan bencana, bahkan sebuah peluang yang harus bisa kita manfaatkan….”

Peluang datang secara tak terduga.

Kejelian seiring kemampuan untuk menangkapnya, ini yang harus bisa kita lakukan, sekarang. []