Sumber: Kompas.

SEKOLAH desa beratap seng di Desa Bingkat, desa yang sering disebut-sebut sebagai sarang pencuri dan basis gerakan Barisan Tani Indonesia di Sumatera Utara, tidak hanya menyelamatkan Juli Suprianto (22) dari putus sekolah. Sekolah itu sekaligus telah mengubahnya menjadi seorang anak petani yang percaya diri dan penuh harapan.

JULI sempat putus sekolah di kelas dua SMA. Ia sempat bekerja di sebuah wartel di Jakarta Timur, tetapi berhenti lantaran bosan. Tiga tahun ia lontang-lantung tanpa pekerjaan di desanya di Ciamis, Jawa Barat. Saat hampir putus asa, ia ditawari pamannya untuk belajar di Madrasah Aliyah (MA) Bingkat, sekolah yang dikelola oleh sejumlah organisasi rakyat dan organisasi nonpemerintah di Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Tanpa harapan muluk-muluk, Juli memutuskan berangkat.

Dari jalan trans Sumatera, untuk sampai ke sekolah ini masih harus melewati jalan berdebu sepanjang tujuh kilometer, di antara perkebunan sawit milik negara. Ternyata sekolah yang dituju ini sangat berbeda dengan sekolah-sekolah pada umumnya. Bangunannya sangat sederhana. Beratap seng tanpa langit-langit. Tidak ada seragam, bersekolah pakai sandal pun tak dilarang. Tak jarang gurunya mengajar dengan bercelana jeans dan berkaus oblong.

Kegiatan di dalam kelas hanya berlangsung Senin sampai Kamis. Tiap Jumat mereka belajar agama. Sabtu mereka belajar bertani, terjun langsung ke ladang. Tema-tema hak asasi manusia, demokrasi, dan jender diajarkan di sekolah. Guru-gurunya lebih menempatkan diri sebagai kawan belajar, terbuka diajak berdialog, dan tidak alergi terhadap kritik.

Bersama kawan-kawannya, Juli diikutkan dalam aksi-aksi petani. Bersama kawan-kawannya, dia juga ikut melayat ketika sejumlah nelayan tewas dalam insiden dengan awak kapal trawl.

Selain belajar, bertani menjadi kegiatan sehari-hari Juli. Ia tinggal bersama keluarga petani yang tidak jauh dari lokasi sekolah. Tidak ada biaya yang dikeluarkan untuk sekolah atau pondokan. Semua kebutuhan sehari-hari Juli dipenuhi oleh keluarga tempat ia tinggal. Sebagai gantinya, Juli membantu keluarga itu berladang, menanam sayur-mayur, menggarap sawah, atau mencari rumput sehabis sekolah.

Tamat dari MA Bingkat, Juli kuliah di Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Serdang (STAIS). Biaya kuliah dan kebutuhan hidup sehari-hari ia peroleh dengan bekerja sebagai penyiar di Radio Tuah Suara Murni, Lubuk Pakam. “Saya ingin jadi guru, menjadi kawan belajar anak- anak di desa saya,” kata Juli.

Percaya diri, kritis, dan banyak inisiatif merupakan ciri lulusan MA Bingkat. Tengoklah Elman (19 ), yang baru tahun lalu menyelesaikan sekolahnya di MA Bingkat. Meski ia tengah magang di kantor sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Perbaungan, tiap akhir pekan ia kembali ke desanya di Pantai Boga Besar, di Desa Kerumbu Laut, Serdang Mandagi. Ia mencoba menanam cabai, mentimun, dan sayur-mayur di atas tanah pesisir. Ia berinisiatif menanami bakau di pantai, di depan rumahnya yang terancam abrasi.

Lain lagi dengan Sumiran (21). Anak lima bersaudara yang sempat putus sekolah sebelum bergabung di MA Bingkat itu kini kuliah di STAIS, tanpa bergantung kepada orangtuanya. Untuk menutup biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari, Sumiran bekerja sama membuka usaha persewaan komputer. Setelah menyelesaikan kuliah, Sumiran bercita-cita membuka sekolah untuk petani di kampung halamannya di Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara.

