Sumber: Kompas.

KETIKA sebagian besar guru pendatang cepat-cepat ingin meninggalkan tempat tugas di wilayah pedalaman terpencil di Papua, Yoseph Paidjo justru memilih bertahan. Pengabdiannya sebagai guru selama 30 tahun dia rasa belum berhasil. Masih ribuan anak muda di pedalaman Paniai pada hematnya butuh bimbingan, arahan, dan pencerahan demi pembangunan daerah itu. Membangun sumber daya masyarakat pedalaman Papua tidak seperti membalik telapak tangan.

“Mereka masih butuh waktu 10 hingga 25 tahun untuk mengikuti irama perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi global. Kita yang ingin mengabdi, mendidik, dan memimpin mereka jangan coba-coba paksakan kehendak, cita-cita, dan semangat dari luar untuk dimengerti dan dipahami masyarakat. Kita akan kecewa sendiri, dan sebaliknya kita dibenci masyarakat,” kata Yoseph Paidjo pekan lalu di Enarotali, ibu kota Kabupaten Paniai.

Kesabaran dan pemahaman budaya lokal membuat Paidjo diterima dan betah di tengah masyarakat Paniai selama 30 tahun. Sebagai warga pendatang yang paling lama tinggal di antara penduduk asli (Paniai), Paidjo dianggap sebagai “bapak”. Ia disapa oleh penduduk asli sebagai “bapak guru”. Nasihat “bapak” tetap diterima dan dihargai sebagai petunjuk yang berguna bagi mereka.

Para anak muda, termasuk Satgas Papua dan pendukung kemerdekaan Papua di Paniai, sebagian di antaranya adalah bekas murid Paidjo. Bukan berarti pemikiran merdeka di kalangan bekas murid itu lahir dari hasil didikan Paidjo.

Pikiran merdeka lahir atas situasi kemiskinan, kebodohan, keterisolasian, keterbelakangan, dan perlakuan sewenang-wenang oleh aparat keamanan waktu itu. Karena itu, Paidjo sangat memahami tuntutan merdeka masyarakat. Meskipun merdeka ini harus dipahami dari sisi merdeka secara geografis dan merdeka dari kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan.

PRIA Yogyakarta ini tiba di Enarotali Juni 1974. Sebelumnya, ia bekerja sebagai guru honorer di SD Katolik Nabire. Melamar menjadi guru negeri 1974 dan langsung ditempatkan di Distrik (Kecamatan) Ubanu, Paniai Barat, sekitar 10 kilometer dari Enarotali. Ketika itu Paniai masih termasuk bagian dari Kabupaten Nabire.

“Kondisi pada tahun 1974 tidak seperti yang Anda alami saat ini. Belum banyak anggota masyarakat memahami bahasa Indonesia sehingga setiap warga pendatang terpaksa belajar bahasa daerah setempat. Tetapi di Paniai ada beberapa bahasa daerah sehingga belajar salah satu bahasa daerah pun belum tentu dapat menyelesaikan masalah,” kata ayah dari tiga putra kelahiran tahun 1951 ini.

Di Ubanu tidak ada rumah guru sehingga Paidjo terpaksa tinggal di kamar WC sekolah, yang tidak difungsikan karena tidak ada air. Lubang WC ditutup dengan beberapa kayu bulat kemudian ditutup tanah.

Sekolah mulai dibuka (1974), langsung kelas I-II. Siswa yang terbesar dan tertua (usia 20-an) langsung ditempatkan di kelas II SD, siswa berusia di bawah 20 tahun ditempatkan di kelas I SD. Pembagian ini sesuai dengan keinginan masyarakat waktu itu. Sekolah di Ubanu dibuka sesuai Inpres Nomor 10/1973-1974.

Para siswa sangat sulit menulis dan membaca. Hampir semua warga Paniai ketika itu termasuk buta huruf karena tidak ada pendidikan sebelumnya di daerah itu. Kecuali mereka keluar dari Paniai dan mengikuti pendidikan di Jayapura atau Nabire.

Ketika itu belum ada pendatang, warga berambut lurus kecuali para petugas agama dan pegawai negeri sipil (PNS) yang ditugaskan di Paniai. Tidak ada pedagang, pengusaha, dan pencari kerja pendatang seperti sekarang. Beras hanya dapat diperoleh dari gaji, tidak dapat diperoleh dari kios pedagang.

Di Enarotali ada satu sekolah dasar yang ditangani Gereja. Namun, kondisi sekolah ini pun tidak jauh berbeda dengan sekolah di Ubanu. Tingkat pemahaman dan pola hidup para siswa dan orangtua siswa sama saja.

Karena dinilai sukses mengembangkan pendidikan SD di Ubanu, tahun 1976 Paidjo ditarik ke SDN Enarotali oleh Dinas Pendidikan dan Pengajaran Paniai yang berkedudukan di Nabire. Di tempat ini, ia bersama tiga rekan guru dari luar Papua bekerja sungguh-sungguh memperkenalkan bahasa Indonesia kepada para siswa. Paidjo ditunjuk sebagai penanggung jawab sekolah.

Papua, termasuk Paniai, waktu itu sebagai daerah yang baru saja bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Paidjo bersama tiga rekannya lebih banyak memperkenalkan Indonesia kepada generasi muda. Misalnya, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, jumlah provinsi, kabupaten, ibu kota NKRI, dan lagu-lagu kebangsaan.

Bahasa Indonesia perlahan-lahan mulai dikuasai para siswa di sekolah. Mereka mulai belajar menghitung, membaca, dan menulis.

Para siswa di Ubanu ini pada waktu itu juga tidak berpakaian seperti di Enarotali. Mereka masih mengenakan pakaian tradisional. Kaum pria mengenakan koteka, sementara perempuan mengenakan more. Para siswa mengikuti pelajaran dengan duduk di lantai, tanah kosong tanpa alas. Alat tulis dari batu tulis, belum menggunakan kertas dan pena seperti sekarang.

“Saya merasa bangga. Setelah anak-anak mengerti komunikasi dalam bahasa Indonesia, mereka kembali ke rumah dan ke lingkungan masyarakat, mulai menyosialisasikan bahasa Indonesia kepada orangtua dan masyarakat. Perlahan-lahan masyarakat pun mulai fasih bicara bahasa Indonesia meskipun belum sempurna,” kata suami dari Sesilia Sumarsih itu.

SEPERTI halnya nasib para guru lain di daerah terpencil, persoalan yang dihadapi Paidjo adalah keterlambatan gaji atau honor. Jatah beras pun jarang dikirim ke pedalaman sehingga para guru seperti dia terpaksa mengonsumsi umbi-umbian bersama masyarakat. Untuk itu, Paidjo sejak beberapa tahun lalu juga menanam umbi-umbian.

Kini, memang ada perubahan. Ketika Perusahaan Daerah Irian Bhakti mulai beroperasi normal, jatah beras dapat diangkut ke Paniai, meskipun tetap saja sering terlambat sampai dua-tiga bulan karena cuaca kurang mendukung penerbangan ke Paniai.

Hanya saja, Paidjo agaknya sudah terbiasa, menjalani proses itu semua dengan tabah. Dia benar-benar telah memilih jalan pengabdiannya untuk masyarakat Papua, mengikuti perkembangan daerah ini setapak demi setapak, berada di tengah perkembangan daerah ini, bertumbuh bersama masyarakatnya.

Tak banyak tokoh seperti Paidjo. Tak banyak tokoh yang benar-benar pantas dipanggil “bapak guru”, seperti dia. []