Sumber: Kompas.

Tanah pertanian makin rusak, petani makin miskin. Keprihatinan itulah yang mendorong Endaj Kusnandar (54) memilih pensiun dini sebagai teknisi Telkom. Setelah 33 tahun ia merantau, pindah dari satu kota ke kota lainnya, ia pulang ke kampung halamannya. Tanpa pengetahuan yang memadai tentang pertanian, Endaj langsung terjun bertani.

Tahun pertama gagal total. Tomat yang ditanamnya tumbuh subur, tetapi harga tomat jatuh. Hasil panen tidak cukup untuk menutup biaya pupuk dan obat-obatan yang harus dibeli dari pabrik.

“Saya masih bisa makan dari uang pensiunan, tetapi tetangga-tetangga saya tidak bisa makan,” tutur Endaj.

Kegagalan itulah yang menuntunnya pada pengelolaan pertanian organik hemat air yang dikenal dengan metode SRI. Pengetahuan itu langsung diterapkannya untuk menanam padi. Metode inilah yang menyelamatkan tanaman padi Endaj pada musim kering ini.

Ketika sebagian besar sawah di Desa Cibunar, Kabupaten Garut, Jawa Barat, layu karena kurang air, sawah milik Endaj masih bertahan. Sekalipun memperoleh jatah air yang sama, sawah miliknya masih tetap basah dan tidak retak-retak. Satu petak sawah Endaj dua minggu lagi akan panen, sedangkan sawah di sebelahnya kuning mengering.

“Bila struktur tanah tidak dikembalikan seperti semula, sawah milik petani dalam beberapa generasi mendatang akan menjadi gurun pasir. Lihatlah tanah yang telah belasan tahun diberi pupuk kimia. Tanah berubah menjadi bongkahan-bongkahan, harus dibanting-banting dan dipukul keras-keras supaya hancur,” kata Endaj.

Di akhir musim panas ini Endaj membabat hutan bambu miliknya untuk dijadikan lahan tanaman sayur. Ternyata lahan seluas tiga perempat hektar yang selama ini ditelantarkan masih jauh lebih subur daripada sawah yang bertahun-tahun diracuni pupuk kimia. Hanya disiram sedikit air, beberapa jenis tanaman buah yang ditanam Endaj bisa bertunas dan tumbuh.

Pupuk organik

Sementara hujan belum turun, bersama sejumlah pekerja Endaj mempersiapkan tanah dan pupuk. Endaj biasa mencari pekerja dari berbagai desa di Garut. Mereka dipekerjakan sekaligus dididik jadi petani organik. Di atas lahan itu pula Endaj membangun gubuk berdinding bambu untuk tempat beristirahat dan dipersiapkan buat mereka yang ingin menginap.

“Beginilah pendidikan yang diinginkan petani. Kalau belajar di kelas, mereka malah pusing atau ngantuk. Banyak orang kampung yang tidak pernah sekolah. Mereka lebih suka belajar sambil bekerja,” ujar Endaj, lulusan STM Negeri Garut itu.

Ketika ditemui di areal yang sedang dipersiapkan untuk ditanami sayur-mayur, Endaj tengah mendampingi tiga petani dari Desa Bayongbong untuk membuat pupuk organik. Mereka menyusun lapis demi lapis sampah dedaunan, sekam, batang pisang yang dicacah, kotoran hewan sampai 2 x 3 meter sampai setinggi dua meter.

Tiap lapis disiram air yang dicampur dengan mikroorganisme untuk mempercepat pengomposan. Lapisan paling atas ditutup dengan tanah. Setelah itu dibungkus rapat-rapat dengan plastik. Tidak sampai setengah hari pekerjaan itu diselesaikan oleh tiga orang. Selama proses pengomposan selama sekitar tiga minggu, lapisan-lapisan itu dibalik dan disiram kembali dengan air yang dicampur mikroorganisme pengompos.

Mikroorganisme itu bisa dibeli dari pabrik, tetapi Endaj memilih membuatnya sendiri. Mikroorganisme itu diproduksi di “laboratorium” mini yang berada di dekat kandang ayam di sebelah rumahnya.

Bahan dasarnya tidak lain adalah sampah dapur. Sampah dapur itu dimasukkan dalam tong-tong plastik dicampur dengan air beras atau air kelapa ditambah sedikit gula. Melalui proses fermentasi selama dua minggu, sampah dapur itu siap dipergunakan sebagai mikroorganisme pengompos atau langsung dipakai sebagai pupuk cair. Di laboratorium itu pula Endaj membuat berbagai macam obat-obatan pengendali hama dengan menggunakan puntung rokok, gadung, bengkuang, dan tanaman lokal lainnya.

