Sumber: Kompas.

“KITA kan negara agraris, lahan pertanian juga luas, kok beli benih cabai saja dari luar negeri. Katanya sudah mau bikin pesawat!” kata seorang petani di Kabupaten Karanganyar, kira-kira dua puluh tahun silam. Pertanyaan lugu ini langsung menohok Agustinus Mulyono Herlambang, pegawai Dinas Pertanian Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, yang beberapa tahun kemudian menjadi Penyuluh Pertanian Teladan Tingkat Nasional Tahun 1986.

SEBAGAI penyuluh pertanian, hati saya miris ketika itu. Memang benar apa yang dikatakan para petani itu. Bahkan dari dulu hingga sekarang, walau telah berselang 20 tahun lebih, kita tetap saja mengimpor benih. Padahal, benih tersebut bukan mustahil hasil pemuliaan yang didapatkan dengan perkawinan silang dari plasma nutfah asli Indonesia,” kata Mulyono.

Menurut dia, Indonesia kini masih harus membeli benih senilai Rp 17 triliun tiap tahun. Benih-benih itu dibeli petani Indonesia antara lain dari Jepang, Taiwan, Korea, Thailand, Eropa, dan Selandia Baru. “Hal itu jelas mengusik saya, kenapa kita tidak memproduksi sendiri benih-benih itu. Obsesi itu jelas-jelas menghantui, dan saya berangkat dari titik terendah dengan harapan dapat berhasil,” katanya.

JATUH bangun! Itulah gambaran sesungguhnya upaya Mulyono merintis pemuliaan benih. Usaha yang dimulainya pada tahun 1983, berbekal pengetahuan dan keterampilan setelah belajar pertanian di Organization Industrial Spiritual Cultural Advancement (OISCA) selama dua tahun (1980-1981) di Fukuoka, Jepang, ternyata dikalahkan persoalan modal semata. “Tanpa modal memang agak sulit melakukan usaha pemuliaan yang awalnya terkesan menghamburkan uang. Dari hari ke hari selama puluhan tahun, pemulia hanya menanam, mengamati, mengujicobakan, lantas membanding- bandingkan tanaman tanpa berproduksi, sehingga tanpa penghasilan sampingan atau modal awal yang cukup, nyaris mustahil dilakukan,” jelasnya.

Maka, Mulyono pun banting setir ke usaha bawang putih sembari melakukan riset kecil-kecilan. Tahun demi tahun berlalu, dia berhasil mengumpulkan modal, hingga akhirnya di tahun 1993 mulai riset secara serius. Riset belasan tahun di lahan sawah dan hortikultura percobaan seluas 1,3 hektar, ditambah uji pasar selama tiga tahun pun berbuah rentetan keberhasilan dengan diakreditasinya benih hasil pemuliaannya, antara lain benih Melon LADIKA 108 (LAhir DI KAranganyar), Melon SUMO 28 (Suka Usaha Melon Oke), Melon MAI 116, 119 (Melon Asli Indonesia), Semangka METAL 206 (MErah ToTAL), Tomat TIA 403 (Tomat Indonesia Asli), dan Tomat BUBA 426 (BUahnya BAnyak).

Dengan keluarnya Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian di tahun 2003, untuk ke semua benih ciptaannya, maka benih-benih tersebut-seusai obsesi pribadinya-dapat ditanam petani dengan berbagai keunggulan. Sementara itu, dua belas varietas baru, di antaranya cabai, terung, pare, mentimun, kacang panjang, dan buncis, menunggu keluarnya SK Menteri Pertanian sebelum dilakukan pelepasan. “Tetapi, bukan SK Menteri Pertanian yang penting. Namun kondisi riil keunggulan benih bila ditanam,” kata Mulyono.

