Sumber: Kompas.

DENGAN pangkat terakhir sersan mayor, Samuel Mansmor (62) pensiun 14 tahun silam. Meski tak lagi memegang pistol dan borgol, ia tetap gigih berkiprah untuk melawan siapa pun yang merusak alam lingkungan.

MANTAN Kepala Kepolisian Resor Biak Timur ini disegani penduduk di desanya, Saba Warwe, Kabupaten Biak Numfor, Papua, bahkan menjadi panutan warga desa lain. Hal ini bukan karena jabatannya sebagai Kepala Desa Saba Warwe sejak 8 tahun lalu. Penduduk segan karena kiprahnya dan kepiawaiannya dalam menggalang masyarakat untuk menyelamatkan lingkungan pulau di utara Papua itu dari kehancuran, terutama dari praktik penangkapan ikan yang merusak terumbu karang.

Sejak menjadi polisi tahun 1960, ia sudah tegas menindak para penghancur lingkungan. Ia juga melakukan pembasmian peredaran bahan peledak dengan target sasaran oknum masyarakat yang menjual bahan peledak.

Dalam menjalani tugas sehari-hari tanpa kenal lelah dan rasa takut, ia berkeliling dari pulau ke pulau menggunakan perahu dayung dilengkapi layar selama 4 hingga 8 jam. Ia mendatangi desa-desa di Padaido Atas, Padaido Bawah, dan Biak Timur untuk menyadarkan masyarakat tentang perlunya menjaga terumbu karang agar jumlah ikan di perairan Kepulauan Padaido tetap melimpah.

Setelah memasuki masa pensiun, “hobi” itu terus dilakoninya, bukan hanya menjelajahi desanya, tetapi sampai ke desa tetangga-Wadibu dan Opiaref-di Kabupaten Biak Timur.

SEJAK beberapa tahun lalu Samuel tidak bekerja sendirian, tetapi telah mendapat dukungan dari lembaga adat dan kelompok konservasi lokal seperti Rumsram dan nasional yaitu Yayasan Kehati (Keanekaragaman Hayati Indonesia).

Bersama guru sekolah dasar YPK Saba Warwe, pengasuh Sekolah Minggu, dan kelompok pemuda gereja, ia merintis kegiatan menjaga pantai dan terumbu karang, pembersihan pantai dan pengangkatan bintang laut berduri, serta penyuluhan tentang dampak penggunaan bom dan sampah.

Bersama pimpinan lembaga sosial masyarakat dan pendidikan, ia yang juga menjadi Ketua Marga melakukan revitalisasi kearifan sasisen, yang merupakan cara pengelolaan kawasan laut berdasarkan nilai agama dan budaya setempat yang ramah lingkungan.

Melalui lembaga swadaya masyarakat lingkungan dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang mempunyai Program Coremap (Corel Reef Management Project) di Padaido, Samuel berkenalan dengan para ahli dan menimba ilmu dari mereka. Semangat belajar ayah beranak enam dan telah menjadi kakek ini tak pernah surut. Salah satu pelatihan yang pernah diikutinya adalah pemetaan laut di Nusa Laut, Kecamatan Saparua, Maluku Tengah.

Dengan bekal ilmu barunya itu, Samuel menjadi fasilitator pemetaan potensi sumber daya alam laut, pesisir, dan darat untuk desanya. Pemetaan itu dilanjutkan ke batas luar Biak Timur-Kepulauan Padaido, Pulau Yapen Timur, Biak Selatan, dan Biak Utara. Ia pun terlibat dalam pemetaan Pulau Auki (Padaido Bawah) dan Pulau Meosmangguandi (Padaido Atas).

Jenis peta yang dibuatnya itu, dengan melibatkan pemuda lokal yang dilatih sebelumnya, meliputi peta batas luar, pemukiman, jenis tanah, sebaran terumbu karang, tanah milik hak ulayat atau marga, dan potensi sumber daya alam.

Perhatiannya juga dicurahkan pada lahan miliknya seluas dua hektar. Setelah mendapat bimbingan cara menanam di tanah karang dari seorang ahli pertanian yang didatangkan ke desanya, ia melakukan uji coba menanam singkong, ubi jalar, keladi, dan jagung, dengan hasil panen yang memuaskan. Melihat keberhasilannya, warga setempat menirunya dengan menanam di kebun dan pekarangan rumah masing-masing. Bersama masyarakat, ia mulai menanam pinang, nangka, durian, rambutan, dan nanas.

SEBAGAI tokoh masyarakat, Samuel yang pernah memperoleh penghargaan Satya Lencana pada tahun 1970 ini berupaya membangun kesepakatan di tingkat desa untuk menjaga lingkungan agar tetap lestari dan nyaman. Melalui lembaga adat dan gereja, ia menggalang partisipasi masyarakat dalam menyusun pengaturan pengelolaan sumber daya alam tingkat kampung.

Ia memfasilitasi penyusunan aturan dalam pengelolaan sumber daya alam itu lewat diskusi dan penulisan draf yang selanjutnya didiskusikan dengan narasumber. Hasil yang didapat adalah penetapan batas kepemilikan masing-masing keret atau marga. Dengan begitu, perencanaan kampung dapat dilaksanakan berdasarkan tata ruang yang telah disepakati bersama warga masyarakat.

Atas inisiatif sendiri, ia menyusun Peraturan Desa tentang penggunaan Pantai Saba Warwe sebagai kawasan pariwisata. Dalam hal ini, secara bersama dengan melibatkan semua marga yang ada di desanya, ia membuat peta zonasi laut yang terdiri dari zona lindung, zona pemanfaatan bersama, dan zona penangkapan.

Selain itu juga ditetapkan sanksi bagi pelanggaran ketentuan yang ada. Bila ada yang masuk ke dalam zona lindung, yang bersangkutan akan dikenakan denda uang. Peraturan yang disusun sejak 1997 dan diberlakukan tahun 2000, diharapkannya dapat disahkan menjadi Perda.

Sejak diberlakukannya ketentuan itu, menurutnya Saba kini memiliki terumbu karang yang paling baik di Biak. Ikan Samandar, sejenis ikan karang, mulai muncul lagi di perairan Padaido tahun 2000.

Kini warga desanya telah memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungannya dari aksi yang merusak. Bila kedapatan pelaku atau pengedar bahan peledak, penduduk akan menangkap dan menyerahkannya kepada polisi untuk diproses secara hukum.

Di desanya kini telah berdiri Balai Informasi-sebuah bangunan tradisional dua lantai, yang juga menjadi tempat pertemuan. Di tempat itu, Samuel menyelenggarakan lokakarya internasional tentang konservasi laut untuk kawasan Pasifik dalam waktu dekat ini. Hadir pada pertemuan itu peserta dari negara pulau dan kepulauan di kawasan Pasifik, seperti Papua Niugini, Fiji, Vanuatu, Guam, dan Filipina.

Atas jasa-jasanya, Samuel Mansmor menerima penghargaan Kalpataru 2004 dari Presiden RI Megawati Soekarnoputri di Istana Negara, Senin (7/6). []