January 2007


Sumber: Kompas.

Kedua orangtuanya hanya bisa marah dan menahan kecewa ketika MH Aripin Ali (36) lari meninggalkan bangku kuliahnya pada semester terakhir di sebuah universitas swasta di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kuliah di perguruan tinggi tidak memberikan apa-apa bagi dirinya kecuali janji ijazah.

Sejak itu Aripin jadi penganggur. Ia ditampung oleh kawan-kawannya mahasiswa di Bandung. Sehari-hari pekerjaannya memasak, bersih-bersih rumah, dan melayani kawan-kawannya. Dalam pencarian dirinya, Aripin sempat bergabung dengan kelompok keagamaan yang bergerak di bawah tanah.

Aripin tidak berhenti mencari. Di waktu luangnya, Aripin menjelajahi sejumlah perpustakaan di Bandung. Dalam penjelajahan itulah ia berkenalan dengan filsafat dan teologi. Buku-buku itu tidak sepenuhnya ia pahami, namun Aripin terus membaca. Pemikirannya menjadi terbuka, betapa dogma bisa membutakan. Sesama pemeluk agama bisa membunuh dan saling mengkafirkan hanya karena perbedaan aliran. (more…)

Sumber: Kompas.

Apabila saya masih hidup, bekerjalah seakan-akan saya sudah mati. Apabila saya sudah sudah mati, bekerjalah seakan-akan saya masih hidup.

Untaian kalimat ini selalu diingat dan disimpan dalam hati oleh dr Syafiq (62), Direktur Pusat Rehabilitasi Anak Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Solo, Jawa Tengah, saat pertama kali memutuskan bergabung dengan YPAC yang didirikan Prof Dr R Soeharso di Kota Solo.

Kala pertama membaca untaian kalimat yang terpampang di tembok depan Gedung YPAC itu pada tahun 1985, Syafiq dibuat penasaran dengan makna dari kalimat yang pernah diucapkan Prof Soeharso itu semasa hidupnya. Seiring dengan rasa penasarannya, Syafiq kemudian mendalami pemikiran dan konsep Soeharso tentang delabelisasi, peniadaan label kata cacat terhadap difabel (differently abled people, istilah pengganti penyandang cacat Red). (more…)

Sumber: Kompas.

I Ketut Sudarmada
d.a. Yayasan Agung Putri Bali
Desa Sanda, Kec. Pupuan, Kab. Tabanan, BALI
HP: 0819 166 08123

Membuat kaki palsu tidak seperti membuat sepatu. Prosesnya harus menuruti rasa dan hati. Perajinnya mirip pelukis atau pematung. Karenanya, jangan pernah coba-coba mencari kaki palsu seperti membeli baju yang bisa langsung dicoba ukurannya di sebuah toko.

Rentetan kalimat itu dilontarkan I Ketut Sudarmada (42), warga Desa Sanda, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Bali. Sudarmada sendiri juga seorang penyandang cacat tunadaksa. Pria berkacamata itu kehilangan betis kaki kanan akibat kecelakaan lalu lintas 20 tahun lalu. Namun, dia tidak berputus asa.

Bagi Sudarmada, cacat secara fisik apakah bawaan lahir atau akibat kecelakaan tidak boleh memudarkan motivasi. Cacat fisik justru harus menjadi pemacu semangat juang hingga mampu memperlihatkan kebolehan dengan keterbatasan yang ada. (more…)

Sumber: Kompas.

Hari pertama masuk sekolah, Senin (17/7) lalu benar-benar hari yang menyenangkan bagi siswa Sekolah Dasar Jarak Jauh Pesuruhan, Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Dikatakan menyenangkan, sebab setelah itu, anak-anak ketakutan masuk sekolah.

Sore hari selepas hari pertama itu, tsunami menghantam pesisir Nusakambangan yang berjarak kurang dari tiga kilometer dari sekolah mereka. Pantai Selatan Nusakambangan yang indah porak-poranda. Ribuan pohon tercerabut dan terempas ke pesisir. Belasan orang petani hilang, dan hektaran sawah penduduk di Nusakambangan puso akibat tertutup lumpur dan terendam air asin.

Meskipun sebagian besar warga tidak menyaksikan bagaimana ombak meluluhlatakkan pantai, mereka tetap ketakutan. Selama lebih dari dua hari warga tinggal di bukit-bukit Nusakambangan. (more…)

Sumber: Kompas.

Dalam sebuah on-line terbitan awal bulan kedua tahun ini, terbetik berita bahwa industri batik di Kota Yogyakarta dan sekitarnya semakin merosot dan kalah bersaing dengan batik pekalongan, solo, maupun cirebon. Diperkirakan, dari sekitar 1.200 unit usaha batik yang ada di Yogyakarta pada awal tahun 1970-an, kini tinggal 15 persen hingga 30 persen atau maksimal 400 unit.

Kemerosotan industri batik di Yogyakarta disebabkan berbagai faktor, antara lain motif yang tidak pernah berkembang, kurangnya kaderisasi pembatik, kalah modal, dan berganti ke jenis usaha lain.

Tak hanya di Yogyakarta. Gejala demikian merata terjadi di kabupaten lain di provinsi yang sama. Khusus di Kabupaten Gunung Kidul, dari 107 unit pembatik pada tahun 2003-2004 kini tinggal delapan unit. Ironis! (more…)

Sumber: Kompas.

Pupuan di Kabupaten Tabanan, Bali, terkenal dengan cuacanya yang sejuk dan pemandangan alam yang asri. Daerah yang berjarak sekitar 60 kilometer dari Kota Denpasar itu selain menjadi lumbung padi Bali juga menghasilkan kopi dan kakao.

Di tengah alam yang asri dan menyimpan kedamaian ini, ada sesosok lelaki yang mengabdikan dirinya untuk menangkarkan hewan langka seperti rusa, kijang, dan monyet ekor panjang.

Lokasi penangkaran milik I Ketut Karnita ini terletak di Banjar Bangsing, Desa Batungsel Kelod, Pupuan, Kabupaten Tabanan. Untuk menuju ke desa itu, dari jalan raya Denpasar-Gilimanuk, kita akan melalui jalan berkelok-kelok dengan pemandangan persawahan menghijau yang menggunakan sistem terasering (bangku) di kanan dan kiri jalan. (more…)

Sumber: Kompas.

Soetadi Prawoto mungkin lebih dikenal karena wataknya yang keras. Sekeras kegigihannya menyelamatkan pesisir selatan Gunung Kidul di DI Yogyakarta, saat penambang-penambang liar mengeruki ratusan ton pasir putih. Nyawanya pernah hampir melayang pada masa-masa itu.

Memang butuh waktu panjang untuk memperjuangkan sebuah keyakinan. Soetadi tahu betul bahwa berhadapan dengan para penambang liar pasir putih dari tahun 2000 hingga 2006 sama dengan mengundang konflik sosial.

Akan tetapi, ia tetap bersikeras pada pendirian bahwa ekosistem di kawasan pantai selatan akan semakin rusak apabila eksploitasi pasir putih terus berlanjut. Dengan menggandeng para pemuda karang taruna di desanya, Jepitu, Girisubo, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, para penambang liar itu pun diusir. (more…)

Next Page »