Sumber: Republika.

Hasil keuntungan dari berjualan mi bakso sebesar Rp 300 ribu itu, tak ia belanjakan lagi untuk bahan-bahan mi bakso. Idun Yana ingin mendapatkan keuntungan yang lebih banyak. Maka, Rp 300 ribu itu dipakainya untuk membeli dua perangkat pakaian kuda di Cimahi, pada 1985. ”Keuntungannya, kalau tidak salah sekitar Rp 250 ribu,” ungkap pria kelahiran Garut, 18 Mei 1960, itu.

Keuntungan yang menggiurkan, apalagi ia tak terlalu susah untuk menjual kembali baju kuda itu. Maka, ia yakin keninggalkan gerobak baksonya yang telah menyertainya sejak 1983 di Bandung.

Setahun berjualan baju kuda ia pun mengorbankan seperangkat baju kuda. Ia bongkar. Ia rela kehilangan seperangkat baju kuda itu. ”Mau bagaimana lagi? Hanya dengan cara itu saya bisa mempelajari teknik pembuatan pakaian kuda,” ujar Idun.

Ia tak puas dengan keuntungan hanya dari hasil penjualan baju kuda yang ia beli dari orang lain. Ia merasa perlu membuatnya sendiri. Tanpa bimbingan dari orang lain, ia mempelajari baju yang ia bongkar itu.

Idun tak kesulitan memelajarinya. Ia bikin pola meniru pola baju yang ia bongkar. Ia pun kemudian memberanikan membuat sendiri baju kuda. Ia buat ‘mesin’ pembuat pakaian kuda. Mesin yang sangat sederhana. ”Karena saya tidak pernah belajar dari orang lain, akhirnya saya membuat desain sendiri mesin, yang disesuaikan dengan pola baju yang saya bongkar,” tutur Idun.

Mesin itu adalah sebentuk perlengkapan kayu yang didesain secara khusus oleh Idun. Ia memodifikasinya dengan menyertakan peralatan seperti palu, paku payung, lempengan seng, dan dudukan besi, sebagai bagian dari mesin itu.

Bisa membuat baju kuda membuat pria jebolan kelas dua SD itu kian mantap berbisnis ‘pakaian langka’ ini. Apalagi, di Garut, ada 4.500 delman, yang ia anggap sebagai pasar potensial. Ia melirik bisnis ini lantaran menyaksikan banyaknya orang Garut yang menjadi sais kuda.

Di Garut, Idun memasarkan baju-baju kuda buatannya dengan cara berkeliling mengendarai delman. Kuda delmannya ia pakaikan juga baju-baju buatannya. Sais-sais delman pada tertarik, dan lantas memesan kepadanya.

Kepada penumpang-penumpang delmannya, Idun pun rajin mempromosikan baju kuda produksinya. Keluwesannya bergaul memudahkan Idun memasarkan baju kuda itu. ”Dengan cara itu, ternyata penjualan produksi saya bisa terbantu dengan baik,” ujar Idun.

Informasi baju kuda Idun terus menyebar dari mulut ke mulut. Pemilik delman dari luar Garut pun tertarik. Bahkan, kini ia melayani pesanan dari Bandung, Sukabumi, Purwakarta, Surabaya, Malang, Selain dari Garut dan Tasikmalaya. ”Bahkan Manado pun sudah terbiasa mendapat pasokan pakaian kuda dari saya,” jelasnya. Mereka mencari baju kuda Idun, karena desainnya yang atraktif.

Jika dihitung rata-rata, dalam sehari ia mendapatkan Rp 500 ribu. Jika hari sedang bagus, bahkan ia bisa mendapatkan Rp 1 juta. Ada saja yang membeli baju-baju kuda itu kendati tidak membeli lengkap. Ada yang membeli borongsong saja, atau kadali saja, dan sebagainya. Seperangkat baju kuda (lengkap) yang diproduksi Idun terdiri dari antara lain borongsong, kadali, les, dada, streng, tali beruk, apis buntut, angkul ceplok, ales, dan amen luar.

Untuk seperangkat baju, ia memerlukan waktu dua minggu untuk membuatnya. Kualitas biasa ia jual Rp 500 ribu. Kualitas terbaik ia jual dengan harga minimal Rp 2 juta.

Dari keuntungan yang ia dapatkan, ia bisa mencicil pembelian mesin pembuat baju kuda sebanyak 11 buah. Maka, ia tak lagi membuat baju kuda dengan mesin karya dia sendiri, sehingga kualitas bajunya pun semakin meningkat. Ia pun kini telah memiliki toko yang ia pakai untuk butik baju kuda, yang ia beli dengan harga Rp 35 juta.

Tekad kuat

Idun menjamin baju produksinya bisa tahan lama, karena terbuat dari kulit kualitas terbaik. Idun memilih kulit punggung sapi. Untuk material logam yang ia pakai sebagai hiasan, ia memakai nikel dan seng.

Meski sudah memiliki butik dan beberapa karyawan, kini Idun masih tetap menarik delman dengan kuda yang ia pakaikan baju produksinya. Ia mengantarkan penumpang ke tempat tujuan sekaligus mempromosikan produksinya. Meski tetap menekuni profesi sebagai sais, tentu ia tak lagi mengalami masa-masa sulit seperti di masa kecil. Kreativitas dan semangat telah menyelamatkan Idun dari kemiskinan.

Di masa kecilnya, ia sering menyaksikan kejadian memilukan. Setengah mengingat, ia mengatakan bahwa saat itu (tahun 1960-an) bangsa Indonesia memang sedang dilanda krisis ekonomi yang sangat parah. ”Bahkan keluarga saya saat itu terpaksa harus makan gaplek, karena untuk membeli beras tidak punya uang,” kata Idun.

Dalam keprihatinan, Idun kecil berjanji pada dirinya sendiri. ”Saya harus bisa merubah keadaan ini. Keluarga saya harus dibantu,” tegas Idun kecil penuh tekad.

Meski tak bisa menyelesaikan sekolah, Idun kecil tumbuh menjadi laki-laki yang tegar dan pantang menyerah. Pada 1983, ketika ia berusia 23 tahun, Idun mencoba peruntungan dengan berjualan mi bakso di Cikapundung, Bandung, mengikuti jejak paman-bibinya, sebelum kemudian beralih ke bisnis baju kuda.

Kini, wajah Idun yang penuh keriput dan semburat keluguan itu, tengah menantikan anaknya untuk bisa meneruskan usaha yang telah ia rintis. Di pundak anak lelakinya yang masih duduk di bangku kelas dua SMA, Idun berharap butik baju kudanya bisa terus berkibar. ”Karena, kalau tidak, pasti tidak akan ada lagi yang membuat pakaian kuda,” ucap Idun penuh harap. []