Sumber: Kompas.

Dedi Suhendi (23) sempat putus asa menghadapi lingkungan dan pekerjaan baru yang dijalaninya. Ketika pertama kali datang setahun lalu, rumah tempat ia menginap masih berantakan. Sekeliling rumah ditumbuhi rumput ilalang setinggi orang dewasa.

Dalam keadaan basah kuyup dan kedinginan, ia harus bolak-balik mengangkat pupuk kandang ke areal kebun sayur. Malam hari nyaris tanpa hiburan. Sunyi sepi. Suasana itu 180 persen bertolak belakang dari hiruk-pikuk jalanan Ibu Kota yang sehari-hari ia jelajahi dengan menenteng gitar.

“Sebenarnya saya telah bersiap-siap kabur. Tiga teman saya balik ke Jakarta. Akan tetapi saya mencoba bertahan selama seminggu, kemudian sebulan, dan sejak itu tidak ada pikiran lagi kembali ke Jakarta,” kata Dedi.

Selama masa remaja, Dedi menjalani kehidupan yang keras. Lantaran kedua orangtuanya berpisah, ia tidak bisa melanjutkan sekolah. Setelah beberapa tahun menganggur, ia kembali ke kampung halamannya di Leulewiang, bergabung dengan sejumlah anak remaja mengadu nasib menjadi konek, bekerja mencari remah-remah bijih emas di tambang emas rakyat Leulewiang, Bogor, Jawa Barat.

Meski pemasukan tidak menentu, saat keberuntungan berpihak padanya ia bisa memperoleh uang sampai Rp 1,5 juta hanya sehari bekerja. Selama tiga bulan bekerja, ia pernah berhasil mengumpulkan sekarung batu-batuan yang mengandung bijih emas. Ia memperoleh bagian seperenamnya. Dari hasil itu ia sempat membeli sepeda motor “bodong” RX King.

“Mencari emas ibarat mencari barang gaib. Kadang-kadang ada yang sudah dibuang orang ketika dikorek hasilnya gede. Sebaliknya, berminggu-minggu bisa tanpa hasil. Uang habis untuk makan dan rokok,” tutur Dedi.

Tahun 2002, tambang emas liar itu ditutup. Dedi kembali bekerja, menghabiskan hari-harinya di atas bus kota, bekerja sebagai pengamen. Sekalipun tidak menentu, tiap hari ia bisa mengumpulkan Rp 40.000- Rp 50.000. Tetapi, uang yang diperolehnya selalu habis hari itu juga. Ia tidak tertarik ketika seseorang mengajaknya belajar bertani di Puncak, Bogor. Tawaran itu akhirnya ia jalani juga setelah berpikir-pikir tentang kelanjutan kehidupannya.

“Masak sampai punya anak-bini saya mengamen terus. Siapa tahu saya bisa hidup di pertanian,” kata Dedi.

Terapi jiwa

Sekolah Pertanian Karang Widya saat ini menampung sejumlah 34 anak muda yang semula hidup di jalanan atau para pemuda pengangguran yang putus sekolah. Mereka didik untuk belajar hidup melalui pendidikan pertanian organik yang berlangsung selama enam bulan. Dari kehidupan yang tidak teratur, mereka dilatih untuk hidup berdisiplin, bangun pukul 06.00, membersihkan rumah tempat tinggal, bekerja di ladang dari pagi hingga tengah hari, mempelajari teori pertanian, komputer, dan berorganisasi.

“Di sini mereka diajar disiplin, bekerja, dan dilatih untuk memiliki kesadaran alam. Kehidupan di jalanan bisa membuat mereka tidak sensitif lagi dengan alam. Mereka di sini dituntut mengembangkan kepekaan. Air dan tanah bisa menjadi terapi jiwa, bisa menyejukkan pikiran yang panas,” kata Thung Jiway, manajer proyek World Education di Indonesia.

