Sumber: Kompas.

Katharina Ladjar tak pernah menghitung berapa uang yang dikeluarkan untuk membantu pengobatan warga di Kabupaten Keerom, Papua. Dia juga tak pernah menghitung jumlah kampung terisolir yang dikunjunginya. Cakrawala yang dilihatnya hanyalah bagaimana membimbing kaum ibu untuk membangun sumber daya manusia yang sehat dan kuat.

“Bertemu ibu-ibu terutama yang muda-muda di kampung-kampung terisolir. Memberi petunjuk praktis bagaimana merawat kandungan, melahirkan, merawat, memberi makan minum bayi sampai menyekolahkannya,” kata Katharina ketika ditemui di kediamannya di Perkebunan Inti Rakyat (PIR) II Arso, Kabupaten Keerom, Papua, mengenai kegiatannya.

Katharina, kelahiran Lembata, Flores, 30 April 1955, sebenarnya adalah ibu rumah sebagaimana kebanyakan ibu rumah tangga lainnya. Namun, keterampilan dan pengetahuan sebagai perawat yang diperoleh dari sekolah perawat di Rumah Sakit Sta Elisabeth Lela, Maumere, Flores, benar-benar dimanfaatkannya untuk membantu warga. Sejak tahun 1987, dia menerima pasien di rumahnya. Setiap hari ia merawat dan mengobati sampai 50 warga. Semua dikerjakan dengan sukacita meski menghadapi keterbatasan obat-obatan.

Masak dulu

”Saya tahu mereka datang berjalan kaki dari kampung- kampung jauh sampai puluhan kilometer. Biasanya mereka tidak makan hingga badan lemah. Karena itu, sebelum mengobati, saya harus masak dulu untuk mereka,” tutur Katharina.

Namanya kian tersebar di masyarakat ketika seorang pemuda yang urat tangannya terpotong saat menebang pohon sembuh setelah diobatinya. Bagi banyak pasien, obat yang diberikannya dianggap mujarab. Tak heran warga lebih suka berobat ke rumahnya ketimbang ke puskesmas. Hampir semua ibu dan masyarakat Kabupaten Keerom mengenalnya.

Katharina memang pernah dituduh telah melakukan praktik pengobatan ilegal, tetapi ia tidak peduli. Dia terus melayani sesuai dengan keterampilan dan kemampuan yang dia miliki. ”Dari pagi sampai sore mereka datang ke rumah, ada yang sakit parah, sakit paru-paru, malaria, infeksi saluran pernapasan, penyakit kulit,” katanya.

Alat suntik dan obat-obatan dibelinya sendiri di apotek di Kota Jayapura. Sebagian besar warga diberi pengobatan cuma-cuma karena dia tahu mereka tidak punya uang. Kata Katharina, dia punya uang dari hasil penjualan kelapa sawit yang dikelola suaminya, seorang petani yang pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Jayapura periode 1999-2004.

Komitmennya terhadap perempuan, sumber daya manusia, dan kesehatan Keerom tidaklah main-main. Dia membimbing langsung dari rumah ke rumah, bukan lewat ceramah di gedung atau balai desa. Kaum ibu selalu memanggilnya ”mama”—sebutan khas Papua yang bermakna sangat dalam, ditujukan untuk mereka yang punya kepedulian dan perhatian terhadap anak- anak (masyarakat) di dalam suku.

Sejak ibu hamil

Pada pertemuan lintas agama di Arso dan Waris tahun 2002- 2003, semua pihak bicara mengenai lemahnya sumber daya manusia Keerom. Ramai-ramai mereka mengusulkan agar dibangun asrama untuk menampung anak-anak SD-SMA yang datang dari daerah terpencil.

Namun, Katharina menolak. Dia beralasan, sejumlah anak pedalaman yang ditampung di Asrama Katolik Arso saja tidak mengalami perubahan sama sekali. Gaya hidup di hutan masih terbawa dan sulit diatur atau dididik di asrama. Sebaliknya, dia mengusulkan ditingkatkannya kesehatan masyarakat.

”Membangun sumber daya manusia harus dimulai dari ibu hamil. Sang ibu diberi makan bergizi seperti susu, vitamin, protein, dan bebas dari stres berat. Kemudian mempunyai pengetahuan cara merawat dan mendidik anak dari bayi sampai masuk usia sekolah,” tuturnya.

Katharina sendiri pernah mengumpulkan sekitar 30 perempuan baik penduduk asli maupun pendatang. Dia menggerakkan ibu-ibu itu untuk berkunjung ke daerah-daerah terisolir. Dalam sebulan, tiga kali mereka mengunjungi ibu-ibu di kampung-kampung itu.

Para anggota kelompok tak bernama ini dibagi dalam beberapa grup. Tugas mereka adalah memberi penyuluhan dan pembinaan kepada kaum ibu dari hati ke hati, langsung di dalam rumah masing-masing sambil membangun suasana persaudaraan dan kekeluargaan bersama ibu-ibu di kampung.

Mereka memberikan saran dan masukan bagaimana menata rumah yang sehat dan indah dipandang, membuang kotoran, air minum yang sehat, membersihkan popok bayi, dan mengusulkan pembangunan jamban keluarga di setiap rumah, serta apa yang mesti dilakukan kalau anak sakit. Sebetulnya itu merupakan keterampilan dasar yang sudah dipahami ibu rumah tangga, tetapi perlu didorong dan diingatkan lagi.

”Kesulitannya, karena ibu-ibu juga harus mengurus keluarga. Selain itu, keterbatasan kendaraan roda empat untuk ke kampung-kampung yang jaraknya jauh. Kalau kami bisa pinjam mobil pun, bensin tidak ada. Tetapi kalau ke kampung-kampung yang jaraknya satu sampai dua kilometer saja, kami bisa berjalan kaki,” katanya. []