Sumber: Kompas.

TANAH berpasir kwarsa menurut ilmuwan pertanian tak cocok untuk pembudidayaan tanaman umur pendek. Tanah jenis ini tidak mengandung unsur hara, baik mikro maupun makro, tembaga serta mineral. Jika ditanami, tanaman itu takkan berbuah. Pendapat demikian memang sering terbukti di Kalimantan Barat. Tetapi, Suparjo (51) membuktikan sebaliknya. Tanaman yang ditanam mampu berproduksi 10 kali lipat dalam sekali panen.

Keunggulan transmigran yang menetap di perkebunan kelapa sawit PT Surya Deli, Kabupaten Sanggau, Kalbar, ini terletak pada teknik pengolahan. Usai lahan dibersihkan, terlebih dahulu lahan disirami air panas, lalu dicangkul sekaligus digemburkan. Sesudah itu, ditaburi kotoran ayam.

Sekitar satu bulan kemudian, tanah tersebut dicangkul kembali, dan ditaburi lagi abu dapur. Beberapa hari berikutnya barulah dia menanam tanaman umur pendek sesuai yang dikehendaki. Dua hari setelah ditanam, tanaman mulai dipupuk. Dan saat umur tanaman mencapai 15 hari, diberi pupuk lagi. Demikian pula pada usia sebulan.

“Apabila pemupukan yang pertama terlambat dilakukan, maka akan sangat berbahaya, sebab tanaman pasti mati. Inilah bedanya dengan tanah di Pulau Jawa,” papar lelaki kelahiran Trenggalek (Jawa Timur), 23 Maret 1947 ini.

Pupuk yang digunakan pun bukan kimia, melainkan pupuk organik atau kompos. Pupuk ini selain berupa kotoran ayam, juga diambil dari rumput, hasil pembersihan lahan sebelumnya. Biasanya rumput tersebut tidak pernah dibakar atau dibuang, tetapi cuma ditumpukkan pada beberapa lokasi, ditaburi pupuk urea, lalu ditutup rapat dengan plastik. Tiga pekan berikutnya, rumput-rumput tersebut telah hancur, bahkan berubah fungsi menjadi pupuk kompos.

Teknik pengolahan yang begitu sederhana dan praktis membuahkan hasil yang luar biasa. Jagung manis yang ditanam pada areal seluas 1.000 meter persegi dengan bibit 200 kilogram, mampu berproduksi empat ton. Dengan luas lahan yang sama ditanami 100 kilogram bibit timun dapat dipanen 2,5 ton. Waluh (labu merah) ditanam sebanyak 100 kilogram dan mampu berproduksi dua ton, sedangkan kacang-kacangan satu ton. Jumlah yang sama dipanen dua kali dalam setahun.

Harga jagung manis di Sanggau Rp 1.500 per kilogram, timun Rp 2.000 per kilogram, waluh Rp 1.500 per kilogram, dan kacang-kacangan rata-rata berkisar Rp 500-Rp 750 per kilogram. Sekali panen, pendapatan kotor Suparjo kurang lebih Rp 16,5 juta atau Rp 33 juta per tahun.

Dengan penghasilan sebesar ini, Suparjo tergolong transmigran yang sukses. Apalagi, ia pun sama sekali tidak mengandalkan kelapa sawit yang ada dalam permukiman tersebut. Tidak mengherankan, jika tahun 1997 ia dinobatkan sebagai transmigran teladan tingkat nasional.

“Saat itulah, untuk pertama kalinya saya berjabat tangan dengan Presiden dan mengikuti perayaan HUT Proklamasi RI di Istana Negara. Suatu kenyataan yang tak pernah saya bayangkan sejak kecil,” tutur pengagum berat Bung Karno ini, dengan nada bangga.

***

MENGAPA sebelum dicangkul, tanah perlu disirami air panas yang secukupnya?

Menurut lelaki yang tidak tamat Sekolah Dasar (SD) tersebut, di dalam tanah berpasir kuarsa berkembang biak ulat tanah. Ulat itu akan selalu menggerogoti akar tanaman yang berakar serabut. “Jadi, supaya tanaman umur pendek yang ditanam tumbuh subur dan segar, ulat itulah yang harus dimatikan dahulu,” jelas Suparjo. Sedangkan kotoran ayam dan abu dapur, katanya, berfungsi untuk meningkatkan keasaman tanah. Termasuk di antaranya merangsang terbentuknya unsur-unsur pendukung proses pembuahan.

