Sumber: Kompas.

Tatkala sebagian besar orang masih meributkan standar kompor briket batu bara dan keamanannya, Dhimas Bayu Adji Pamungkas (49) telah memproduksi tujuh macam mesin berbahan bakar briket. Padahal, ia tidak pernah mendapat pendidikan teknik mesin secara formal.

Semua mesin itu direkayasa setelah ia melihat keadaan sekelilingnya. ”Saya harus membuat yang sesuai dengan lingkungan dan kebutuhan sendiri.

Ini lebih bermanfaat dan langsung bisa digunakan oleh sebagian besar orang tanpa harus mempelajari teknik yang rumit,” ujarnya.

Usaha rekayasa mesin-mesin itu dimulai pada tahun 2002, saat ia membutuhkan mesin pencelup bagi batik-batik buatannya. Membeli mesin pernah dijajaki, namun transaksinya dibatalkan. Ia tidak sanggup membayar mesin yang berharga puluhan juta itu. ”Saya baru satu tahun produksi, mana punya uang sebesar itu,” kata Dhimas.

Kebutuhan mesin pencelup memaksanya mempelajari berbagai jenis mesin itu dari internet. Ia membuat sketsa yang sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan gambar-gambar dari internet itu.

Dengan modal uang Rp 5 juta, ia membeli pelat dan alat las. Bengkel kecil di Padang Sumbu, Denpasar, berdiri dengan modal itu. Mulailah ia membuat mesin pencelup. Butuh tiga bulan sebelum mesin pertama layak digunakan. ”Sekarang, saya bisa membuat mesin untuk mencelup kain sepanjang 200 meter. Saya juga membuat mesin cetak batik yang paling laris di antara produk lain,” ujarnya.

Pertengahan tahun 2004, ia mendengar tentang briket batu bara. Ia tergiur dengan tawaran ongkos bahan bakar yang lebih murah jika menggunakan briket. Masalahnya, belum ada mesin atau alat yang cocok memakai batu bara.

Sekali lagi, bengkelnya memproduksi mesin baru. Mesin pengering menjadi produk pertama berbahan bakar batu bara. Lalu, berturut-turut bengkelnya menghasilkan oven pengering kayu, oven pembakar batu bata, mesin pengering kopi, mesin pengering gabah, dan terakhir, incenerator mini.

Pertengahan tahun 2005, ia memutuskan membentuk divisi teknik terdiri dari tujuh teknisi. Divisi itu bertugas merancang mesin-mesin yang semakin banyak permintaannya. ”Produk kami dibuat berdasarkan pesanan. Saya tidak sanggup merancang sendiri kebutuhan masing-masing konsumen,” tuturnya.

Tiga tahun setelah bengkelnya berdiri, ia sudah mempekerjakan 20 orang. Setiap bulan, omzet bengkel itu tidak kurang dari Rp 50 juta. Ia masih punya bisnis lain yang beromzet Rp 350 juta rupiah per bulan dengan 50 pekerja.

Berbagai bisnis

Perjalanan hidup Dhimas sulit disebut mudah. Menghabiskan masa kecil hingga remaja di Semarang, ia tidak merasa menemukan kecocokan bertahan di sana. Tidak ada usaha menjanjikan yang bisa dijalani di situ.

Bahkan setelah menikah dengan Dara Mehdia pada tahun 1976, ia tetap bekerja serabutan. Mengajar taekwondo pernah dilakukannya. Bisnis percetakan pernah digeluti. Akhirnya, ia memutuskan pindah ke Jambi pada tahun 1992.

Saat itu, bisnis perkayuan tengah cerah. Dengan cepat kehidupannya menanjak setelah menggeluti bisnis itu di Jambi. Satu tempat penggergajian, sebidang kebun, dan satu rumah menunjukkan keberhasilan itu.

Namun, ia harus kembali terempas saat bisnis kayu lesu pada tahun 1998. Dua tahun ia bertahan di Jambi tanpa kepastian akan melakukan apa. Jenuh dengan keadaan itu dan sadar kelima anaknya membutuhkan biaya sekolah, ia memutuskan berangkat ke Denpasar dengan bekal pas-pasan.

”Saya bukan siapa-siapa saat tiba di Denpasar. Saya tidak tahu apa yang bisa dikerjakan, namun yakin pasti ada jalan di kota ini,” ujar penyuka sayur asem dan ikan asin ini.

Ia dan Dara mengontrak kamar berukuran 3 x 4 meter di Denpasar. Setiap malam, ia mengunjungi kafe-kafe tempat wisatawan asing berkumpul. Ia bukan ingin bersenang-senang atau menjadi pemandu. Kepada para wisatawan itu ditawarkannya kain batik yang disesuaikan dengan budaya negara asal mereka. Ia pun menyatakan sanggup memproduksi pesanan mereka.

”Saya benar-benar nekat saat itu. Mulai terjun ke bisnis garmen, tetapi tidak mengerti sedikit pun soal benang dan pewarnaan. Bahkan, tidak ada modal untuk membeli kain,” ujarnya.

Modal produksinya berasal dari uang muka wisatawan yang tertarik memesan kain. Pesanan itu disubkontrakkan kepada pembuat kain di sekitar Denpasar. Keuletan dan kesabaran membuat ia mampu memproduksi sendiri batik-batik pesanan itu di tahun 2001. ”Pertama kali saya mempekerjakan lima karyawan yang jauh lebih mengerti soal garmen dibanding saya,” katanya.

Batik produksinya mengalir ke Italia, Spanyol, Perancis, Jepang, Amerika Serikat, Australia, dan Selandia Baru. Sebagian besar rancangan dibuat oleh pemesan dan ia tinggal mencetak.

Sejak bengkelnya semakin ramai pemesan, ia serahkan kendali bisnis garmen kepada istrinya. Ia sendiri berkonsentrasi menangani pemasaran produk bengkel.

Bengkel dan pusat produksi batiknya menempati lahan 25 hektar di Padang Sumbu Kaja, Denpasar. Satu rumah yang terbilang mewah telah menggantikan kamar 3 x 4 meter yang ditempati ketika pertama kali tiba di Denpasar. []