Sumber: Kompas.

Seluruh pengunjung siang itu menunggu dengan sabar. Wayang beber, kesenian tradisional yang telah langka di Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan ditampilkan dalam sebuah kegiatan rekonstruksi. Slamet Haryadi (55) sebagai tokoh utama adalah sosok yang paling ditunggu-tunggu.

Inilah pertunjukan kesenian yang sudah tiga tahun terakhir vakum. Selama sekitar dua jam, penonton duduk tenang, menyimak pertunjukan yang digelar. Slamet yang berbusana Jawa lengkap mulai membuka sebuah gulungan kain mori berukuran sepanjang 3,8 meter dan lebar 75 sentimeter yang berisi rangkaian lukisan.

Secara berurutan ia bacakan dari kiri ke kanan rangkaian lukisan dalam kain tersebut, menjadi uraian kisah yang menarik, berjudul Remeng Mangunjaya. Lakon ini berkisah tentang perjalanan cinta Panji Asmarabaya dan Galuh Candrakirana yang berasal dari babad Kediri. Dari enam gulungan yang ada, siang itu Slamet hanya memainkan empat gulungan karena waktu yang terbatas.

Menyaksikan pergelaran ini kita seperti dibuai oleh kisah yang mengalir, ditingkah musik gamelan pengiringnya. Slamet yang 20 tahun jadi guru di sekolah dasar, begitu piawai bertutur dan memikat perhatian penonton.

Pada awal pertunjukan, pria kelahiran Gunung Kidul, 12 September 1953 ini, memperkenalkan ihwal seni wayang beber, disertai sejarah singkat dan perkembangannya. Sesuai dengan nama kesenian yang berarti menceritakan (membeberkan), wayang ini berbeda dari wayang pada umumnya.

Dalam wayang beber tak ada anak wayang, baik dua ataupun tiga dimensi, yang dapat digerak-gerakkan secara dinamis mengikuti lakon yang disajikan. Juga tak ada panggung pertunjukan berupa kelir (layar) lebar dengan jajaran wayang di atas gedebok pisang seperti pertunjukan wayang kulit purwa.

Kreativitas dalang wayang beber sungguh-sungguh teruji untuk “menghidupkan” cerita hanya dari rangkaian gambar di atas kain mori panjang yang digelarnya. Karena tak dapat menggerak-gerakkan gambarnya, sebagai gantinya Slamet menarik perhatian penonton lewat gerakan tangan. Suara vokalnya kadang naik, kadang turun, dan sesekali tampak berat tapi mendayu-dayu.

Suara vokalnya memang seperti aliran air dalam sungai. Ketika tertumbuk batu, alirannya tertahan, lalu tiba-tiba menderas. Namun, ketika menggambarkan suasana sedih, suaranya seperti air melewati dasar yang landai. Menyentuh kalbu.

Di luar aktivitasnya sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan Tepus, Gunung Kidul, Slamet adalah seniman dalang purwa, yaitu dalang wayang kulit. Pada tahun 2003 ia memberanikan diri mempelajari wayang beber, setelah satu-satunya pemilik wayang tersebut, Rubiyem yang tinggal di Desa Gelaran, Kecamatan Karangmojo, Gunung Kidul, memintanya menghibur sejumlah wisatawan asal Jepang.

Rupanya para wisatawan itu telah lama mencari tahu tentang kesenian yang diyakini sudah ada sebelum dikenal wayang kulit purwa. Namun, mereka belum pernah menyaksikannya. Slamet pun mencoba mempelajari secara otodidak wayang ini dari buku-buku lama.

Punya sanggar

Mungkin tidak terlalu sulit baginya, karena ia sudah puluhan tahun mendalang. Slamet bahkan punya sanggar dalang cilik, yang dari situ lahir generasi penerus. Terbukti, siswa-siswanya kerap memenangi festival dalang cilik tingkat nasional.

Kecintaan terhadap seni dan budaya Jawa mendorong Slamet untuk mempertahankan kesenian ini jangan sampai punah. Caranya dengan menjadi dalang wayang beber.

Generasi terakhir dalang wayang beber di Gunung Kidul adalah Ki Marta Sukardiya. Meski masih hidup, Ki Marta sudah sangat lanjut usia bahkan tak dapat lagi berbicara. “Sekarang dalangnya sangat langka. Lalu, siapa yang bakal melanjutkan kalau bukan kita-kita ini,” tuturnya.

Slamet tak berdiam hanya sebagai dalang penerus. Awal tahun lalu ia menciptakan sejumlah gending atau suluk untuk mengiringi tiap pergelaran wayang beber.

Pada rekonstruksi yang dipentaskan siang itu, Slamet membawakan empat suluk ciptaannya sendiri. Ada suluk lekas sebagai lagu pembuka, dilanjutkan suluk legek yang mengiringi kisah Raden Panji meninggalkan keputren dengan hati meronta sedih. Gending itu memang terdengar begitu memilukan, dengan vokal yang berat namun nyaring. Suluk adha-adha seminang dan adha-adha mangsah berbeda lagi.

Menurut Slamet, wayang beber tumbuh dan lahir dari keraton. Ini terlihat dari ornamennya yang halus. Warna dalam ornamen gambarnya sebagian diimbuhi perada emas. Kesenian wayang beber umumnya menggelar kisah asmara Raden Panji pada masa Kerajaan Kediri di Jawa Timur, pada abad ke-12. Raden Panji Inukertapati, yang dalam versi lain bernama Panji Asmarabangun, kemudian menjadi raja Kediri bernama Raja Kameswara (1116-1136).

Pertunjukan wayang beber kemudian dijadikan prosesi ritual dalam perjalanan hidup manusia, mulai dari hajatan menikah, tingkeban (selamatan hamil tujuh bulan), melahirkan, khitanan sampai ritual kematian. Generasi terdahulu masih menganggap pertunjukan wayang beber sebagai ritus, yang terlebih dahulu diawali dan kemudian diakhiri oleh doa-doa, kenduri, dan srah-srahan.

Rumitnya prosesi untuk mementaskan wayang beber, membuat kesenian tradisional ini semakin jarang ditampilkan. Pembuatan wayang beber sendiri sangat sulit, sehingga di Gunung Kidul hanya ada satu set yang dapat dipentaskan pada saat-saat tertentu, dan hanya dipegang orang-orang tertentu. Kesenian wayang beber sebenarnya juga terdapat di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, namun juga menghadapi nasib serupa.

Karena itu, suami Rahayu Saptaningsih (42) dan ayah dari tiga anak ini, kini mencoba membikin sendiri wayang beber. Ia telah membuat sketsa sesuai wayang beber aslinya. Hanya kurang bantuan seniman yang dapat melukis wayang-wayang ini.

“Jika wayang ini sudah jadi, saya yakin kesenian ini dapat lebih sering dinikmati masyarakat, sehingga akan hidup kembali,” tuturnya. []