Sumber: Kompas.

“Waktu pertama kali mencoba memberdayakan petani setempat, golok yang saya hadapi,” kenang Pemimpin Pondok Pesantren Al-Ittifaq KH Fuad Affandi (58). Ihwalnya, saat itu dia menganjurkan masyarakat menanam tomat dan kubis. Tak disangka, harga kedua komoditas itu jatuh sehingga membuat petani murka.

Mereka mendatangi pondok pesantren (ponpes) yang berlokasi di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu. Untunglah kemarahan petani dapat diredakan, tetapi Fuad sempat tertekan atas kejadian tersebut. Meski demikian, tekadnya meningkatkan harkat dan derajat hasil agrobisnis petani tak luntur.

Kini, Ponpes Al-Ittifaq menjadi salah satu penyalur buah dan sayur untuk pasar swalayan besar di Jakarta, yaitu Hero, Makro, dan Giant. Adapun di Bandung, menurut Fuad, seluruh pasar swalayan menjadi langganannya, seperti Yogya, Matahari, dan Superindo.

Kapasitas produksinya sekitar 3,5 ton per hari, satu ton dari lahan pesantren dan sisanya dari lahan 400 warga sekitar. Jenis produk terdiri dari 26 sayur dan buah, antara lain tomat, wortel, bawang daun, dan selada.

Al-Ittifaq merupakan salah satu yang paling lama menyalurkan sayur dan buah ke pasar swalayan besar, yaitu sejak tahun 1993. Tentu pada awalnya ada kesulitan. Pengiriman pertama mengalami kegagalan. Fuad kebingungan dengan istilah seperti grading (pengelompokan) atau wrapping (pengepakan).

Fuad merasa kekurangan pengetahuan itu harus menjadi tanggung jawab bersama, antara petani pemasok dan pasar swalayan. Suryadharma Ali, kini Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, yang ketika itu manajer di Hero, lalu mengutus sarjana pertanian untuk mendidik santri Al-Ittifaq selama tiga bulan dengan biaya dan peralatan yang ditanggung Hero.

Akhirnya, barang dikirim dengan rapi dan kualitas produk pun terjaga. Fuad, kelahiran Ciburial, Kabupaten Bandung, 20 Juni 1948, itu mengungkapkan, sedikit cacat saja pada produk yang ditawarkan, bisa membuat Suryadharma marah.

“Dia sempat datang ke Al-Ittifaq beberapa kali,” tutur suami Hj Sa’adah dan ayah dari Neneng Ilan, Neti Hasanah, Reni, Isye Zubaidah, dan Evi Fitrianti ini.

Generasi ketiga

Ponpes Al-Ittifaq berdiri pada tahun 1934. Fuad adalah pemimpin Al-Ittifaq generasi ketiga atau cucu dari sang pendiri, KH Mansyur. Pada awalnya, boleh dikata ilmu pengetahuan ponpes “berjalan di tempat”. Para santri dilarang mengenal pejabat pemerintah. Media massa, seperti radio dan televisi, dianggap haram. Fuad sendiri hanya bersekolah sampai kelas empat setara sekolah dasar dan tidak berijazah.

Namun, dia berpikir, jika pola kehidupan seperti itu terus dipertahankan, masyarakat setempat dan santri tidak akan maju. Tekad mengangkat harkat santri dan masyarakat petani sekitar membuat Fuad mengubah pemahaman tersebut.

Selama kepemimpinannya, sudah lebih dari 10 menteri berkunjung ke Al-Ittifaq. Pengembangan usaha membuat Al-Ittifaq juga memiliki peternakan untuk mencegah limbah sayur yang tidak memenuhi standar menjadi mubazir dengan menjadikan limbah organik itu sebagai pakan ternak.

“Di Al-Ittifaq terdapat 300 santri, tidak ada yang membawa beras. Semua dikaryakan. Silakan belajar, tetapi mereka juga harus punya keahlian,” paparnya.

Santri setingkat sekolah dasar mengurus budidaya tanaman, ternak sapi dan kambing, serta kolam ikan. Pada tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama, santri mengelola gudang serta mengurusi pengepakan, pemberian label, dan penyortiran. Sedangkan santri setingkat sekolah tingkat lanjutan atas bekerja di bidang pemasaran.

Al-Ittifaq juga mampu membantu Pemerintah Kabupaten Bandung dengan memperbaiki jalan-jalan di kampung sekitar pesantren, menyediakan air bersih, dan menata gang-gang. Tahun 2001 Fuad menerima Satya Lencana Wirakarya dari Presiden RI dan pada tahun 2003 meraih Kalpataru untuk kategori Penyelamat Lingkungan. Tahun 2005 dia memperoleh penghargaan organisasi sosial berprestasi.

Lintas agama

Berada di bawah naungan Departemen Agama, Ponpes Al-Ittifaq juga mendapat dukungan dari Departemen Pertanian, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Sosial, Departemen Perdagangan, serta Kementerian Negara Urusan Koperasi dan UKM.

Beberapa perguruan tinggi, seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Institut Pertanian Bogor, juga mengadakan kerja sama di bidang teknologi, penelitian, serta tesis dan skripsi untuk mahasiswa.

HR Nuriana, mantan Gubernur Jabar, menyebut Al-Ittifaq sebagai ponpes terpadu sebab menggabungkan ilmu agrobisnis dan agama. ’Al-Ittifaq’ sendiri berarti kerja sama yang baik. Artinya, kata Fuad, bisnis dan ilmu pengetahuannya bersifat lintas agama, seperti pada Juni 2006 sebanyak 11 warga non-Muslim dari Papua belajar manajemen agrobisnis di Al-Ittifaq.

“Tidak akan ditanya agamanya apa. Saya juga mengangkat asisten bidang teknologi pertanian yang beragama Katolik. Kerja samanya di bidang ilmu pengetahuan,” ungkapnya. Asisten itu mengajarkan cara bercocok tanam seperti di Taiwan atau membuat pupuk seperti di Belanda. []