Sumber: Kompas.

RUKUN dan tekun dalam pemahaman Jawa tradisional merupakan modal untuk bergaul dalam menapaki kehidupan. Rukun adalah suatu refleksi tindakan masyarakat paguyuban yang menekankan semangat kebersamaan, holobis kuntul baris (berat sama dipikul ringan sama dijinjing).

Bagi Bambang Wibowo (42), semangat rukun dan tekun itu yang mendasari keberhasilannya memaknai kehidupan sehingga dia bisa survive dalam mengembangkan usahanya sebagai pembuat bahan pupuk organik. Sebuah usaha yang tidak semata-mata mencari keuntungan, tetapi juga perjuangan untuk mengajak petani kembali memperbaiki tanah dengan mengembangkan pertanian organik. Ini juga berarti pertanian tidak lagi mengandalkan pupuk kimia pestisida, tetapi kembali pada pengolahan pupuk kandang.

Usaha Bambang Wibowo sebagai pembuat bahan pupuk organik memang bisa dikatakan masih dalam taraf industri kecil, meskipun produk itu telah dipatenkan dengan merk P-BIO-Green. Ini sebuah optimisme besar di tengah usaha industri obat-obat pertanian yang umumnya masuk golongan industri besar dan modern.

“Bahkan, sekarang saya tidak hanya membuat bahan fermentasi pupuk kandang dari cairan mikro-organisme, tetapi saya membuat juga tiga produk lain yang semuanya nonkimiawi,” kata Bambang yang ditemui di rumahnya di Jalan Kebun Raya (sebelah timur Kebun Binatang Gembira Loka) Yogyakarta. Tiga produk lainnya itu adalah P-Bio Blue untuk kesehatan ternak, P-Bio Industri untuk pembersih dan penghilang bau limbah industri dan
P-Bio Red untuk pembersih dan penghilang bau septik tank. Semuanya telah dipatenkan.

Satu liter bahan fermentasi pupuk P-Bio Red buatan Bambang bisa untuk memfermentasi lima ton untuk manual, dan jika menggunakan mekanisasi, seperti molen, bisa 10 ton. Bagi petani, jumlah sebesar itu harus mendatangkan pupuk kandang tiga truk. Itu sulit dilakukan. Karena itu, sebagai Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Provinsi DIY, Bambang mengadakan gerakan bawa pupuk kandang tiap hari ke sawah. “Ke sawah bawa kompos, pulang bawa makanan ternak, itu slogan yang kita tanamkan kepada petani,” kata Bambang Wibowo.

Dengan gerakan itu tak terasa petani sudah menimbun pupuk di lahan sawahnya karena setiap hari membawa kotoran ternaknya ke sawah. Kalau sudah terkumpul, minimal lima ton baru siap difermentasi dengan obat buatan Bambang itu. “Tanpa fermentasi, petani baru bisa menggunakan limbah kotoran ternak tiga empat bulan untuk bisa digunakan pemupukan. Namun, dengan obat mikro-organisme cair yang saya buat ini, 20-25 hari saja pupuk kompos ini sudah siap ditebar,” kata Bambang yang setiap bulan mampu menjual 11.000 liter obat fermentasi ini ke berbagai daerah Jateng, Jatim, Jabar, Kalimantan, Sumatera, dan lainnya.

Untuk obat penawar limbah industri yang dikenal dengan nama P-Bio Industri, ia bisa memasarkan lebih banyak, sebulan bisa 15.000 liter. “Karena kebutuhan untuk water treatment setiap perusahaan cukup besar. Misalnya saja setiap bulan 2.200 liter dari pabrik pengolahan limbah di Surabaya. Kalau saya bisa menguasai 10 perusahaan saja, pemasaran saya sudah cukup besar,” ujarnya.

Produk minuman ternak yang dikenal dengan nama P-Bio Blue merupakan vitamin atau semacam minuman suplemen bagi binatang. Dengan meminumkan cairan itu setiap hari ke sapi atau kambing, bisa menambah bobot satu sampai tiga ons per hari. Jika diminumkan ke ayam, setiap 35 hari bobot ayam akan bertambah satu-tiga ons. “Artinya, kalau pertambahan standar bobot ayam per 35 hari itu tujuh ons, dengan obat itu bisa bertambah tiga ons, atau bertambahan total 10 ons,” kata Bambang.

***

JEBOLAN Jurusan Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada yang lulus di APMD (Akademi Pembangunan Masyarakat Desa) Yogyakarta ini mengaku kecintaannya pada dunia pertanian memang sejak kecil. Itu bukan karena ayahnya bekas pegawai perkebunan yang hidup dan bertempat tinggal di antara lahan perkebunan. Lebih dari itu sejak kecil dia suka belajar dan bereksperimen di dunia pertanian, termasuk di dalamnya perikanan.