MA Bingkat dimulai pada tahun 1998-dengan menumpang satu ruang di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Bingkat- menggabungkan pendidikan formal di kelas dengan pendidikan nonformal di tengah masyarakat. Sekolah ini didirikan oleh Sudarno bersama sejumlah aktivis organisasi nonpemerintah di Perbaungan. Semula sekolah ini didirikan untuk menampung lulusan MTs Bingkat yang berdiri 10 tahun sebelumnya.

Berawal dengan 23 murid, sekolah ini sekaligus dikembangkan untuk kaderisasi calon pemimpin petani dan nelayan. Sekolah itu menghimpun anak-anak petani dan nelayan yang tidak mampu membayar uang sekolah.

Semula anak-anak itu ditampung di rumah pondokan, dan pada sore hari menggarap lahan yang disewa dari penduduk. Kini sebagian besar siswa MA Bingkat ditampung keluarga petani di sekitar lokasi sekolah. Mereka diperlakukan seperti anak sendiri. Siang sampai sore bekerja di rumah ataupun di ladang. Sementara yang tinggal di pondokan sekolah dibebaskan mencari penghasilan sendiri dengan mencari buah pinang, lintah, atau memocok di ladang.

Sekolah itu didukung oleh tujuh guru honorer dan sejumlah guru sukarelawan. Guru sukarelawan direkrut dari perwakilan organisasi-organisasi nonpemerintah dan organisasi rakyat yang mendukung keberadaan sekolah itu. Kepala MA Bingkat Roslaini mengungkapkan, sulitnya guru-guru konvensional bertahan di sekolah itu karena suasana belajar di sekolah yang egaliter, murid diberi kebebasan mengkritik dan mengeluarkan pendapat. Di sekolah itu guru tidak bisa berperilaku otoriter.

“Di sini guru bukan sosok yang digugu dan ditiru, tetapi lebih berperan sebagai kawan belajar,” kata Roslaini.

SEJAK berdiri, MA Bingkat tak pernah sepi dari protes dan gugatan karena sebagian kegiatannya tidak sesuai dengan pakem. Sekolah itu mencabut peristiwa sekitar tahun 1965 dari pelajaran sejarah. Sekolah itu pernah dicap sebagai sekolah aktivis, bahkan pernah didesas-desuskan sebagai sekolah komunis. Warga pun mencibir, mana ada sekolah tanpa pakaian seragam dan mengajar anak-anaknya sambil mencangkul di kebun.

“Saya sempat mendengar dari telinga saya sendiri seorang ibu mengatakan sekolah ini sekolah komunis,” tutur Rosliani.

Akibat desas-desus itu, jumlah murid sempat menurun. Akan tetapi, cercaan dan keraguan itu memudar setelah MA Bingkat memperoleh peringkat tertinggi dalam pencapaian rata-rata nilai ujian di antara madrasah swasta untuk wilayah Lubuk Pakam.

Bila dulu MA Bingkat digugat, kini justru menjadi contoh sebagai sekolah yang berhasil menggabungkan pendidikan keagamaan dengan pendidikan keterampilan dan kepemimpinan. Ketika guru di sekolah- sekolah lain masih kagok mengajar dengan metode yang sesuai dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi, guru-guru MA Bingkat sudah mempraktikkan metode itu sejak sekolah berdiri. MA Bingkat tidak pernah sepi dari kunjungan tamu dari berbagai daerah maupun dari luar negeri.

Sumartono (24) juga tidak pernah terpikir bisa menyelesaikan sekolahnya setelah putus di kelas tiga SMA beberapa tahun lalu. Menurut dia, sebagian besar petani tetap hidup miskin karena tak punya lahan untuk digarap dan tak mengerti cara mengelola lahan yang baik. Ketika tidak punya pupuk, mereka tak bisa membuat pupuk sendiri. Kemampuan menanam dan membuat pupuk organik diperolehnya dari belajar di MA Bingkat. Setelah lulus, Sumartono ingin kembali ke kampung halamannya di Rejang Lebong, Bengkulu, untuk membantu petani di sana.

“Cita-cita saya sederhana. Saya ingin membuat organisasi untuk petani di desa saya,” kata Sumartono penuh semangat.

MA Bingkat berhasil membebaskan anak-anak petani dan nelayan miskin dari keputusasaan. Sekolah ini bukan saja menghasilkan lulusan yang tak canggung dengan cangkul, tetapi juga memberikan kemampuan untuk menggerakkan perubahan. []