Sumber: Kompas.

SIAPA pun yang datang ke kawasan Pantai Ringgung, Kecamatan Padang Cermin, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, ia ingatkan agar tidak mengganggu bibit bakau. Di sepanjang pantai yang menjadi tanggung jawabnya, terdapat ratusan bibit pohon bakau yang mulai bertunas.

RATA-rata bibit pohon bakau itu telah mencapai tinggi 60 sentimeter. Bibit pohon bakau itu diperolehnya dari buah pohon bakau yang berjatuhan ke laut dan dihanyutkan ombak ke pantai. Setiap hari ia mengumpulkan pohon bakau yang bentuknya mirip tongkat kecil itu.

“Yang bagus adalah yang bentuknya gemuk, berwarna hijau, dan benjolan bakal akar tampak merata di ujungnya,” tutur Kundang. Buah pohon bakau itu kemudian ditancapkannya di tepi pantai dan kawasan perairan dangkal. Jaraknya sekitar 10 meter hingga 20 meter dari bibir pantai.

BEBERAPA bibit bakau itu mulai bertunas, namun sebagian di antaranya mati. Dahannya patah atau daunnya hilang. Kerusakan itu disebabkan tangan pelancong yang iseng, atau akibat tergiling baling-baling perahu nelayan. Berkali- kali Kundang mengingatkan mereka, namun sering diabaikan. “Bagi mereka saya ini bukan apa-apa. Ya harus sabar,” tutur lelaki nelayan ini yang menambah penghasilan dengan menjaga saung atau vila milik seorang pengusaha, di mana ia tinggal bersama istrinya yang kelima. Ia enggan berbicara tentang keluarga, namun mengaku punya banyak anak.

Tak ada yang menyuruh Kundang melakukan pekerjaan yang dimulainya pada tahun 2000 itu. Semua ia awali sendiri, lantaran ia prihatin melihat empasan ombak yang terus mengikis jalan di depan saung milik tuannya.

Awalnya ia mengumpulkan batu-batuan gunung dan laut untuk menimbun pantai yang telah terkikis ombak laut. Di atas tumpukan batu dan pasir laut itu ia menanam bibit pohon bakau. Demikian juga dengan kawasan perairan di depan pantai itu.

Ia tidak berani menanami lahan milik orang lain karena takut mereka marah. “Selain itu, saya ingin agar mereka menanam bakau atas niat mereka sendiri. Itu akan lebih baik. Mungkin saat ini saya mengawalinya. Setelah melihat hasilnya mungkin mereka akan mengikuti,” ungkap Kundang.

Semuanya dilakukan sendiri, melulu karena keinginannya agar pantai tidak makin terkikis. “Selain itu, para pelancong yang datang ke sini dapat duduk- duduk di atas pohon bakau ini untuk berteduh. Akar-akarnya pun jadi tempat untuk berkembang biak ikan dan kepiting,” ujarnya menambahkan.

PRIA berperawakan kecil dan berkulit legam ini mengaku tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Ia tak mampu membaca apalagi menulis. Namun jika berbicara tentang bakau, ia berani beradu argumentasi dengan para mahasiswa atau bahkan para dosen.

“Bibit bakau ini sama seperti manusia. Kita harus mengenalnya sama seperti kita mengenal orang lain. Setelah itu, kita dapat mengerti apa yang ia butuhkan dan bagaimana kita memberinya. Kuncinya adalah kesabaran,” tutur Kundang.

Namun ia pun mengakui bahwa untuk menggeluti perintisan penanaman bakau itu tidak mudah. Orang sering mencibirnya, lantaran pekerjaan itu tidak memberikan hasil apa pun kepadanya. “Memang bukan itu yang dicari,” ungkapnya ringan.

Ucapannya ringan, seringan dirinya saat menghadiri upacara pemberian hadiah Kalpataru tingkat Provinsi Lampung. Berbeda dari penerima Kalpataru lainnya, Kundang benar-benar berasal dari kalangan rakyat kecil, bahkan bisa digolongkan jelata.

“Waduh saya tidak tahu harus pakai pakaian apa saat itu,” katanya lugu.

Rekan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) wilayah Lampung kesulitan mencarikannya sepatu karena ukuran kakinya yang terlalu lebar. Akhirnya hanya dengan bersandal dan berpakaian sangat sederhana ia hadir di antara para penerima Kalpataru lainnya.

Begitulah Kundang, perintis penyelamatan lingkungan yang selalu apa adanya, khas orang pinggiran. Ia risau dengan sikap pemerintah yang dianggapnya kurang peduli. Ia menyayangkan mengapa Gubernur Sjachroedin ZP hanya memberinya piala saja.

“Dia tidak bertanya bagaimana pohon bakaunya, bagaimana pantainya. Dia hanya memberikan piala dan menjabat tangan saya saja, sudah begitu saja,” ungkapnya sedih.

Sebenarnya ia berharap pemerintah mau turut serta dalam upaya menjaga kelestarian hutan bakau di Lampung. Baginya yang terpenting adalah hutan bakau di Lampung lestari, bukan piala Kalpataru yang toh saat ini hanya digantungkannya di dalam kios kecil miliknya.

Sekali lagi, Kundang kembali pada bekal awal yang dibawanya, kesabaran. Dengan bekal itu pula Kundang merawat dan mengawasi tanaman bakau yang mulai tumbuh di areal seluas kurang lebih dua hektar.

Pekerjaan itu dilakukannya sendiri tanpa ada bantuan dari mana pun. Dengan sabar pula ia mengganti tanaman yang rusak dengan bibit yang baru. Kalaupun ditanya apa yang ia inginkan dari pemerintah, jawabnya tak lebih dari bantuan berupa papan pemberitahuan, agar para pelancong dan nelayan tidak merusak lagi bibit-bibit bakau yang ia tanam.

BANTUAN itu sangat dibutuhkannya, agar bibit bakau yang telah ditanamnya tidak dirusak oleh para pengunjung atau nelayan. Dengan jujur ia mengaku tidak memiliki uang untuk mengusahakan sendiri papan pemberitahuan itu.

“Para pengunjung sering iseng mencabut bibit bakau yang baru tumbuh. Mereka mengira itu tumbuhan laut biasa,” ungkap lelaki kelahiran Pringsewu, Kabupaten Tanggamus ini. Ia tidak tahu kapan ia dilahirkan-dari tampilan fisiknya usianya sekitar 50 tahun.

Belum lagi ancaman dari para pencari cacing merah yang merusak akar pohon bakau. Kundang selama ini telah berupaya keras melarang mereka, yang jarang digubris. Meskipun demikian, ia tetap saja melakukan usahanya, menanam bibit kayu bakau di tempat bakau itu dirusak.

“Saya juga sudah minta kepada Walhi dan juga Wanacala, agar saya diberi surat dan kartu pengenal. Itu agar lebih resmi, sehingga ketika saya mengingatkan orang, saya merasa lebih kuat, lebih resmi. Ini ada tandanya begitu,” tutur Kundang.

Kundang sadar dirinya hanya seorang penunggu saung milik seorang ternama di Bandar Lampung. Namun, apa yang dilakukan Kundang lebih dari tugas yang dipercayakan kepadanya. []