Angkatan pertama pendidikan pertanian organik yang diselenggarakan Karang Widya diikuti 30 orang. Dari jumlah itu, 23 anak yang bisa bertahan hingga program pendidikan berakhir. Beberapa di antaranya kini bergabung lagi dengan angkatan kedua untuk pendalaman.

Sanggar Karang Widya menggunakan bangunan dan lahan milik Pater Agatho yang lebih dahulu mengembangkan pertanian organik di Cisarua, Bogor. Adapun seluruh biaya operasional Karang Widya, termasuk biaya hidup peserta pendidikan, saat ini masih disubsidi sepenuhnya oleh World Education, sebuah organisasi nonpemerintah yang bergerak dalam bidang pelatihan dan memberikan bantuan teknis untuk pendidikan nonformal.

Setelah makan pagi dan membereskan rumah, sekitar pukul 07.00 mereka telah berada di kebun untuk mengikuti apel pagi. Setelah pembagian tugas, mereka bekerja di ladang sampai sekitar pukul 12.00. Bergantian mereka belajar membuat pupuk organik, menyemaikan bibit, mengolah tanah, atau memelihara tanaman.

Mereka dilatih untuk mengolah tanah dalam bedeng-bedeng ukuran 1 x 10 meter. Setiap bedeng ditanami beberapa jenis sayur-mayur. Di sela-sela kebun sayur juga ditanami beberapa jenis tanaman pengusir hama yang sekaligus bisa diolah untuk obat penyemprot hama.

“Mereka belajar dengan bekerja. Setelah selesai pendidikan, mereka memang tidak harus jadi petani. Kami hanya ingin memutus siklus supaya mereka tidak lagi kembali ke jalanan,” kata Ngalim, salah satu aktivis Karang Widya.

Menurut Rella Johan, salah satu pendiri Sanggar Karang Widya, sekitar 50 persen peserta pendidikan di sanggar tersebut adalah bekas anak-anak jalanan. Lainnya dari desa-desa. Kebanyakan pemuda pengangguran.

Pertanian organik sengaja dipilih sebagai media untuk pendidikan karena pertanian organik membutuhkan ketekunan dan kecintaan terhadap tanah dan tanaman. Selain belajar keterampilan bertani, mereka juga diajar menghitung dan membuat perencanaan produksi sampai memasarkannya.

“Kebanyakan peserta pendidikan ini adalah anak-anak muda yang hanya bersekolah sampai tingkat SD. Bahkan angkatan lalu ada anak yang belum bisa baca tulis. Memegang cangkul pun ada yang belum pernah,” tutur Johan.

Menemukan keasyikan

Sujoko (27) sudah jatuh hati pada pertanian setelah belasan tahun hidup di jalanan. Tidak seperti kawan-kawannya yang cukup bekerja di ladang hingga tengah hari, setelah mengikuti kegiatan di kelas, Joko kembali menggarap lahan hingga petang hari. Ia mengaku memperoleh keasyikan dan menemukan kesenangan dengan bertani. Setelah selesai mengikuti pendidikan di Sanggar Karang Widya, kelak ia akan bekerja membuka lahan pertanian organik untuk memasok kebutuhan sebuah restoran vegetarian di Yogyakarta.

“Seumur-umur baru di sini aku mengenal bertani. Semula aku berprinsip, karena aku hidup aku harus tahu cara menanam. Mula-mula aku mengalir saja, lama-lama aku bisa menemukan kesenangan,” katanya.

Ari (26) juga tidak berpikir untuk menjadi petani. Ia merasa lebih cocok mengembangkan bakat seninya. Kemampuannya bercocok tanam akan dipergunakannya sebagai bekal untuk hidup. Setelah mengikuti pendidikan di Karang Widya, Ari berniat belajar melukis di Yogya.

“Kalau jadi petani kayaknya enggak. Mungkin bertani kecil- kecilan, sambil melukis atau membuat kerajinan,” kata Ari.

Sekolah Pertanian Karang Widya tidak hanya mengajarkan kepada anak-anak muda itu mengolah tanah, tetapi juga mengolah tubuh dan jiwa mereka untuk menyongsong kehidupan mereka di masa depan. []