Sumber: Kompas.

Pagi itu Aprilludin dan Yusuf sedang memeriksa tiga generator set yang terletak di samping mercusuar Pulau Sumedang. Rasa kantuk setelah bekerja semalaman harus mereka abaikan karena pemeriksaan rutin harus dilakukan agar lampu 1.000 watt di lantai paling atas mercusuar dapat menyala pada sore harinya.

Dua generator set buatan Perancis tahun 1974 itu mendapat perhatian paling serius karena mesin tua tersebut sering rewel. Generator ketiga yang buatan Jepang hanya mendapat pemeriksaan ringan karena masih baru dan kinerjanya bagus.

“Kami harus memastikan semua peralatan berfungsi baik agar tidak ada kecelakaan di laut. Jika lampu mercusuar mati, nelayan dan kapal tanpa alat pelacak letak geografi dapat kandas karena menabrak pulau karang di sekitar Pulau Sumedang,” ungkap Aprilludin.

Berperan

Keberadaan mercusuar 16 lantai dengan 303 anak tangga itu sangat berperan pada tumbuhnya desa di Pulau Sumedang. Mercusuar tersebut dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda dengan tinggi 60 meter pada tahun 1882. Tujuannya, memudahkan pelayaran di Selat Gaspar, terutama untuk kapal dagang dan kapal perang yang melintasi alur laut kepulauan Indonesia.

Setelah kemerdekaan, mercusuar itu tetap difungsikan, khususnya untuk menuntun kapal-kapal dari Singapura ke Jakarta dan sebaliknya. Pulau Sumedang yang menjadi lokasi mercusuar juga dijadikan tempat singgah nelayan yang membutuhkan tambahan air minum.

Bagi Aprilludin, bekerja di mercusuar merupakan bentuk pengabdian total yang dapat diberikan kepada negara. Sudah hampir dua tahun dia bekerja di pulau-pulau terpencil untuk memastikan mercusuarnya dapat menyala di malam hari dan menuntun kapal-kapal tetap berada di jalur aman.

Sebelum di Pulau Sumedang, Aprilludin bertugas di Pulau Besar, Bangka Selatan. Ketika pindah tugas, Aprilludin tidak sempat pulang ke Jakarta untuk bertemu anak dan istrinya. Bahkan, dia tidak sempat memberitahukan kepindahan lokasi kerjanya kepada keluarga.

“Saya bekerja tanpa libur sehari pun. Bahkan, saat Lebaran saya tidak dapat pulang untuk merayakannya dengan keluarga. Saya masih harus bertugas menjaga mercusuar agar jangan sampai lampu mati dan ada kapal yang kandas,” tuturnya.

Kondisi yang sama diungkapkan Yusuf, yang sebelumnya bertugas di Pulau Dapur, Bangka, selama 12 bulan. Menurut Yusuf, sebagai petugas di daerah terpencil mereka harus dapat bertahan hidup dengan kondisi serba terbatas.

Di tengah harga-harga yang sangat mahal karena sulitnya distribusi barang, kedua petugas itu hanya menerima tunjangan Rp 8.000 per hari dan uang lauk-pauk Rp 7.000 per hari. Jumlah itu sangat tidak sepadan karena harga sembako di Pulau Sumedang yang dapat mencapai 1,5 sampai dua kali lipat dari harga normal.

Kondisi serba terbatas tersebut diatasi dengan memanfaatkan lahan di sekeliling mercusuar untuk bercocok tanam. Pisang dan ubi kayu dibudidayakan sebagai tambahan pangan bagi mereka. Pisang diambil buahnya untuk dimakan, sedangkan ubi hanya diambil daunnya untuk disayur. Untuk lauk-pauk, mereka membeli atau menerima pemberian dari nelayan di desa sekitar mercusuar.

“Saya tidak masalah dengan kondisi yang terbatas ini. Namun, yang membuat saya masih agak berat adalah kesulitan komunikasi dengan keluarga. Saya tidak tahu perkembangan hidup mereka dan mereka juga tidak tahu kabar saya,” kata Yusuf.

Disiplin

Meskipun demikian, mereka berdua tetap bertugas dengan disiplin meskipun tidak ada pengawasan atas kinerja keduanya. Semua aset dirawat dengan baik supaya tetap berfungsi. Bahkan, sebuah senapan semi-otomatis LA Renfield buatan Inggris tahun 1941 inventaris di mercusuar itu juga masih terawat dan berfungsi dengan baik, meskipun amunisinya yang berukuran tujuh milimeter tinggal satu butir.

Menurut Muslim, nelayan setempat, penduduk desa selalu membantu dan tidak pernah mengganggu para petugas mercusuar karena menyadari besarnya fungsi mereka. Lampu mercusuar pernah mati beberapa bulan lalu karena kerusakan pada bola lampu, lalu keesokan harinya ada kapal barang yang kandas.

“Mercusuar sangat penting bagi nelayan tradisional seperti kami, bila sedang berlayar di malam hari. Hanya dengan bantuan sinar dari mercusuar kami dapat pulang dengan selamat, tanpa perlu kandas karena menabrak pulau karang,” ujar Muslim. Penjaga mercusuar tampaknya masih harus prihatin. []