Sumber: Kompas.

MOHAMMAD Tayeb (65) bukanlah seorang guru besar tanaman bakau. Bukan pula seorang pakar bakau. Akan tetapi, dalam urusan pembibitan, penanaman, dan pemeliharaan bakau, penduduk Desa Tongke-tongke, Kecamatan Sinjai Timur, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, yang hanya tamatan sekolah rakyat (SR) itu bisa dibilang gurunya. Mereka yang berguru padanya bukan hanya para ahli bakau dan mahasiswa dari dalam negeri, tetapi juga dari berbagai negara, seperti AS, Jerman, Belanda, Korea Selatan, Australia, dan Jepang.

PERTENGAHAN Juli 2004 lalu, sebuah tim dari Universitas Kyoto, Jepang, secara khusus datang dan tinggal selama beberapa hari di Desa Tongke-tongke untuk belajar tentang bakau pada Tayeb. Sebelumnya, dari dalam negeri juga berguru mahasiswa, antara lain dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia (UI), Universitas Hasanuddin (Unhas), dan Universitas Gadjah Mada (UGM), sejumlah instansi terkait dan aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Dari buku tamu, tampak nyata hampir setiap minggu Tayeb selalu kedatangan tamu dari berbagai kalangan yang ingin mendalami bakau. Hal tersebut karena hutan bakau di Tongke- tongke merupakan hasil dari proses penanaman yang direncanakan secara matang, terpadu, dengan swadaya murni masyarakat dan Tayeb sebagai motor penggerak utama.

Hutan bakau di kawasan ini tertata rapi. Di tengahnya dibuat beberapa parit dengan lebar sekitar tiga meter sebagai jalur khusus transportasi laut. Hebatnya lagi, bakau Tongke- tongke umumnya tegak lurus sehingga perjalanan perahu berukuran besar pun tetap lancar. “Untuk mendapatkan batang bakau yang tegak lurus ini bukan sebuah kebetulan, tetapi ada tekniknya saat penanaman. Begitu pula kalau kita ingin mendapatkan bakau yang sejak dari batangnya sudah memiliki banyak tangkai,” kata Tayeb.

Bibit bakau diambil dari buah. Buahnya sangat lunak dan mudah dipatahkan. Ukuran buah itu seperti jari tengah tangan manusia dengan panjang sekitar 10 sentimeter dan ujungnya meruncing. “Jika ingin dapat pohon yang tegak lurus, saat penanaman ujung bibit itu tidak boleh dipatahkan. Sebaliknya, untuk pohon dengan banyak tangkai, ujung bibit harus dipatahkan sebelum disemai atau ditanam,” ujarnya.

Kegiatan yang digeluti bertahun-tahun itu membuat Tayeb menguasai hampir semua hal berkaitan dengan bakau. Termasuk pula teknik pengambilan bibit dari pohon, cara penanaman, dan pemeliharaan.

Tidak mengherankan, setiap kali digelar seminar dan simposium tentang bakau, baik lokal, regional, nasional, maupun internasional, Tayeb selalu diundang sebagai salah satu peserta atau menjadi pembicara. Di forum-forum itu dia diminta membagi berbagai pengalaman tentang penanaman bakau serta manfaat yang telah didapat.

Bukan itu saja. Tayeb juga sering diminta pemerintah, LSM, dan organisasi di berbagai kabupaten serta provinsi untuk memberikan pelatihan yang berkaitan dengan bakau. Undangan tersebut selalu dihadiri. “Saya telah merasakan banyak manfaat dari hutan bakau di Tongke-tongke. Jadi, saya ingin manfaat itu dirasakan juga oleh masyarakat di daerah lain. Makanya, saya tidak pernah menolak undangan,” kata Tayeb, yang mengaku pernah ke berbagai daerah di Jawa, Sumatera, Bali, Flores, dan Papua hanya untuk mengurusi bakau.

PERGULATAN Tayeb dengan tanaman bakau berawal dari peristiwa abrasi besar-besaran yang terjadi Tongke-tongke. Abrasi hingga sejauh dua kilometer tersebut nyaris menenggelamkan kampung itu. Setiap malam masyarakat setempat tidak bisa tidur nyenyak dan harus selalu berjaga-jaga sebab khawatir rumah dan perahu mereka dihantam ombak.

Melihat abrasi yang semakin ganas, tahun 1984 masyarakat membangun tanggul dari batu karang mencapai ratusan kubik guna menahan ombak. Namun, hasilnya tetap nihil. Setiap malam selalu saja ada perahu yang meski diikat pada tiang di bawah rumah panggung yang terlepas. Ada pula rumah yang roboh. Setelah itu barulah disadari, pengumpulan batu karang secara besar-besaran juga berisiko tinggi. Selain menghancurkan biota laut, juga ikut meningkatkan gelombang laut dan memperparah abrasi.

Mengingat situasi yang semakin buruk, sejumlah warga mulai putus asa dan memilih pindah ke daerah lain yang dinilai lebih aman. Akan tetapi, sebagai nelayan tulen, Tayeb tidak patah semangat dan putus asa. Semangatnya untuk mencari solusi terus meningkat.

Maka, pada pertengahan tahun 1985 Tayeb mulai mencoba menanam bakau. Pilihan menggunakan tanaman ini diambil dari pengalaman sebuah pesisir yang tak jauh dari Tongke- tongke. Di sana tumbuh 20-an pohon bakau dan daerah itu terbebas dari abrasi.

