Sumber: Kompas.

Setia Jaya, itulah pilihan I Wayan Rudja (75), warga asli Desa Sampalan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali, untuk nama perusahaan tenun endek-nya.

Nama itu mencerminkan tekadnya untuk terus setia demi kejayaan tenun endek sampai kapan pun. Lebih dari 30 tahun ia mempertahankan usaha tenun endek. Bahkan, Wayan Rudja sempat diperolok “gila” oleh orangtuanya karena kesetiaannya pada kain khas Klungkung yang dibuat dengan alat tenun bukan mesin itu.

Bagi orangtuanya yang bertani, ia dianggap lebih mapan dengan profesinya sebagai akuntan di perusahaan kontraktor besar di Jakarta, pada usia 35 tahun. Namun, buat Rudja, kemapanan itu justru menggelisahkan sehingga dia minta berhenti begitu saja dari perusahaan.

Kala itu, ia dipindahtugaskan kembali ke Bali. Pada saat itu pula dia tersentak melihat puluhan tetangganya tidak bekerja karena kehilangan pekerjaan sebagai dampak letusan Gunung Agung sekitar tahun 1962.

“Ketika itu, spontan tiyang (saya) berpikir keras bagaimana caranya bisa membangun usaha padat karya sehingga para tetangga bisa kembali sejahtera. Tidak menganggur seperti waktu itu,” tuturnya sambil membenahi alat bantu pendengaran yang dia kenakan.

Terlintas di benaknya untuk membuat usaha tenun ikat yang di daerah kelahirannya disebut tenun endek dalam produksi massal. Dia mengaku, modalnya memulai usaha hanya tekad. Adapun urusan keahlian menenun, ia mengaku sama sekali tidak tahu-menahu. “Tiyang hanya sering melihat orangtua dan para tetangga menenun di kampung,” ungkapnya.

Inovasi

Meskipun awam dalam teknik menenun, Rudja selalu ingin memperbaiki produk endek. Waktu itu para perempuan menenun endek berukuran lebar sekitar 12 sentimeter yang biasa digunakan untuk setagen (ikat pinggang). Kalaupun dipakai untuk kebaya, mereka harus menyambung dua kain endek yang masing-masing lebarnya sekitar 60 sentimeter agar lebarnya menjadi 120 sentimeter.

Ide memperbaiki endek muncul dari istrinya yang menyampaikan bahwa banyak pembeli di pasar yang minta kain tenun endek selebar 120 sentimeter tanpa sambungan. Rudja menyatakan, itu bisa dilakukan. Seketika dia pun berpikir keras untuk mencari cara, dan harus bisa.

Dari referensi dan diskusi dengan beberapa orang, Rudja lalu mencoba merakit sendiri alat tenun bukan mesin (ATBM). Setelah berhasil membuat ATBM, usahanya mulai beroperasi. Menjelang tahun 1990-an, perusahaan tenun endek-nya sudah memiliki sekitar 500 karyawan sebagai penenun. Pesanan pun membanjir, kebanyakan dari perusahaan atau perkantoran yang memesan untuk seragam pegawai.

Dari “kegilaan”-nya itu Wayan Rudja telah membuktikan keberhasilan melakukan inovasi pada kain tenun endek. Lelaki sederhana yang saat ditemui hanya mengenakan kaus dan sarung itu menyatakan bangga pada hasil keringatnya selama ini.

Ia sempat bekerja sama dengan organisasi pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) di Jakarta dalam usaha padat karya. Sayangnya, kerja sama itu mengecewakan Rudja sebab beberapa pegawai pemerintah daerah tidak membantu, tetapi malah minta komisi.

“Tiyang kesal pada para oknum itu dan tidak mau lagi ikut proyek-proyek. Usaha ini murni untuk membantu masyarakat agar ada lapangan pekerjaan. Bukan untuk didomplengi,” ujarnya.

Rudja juga menyatakan kekesalannya terhadap kebijakan pemerintah karena pernah punya pengalaman tidak mengenakkan. Izin usaha perusahaannya terancam tidak terbit karena dianggap tidak dapat memperlihatkan fisik pabrik.

“Tiyang kan tidak bisa membuktikan semua aktivitas yang biasa dibilang pabrik itu diterapkan pada (industri) tenun. Apa salah ketika pekerja tiyang yang perempuan penenun dan sudah menikah bekerja di rumah masing-masing? Mereka kan punya anak yang perlu diperhatikan dan dirawat,” paparnya.

Karena itu, ia bersikeras tidak setuju dengan kebijakan yang menentukan bahwa seorang pekerja harus melakukan kegiatan di satu tempat yang disebut pabrik. Berkat keteguhan hatinya itu, ia berhasil mendapat izin usaha yang dikeluarkan oleh Departemen Perindustrian dan Perdagangan Pusat.

Memberi manfaat

Kini usahanya dilanjutkan salah satu anak lelaki beserta menantunya. Ia mengajarkan kepada anak-anaknya agar tidak berangan-angan jadi pegawai kantoran. Bagi Rudja, hidup ini lebih berharga jika bisa menciptakan pekerjaan dan memberi manfaat kepada banyak orang.

Ia mengaku sedih jika ada anak muda yang sebenarnya punya potensi, tetapi mengacaukan persaingan usaha yang sehat. Akibatnya, justru mematikan usaha-usaha lama.

Termasuk usaha endek di Klungkung yang makin menyurut karena persaingan yang menurut Rudja tidak sehat, seperti masuknya kain-kain dari luar daerah Pulau Dewata dengan harga murah. Akibatnya, permintaan pada endek menurun dan ratusan penenun terpaksa menganggur.

Kini, meskipun sudah tidak seratus persen mengelola usaha tenunnya lagi, Rudja terus bereksperimen. Ia menginginkan tenun endek kembali berjaya dengan corak dan motif bervariasi.

Bersama anak dan menantunya, ia kini tengah mencoba membuat endek yang dipadu batik. Jadi, tidak hanya divariasi bentuk-bentuk seperti tas, dompet, tatakan piring atau gelas saja. Harapannya pun besar kepada penerusnya agar Setia Jaya tidak hanya jadi legenda, tetapi tetap setia menjadikan jaya tenun endek Klungkung. []