Sumber: Kompas.

Pengalaman adalah guru terbaik bagi Saparudin (39). Betapa tidak. Pengalaman disertai amatan, semangat mencoba, dan ingin tahulah yang telah mengantarkan warga Dusun Mapak Dasan, Desa Kuranji, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat ini, mampu memproduksi pestisida alami yang dia beri nama Superbio.

Pestisida alami tersebut memang bahan bakunya dari alam. Saparudin menggunakan gula merah, air beras, kunyit, jahe, kencur, temu lawak, temu ireng, lengkuas, legundi, tetunggeng (istilah lokal), tembakau, dan beberapa akar tanaman, serta tuak manis. Ada satu materi yang enggan diungkap, yaitu bakteri plus, dengan alasan menjadi “rahasia perusahaan”.

Menurut lulusan Sekolah Menengah Pertama VI Mataram tahun 1986 ini, bakteri plus itu punya fungsinya yang sama dengan pestisida bermerek, EM4, yaitu pengurai dan membuat rongga di dalam tanah agar tanaman bisa bernapas.

Setelah formula dicampur, larutan itu ditambah air secukupnya, kemudian disemprotkan ke tanaman yang diganggu hama dan penyakit. Dari percobaan lapangan yang terus dilakukan tahun 2000, Saparudin menemukan bahwa pestisida alami itu sangat ampuh untuk mengusir hama, merangsang pertumbuhan tanaman, dan meningkatkan produksi 20 persen-30 persen.

Dangdut sasak

Superbio telah dia buktikan mampu mengusir dan mematikan hama penggerek batang padi, juga membunuh ulat yang menyerang bawang merah dan cabai. Semprotan biopestisida Saparudin pada satu galur tanaman cabai saat masa awal pertumbuhan yang rentan serangan hama dan penyakit, berhasil mendorong tumbuhnya daun baru pada batang yang diserang hama. Sedangkan yang tanpa disemprot pestisida alami mati seketika akibat serangan ulat.

Karena keampuhan yang telah terbukti itu, para petani yang telah mengenal biopestisida itu menjuluki Superbio sebagai “dangdut sasak”. “Rupanya petani senang melihat tanamannya tumbuh subur dan daunnya lalu bergoyang ditiup angin,” tutur Saparudin perihal sebutan dangdut tadi.

Kini, temuan Saparudin menarik perhatian banyak pihak, antara lain Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat. Suami dari Helmi ini tengah bekerja sama dengan lembaga pemerintah daerah itu untuk menguji coba Superbio pada tanaman kedelai.

Kedelai biasanya diserang lalat bibit saat berumur 0-14 hari. Hama yang mematikan adalah ulat hasil perkawinan lalat jantan dan betina. Serangan ini menyebabkan kerusakan kedelai sekitar 30 persen setelah 20 hari sejak ditanam.

Cara untuk menghindari perkawinan serangga itu, lalat bibit jantan dibuatkan perangkap dengan botol plastik bekas wadah minuman air mineral. Kemudian, botol tersebut diisi racikan bahan alami sedikit, yang fungsinya mengundang pejantan masuk ke dalam botol.

Hasilnya, bisa dilihat di areal demplotnya. Setelah sekitar dua bulan, tinggi batang kedelai mencapai 80 sentimeter. Keadaan ini berbeda dengan tanaman sejenis milik petani lain yang tinggi batangnya 40 cm. Padahal, Saparudin terlambat menanam kedelai 14 hari dibanding petani lain.

Pestisida “dangdut sasak” saat ini belum diproduksi secara massal. Saparudin baru membuat Superbio untuk kepentingan sendiri dan pesanan kalangan petani, dengan total produksi sekitar 600 liter per bulan. Sebotol pestisida ukuran satu liter botol air mineral dijual Rp 20.000, meski untuk partai besar harganya lebih murah menjadi Rp 10.000.

Baskom nira

Keterampilan anak ketiga dari tujuh bersaudara pasangan Amak Jumawi-Inak Rumeni ini meracik formula pestisida bermula tahun 1980-an. Saat itu, ayahnya yang produsen gula aren, sambil menjunjung baskom berisi air nira, berjalan menuju rumahnya melalui pematang yang di kiri-kanannya, antara lain, ditumbuhi tanaman kacang panjang.

Rupanya baskom itu tersangkut pada tanaman di sekitar pematang, membuat air nira tumpah dan menyiram pohon kacang panjang yang berbuah lebat. Dua hari kemudian, kacang panjang itu tumbuh kian baik, malah tidak ada seekor pun serangga yang mengerubungi buahnya.

Rumahnya yang terletak di tengah sawah menjadi bahan ajar utama bagi Ketua Kelompok Tani Sinar Terang ini. Semasa kecil, ketika musim hujan, petani dan buruh tani acapkali digigit lintah yang sulit disingkirkan jika sudah menempel di bagian kaki. Berdasarkan kebiasaan yang dilakukan para orang-orang tua, mereka menggunakan air tembakau untuk memaksa lintah tersebut melepaskan cengkeramannya. Selama ini terbukti cara itu ampuh.

“Pada malam hari, orangtua kami membakar daun lego (legundi) yang ternyata fungsinya untuk mengusir nyamuk,” ungkap Saparudin. Akar, daun, dan umbi tanaman tetunggeng punya kemampuan membunuh anjing.

Kenyataan empiris dan kearifan lokal itulah yang membantu Saparudin mengembangkan keterampilan. Pengetahuannya dapat “disejajarkan” dengan para peneliti bergelar akademik.

Tidak sedikit pengusaha, peneliti, dan ilmuwan luar negeri, seperti dari India, Jerman, dan Amerika Serikat, datang untuk berbagi pengalaman seraya menyaksikan sendiri daun-daun tanaman yang bergoyang dangdut setelah disemprot pestisida alami bikinan Saparudin. []