Sumber: Kompas.

Mengabdi sebagai guru selama 15 tahun di pedalaman Tanah Merah, Papua, belum cukup bagi John Dosom. Dia justru bertekad, generasi muda di pedalaman itu mampu mengembangkan daerah mereka sendiri. Pendidikan adalah jalan keluar mengatasi kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan.

“Saya tidak mencari kekayaan di tengah kemiskinan dan keterbelakangan ini, saya datang karena panggilan sebagai guru. Pekerjaan saya bersama guru-guru lain di sini memang berat. Meskipun daerah ini dibuka tahun 1920-an, tetapi pendidikan belum maju dibanding daerah lain,” kata John Dosom di Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel.

John Dosom adalah salah satu dari ratusan guru di Tanah Merah, sekitar 700 km arah utara Merauke. Masyarakat Tanah Merah menerima kehadirannya sebagai orang setempat.

Selama 15 tahun mengabdi di SLTP Negeri I Tanah Merah, dia melahirkan sejumlah pejabat daerah dan tokoh politik setempat. Misalnya, kepala dinas, anggota DPRD, anggota KPUD, dan calon sarjana yang saat ini tengah kuliah di Universitas Cenderawasih Jayapura dan juga di luar Papua.

Putra Flores ini mengaku, daya tangkap anak-anak tidak terlalu sulit karena pendidikan di daerah itu mulai dikembangkan gereja Katolik sejak tahun 1927. Meski demikian, secara keseluruhan sumber daya masyarakat setempat perlu ditingkatkan, terutama di daerah terpencil.

”Untuk ilmu sosial, anak-anak dapat memahami saat dijelaskan, tetapi ilmu eksakta agak sulit. SLTPN I kekurangan guru eksakta karena tidak ada generasi berikut orang Papua yang menekuni bidang itu. Hampir di semua sekolah, ilmu eksakta dikuasai guru dari Jawa dan daerah lain,” tutur Dosom.

Suku terasing

Tahun 1991 John Dosom tiba di Tanah Merah dengan KM Teluk Sekar. Ketika itu Tanah Merah masih sangat miskin dan terbelakang, banyak warga mengenakan cawat dari kayu dan koteka. Kini pakaian itu mulai ditinggalkan, seiring perkembangan pembangunan di daerah itu.

Di pedalaman itu Dosom mendapati masih ada suku yang tinggal di atas pohon dan berpindah-pindah tempat, seperti suku Koroway di daerah perbatasan RI-PNG. Suku ini hanya dapat dijangkau dengan pesawat Cessna berkapasitas 2-3 penumpang. Perjalanan dari Tanah Merah ke daerah ini butuh 25 menit dengan biaya tiket Rp 500.000 per penumpang.

Tradisi suku ini sangat aneh. Setiap anak kembar, satu di antaranya harus dibunuh karena diyakini akan membawa malapetaka bagi keluarga. Biasanya anak yang baru dilahirkan itu langsung dibuang di dalam lubang. Bila perlu, ibu yang tengah melahirkan anak kedua itu langsung duduk di atas lubang sehingga anak itu tidak perlu disentuh tangan lain karena dianggap anak haram.

Di sejumlah daerah pedalaman seperti di wilayah suku Koroway, nyamuk malaria hitam, lintah darat, pacet, ular, dan binatang buas lain masih menjadi tantangan bagi masyarakat setempat. Pembangunan belum menyentuh daerah-daerah tersebut karena keterbatasan infrastruktur.

Sedangkan sebagian besar masyarakat di Tanah Merah, kata Dosom, sudah cukup maju. Ada puluhan intelektual muda memiliki pemikiran cerdas dan terampil dengan gagasan yang orisinal.

”Pemekaran Boven Digoel menjadi kabupaten tersendiri, lepas dari kabupaten induk Merauke, sangat tepat. Para generasi muda setempat diberi kesempatan menjadi pemimpin di daerah mereka,” kata Dosom.

Selain mengajar di SLTPN I Tanah Merah, suami dari Yuama Soma ini juga dipercayakan sebagai Pjs Kepala SMKN Tanah Merah yang memiliki siswa sekitar 180 orang. Dari 180 siswa itu, ada 19 siswa berasal PNG. Kehadiran siswa PNG ini sesuai kerja sama antara pemerintah RI dan PNG beberapa waktu lalu.

Tak mau pulang

Dengan sekuat tenaga Dosom mengaktifkan SMK yang baru dimulai tahun ajaran 2005. Ada tiga jurusan di sekolah itu, yakni budidaya tanaman, teknik bangunan, dan agroindustri. Pendidikan keterampilan seperti inilah yang sangat diperlukan di Boven Digoel. Sumber daya alam yang besar di daerah itu membutuhkan sumber daya manusia yang terampil, kreatif, dan memiliki semangat membangun daerahnya, mampu mengatur kekayaan alamnya sendiri, dan mempertahankan agar tidak lagi dicaplok orang dari luar.

Kecintaannya pada masyarakat pedalaman di Papua, membuat Dosom tidak pernah berpikir pulang kampung di Manggarai, Flores. Ia justru lebih berkonsentrasi pada pendidikan generasi muda Boven Digoel. Dia bertekad mengarahkan generasi muda menguasai ilmu pengetahuan dan mampu menjauhkan diri dari kebiasaan mabuk dan mental malas.

”Tugas mencerdaskan generasi muda Boven Digoel tidak gampang. Butuh pengorbanan dan kerja keras semua pihak di daerah ini. Suatu saat, kalau masyarakat sudah maju, saya boleh minta pulang kampung,” tekad Dosom. []