Sumber: Kompas.

Lulus SMU di Aceh, Sahril Sidik (28) sempat mencicipi kerasnya pendidikan Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (kini IPDN) di Sumedang, Jawa Barat. Merasa tak betah di sana, ia turut kabur bersama teman-temannya ke Cirebon. Selanjutnya, ia menjalani pendidikan di Akademi Maritim Cirebon hingga tamat.

Ijazah dan pengetahuannya tentang maritim hanya dia manfaatkan selama 11 bulan, sewaktu bekerja di sebuah perusahaan kapal kargo. Urung jadi pelaut, kini Sahril justru menjadi pengusaha mangga gedong gincu.

Disebut pengusaha karena Sahril tak sekadar bertani, tetapi juga mampu mengekspor mangga secara kontinu ke Singapura. Mangga gedong gincu yang diekspornya ke Singapura itu selanjutnya merambah ke negara-negara lain. “Semua ini karena teman,” ungkap Sahril, yang kini tinggal di Taman Kapuk Permai, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Bagi Sahril, teman memang memegang peran penting dalam perkembangan bisnisnya. Pengalamannya berorganisasi di Forum Komunikasi Taruna Maritim Indonesia (Forkatami) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) membuat Sahril memiliki banyak teman dari berbagai daerah dan profesi. Organisasi mahasiswa ini memiliki jejaring dengan anggota dan alumni lain di seluruh Nusantara.

Pasar Singapura bisa ditembus Sahril berkat hubungan dengan teman yang sering melelang lukisan di Singapura. “Saya bantu-bantu pekerjaan dia, tetapi saya juga minta dia bawa sampel mangga ke Singapura,” ujar lelaki berdarah Aceh ini.

Kualitas juga yang akhirnya membuat pengiriman sampel itu berlanjut ekspor mangga dalam jumlah besar. Ia mulai mengirim sampel tahun 2004, lalu 16 ton di tahun 2005, dan tahun 2006 ini volume ekspor mangganya meningkat tajam sampai 113 ton.

Berkat bantuan seorang temannya yang bekerja di Amerika Serikat, komoditas mangganya mampu menembus pasar AS. Bahkan, menurut temannya tersebut, mangga gedong gincunya juga menjadi santapan kalangan staf di Gedung Putih, kantor kepresidenan AS. Soal persyaratan pastilah ekstra ketat. “Beratnya minimal 2,5 ons, penampakan bersih, dan bebas residu pestisida,” tutur Sahril.

Bermula dari cinta

Bisa dibilang, usaha Sahril bermula dari rasa cinta pada Cucu Sumiyati (28), yang kini telah disuntingnya. Rumah tangga mereka telah dikaruniai dua anak, yakni Rizky (4) dan Mila (11 bulan).

“Pada masa-masa pendekatan, saya berkunjung ke rumahnya dan disuguhi mangga gedong gincu. Karena enak, saya habis banyak,” kenang Sahril.

Mangga gedong gincu sejenis mangga indramayu (cengkir). Bedanya, gedong gincu ada semburat warna merah di pangkal buah, bentuknya membulat, rasa dagingnya lebih manis, sedangkan seratnya halus. Mangga gedong gincu banyak ditanam di daerah Majalengka dan Cirebon, Jawa Barat.

Dari pengalaman itu, Sahril tertarik untuk berusaha di bidang pertanian mangga. Ia kemudian menyewa dua batang pohon mangga di Desa Pasirmuncang, Kecamatan Panyingkiran, Kabupaten Majalengka, seharga Rp 1,6 juta.

“Ditambah biaya pemeliharaan, habisnya sekitar Rp 2,3 juta,” ujar Sahril.

Saat itu, harga mangga gedong gincu sekitar Rp 15.000 per kilogram. Alhasil, Sahril yang baru dalam tahap coba-coba bisa memetik keuntungan hingga 200 persen. “Itu baru saya jual ke saudara. Pikir saya, apalagi kalau dijual ke luar negeri,” tuturnya.

Menyewa kebun

Keberhasilan menjual mangga ke Singapura membuat ia berpikir untuk memperluas usaha. Tahun 2004, ia menyewa kebun mangga seluas enam hektar dari sejumlah petani.

Tahun ini, ia menyewa kebun mangga 30 hektar yang tersebar di Majalengka dan Cirebon. Sahril selektif dalam menyewa kebun mangga, yakni usia pohon setidaknya sudah sepuluh tahun sehingga tanaman sudah produktif.

Pengelola kebun kebanyakan merupakan petani pemilik dengan sistem gaji bulanan. Ia memberi mereka gaji sekitar Rp 750.000 per bulan. Jumlah itu lebih besar daripada upah minimum Kabupaten Cirebon yang Rp 524.000. Dengan sistem ini, petani mendapat keuntungan ganda. Sarana produksi, seperti pupuk dan obat, ditanggung oleh Sahril.

Cepatnya perluasan sewa lahan untuk mangga ini berkat pinjaman modal dari rekanan usaha Sahril di Singapura. Bahkan, untuk memperkaya pengetahuan, Sahril juga didorong untuk ikut pelatihan agrobisnis di berbagai tempat. Hal ini memperkaya pengetahuan Sahril dalam bertani mangga. Ia pun sering diundang menjadi pembicara dalam acara nasional yang terkait dengan usaha buah-buahan.

Sahril juga tak ragu menularkan pengetahuannya kepada para petani pengelola. Saat ini, ia membina 50 petani mangga. Sahril menyebutkan, jumlah itu masih sangat kurang karena permintaan mangga datang dari berbagai negara, seperti Turki dan China.

Kesulitannya, banyak pemilik pohon mangga yang terbiasa memperlakukan pohon mangga sebagai pohon warisan. “Mereka berpikir, tanpa dipelihara pun pohon sudah berbuah,” ujar Sahril.

Untuk mangga kualitas non-ekspor, ia jual ke pasar dalam negeri. Namun, ada juga pasar dalam negeri yang menghendaki mangga dengan kualitas ekspor, misalnya toko swalayan dengan sasaran kalangan menengah ke atas. Stok mangga kualitas non-ekspor yang melimpah membuat ia memperluas jenis usaha, yakni membuat jus mangga melalui kerja sama dengan sebuah pabrik di Surabaya.

Sejauh ini, Sahril tetap berpatokan pada standar mutu buah di Singapura. “Kalau di Indonesia, asal ada (ia menggosokkan ujung telunjuk dan jempol) kualitas kurang bagus pun bisa lolos. Akibatnya, barang dikembalikan,” ungkap Sahril. []