Sumber: Kompas.

PADA masa krisis yang lalu, usaha kerajinan rakyat diharapkan bisa ditingkatkan agar masyarakat mampu mempertahankan kehidupan keluarganya. Apalagi jika produk kerajinan itu punya nilai ekspor.

Namun, lain halnya dengan warga Desa Sumber Mujur, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Jauh sebelum krisis datang, warga perajin justru diminta mengurangi atau bahkan menghentikan usaha mereka sebagai perajin anyaman bambu. Paling tidak, perajin diminta untuk tidak menjadikan usaha kerajinan bambu sebagai sumber nafkah utama mereka.

Upaya ini tentu mencengangkan, justru pada saat masyarakat tidak bisa berharap banyak dari usaha pertanian, tidak sedikit petani yang mengadu nasibnya dengan menjadi perajin. Bahkan, buruh tani yang beralih menjadi buruh industri kerajinan, bisa dikatakan tidak sedikit jumlahnya.

Akan tetapi, jika usaha kerajinan dianggap bisa menghancurkan lingkungan dan mematikan usaha pertanian, barangkali tidak keliru jika upaya mengerem laju usaha perajin di suatu daerah. Hal itulah yang dilakukan Herry Gunawan (46) bersama Kelompok Pelestari Sumber Daya Alam (KPSA) Kali Jambe di Desa Sumber Mujur itu.

“Apalagi nenek moyang kami bukanlah perajin anyaman bambu. Tetapi entah mengapa, oleh pemerintah Jepang warga diajari menganyam bambu dengan bahan baku dari hutan bambu yang luasnya sembilan hektar,” ujar Herry sambil mengenang cerita orang-orang tua, selain usaha pertanian oleh Belanda warga justru diminta menanam tanaman keras di hutan termasuk menanam bambu.

Sejak diperkenalkannya kerajinan anyaman bambu di Desa Sumber Mujur di kaki Gunung Semeru, usaha pertanian terbengkalai. Tanaman padi paling tinggi menghasilkan 2-3 ton per ha. Ini terutama disebabkan semakin kecilnya debit sumber air Umbulan yang selama ini jadi sumber irigasi. Ini antara lain disebabkan hutan bambu yang berfungsi sebagai resapan air mulai habis ditebangi.

Karena sumber bahan baku kerajinan yang terbatas, satu-satunya cara menyelamatkan hutan bambu itu ialah membudidayakan tanaman bambu itu. Karena diharapkan pulihnya kembali fungsi hutan bambu, perajin hanya boleh melakukan tebang pilih. Ini berarti usaha kerajinan dibatasi, bukan lagi sebagai pekerjaan utama.

***

DENGAN upaya KPSA Kali Jambe itu, dalam waktu sekitar 23 tahun sejak tahun 1978 mampu memulihkan kondisi lingkungan Desa Sumber Mujur. Paling tidak, produksi padi meningkat menjadi 4-5 ton per hektar. Ini dimungkinkan karena irigasi terjamin setelah debit air Umbulan meningkat drastis menjadi rata-rata 600-800 liter/detik. Sumber air ini berfungsi sebagai sumber irigasi untuk 891 ha sawah di Desa Sumber Mujur dan tiga desa lainnya (Kloposawit, Tambakrejo dan Penanggal) serta untuk sumber air minum warga sekitarnya.

Bukan cuma itu, tetapi satwa pun mulai berkembang biak di sekitar desa mereka. Kera yang puluhan tahun tak pernah muncul, kini pada areal sembilan hektar hutan bambu, paling tidak dihuni sekitar 60 ekor kera. Tanaman bambu yang terdiri dari 10 jenis bambu (apus, petung ungu, petung hijau, ori, ampel hijau, ampel kuning, cina, rampal, putih, dan jajang) itu menambah asri wajah desa. Rimbunan rumpun bambu di desa itu membentuk terowongan menaungi jalan desa.

Kali Jambe pun mulai bisa dijadikan tempat membudidayakan ikan yang diharapkan bisa meningkatkan pendapatan warga. Lalu areal hutan sekitar 460 hektar mulai dimanfaatkan agar kemampuan meresap air hujan makin tinggi dengan menanam pohon bernilai ekonomis tinggi.

Seperti yang dilakukan akhir-akhir ini, selain tanaman kopi yang dimiliki rakyat, bekerja sama dengan Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Alam Departemen kehutanan, warga diajak menanam pohon jati unggul yang berusia 20 tahun. Penanaman ini dilakukan dengan bagi hasil, dan warga memperoleh 75 bagian.

