Sumber: Kompas.

AWAL tahun 1980-an, siapakah Harini? Tak banyak orang mengenal, kecuali tetangganya di kawasan Banjarsari, Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Saat itu, ia adalah pendatang dari Cilacap, Jawa Tengah.

Kini, setelah hampir seperempat abad tinggal di sana, murid-murid sekolah dasar, aktivis PKK, kepala desa, aktivis lingkungan, mahasiswa, profesor, hingga menteri pernah menyinggahi rumah sederhananya.

Sepetak ruangan rumahnya yang sederhana di RT VII RW VIII Bajarsari, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, menjadi tempat pelatihan (education corner) pengelolaan sampah terpadu sampai pengenalan tanaman obat.

Harini Bambang (73), kini dikenal sebagai narasumber manajemen pengelolaan sampah terpadu, dari pemisahan sampah organik dan anorganik, pembuatan kompos sederhana, pengenalan tanaman obat, pembuatan kertas daur ulang, dan kegiatan konservasi sederhana lainnya.

Semua pengakuan itu dimulai ketika usianya menjejak 50 tahun. Sejak tahun 1997, setahun setelah digandeng UNESCO mengkampanyekan pengelolaan sampah terpadu, hari-hari nenek energik itu tak pernah sepi dari beragam aktivitas; memberi materi pelatihan lingkungan di education corner, ceramah di seminar-seminar, hingga melanglang buana.

Kini, ia sedang menunggu kepastian berangkat ke Jepang. Bukan untuk berwisata, tetapi memberi ceramah tentang pengelolaan sampah perkotaan di tengah komunitas akademis Osaka University. “Saya ingin melihat pengelolaan sampah dan daur ulang kertas di sana,” kata nenek delapan cucu peraih Kalpataru kategori penyelamat lingkungan itu.

DITEMUI di education corner-nya yang disesaki alat-alat peraga dan pot-pot berisi tanaman, istri Bambang Wahono yang eks-Tentara Pelajar itu, bercerita panjang tentang riwayat dan obsesinya yang masih tersisa.

Sore itu, ia belum sepekan tiba dari “safari” program Bangun Praja Kantor Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) di Sumatera Barat. Apalagi kalau ceramah pengelolaan sampah dan penghijauan lingkungan. Di tengah masa menjalani puasa, sederet jadwal telah menantinya.

Terpaksa, untuk sementara waktu ia menolak permintaan training dari Jakarta dan sekitarnya. Telepon yang berdering selama perbincangan, semua dijadwalkan sehabis Lebaran.

Adalah kenangan masa kecil di kawasan Pasar Legi, Solo, yang mendorong anak mantri tani ini tekun berkarya menekuni persampahan hingga detik ini. Kenyamanan, teduh, dan ijo royo-royo, seperti masa kecilnya dulu ingin ia hadirkan.

Seingat dia, pemerintah kolonial Belanda sangat tegas agar sampah diselesaikan di sumbernya. Zaman sekarang, sampah selalu menjadi masalah besar di perkotaan dan menimbulkan gejolak sosial. Di Jakarta, 6.000 ton sampah menjadi masalah.

Tekad menjadikan kawasan Banjarsari nyaman, termasuk dari persoalan sampah mulai dirintisnya awal tahun 1980-an. Mulailah pot-pot dengan tanaman obat menghiasi pekarangan rumahnya dibarengi aktivitas memilah sampah organik dan anorganik.

Awalnya, secara rutin mantan guru SD dan SMP itu mengundang sepuluh ibu rumah tangga yang diketahuinya buta huruf “ngobrol” di rumahnya. Sambil “mengajar” baca tulis, ia menerangkan pentingnya menjaga lingkungan bersih dan hijau.

Sejak suaminya terpilih sebagai Ketua Rukun Tetangga (RT), ajakan melestarikan lingkungan dengan memilah-milah sampah rumah tangga dan memanfaatkan lahan pekarangan semakin gencar.

Gerak advokasi lingkungannya meluas ketika suaminya “naik pangkat” sebagai Ketua Rukun Warga (RW) VIII membawahi delapan RT. Ia pun membentuk Kelompok Tani Dahlia sebagai wadah organisasi.

Lomba penghijauan lingkungan gencar diadakan untuk memperluas efek cinta lingkungan, hingga tingkat kelurahan dan kecamatan. Tumbuhnya sikap peduli lingkungan warga membuahkan hasil juara nasional Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam (2000).

Bila kini RW VIII Banjarsari ijo royo-royo, warna-warni tong pemilah sampah organik dan anorganik berjejer di sudut jalan, semua itu buah perjuangan.

“Kalau saya mempedulikan suara-suara miring tetangga tentang aktivitas saya dulu, barangkali saya sudah mutung (putus asa). Kini, merekalah yang justru menjadi kader-kader lingkungan andal,” lanjut Harini.

Warga pun mulai rajin menanam tanaman dalam pot-pot dari ember bekas, bekas gelas air mineral, dan beragam sampah plastik lain.

Di beberapa lokasi, papan bertuliskan peringatan pentingnya menjaga lingkungan dipasang dan terjaga, seperti slogan 4R; reduce (mengurangi), reuse (pemanfaatan kembali), recycle (daur ulang), dan replant (penanaman kembali). Semua untuk mengingatkan warga sebelum membuang sampah.

RW VIII Banjarsari kini bersih dan hijau. Pekarangan warga dipenuhi tanaman. Penampungan sampah di tengah kampung dibuat untuk mengolah kompos dari sampah keluarga.

Kompos made in Banjarsari pun laku dijual, tanaman dalam pot pun demikian. Sebagian warga juga mampu membuat kertas daur ulang untuk dibuat kerajinan. Pendek kata, warga dan karang taruna Banjarsari VIII memiliki penghasilan tambahan.

Semua hal di atas tidak lepas dari langkah UNESCO menjadikan Banjarsari VIII sebagai proyek percontohan manajemen pengelolaan sampah perkotaan pada tahun 1996. Setahun kemudian, atas kepeloporannya, Harini memperoleh sertifikat UNESCO tentang pengelolaan sampah terpadu dan daur ulang kertas.

Kini, education corner yang hanya sanggup menampung sekitar 20 peserta, tak pernah terhenti dari hiruk pikuk pelatihan dan kunjungan. []