Sumber: Republika.

Tak sulit mencari alamat Nia Yuniarsih di RT 03/15 Kampung Bulak, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur. Saat menanyakan kepada seorang penjaga portal mengenai nama Nia, sang penjaga dengan sigap menjawab. “Oh yang kompos itu ya,” ujarnya polos sembari memberi petunjuk untuk sampai ke Gang II, RT 003/015.

Lebar gang itu hanya sekitar 1,5 meter. Itu berarti hanya satu motor yang leluasa masuk. Meski demikian, saat memasuki gang, keasrian sangat terasa. Di kanan kiri dipenuhi berbagai jenis tanaman yang ditanam dalam pot yang terbuat dari botol bekas air kemasan 1,5 liter. Namun botol itu telah dibentuk menjadi pot yang indah dan dicat berwarna-warni. Ada yang digantung di dinding tembok rumah penduduk, dan ada pula yang diletakkan di pinggir gang. Tanaman seperti palu hujan, daun sirih, daun dewa, lili paris, wali songo, lidah buaya, brotowali, menghias gang tersebut.

Sebuah saung beratap plastik berdiri kokoh di pinggir gang itu. Ukurannya hanya sekitar 2 x 1,5 meter. Tertulis papan nama ‘Tempat Pembibitan Toga dan Pembuatan Kompos’. Dua buah tong warna biru setinggi satu meter berdiri di dalam saung, ditemani empat ember ukuran sedang. Alat-alat itu biasa dipakai untuk proses pembuatan kompos.

Tutup warung

Pembawaannya ramah. Usianya belum mencapai 30. Namun, jiwa kepemimpinannya terlihat cukup menonjol. Saat ditemui di suatu siang yang terik, ia bersama ibu-ibu rumah tangga di RT 003/15 Kampung Bulak, Klender, Duren Sawit, Jakarta Timur, tengah mencacah sampah sisa sayuran. Tanpa bantuan mesin pencacah. Di tangannya, sampah itu akan dijadikan kompos.

Nia Yuniarsih namanya. Wanita yang belum diberi momongan ini begitu tekun mengampanyekan kebersihan di lingkungan tempat tinggalnya. Berkat kegigihannya bersama sejumlah ibu-ibu lainnya, lingkungan RT 003/RW 15 Kampung Bulak menjadi sebuah lingkungan yang mendapat perhatian. Di lingkungan RT 003/RW 15 ini Nia aktif di berbagai kegiatan masyarakat. Ia aktif menjadi kader posyandu dan kader lingkungan. Ia juga menjadi sukarelawan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di lingkungan RW tempatnya tinggal.

Kegiatan sebagai guru PAUD itu dilakoninya dari Senin hingga Sabtu tanpa dibayar, pada pukul 8-10 pagi. Murid-muridnya berkisar usia 2-6 tahun dari keluarga tidak mampu. “Kalo dipikir, hasilnya emang cuma capek aja, tapi buat kepentingan masyarakat juga,” ujar lulusan Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP) Wisata Satria di Bogor tahun 1996 ini.

Saking aktifnya di kegiatan sosial, Nia pun rela sering meninggalkan warung sembako di rumahnya. Padahal jika buka setidaknya ia bisa menghasilkan Rp 300 ribu per hari. Nia beruntung mempunyai suami yang tidak menuntut macam-macam. “Dia mah menyerahkan kepada saya, terserah mau buka warung atau mau kerja sosial,” ujar wanita kelahiran Bogor 12 Januari 1978 itu.

Pelanggannya sering komplain karena warungnya sering tutup. “Kalo nggak ada yang mau turun ke bidang sosial, siapa lagi dong? Nanti nggak ada kemajuannya dong,” ujar Nia yang mengaku sudah terbiasa berorganisasi sejak di bangku sekolah.

Olah sampah

Pada April 2006, RT-nya mengikuti lomba Jakarta Green and Clean atau Jakarta Bersih dan Hijau se-DKI yang disponsori sebuah perusahaan swasta. Pesertanya 150 RT. Hasilnya RT 003 masuk nominasi 20 besar. Dari 20 dipilih lima besar. RT Nia mendapat penghargaan khusus dalam kreativitas mengolah sampah.

Dengan hasil itu empat orang dari RT 003 diutus sebagai kader untuk ikut pelatihan di perusahaan sponsor. Nia salah satunya. Di sana Nia mendapatkan pelatihan pembuatan kompos dan kerajinan tangan dengan memanfaatkan sampah.

Ia mulai paham bagaimana memisahkan sampah. Sampah kering buat kerajinan tangan, dan sampah basah dibikin kompos. Setiap rumah di RT 003 dikasih dua tong sampah. Warna oranye dan warna biru. Tong oranye untuk sampah kering, tong biru untuk sampah basah. “Sampah sudah dipilah dari rumah,” ujar Nia. Untuk sampah basah selanjutnya diolah oleh sekitar enam orang ibu rumah tangga yang aktif membuat kompos. Nia bertindak selaku koordinator.

Bagi Nia, untuk tetap menciptakan lingkungan yang sehat, warga harus terus disemangati mengenai penyadaran arti pentingnya kebersihan. “Alhamdulillah, sebagian besar sudah pada mau dan mengerti,” ujar istri seorang karyawan swasta bernama Heri Purwanto itu. Acara arisan tiap bulan pun tak dilewatkannya untuk mengingatkan warga agar memilah sampah basah dan kering.

Anak-anak kecil pun secara tidak langsung diajari memilah sampah. Yakni setiap habis makan jajan kemasan, mereka diminta membuang plastiknya ke tong oranye. Saat senggang pun, Nia tak sungkan keliling ke setiap rumah mengambil sampah.

Di RT 003, saat ini sudah terjadwal, sekitar 12 orang setiap harinya melakukan kerja bakti harian membersihkan sampah. Kerja sama itu tetap dijaga. “Jika bapaknya berhalangan, digantikan istri. Jika istri pun berhalangan digantikan anak,” ujarnya. Jika absen, maka keluarga tersebut kena denda Rp 5.000 untuk dimasukkan ke kas RT. Kerja bakti dilakukan dengan keliling satu RT sembari membawa sapu.

Saat ini hasil dari kompos Nia dan rekan-rekannya belumlah seberapa. Per tiga bulan hanya dihasilkan satu karung kompos. Warga yang membutuhkan, kemudian memanfaatkan kompos itu beramai-ramai.

Meski dengan cara sederhana, Nia tak kawan-kawan terus gigih mengolah sampah dan menata lingkungan. “Biar Jakarta menjadi adem serta lebih hijau lagi. Setidaknya untuk lingkungan RT kami,” tandasnya. []