Pengetahuan soal teknik pengolahan tanah berpasir kuarsa ini, tuturnya, tidak dipelajari dari pihak lain. Melainkan dari kegagalan yang dialami dalam mengolah lahan di pemukiman transmigrasi selama tahun 1991-1994. Selama kurun waktu itu, dia sempat frustrasi, sebab tanaman umur pendek yang ditanam selalu mati. Jika ada tanaman yang tumbuh, namun tak berbuah.

Pada awal tahun 1996, ia menyaksikan serumpun jagung yang tumbuh di belakang rumahnya begitu subur. Saat berbuah, tongkolnya pun dipenuhi biji. Suparjo jadi heran dan terus bertanya dalam diri. Ternyata di tempat tersebut selalu dituangkan air panas dan abu dapur yang tidak terpakai. “Saya, lantas berpikir, jangan-jangan jenis tanah seperti ini, sebelum digarap harus terlebih dahulu disiram air panas serta ditaburi abu dapur,” tutur Suparjo.

Dia pun mulai mencobanya. Lahan pekarangan seluas 1.000 meter persegi disirami satu drum air panas, lalu dicangkul dan ditaburkan abu dapur dan kotoran ayam. Lahan ini ditanami bawang merah 2,5 kuintal. Ketika dipanen, hasilnya mencapai 2,5 ton. Belum yakin dengan kenyataan itu, Suparjo mencoba menanam terung. Hasilnya pun sama. Dari penjualan terung, dia mendapat uang tunai Rp 1,5 juta.

Uang itu digunakan untuk membeli tiket pesawat Pontianak-Jakarta-Surabaya. Sebelum berangkat, tiket itu diperlihatkan kepada sesama transmigran. “Maksudnya, ingin mengatakan kepada mereka bahwa tanah di lokasi transmigrasi sebetulnya subur dan cocok untuk sayur-sayuran. Terbukti, dengan membudidayakan sayur, saya dapat mudik ke kampung asal. Naik pesawat lagi,” tutur Suparjo mengenang motivasi yang pernah diberikan kepada transmigran lainnya.

Keberhasilan Suparjo ternyata menggugah teman-temannya. Mereka yang sebelumnya telah bekerja sebagai buruh tani dan pendulang emas ilegal di luar lokasi transmigrasi, memilih kembali mengolah lahan pekarangan. Teknik pengolahan tanah berpasir mulai dipelajari dari Suparjo.

Kendati volume sayur-sayuran yang diproduksi masih tertinggal jika dibandingkan dengan hasil kerja Suparjo, setidaknya telah mampu mengatasi kesulitan ekonomi. Apalagi perkebunan kelapa sawit yang diandalkan sebagai satu-satunya sumber hidup secara diam-diam telah ditelantarkan investor sejak tahun 1994. Akibatnya, petani setempat pun hingga kini belum mendapat kebun plasma.

“Syukurlah kami masih memiliki Suparjo yang punya pengetahuan tentang pengolahan tanah berpasir. Dari penanaman sayur saja, kami masih bisa bertahan hidup, tanpa berharap sepenuhnya kepada kelapa sawit,” kata Imam Rofey (34), transmigran asal Jawa Barat.

***

KREATIVITAS Suparjo bukan sebatas itu saja. Ia pun dengan tekun mempelajari perilaku hujan, suhu udara, serta dampaknya terhadap tanaman. Jika suhu udara pada pukul 11.00 terasa sangat panas dan setelah itu turun hujan yang cukup deras, maka sore hari suhu udaranya panas kembali. Artinya, tanaman tersebut harus disiram.

Alasannya, hujan yang turun sebelumnya langsung hanyut. “Maka, kalau tersengat lagi sinar matahari, daun tanaman umur pendek yang sedang tumbuh dalam seketika langsung layu dan mati,” papar ayah empat anak (seorang di antaranya sedang kuliah pada Fakultas Ekonomi Universitas Panca Bhakti Pontianak).

Sementara itu, lahan 1,5 hektar yang dimiliki dibagi menjadi empat bagian. Setiap bagian ditanami satu jenis tanaman. Penanamannya pun tak dilakukan sekaligus, tetapi bertahap. Setiap jenis tanaman dipanen dua kali dalam setahun, sehingga ia menikmati hasilnya secara berkesinambungan sepanjang tahun.

“Kesuksesan saya ini hanya suatu kebetulan. Program ini sebetulnya kurang disiapkan secara matang. Buktinya, ketika transmigran ditempatkan, sama sekali tidak dibekali pengetahuan untuk mengolah tanah berpasir atau lahan bergambut. Menyedihkan lagi, petugas instansi terkait pun tak punya pengetahuan soal itu. Ini yang ikut memperparah penderitaan transmigran,” ujar Suparjo. []