Sumber: Kompas.

Tidak terbayangkan jika mantan pengemudi bemo di Kota Bogor tahun 1968-an ini suatu saat menjadi pengelola Pasar Mobil Kemayoran, Jakarta. Dari semula lahan kecil di kawasan Kota Baru Bandar Kemayoran yang dipenuhi semak belukar, dia garap menjadi sebuah kawasan Pasar Mobil Kemayoran terbesar di Indonesia. Bahkan boleh dikata terbesar di Asia.

Tak terbayangkan, karena awalnya susah mengajak pedagang datang kemari, kata Johnnie Syam (56), akhir Juni lalu. Pasar Mobil Kemayoran (PMK) yang mulai dirintis tahun 1995 dengan 30-an pedagang mobil, termasuk sejumlah agen tunggal pemegang merek (ATPM) mobil, awalnya menempati lahan seluas 28.000 meter persegi. Secara bertahap sampai tahun 2003 hingga kini luas lahan yang dipergunakan mencapai 90.000 meter persegi atau 9 hektar. Adapun Kota Baru Bandar Kemayoran (KBBK) luas totalnya 454 hektar.

“Saat ini tercatat ruang pamer mobil sebanyak 205 unit, kios onderdil dan variasi sebanyak 810 unit. Jumlah pedagang sekitar 5.000 orang, montir 800 orang, petugas satuan pengamanan sekitar 100 orang, petugas kebersihan 150 orang, dan pedagang makanan dan minuman sekitar 200 orang, di luar maupun di dalam PMK. Sebanyak 30 pedagang di antaranya menempati tiga kantin yang berada di dalam PMK,” kata Johnnie seraya menambahkan, sekitar 2.000 mobil bekas dan baru, dari harga puluhan juta rupiah sampai satu miliar rupiah per unit, dipasarkan di PMK.

Adapun pajak pertambahan nilai yang dibayar tahun 2005 sebesar Rp 1,5 miliar dan pajak penghasilan tahun 2005 sebesar Rp 1,5 miliar. Sedangkan pajak bumi dan bangunan tahun 2005 yang dibayar sebesar Rp 67 juta.

“Selain itu, saya juga membayar sebesar 30 persen kepada Koperasi Karyawan Direksi Pelaksana Pengendalian Pembangunan Kompleks Kemayoran (DP3K) dari pendapatan yang kami peroleh dari uang sewa yang dibayar pedagang,” kata Johnnie tentang kontribusinya kepada pemerintah dan pengelola kawasan DP3K.

Suami dari Grace Puspasari yang telah dikaruniai dua putri ini menyebutkan, awalnya sangat susah membujuk pedagang mobil untuk menempati lahan di depan Pekan Raya Jakarta (PRJ). “Mereka menganggap daerah ini tak bakal didatangi orang. Orang tak yakin menjadi pusat perdagangan. Saya bujuk satu per satu agar mereka mau menempati lahan tersebut. Kebetulan sejumlah pedagang mobil, sejumlah ruang pamer mobil di Kelapa Gading kena gusur karena lahannya akan diperuntukkan pembangunan apartemen,” katanya. Akhirnya mereka inilah yang mau menempati lokasi di depan PRJ.

“Kami akhirnya berhasil mengumpulkan 30-an pedagang mobil. Saya lalu mengajak ATPM untuk menempati kawasan itu. Kesediaan ATPM sejumlah otomotif ini membuat pedagang mobil mulai berdatangan secara bertahap,” kata Johnnie yang meraih gelar Sarjana Administrasi Niaga pada sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta tahun 1978.

Semula bursa mobil

Awalnya, kawasan yang dirintis ini diberi nama Bursa Mobil Kemayoran. Tulisannya cukup mencolok pada sebuah billboard di pintu masuk. Nama itu menjadi perhatian Gubernur DKI Jakarta Surjadi Soedirdja yang pulang seusai peresmian PRJ pada tahun 1996.

“Saya kena tegur Direksi DP3K. Saya katakan nama bursa itu hanya untuk gagah-gagahan saja, bukan usaha penanaman modal yang besar. Sesuai saran Direksi DP3K, nama itu saya ubah menjadi PMK,” tuturnya.

Namun, pihak Pemerintah Provinsi DKI, toh, tetap menegur Johnnie untuk membuat surat izin peruntukan penggunaan tanah (SIPPT). Akhirnya Johnnie memenuhi teguran untuk membuat SIPPT ke Pemerintah Provinsi DKI. “SIPPT dengan biaya yang cukup besar itu selesai dalam waktu enam bulan,” kata Johnnie yang meraih gelar Magister Manajemen dari STIE Nusantara Jakarta tahun 2006 dan sebelumnya, tahun 1991, meraih gelar Master of Business Administration.

Sesuai dengan kontrak kerja sama bagi hasil dengan Koperasi Karyawan DP3K sampai dengan 30 April 2010, Johnnie pun hanya mengembangkan usahanya seluas 9 hektar.

“Setelah berhasil mengumpulkan pedagang mobil, saya lalu membujuk pedagang onderdil dan variasi di berbagai tempat di Jakarta satu per satu. Berkumpulnya pedagang mobil di tahap pertama itu telah menjadi daya tarik bagi pedagang lain. Pedagang mobil pun akhirnya berdatangan untuk ikut bergabung. Saya lalu melakukan perluasan tahap kedua seluas 3 hektar pada tahun 1997, kemudian disusul tahap III seluas 1,5 hektar dan tahap IV 2 hektaran pada tahun 2003 sehingga total menjadi 9 hektar,” kata Johnnie seraya menyebutkan sehari sekitar 1.000 pengunjung datang ke PMK.

Bangunan ruang pamer di PMK masing-masing luasnya 8 x 10 meter, untuk kios onderdil dan variasi antara 2,7 x 5 meter dan 2 x 6 meter, serta tenda untuk bengkel montir ukuran 2 x 3 meter. Sewa ruang pamer Rp 30 juta-Rp 45 juta per tahun, kios onderdil dan variasi sebesar Rp 25-an juta per tahun, sedangkan untuk bengkel montir Rp 150.000 per bulan. PMK dibuka mulai pukul 09.00 hingga pukul 18.00

Citra pasar yang bersih juga diupayakan Johnnie. “Petugas kebersihan aktif di sini. Setiap pagi sebelum PMK dibuka, lahan seputar PMK tampak bersih,” ucapnya.

Dan tidak seperti pasar lain, mereka yang buang air kecil di PMK tak dipungut bayaran. Sebanyak delapan toilet umum dibangun terpencar, masing-masing dua kamar untuk pria dan dua kamar untuk wanita, dengan menempatkan petugas kebersihan agar senantiasa tetap bersih dan tak bau.

Mushala pun dibangun. Asrama satpam juga dibangun di lokasi PMK. Bahkan kini sudah ada empat bank beroperasi untuk memudahkan konsumen dan pedagang dalam bertransaksi.

Kiatnya? Semboyan usaha Johnnie ini pun unik: Sasamu, alias sama-sama untung…. []