Sumber: Kompas.

BEKERJA seperempat abad lamanya dengan pangkat yang tak beranjak dari golongan IIA, apa lagi namanya kalau bukan pengabdian. Itulah yang dijalani Haji Mad Sahi (44), petugas Satuan Kerja Pulau Dua, Kabupaten Serang, Banten. Bahkan, ayah dari dua anak ini selalu merasa bersyukur bisa membaktikan diri pada pekerjaannya sebagai jagawana cagar alam.

“SAYA tidak ingin serakah. Harapan saya hanyalah apa yang saya lakukan ini bisa terjaga kelestariannya,” ujar Mad Sahi ketika ditemui di rumahnya yang dibangun di atas sepetak tanah seluas 200 meter persegi di Desa Sawah Luhur, Kecamatan Kasemen, Kabupaten Serang.

Sejak dua puluh lima tahun silam, pria kelahiran Cimanggu, Pandeglang, ini sehari-hari berkutat pada urusan konservasi burung di Cagar Alam Pulau Dua. Setiap hari, mulai pagi hingga petang, Mad Sahi menjelajahi kawasan yang luasnya 30 hektar itu. Tugasnya satu, yaitu menjaga cagar alam tersebut dari kerusakan.

Pulau Dua adalah salah satu cagar alam yang menjadi kawasan konservasi burung. Puluhan ribu burung dari berbagai macam jenis tinggal dan berbiak di tempat itu. Kawasan ini ditetapkan sebagai cagar alam sejak zaman kolonial Belanda tahun 1937.

Pengamat burung air dan ahli konservasi hayati, Yus Rusila Noor, menyebutkan, Pulau Dua merupakan salah satu cagar alam terbaik di Tanah Air untuk konservasi burung. Suasananya yang tenang dan persediaan makanan yang berlimpah membuat daerah ini sangat kondusif untuk tempat pembiakan burung.

Daerah ini awalnya merupakan pulau yang dipisahkan selat kira-kira 500 meter dari daratan Pulau Jawa. Luasnya pun hanya delapan hektar. Namun, seiring pendangkalan laut dan pengendapan lumpur dari Sungai Cibanten, pulau tersebut menyatu dengan daratan Pulau Jawa pada awal tahun 1980-an.

Oleh karena itu, kawasan cagar alam ini pun lebih mudah dijangkau oleh siapa saja. Jika dulu hanya bisa dicapai dengan perahu motor, sekarang dengan jalan kaki atau naik sepeda motor pun bisa. Keadaan inilah yang membuat tugas dan tanggung jawab Mad Sahi semakin berat.

Ia menuturkan, tidak jarang dirinya harus bersitegang dengan orang-orang yang ingin mengusik kelestarian Cagar Alam Pulau Dua. Pada musim-musim hajatan, banyak warga yang tidak mampu membeli minyak tanah biasanya akan mencari kayu bakar di tempat itu.

Mad Sahi juga harus menghadapi orang-orang yang ingin mengambil kepiting pada malam hari dengan menyalakan obor. Bukan itu saja, ia masih harus meredam kemarahan para pemilik tambak ikan di sekitar kawasan Pulau Dua yang merasa bahwa ikan-ikannya banyak dimakan burung-burung.

Tidak mengherankan, keteguhannya untuk menjaga kelestarian Pulau Dua sering menyebabkan Mad Sahi beberapa kali akan dikeroyok orang banyak. “Saya hanya berusaha menyampaikan pengertian dan kesadaran kepada mereka bahwa cagar alam ini perlu dipelihara bersama. Lama-kelamaan mereka mulai sadar,” tuturnya.

AWAL kiprah Mad Sahi pada urusan konservasi burung di Pulau Dua adalah pada tahun 1979 ketika ia bekerja menjadi tenaga lepas sebagai penjaga cagar alam. “Istilahnya waktu itu saya masih nyerep. Saya menggantikan penjaga yang tidak bisa datang. Satu bulan lewat, saya masih ditawari lagi untuk terus nyerep,” kenangnya.

Hingga beberapa bulan kemudian, ia terus dibutuhkan sebagai penjaga pengganti jika petugasnya berhalangan datang. Tugas sebagai penjaga serep itu dikerjakan dengan baik sehingga ia pun disarankan untuk mengajukan lamaran pekerjaan.

“Saya tidak ada latar belakang pendidikan apa-apa. Waktu itu saya merasa yang penting kerja di pemerintahan yang bukan kerja kantoran,” kata pria lulusan Sekolah Dasar (SD) Air Jeruk, Ujung Kulon, Pandeglang itu. Selama empat tahun di awal masa kerjanya, Mad Sahi masih berstatus tenaga honorer.

Masa depan pekerjaannya mulai mendapat kepastian ketika tahun 1983 ia mendapat penghargaan Kalpataru untuk kategori pengabdi lingkungan. Tak lama kemudian, ia pun diangkat sebagai pegawai negeri.

“Uang penghargaan Kalpataru sebesar Rp 2 juta saya pakai untuk beli tanah 200 meter persegi dan membangun rumah yang sekarang ini saya tempati bersama keluarga,” ujarnya. Rumah sederhana berbentuk huruf L itu warna dindingnya mulai kusam dan catnya memudar.

Pengabdiannya yang tulus dan serius pada kepentingan konservasi juga mengantarkan Mad Sahi mendapat penghargaan Satya Lencana untuk pengabdi lingkungan pada tahun 1995. Tiga tahun kemudian, Pemerintah Provinsi Jawa Barat membiayai keberangkatannya naik haji.

“Begitulah sukanya, saya sering mendapat penghargaan dari pekerjaan ini. Tetapi, juga ada dukanya jika harus berhadapan dengan mereka yang ingin merusak cagar alam. Yang paling berat ketika harus menghadapi pemilik empang dan pencari kayu bakar,” tuturnya.

SETIAP hari ia mendatangi Pulau Dua dengan sepeda ontel buntutnya dan mengontrol seluruh kawasan cagar alam itu. Dari pagi hingga petang, ia menyisir seluruh tempat di daerah itu sambil harus “berperang” melawan gigitan nyamuk.

Bekerja di tempat yang jauh dari pusat pemerintahan memang terkadang membuat Mad Sahi agak “terkucil”. Kendati Banten sudah 3,5 tahun menjadi provinsi sendiri, gaji bulanannya ternyata masih dibayar oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Barat. Akibatnya, ia harus mengambil langsung gaji itu setiap bulan ke Bandung karena tidak mempunyai rekening di bank.

Pos jaga yang digunakannya untuk melepas lelah juga tidak terurus. Pondokan di bawah pohon rindang dengan luas kira-kira 7 x 5 meter itu atapnya sudah harus ditopang kayu. Dinding dan lantainya sudah mengelupas. Menara pemantau di depan pondokan itu juga sudah mulai rapuh.

Sebagai pegawai negeri golongan IIA, Mad Sahi sadar bahwa gajinya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Merasa gajinya sulit naik dan pangkat pun sudah mentok, ia menambah penghasilan dari mengelola sawah seluas 43 are.

“Kalau panen lagi bagus, penghasilan ya bagus. Kalau lagi jelek, ya jelek,” katanya. Di tengah keterbatasan itu, Mad Sahi mengaku bersyukur bisa berbuat sesuatu demi kelestarian lingkungan. Melalui pekerjaannya, ia sedikit demi sedikit hafal nama-nama latin beberapa jenis burung di Pulau Dua. Dengan tulus ia pun berujar, “Saya berterima kasih pada pemerintah.” []