Sumber: Kompas.

Kehebatan seorang pengusaha bukan terlihat saat dia mencapai puncak, melainkan saat dia bangkit setelah terpuruk.

Kata-kata itu meluncur dari mulut Soegito, pemilik restoran bakso Gito-Goti, usaha waralaba makanan lokal pertama di Pulau Bangka—usaha yang dimulai dari gerobak bakso keliling pada tahun 2002.

Jiwa wirausaha Soegito sudah muncul sejak dia masih bersekolah di sebuah SMEA di Madiun, Jawa Timur, pada akhir tahun 1970-an. Ia menyebutkan pengalaman para pemuda keturunan Tionghoa yang memberinya kesadaran bahwa dia hanya bisa sukses dan kaya jika memiliki usaha sendiri.

Itu yang membuatnya menolak tawaran seorang saudaranya untuk bekerja di PLN ketika dia lulus sekolah menengah. Orangtuanya marah karena penolakan itu. Sebaliknya, Soegito justru pergi ke Jakarta sebagai ungkapan protesnya.

“Saya masih muda dan merasa mampu melakukan segalanya. Namun, sesampainya di Jakarta saya justru menjadi gelandangan karena tidak memiliki keterampilan dan modal,” tuturnya.

Beruntung Soegito bertemu dengan sepupunya yang bekerja di Departemen Pekerjaan Umum. Melalui koneksi saudaranya itu, dia bekerja di bagian logistik di sebuah kontraktor dengan gaji Rp 75.000 per bulan. Tidak puas dengan gaji yang dirasanya kecil, Soegito keluar dan membuka usaha penjualan bensin di tepi jalan. Lagi-lagi dia tidak puas karena penghasilan yang kecil.

Jiwa tidak mudah puas dan keinginan untuk mencoba pengalaman baru membuat Soegito menerima tawaran sepupunya untuk pindah ke Palembang pada tahun 1981. Kebetulan sang sepupu juga dipindahkan ke Sumatera Selatan untuk merintis proyek pembukaan lahan pasang surut.

Di Palembang, Soegito muda kembali dititipkan di salah satu kontraktor. Meskipun pendidikannya berlatar ekonomi, Soegito meminta diizinkan untuk belajar dan bekerja di bidang teknik terapan di lapangan.

Di situlah dia banyak belajar dan membuktikan kemampuannya. Namanya menjadi terkenal di dunia kontraktor dan Soegito diperebutkan oleh banyak perusahaan.

Pada awal tahun 1990-an, ketika sukses di dunia kontraktor, Soegito mulai kuliah di fakultas ekonomi di perguruan tinggi swasta di Palembang dan membuka perusahaan kontraktor sendiri. Soegito pun mulai mengurusi banyak proyek sebagai subkontraktor.

“Saat itu saya merupakan bujangan kaya dengan masa depan cerah. Bukan hanya perusahaan, saya juga memiliki tanah, rumah besar, dan tongkang,” tutur Soegito. Ia kemudian menikah dan memiliki tujuh anak.

Hanya saja, krisis perekonomian di akhir tahun 1997 membawa dampak pada usahanya. Usahanya bangkrut dan dia kehilangan segala-galanya.

Sempat empat bulan menganggur, Soegito memberanikan diri untuk membuka usaha bakso di Jalan Radial, Palembang. Usaha bakso itu dibuka setelah melakukan “riset” atas bakso- bakso yang enak di Palembang.

Hasil riset itu berbuah. Para pengunjung berdatangan silih berganti sehingga omzet penjualan mencapai puluhan juta rupiah per bulan hanya dalam waktu tiga bulan sejak dibuka. Pada bulan keempat, Soegito sudah membuka cabang pertama. Cabang kedua dan ketiganya dibuka dalam tujuh bulan berikutnya.

Hanya saja, pasang surut harus dia alami. Usahanya menurun, sampai tahun 2001 ia memutuskan bahwa usahanya harus direlokasi kalau ingin bertahan hidup.

“Saya memiliki tujuh anak yang harus dihidupi dan disekolahkan. Jika keuntungan saya kecil, saya khawatir anak-anak tidak akan mempunyai biaya yang cukup untuk pendidikan,” ungkapnya.

Atas usul seorang kawan dan setelah berunding dengan istrinya, Soegito bertekad memulai usaha baru di Pulau Bangka. Kebetulan pada awal tahun 2002 Bangka Belitung mulai menjadi provinsi baru.

Mendorong gerobak

Ia memulai usahanya di Sungai Liat, ibu kota Kabupaten Bangka. Semula dia menumpang di rumah paman istrinya sambil mencari-cari lahan untuk berjualan. Namun, Soegito tidak menemukan lahan yang strategis. Akhirnya, Soegito memutuskan berjualan bakso secara keliling dengan gerobak. Gerobaknya dibuat sendiri, bakso dan bakminya juga disiapkan dengan bahan-bahan paling baik.

“Hati saya masih berdesir jika ingat langkah pertama keluar dari rumah paman dengan mendorong gerobak. Saya adalah mantan orang kaya yang mencoba bangkit dengan gerobak bakso,” ungkapnya.

Setelah lima bulan berjualan keliling, pelanggannya mulai banyak dan omzetnya mencapai Rp 600.000 per hari. Soegito pun mulai memberanikan diri membuka warung pertamanya di Sungai Liat, yang diberi nama Gito-Goti.

Soegito lalu membuka restoran pertamanya di Pangkal Pinang. Larisnya restoran di Pangkal Pinang itu membuat warung bakso di Sungai Liat dia ubah menjadi restoran.

Lima cabang restoran atau warung bakso juga dibuka di beberapa lokasi lainnya. Namun, beberapa di antaranya ditutup kembali karena kurang menguntungkan.

Masih belum puas dengan cabang-cabang usaha baksonya, Soegito berusaha menciptakan sistem waralaba untuk restorannya. Sistem itu menguntungkan karena dia tidak perlu mengeluarkan modal, tetapi dapat menikmati bagi hasil keuntungan.

Soegito menetapkan standar perizinan dan manajemen waralaba yang ketat. Seorang pengusaha lain sedang berminat atas waralaba bakso Gito-Goti sehingga ini akan menjadi restoran waralaba bakso lokal yang pertama di Pulau Bangka. []