MENCIPTAKAN benih unggul, dengan persilangan berbagai kombinasi plasma nutfah, merupakan seni tersendiri. Diperlukan kesabaran, keuletan, dan kerja keras bertahun-tahun. “Awalnya adalah proses pencarian plasma nutfah yang dianggap baik, misalnya tahan hama, memiliki rasa manis, dan memproduksi banyak buah,” kata Mulyono. “Indonesia memiliki beragam plasma nutfah, tetapi tidak diberdayakan optimal, bahkan diindikasikan adanya kepunahan jenis- jenis tanaman tertentu,” ujarnya.

Tak hanya berburu plasma nutfah pada berbagai daerah di Indonesia, Mulyono juga melakukan perjalanan ke luar negeri, sembari keluar masuk kawasan pertanian dan hutan untuk mengambil sampel plasma nutfah. Negara-negara Asia Timur, semacam Taiwan, Korea, dan Jepang, dikatakannya merupakan “surga” bagi plasma nutfah tanaman hortikultura.

“Ketika itu, sebagai pegawai negeri (PNS) biasa, saya tidak mempunyai penghasilan memadai untuk bepergian,” kata Mulyono, mengomentari perjalanannya ke berbagai negara. “Maka, saya memanfaatkan momen-momen zonder biaya, sebab kalau tidak demikian bagaimana dapat membeli tiket dan membayar akomodasi,” ujarnya.

Hikmah menimba ilmu di OISCA, Jepang, tanpa disadarinya membuka kesempatan berkenalan, bersahabat, dan berorganisasi dengan sesama dari berbagai bangsa. Terlebih pada periode 1990- 1995, dia terpilih sebagai Wakil Ketua Asia Pasifik Youth Forum sebagai kelanjutan keterlibatannya di OISCA internasional-sebuah organisasi nonpemerintahan dengan spesialisasi di pengembangan budaya dan teknologi pertanian.

Saat ini, sebagai buah ketekunan dan konsistensinya mengumpulkan plasma nutfah, Mulyono mempunyai tidak kurang dari 10.000 plasma nutfah tanaman hortikultura. “Kalau orang punya uang di bank, saya hanya punya seed bank, bank benih,” katanya sambil tertawa.

MULYONO, anak petani dari Galur, Sukoharjo, yang berpendidikan formal di Akademi Farming, Solo, masih mematri erat dalam memorinya, tatkala sehari-hari pukul empat pagi telah membantu sang orangtua di sawah, baru kemudian pergi bersekolah dengan hanya mencuci muka tanpa sempat mandi.

Keteguhan hati serta obsesinya memuliakan tanaman dan menghasilkan benih unggul hortikultura untuk memajukan petani, membuat pria berkelahiran November 1951, beristri Titik Suharti (50), dan anak semata wayang Juwitasari Herlambang (15), menerima Penghargaan Tingkat Nasional Ketahanan Pangan tahun 2003 atas prestasi majunya perusahaan perbenihan yang dimilikinya.

Walau demikian, tidak banyak yang tahu bahwa penghargaan tersebut merupakan penghargaan kedua dari Presiden Megawati Soekarnoputri, sebab sebelumnya di tahun 2001, Mulyono menerima Kalpataru kategori Pengabdi Lingkungan atas upaya penghijauan dan pelatihan pertanian di Kabupaten Karanganyar.

Mungkin saja bila dia tak geram menyaksikan Banana Centre di Taiwan, profesi sebagai pemulia tanaman, selain Kepala Cabang Karangpandan, Dinas Pertanian Kabupaten Karanganyar, tidak akan terwujud. “Di sana saya mendapati semua jenis tanaman pisang asal Indonesia dikoleksi, dan digalurmurnikan untuk didapatkan benih unggul pisang dengan kualitas super, sementara di Indonesia tidak ada perhatian akan hal ini,” kata Mulyono. Dia kembali mengingatkan, semua sayuran atau buah segar yang diimpor bukan mustahil diproduksi dari plasma nutfah Indonesia yang dibajak ke luar negeri. []