Herry Gunawan nampaknya masih terus berpikir untuk meningkatkan pendapatan warga, terutama anggota kelompok KPSA Kali Jambe. Di antaranya yang segera dilakukan ialah membudidayakan tanaman murbei yang untuk kepentingan lingkungan mampu menahan erosi, sekaligus bisa jadi sumber penghasilan dengan memelihara ulat sutera alam.

***

KEBERHASILAN kelompok ini tentu saja tidak terlepas dari kepemimpinan Herry Gunawan sebagai Ketua Kelompok. Herry Gunawan yang lahir tanggal 15 Maret 1954 itu, hanya menyelesaikan pendidikan SD tahun 1967 dan SLTP tahun 1970 di Pasirian. Selepas pendidikan SLTP, Herry lebih memilih bekerja sebagai pedagang mengikuti naluri dagang orangtuanya.

Kiprah pada persoalan lingkungan dimulai tahun 1978, setelah empat tahun berada di Desa Sumber maju bersama kedua orangtuanya. Pada awalnya, di desa ini laki-laki yang sampai saat ini masih lajang itu menekuni bidang pertanian, peternakan, dan wiraswasta. Tetapi, setahun setelah tinggal di Desa Sumber Mujur, Herry mulai terdorong untuk mengubah kebiasaan masyarakat tani yang selama ini bercocok tanam secara tradisional.

Untuk mengawali rencananya itu, tahun 1979 Herry mulai dengan mendirikan Kelompok Tani Kali Jambe. Dalam perkembangan selanjutnya, Herry melihat kelompok ini tidak hanya akan menangani masalah pertanian, tetapi harus mampu menghadapi persoalan lingkungan yang mempengaruhi usaha pertanian di desa itu. Karena itu, Kelompok Tani Kali Jambe mengubah namanya menjadi Kelompok Pelestari Sumber Daya Alam “Kali Jambe”. Kelompok inilah yang kemudian mampu menyadarkan warga perajin bambu beralih profesi menjadi petani dan pedagang, dan kemudian bersama anggota kelompok lainnya merawat rumpun bambu hingga lebat kembali.

Perjuangan Herry Gunawan dan kelompoknya menyelamatkan lingkungan, memang tidak mudah dilakukan. Ia melakukan dengan berbagai pendekatan, selain memberi contoh. Sebagai petani dan wiraswasta ia mampu meyakinkan warga jika dari usaha tani, kesejahteraan warga bisa ditingkatkan. “Apalagi saya hanya bisa menyewa tanah, sehingga hasil yang saya peroleh segera dicontoh warga, terutama mereka yang memiliki lahan,” jelas Herry.

Salah satu upaya yang coba digunakan Herry pada awalnya ialah mengingatkan kembali warga pada budaya dan tradisi pada masa lalu, selain melakukan pendekatan kepada tokoh agama dan mengadakan pengajian. Terutama tradisi yang pada masa Belanda pun sering dijalankan di hutan kopi dan tanaman keras lainnya, yaitu mengadakan selamatan pada waktu-waktu tertentu. Selamatan ini biasanya dikuti dengan penanaman kepala kerbau.

Kepercayaan itu di kalangan warga Desa Sumber Mujur itu ternyata masih kuat. Apalagi setelah ada korban ketika ada yang mencoba menangkap ikan di Kali Jambe dengan bahan peledak. “Itu mungkin tidak ada kaitannya dengan kepercayaan warga, tetapi jika hal itu menyebabkan warga takut mengganggu kehidupan di Kali Jambe, ya tidak ada salahnya,” ungkap Herry Gunawan menjelang penerimaan Penghargaan Kalpataru 2002.

Kondisi itu kemudian memunculkan inspirasi bagi Herry Gunawan untuk mengajak warga bersama kelompoknya mengadakan selamatan “Jumat Legi.” Lewat acara ini dihidupkan kembali tradisi tanam kepala kerbau, kemudian diikuti selamatan dan menyajikan aneka kesenian dan kebudayaan daerah. Boleh jadi, tanam kerbau dan hal-hal lain itu sudah tidak relevan lagi dengan keadaan zaman. Tetapi jika mampu menyelamatkan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga, kegiatan semacam itu bisa saja dilakukan.

Paling tidak, upaya yang dilakukan KPSA Kali Jambe yang dipimpin Herry Gunawan mampu menunjukkan keberhasilannya. Ini ditandai dengan Penghargaan Kalpataru 2002 yang diraih kelompok tersebut.

Tentu saja, upaya kelompok itu makin membanggakan warga Desa Sumber Mujur, jika cita-cita Herry menjadikan Desa Sumber Mujur yang terpencil di lereng Gunung Semeru nantinya menjadi kawasan agrowisata berwawasan lingkungan yang banyak dikunjungi wisatawan. []