Meski demikian, Bambang benar-benar terjun ke dunia pertanian baru tahun 1984, diawali dengan menekuni bidang perikanan, yaitu pemijahan atau pengembangbiakan lele dumbo. “Rumah makan pecel lele di Yogyakarta dulu yang mengawali saya. Mulai saya berjualan sendirian sampai menjalar hampir ke seluruh Kota Yogyakarta rata dengan makanan pecel lele,” katanya.

Awalnya, dia memijahkan sendiri lele dumbo dengan cara kawin suntik, namun karena kewalahan akan permintaan lele, Bambang membentuk kelompok tani kecil di daerah, dan di-beri cara-cara mengembangkan lele dumbo. “Waktu itu, sebelum banyak pengembang lele dumbo, permintaan ke saya dua ton sehari dan itu cukup diisi oleh kelompok-kelompok tani yang saya bentuk,” tandasnya.

Oleh karena muncul sebagai pioner itulah Bambang lantas diangkat menjadi pengurus KTNA tingkat Kota Yogyakarta. “Karena saya menjadi ketua, saya harus berusaha untuk menguasai segala ihwal pertanian. Kebetulan waktu itu banyak teman petani mengeluhkan harga pupuk mahal,” kata Bambang yang kini mnjadi Ketua KTNA Provinsi DIY dan pengurus KTNA Nasional itu.

Dari keluhan itulah, Bambang berpikir bagaimana membuat pupuk yang murah. Dia lantas menghubungi teman-temannya yang ahli pertanian di Universitas Gadjah Mada (UGM) ataupun universitas lain di Yogyakarta. “Segala ilmu para ilmuwan itu saya serap dan kumpulkan, akhirnya tahun 1990 saya bisa membuat ramuan fermentasi untuk pupuk kandang itu, di mana saat itu sedang hangat-hangatnya gerakan pertanian organik, meskipun secara sembunyi-sembunyi.”

Pada awalnya dia hanya memakai sendiri fermentasi pupuk kandang itu. Namun, sejak tahun 1993, fermentasi pupuk kandang itu mulai dipasarkan, dan sejak tahun 1994, ketika produk itu dipatenkan, mulai dikemas dengan galon plastik empat persegi panjang yang kuat, begitu pula tiga produk lainnya.

***

KATA Bambang, apa yang dikerjakan tentang produknya baru sebatas pengabdian. Artinya, usaha dia ini kalau dikatakan bisnis, hanyalah dampak dari usaha besarnya untuk membawa petani berpola pertanian yang tidak merusak tanah dan juga kesehatan manusia.

“Tanah itu anugerah dan berkah, karena itu harus kita pertahankan kesuburannya. Kalau tanah pertanian rusak karena pengaruh kimiawi, anak cucu kita tinggal menerima tanah tandus dan kesehatan yang rusak. Suatu saat nanti, keahlian saya meramu obat-obat organik itu, saya tularkan kepada petani,” katanya.

Oleh karena punya tanggung jawab itulah, Bambang selalu hadir dalam setiap pertemuan petani, baik tingkat regional maupun nasional, dalam pembicaraan pertanian organik. “Saya datang ke mana pun, bahkan sampai ke luar Jawa, menggunakan biaya sendiri. Saya tidak peduli karena senang sekali dengan pekerjaan ini,” katanya.

Yang penting, menurut ayah tiga anak dari pernikahannya dengan Fatiyah Hernindah ini, adalah sikap ikhlas. “Berbuat ikhlas itu susah lho Mas. Coba Anda praktikkan, bagaimana memberi uang kepada pengemis di pinggir jalan itu tanpa berpikir bahwa Anda mengeluarkan uang. Kalau masih ada pemikiran setiap pengemis seratus, sebulan berapa duit harus keluar, itu artinya Anda belum ikhlas. Jadi harganya mahal, dan perlu latihan,” ujarnya.

Lelaki kelahiran Yogyakarta 22 Januari 1960 ini punya prinsip hidup, di mana ada sumber sosial, di situ ada kerukunan. Ini artinya kerukunan merupakan jantung pergaulan. “Satu contoh Anda membangun gardu kampung secara swadaya rasanya akan lebih mantap, di sana yang ada hanya kegotongroyongan. Coba kalau gardu kampung itu paket proyek dari pemerintah, yang ada saling tuduh di antara anggota masyarakat tentang larinya uang proyek,” kata Bambang. []