Usaha tersebut cukup berhasil. Dua tahun berikutnya, saat bakau yang ditanam sudah memiliki tinggi sekitar 100 meter, ombak yang datang di bawah rumah Tayeb tak lagi ganas, dan mulai tenang. Kenyataan itu langsung menggerakkan kesadaran seluruh warga Tongke- tongke. Tahun 1987 masyarakat setempat secara spontan menyepakati menanam bakau.

Dari kesepakatan itu mereka secara bersama-sama dengan dipimpin Tayeb membuat kapling untuk ditanami bakau, termasuk menyiapkan bibit. Penanaman dan pemeliharaan bakau pada setiap kapling ditangani oleh beberapa keluarga. Apabila ada tanaman yang mati, segera diganti dengan tanaman baru. Kegiatan ini dilakukan warga setempat dengan penuh kesadaran, dedikasi, dan disiplin yang tinggi. Kawasan yang ditanami seluas 511,8 hektar.

Hasilnya sangat menggembirakan. “Sejak pohon bakau mulai tinggi, lebih kurang 50 sentimeter, ombak di pesisir Tongke-tongke terus menurun. Laut pun mulai tenang. Malam hari kami pun mulai tidur agak nyenyak. Bahkan, kami pun luput dari bencana gelombang Tsunami akibat gempa di Pulau Flores tahun 1992,” ujar Petta Pella (72), pemuka masyarakat Tongke-tongke.

Gelombang pasang dan gempa dahsyat itu ikut menyapu sejumlah permukiman di pesisir Teluk Bone dan Selat Makassar. Masyarakat Tongke-tongke pun merasakan, tetapi gelombang laut yang datang langsung tertahan pada hutan bakau. “Kalau saat itu kami belum tanam bakau, mungkin masyarakat Tongke-tongke ikut menjadi korban,” tambah Tayeb yang tahun 1992 menerima hadiah Kalpataru karena dinilai berhasil mengembangkan lingkungan.

Kini Tongke-tongke benar- benar terbebas dari abrasi. Kawasan pesisirnya semakin melebar. Jika tadinya lahan pesisir hanya cukup untuk dibangun beberapa rumah yang sejajar, sejak adanya hutan bakau, di atas kawasan tersebut telah bisa didirikan dua blok perumahan yang berhadapan.

Jumlah rumah juga terus bertambah dari 80 unit menjadi 120 unit dengan penduduk meningkat dari 70 keluarga menjadi 117 keluarga. Status administrasi Tongke-tongke pun terdongkrak dari yang semula hanya sebuah dusun, kini menjadi desa. Desa ini pun tertata rapi dan bersih, jauh berbeda dengan perkampungan nelayan pada umumnya.

KEHADIRAN hutan bakau ternyata tidak saja membebaskan masyarakat dari ancaman abrasi. Lebih dari itu memberikan manfaat ekonomis yang cukup tinggi. Terbukti, hutan bakau di Tongke-tongke telah menjadi “sarang” kepiting, udang, benur (bibit udang), nener (bibit ikan bandeng), serta berbagai jenis ikan lainnya. Setiap hari sejumlah warga setempat selalu memanen komoditas tersebut sehingga menambah pendapatan keluarga.

Volume produksi kepiting, misalnya, sekitar satu ton per bulan. Harga kepiting di Sinjai berkisar Rp 20.000-Rp 30.000 per kilogram. Satu ekor kepiting super memiliki berat satu kilogram sampai 1,3 kilogram. Kepiting yang terkecil biasanya tiga ekor baru mencapai satu kilogram. Sementara itu, harga nener berkisar Rp 100-Rp 150 per ekor. Jika dalam sehari setiap orang dapat menangkap 100 ekor, berarti memberi penghasilan Rp 10.000. Belum lagi benur yang potensinya semakin besar. Apabila potensi yang ada digarap optimal, masyarakat Tongke-tongke tidak akan mengenal ketiadaan uang.

Namun, potensi tersebut belum dikelola secara maksimal melalui usaha budidaya, dan dibiarkan berkembang biak secara alami. “Kami sadari kekurangan ini. Dalam waktu dekat, kami ingin mencoba membudidayakan kepiting dan udang dalam hutan bakau,” kata Tayeb. Usaha itu akan dipadukan dengan pariwisata. Direncanakan hutan bakau di Tongke-tongke dijadikan obyek wisata. Di tengah hutan dibangun penginapan-penginapan kecil. Salah satu kegiatan yang ditawarkan kepada wisatawan adalah pemancingan kepiting, udang, dan berbagai jenis ikan yang dibudidayakan.

Hal lain yang menarik adalah bakau Tongke-tongke semakin diminati masyarakat di berbagai daerah di luar Sinjai. Pemesanan pun terus berdatangan dari pemerintah, perguruan tinggi, dan LSM. Harganya Rp 450 per pohon. Peluang ini dimanfaatkan warga setempat untuk menambah penghasilan keluarga.

“Terus terang, kami sudah merasakan banyak manfaat penanaman bakau. Oleh karena itu, saya minta masyarakat pesisir lainnya mulailah menanam bakau sekarang juga. Esok pasti petik hasilnya,” kata Tayeb. Tongke-tongke telah membuktikan adanya sinergi yang kuat antara pelestarian lingkungan dan potensi ekonomi. Semuanya itu berkat kearifan Tayeb. []