Sumber: Kompas.

Banyak nelayan menempuh jalan pintas untuk panen besar. Menggunakan bahan peledak, racun sianida, atau potas. Tetapi, cara itu tidak pernah menggoda Udu, nelayan kecil di pantai barat Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Sebagai nelayan tradisional, penghasilan Udu sangatlah kecil, sama seperti umumnya nelayan di Desa Tapitapi, Muna. Tetapi, dia tidak pernah tergoda menempuh jalan pintas, kendati cukup banyak anggota keluarga yang menjadi tanggungannya.

Ke mana nelayan harus mencari ikan jika habitatnya hancur dibom adalah pertanyaan yang selalu menghantui Udu. Padahal, tanpa dibom atau diracun pun potensi ikan perairan dangkal makin berkurang akibat pertambahan nelayan dan peningkatan produksi sejalan makin modernnya alat tangkap.

Persoalan itu dijawab Udu dengan merintis usaha budidaya perikanan. “Sudah sering saya mendengar informasi dari Bau-Bau atau Kendari tentang pembelian ikan kerapu hidup untuk diekspor. Masalahnya, saya belum berpengalaman di bidang budidaya dan tak punya modal,” ungkap Udu di rumahnya yang berada di “tengah laut”.

Desa Tapitapi memang berlokasi di laut, sekitar tiga kilometer dari bibir pantai barat Pulau Muna. Itu ciri khas permukiman masyarakat suku Sama (Bajo) di Sulawesi Tenggara. Untuk ke Tapitapi kita harus naik perahu ketinting dari Desa Wadolao, 86 kilometer barat daya Raha, ibu kota Kabupaten Muna.

Pada saat air surut, muncul gundukan pasir cukup luas di sekitar perkampungan tersebut. Udu memulai usaha budidaya kerapu dengan caranya sendiri. Ia membuat kolam dengan menggali gundukan pasir tadi, lalu ditebari bibit ikan kerapu yang diambil dari alam.

Setahun kemudian ikan dipanen dengan total produksi 800 kilogram dan dia jual seharga Rp 10 juta. “Uang sebesar itu pada tahun 1993 masih tinggi nilainya,” tutur Udu tentang panennya yang pertama.

Tumbuh kembali

Pendapatan sebesar itu merupakan hasil dari kolam percobaan berukuran 11 x 11 meter dengan kedalaman satu meter. Keempat sisi dinding kolam ditinggikan dengan bentangan jaring yang menempel pada tiang tancap agar ikan tak lolos keluar saat air pasang.

Udu yang tak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah, dan lahir di Tapitapi 58 tahun silam itu, makin bersemangat mengembangkan usahanya. Kolam yang pertama diperluas. Bibit kerapu yang dibudidayakan adalah yang berukuran panjang sekitar lima sentimeter.

Bibit tersebut diberi makan ikan-ikan kecil minimal sekali sehari. Dalam waktu 11-12 bulan, kerapu itu sudah layak panen dengan berat rata-rata mencapai enam ons setiap ekor. Menurut Udu, ukuran tersebut sudah masuk kelas super yang kini berharga Rp 20.000 per kilogram.

Satu hal yang menjadi perhatian ayah dari 13 anak itu ketika melakukan penggalian kolam adalah keberadaan bongkahan karang dalam timbunan pasir.

“Karang itu sudah mati, tetapi saya biarkan di dasar kolam sebagai tempat berlindungnya anak-anak kerapu,” tuturnya.

Beberapa waktu kemudian tanpa disangka batu-batu karang itu tumbuh kembali. Kabar gembira itu segera disampaikan kepada tetangga dan sesama warga Desa Tapitapi.

“Setelah terumbu karang makin tumbuh dan berkembang, saya mulai mengajak warga ikut membuka usaha budidaya kerapu. Selain hasilnya cukup lumayan, budidaya kerapu ini mampu menghidupkan kembali terumbu karang yang sudah mati,” ujar Udu.

Alhasil, dari sekitar 450 keluarga Tapitapi, 60 keluarga di antaranya bergabung dalam kelompok Samaturu. “Setiap peserta mengelola kolam budidaya seluas 11 x 11 meter,” tutur Nggure (50), anggota kelompok itu.

Kejutan lain muncul di kolam budidaya kerapu, terutama di kolam milik Udu yang luasnya 10 hektar. Berbagai jenis ikan laut yang enak disantap, seperti baronang, kakap merah, dan ikan putih, kini berkembang biak alami bersama terumbu karang di kolam budidaya kerapu. Ikan-ikan ikutan itu menjadi sumber pendapatan tambahan.

Menangis di istana

Di dinding ruang tamu rumah Udu yang sederhana tergantung foto dirinya sedang bersalaman dengan Presiden Megawati Soekarnoputri. Peristiwa bersejarah itu berlangsung di Istana Negara pada 20 Januari 2004.

“Saya menerima piagam penghargaan yang diserahkan langsung oleh Ibu Presiden,” kenang Udu dengan mata berbinar. Piagam itu untuk Kelompok Samaturu yang dipimpinnya sebagai pemenang kedua lomba budidaya kategori Intensifikasi Budidaya Kerapu Tingkat Nasional Tahun 2003.

Udu mengungkapkan, saat sedang duduk di ruang pertemuan Istana Negara bersama undangan lain dari seluruh Indonesia untuk bertatap muka dengan Presiden Megawati, ia sempat tercenung dan meneteskan air mata. “Saya terharu mengingat saya ini nelayan miskin, tak punya sekolah, namun bisa menjadi tamu Presiden di Istana,” ungkapnya.

Keberhasilan yang diraih suami Hajah Marawiah dan Waaba ini niscaya cukup bermakna sebagai pembudidaya kerapu dan berbagai jenis ikan konsumsi lainnya, dan yang lebih penting sebagai penyelamat terumbu karang.

Dari kedua istrinya itu dia dikaruniai 13 anak, empat di antaranya telah menyandang gelar sarjana. Beberapa anak Udu yang lain masih kuliah di Kendari serta bersekolah di SMEA negeri dan SD di Kota Bau-Bau. []