“Pupuk organik untuk 200 bata (sekitar seperempat hektar) bisa dikerjakan dalam satu hari. Kalau dibilang membuat pupuk organik itu repot, itu karena petani terprovokasi pabrik. Sekarang banyak pupuk organik dari pabrik yang beredar, petani akhirnya jadi obyek lagi. Padahal bahan untuk membuat pupuk ada di mana-mana,” kata Endaj.

Bertani yang arif

Meski lulusan STM, Endaj cukup bisa menjelaskan proses ilmiah dan rumusan kimia pupuk organik dan obat-obatan yang diproduksinya sendiri. Ia juga sering berinteraksi dengan pengajar dari perguruan tinggi, termasuk dari Institut Pertanian Bogor, untuk konsultasi dan menguji secara ilmiah apa yang ditemukannya di lapangan.

Dengan kemampuannya berkomunikasi, Endaj bisa menjadi guru yang baik. Di “sekolah” partikelir itulah puluhan petani belajar bertani yang arif. Endaj kini membentuk Paguyuban Petani Pengembang Sri Kabupaten Garut yang telah memiliki 243 petani di 32 kecamatan.

Dedi (45) semula membantu bekerja di sawah yang digarap Endaj. “Setelah tiga kali musim tanam, tahu-tahu sudah bisa. Setelah itu saya mencoba sendiri, ternyata hasilnya cukup baik,” kata Dedi.

Amin (35), petani dari Desa Panembong, sudah berniat mencoba bertani secara organik meski baru sehari bekerja bersama Endaj. Selama ini ia menggunakan pupuk urea saat menanam kentang, kol, cabe, atau bawang merah.

“Saya mau bikin semacam ini di kampung,” tutur Amin.

Imam (29), lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Garut, telah empat tahun terakhir mengembangkan pertanian organik. Ia mendapatkan dorongan untuk bertani secara organik dari kedua orangtuanya.

Semula, kata Imam, orang memandang aneh cara ia bertani. Setelah berhasil baik, petani di sekitarnya bisa melihat sendiri bahwa bertani dengan pupuk organik bisa berhasil dengan baik. Namun, mereka umumnya tetap resisten untuk mencoba bertanam secara organik. Akibatnya, pertanian organik tidak bisa berkembang secara massal. Petani organik, kata Imam, hanya satu-dua di tiap desa dan tersebar di mana-mana.

“Ini yang menyulitkan kami yang bertani secara organik. Kami tidak mungkin benar-benar bertani secara organik karena air yang kami gunakan telah mengandung bahan kimia,” kata Imam, yang dijagokan jadi salah satu calon lurah di desanya.

Saefulloh (39), pemuka masyarakat dari Kampung Dano di Kabupaten Garut, juga tertarik untuk mengembangkan pertanian organik di desanya. Ia telah mendiskusikan masalah itu dengan sejumlah petani di desanya. Di desa itu para petani menanam padi dan sayur-mayur.

Setiap musim tanam, dari desa itu saja puluhan juta rupiah dikeluarkan untuk pupuk dan obat-obatan kimia. Andai uang itu dialihkan untuk pupuk organik, tidak sedikit lapangan kerja yang bisa diciptakan dari uang yang biasanya lari ke kota atau bahkan ke luar negeri.

Pertanian organik atau pertanian konvensional pada akhirnya merupakan pilihan. Barangkali, dalam jangka pendek ongkos produksi yang dikeluarkan sama saja. Akan tetapi, dalam pertanian organik mengajak manusia untuk menjaga kasih sayang dan harmoni alam, bukan eksploitasi.

Pertanian organik mengajarkan kemandirian bukan hal yang serba instan dan bisa dibeli. Namun ketika negara lebih berpihak pada pabrik pupuk daripada kelestarian alam, pendidikan untuk petani menjadi hal yang penting. “Sekolah” petani partikelir seperti diselenggarakan Endaj menjadi kebutuhan.

“Banyak petani dibuat bodoh. Tahun 1960-an orang disuruh memakai urea, sampai digratiskan. Pada zaman Orde Baru, Babinsa dikerahkan untuk memaksa petani memakai pupuk dari pabrik. Selama 30 tahun lebih kita membunuh tanah sehingga sekarang semua jadi merana. Sudah saatnya kita berubah, mewariskan tanah dan air yang sehat pada keturunan kita,” kata Endaj. []