Sumber: Republika.

Penjelasan yang ia berikan lantas diterjemahkan ke Bahasa Inggris. Dalam waktu satu jam workshop dalam rangkaian acara Women Playwrights International itu, ia membawakan Tari Gegok. Ada lima peserta dari Amerika Serikat, Australia, Jepang, Malaysia, dan Vietnam, yang serius mengikuti workshop yang digelar di Jakarta pada Jumat, 24 November, itu.

Dari sang nenek

Saat kecil ia berbeda dengan anak seusianya. Gadis kecil itu tidak banyak mengisi hari-harinya dengan bermain. Di usia yang masih amat belia, 10 tahun, ia mengikuti langkah kakek dan neneknya. Kakek, nenek, dan cucu itu selalu menghabiskan hari-harinya, mengitari kampung-kampung sekitar Jakarta –kerap sampai wilayah Jawa Barat– bermain Topeng Betawi.

Sang kakek, Jiun, seorang pemain musik tradisional dan sang nenek, Mak Kinang, seorang penari. Keduanya pemain Topeng Betawi dalam satu grup: Kinang Putra Grup. Grup kesenian tradisional ini mengisi pertunjukan, menyertai hajatan masyarakat, dari khitanan, perkawinan, hingga perayaan Hari Kemerdekaan RI. Pendek kata, hampir tak ada hari tanpa pertunjukan.

Sambutan pun luar biasa. Pertunjukan Topeng Betawi menjadi primadona masyarakat Jakarta dan sekitarnya kala itu. Hajatan seakan tak lengkap tanpa Topeng Betawi –yang biasanya terdiri atas musik, teater, dan tari. Lantaran banyaknya permintaan, ”Bisa seminggu tidak pulang (ke rumah),” ujar Kartini, gadis kecil itu, mengenang masa-masa keemasan Topeng Betawi.

Awalnya, Kartini kecil hanya duduk di pinggir panggung pertunjukan, menyaksikan kakek dan neneknya bermain Topeng Betawi. Ia masih belum tertarik dengan aktivitas sang kakek dan nenek, meski ia sudah mulai belajar menari. Keikutsertaannya tak lebih dari sekadar bersenang-senang. Dalam hati dia sempat membatin, ”Ini apa, sih!”

Sekali tempo di tahun 1973, sekitar tiga tahun setelah aktif mengikuti kegiatan kakek-neneknya di panggung-panggung pertunjukan, ia diminta mengikuti sebuah festival di Bandung, mewakili daerah Bogor. Seperti juga neneknya, Kartini menjadi salah seorang penari dalam festival itu. ”Dari situ saya mulai suka,” jelasnya.

Apa boleh buat, aktivitas kesenian harus ia bayar ‘mahal’. Ikut pertunjukan dari panggung ke panggung membuat perempuan kelahiran Jakarta, 5 Maret 1960, ini tak punya waktu yang cukup mengenyam bangku pendidikan formal. ”Sekolah terbengkalai. Keasyikan, akhirnya tidak sempat sekolah. Saya hanya tamat SD (Sekolah Dasar),” kata dia.

Tepuk tangan penghilang lelah

Proses alami ‘memaksa’ Jiun dan Mak Kinang turun panggung, meninggalkan aktivitas kesenian tradisional Betawi. Tapi, tidak bagi Kartini, juga tidak bagi Topeng Betawi. Kisam dan Nasah –orang tua Kartini– menjadi penerus. Pasangan suami-istri ini lalu mendirikan Ratna Sari Grup. Seperti juga Jiun dan Kinang, di grup ini Kisam bermain musik, Nasah penari. Kartini mengikuti jejak nenek dan ibunya sebagai penari.

Perjalanan waktu membuatnya kian matang menarikan Topeng Betawi. Pertunjukan demi pertunjukan dijalaninya. Tak hanya di dalam negeri, seperti Jawa dan Bali, tapi juga sampai ke mancanegara. Hongkong, Singapura, Nigeria, dan Mesir sudah dijelajahinya, mementaskan Topeng Betawi.

Setiap kali tampil di luar negeri, sambutan yang dia rasakan sungguh luar biasa. Tepuk tangan panjang selalu menyertai tiap kali mengakhiri sebuah tarian. Sambutan itu mengharukan. Dia menganggapnya sebagai obat, penghilang lelah. Penari Topeng Betawi yang sudah memperoleh penghargaan dari Dinas Kebudayaan, Gubernur DKI Jakarta, dan Direktorat Jenderal Kebudayaan ini bilang, ”Hilang capeknya dengan tepuk tangan. Itu berarti tidak sekadar dilihat, tapi dihargai.”

Masa keemasan yang hilang

Kini, hampir tak ada lagi masa-masa yang menyenangkan, masa keemasan. Masa-masa itu telah berlalu. Kisaran tahun 1970-1985, menurut Kartini, hampir tiap hari Topeng Betawi dipentaskan. Setelah itu, permintaan sepi. ”Sekarang jarang yang nanggap topeng. Paling sebulan empat kali tampil. Sedih juga, tradisi terpinggirkan,” keluh ibu seorang anak ini.

Penanggap sepi, apresiasi masyarakat berkurang. Tepuk tangan penonton tak meriah lagi. Tapi, di usianya yang ke-46 saat ini, Kartini tak patah arang. Topeng Betawi telanjur menyatu dalam jiwanya, menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya. Bendera Ratna Sari, grup Topeng Betawi yang dirintis orang tuanya, masih ia kibarkan.

Ia pun menjadi pelatih tari. Setiap Rabu-Ahad, Kartini mengajar tari di Sanggar Seni Setu Babakan. Hal yang serupa dilakukan di beberapa sekolah, dari jenjang SD hingga SMA. Ini menguatkan keyakinannya, Topeng Betawi tidak mati. Dengan begitu, kata dia, ”Sedihnya terobati.” Toh, bayangan kejayaan masa silam masih kerap menggodanya. ”Ada juga kerinduan seperti tahun-tahun dulu,” ucapnya.

Saya senang

Lima peserta workshop dari Amerika Serikat, Australia, Jepang, Malaysia, dan Vietnam itu antusias menarikan Tari Gegok yang ia ajarkan. Ia menyesal, karena hanya membawa tiga topeng saat itu. Tapi, penyesalannya terobati, melihat antusiasme peserta workshop. ”Saya senang,” ujar dia.

Tapi, ia sadar. Perkembangan zaman tak bisa dikembalikan dengan cara memutar jarum jam. Sama sadarnya ia terhadap Iim Muharam, anak semata wayangnya, yang tak bisa meneruskan tradisi Topeng Betawi dalam keluarga. Itulah sebabnya, ia selalu membawa seorang anak perempuan, keponakannya, menyertainya dalam melatih tari Betawi. Harapannya, gadis kecil itu bisa menjadi penerus, menjaga kelangsungan hidup Topeng Betawi. []