Sumber: Republika.

Suster itu sering harus menginap berhari-hari di rumah pasien. ”Karena, bagi saya, tidak ada artinya saya datang jauh-jauh kalau tidak ada hasilnya,” ujar Andi Rabiah (49 tahun), suster itu, kepada Republika, seusai menerima penghargaan Pejuang Penyelamat Ibu dan Generasi Penerus Bangsa dari DPP PKS di Jakarta, Kamis (21/12).

Maka, Suster Rabiah pun tidak akan pulang sebelum pasiennya sembuh. ”Daripada mereka ke dukun lebih baik saya tangani sampai sembuh,” ujar dia. Tapi, kalau kondisi pasien sudah tidak ada harapan, Rabiah menyampaikan apa adanya kepada keluarga agar keluarga pun pasrah.

Menjadi suster adalah cita-cita Rabiah sejak kecil. Namun, dia tidak menyangka akan menjadi suster apung. Dengan perahu sederhana, selama 29 tahun ibu empat anak ini menyeberangi laut dari satu pulau ke pulau lain. Kini wilayah kerja Rabiah meliputi satu kelurahan ditambah empat desa yang tersebar di 25 pulau di perbatasan antara Laut Flores, Laut Jawa, dan Selat Makassar.

Basecamp Rabiah selama ini di Puskesmas Liukang Tangaya di Pulau Sapuka, Kabupaten Pangkep (Pangkajene dan Kepulauan), Sulawesi Selatan. Setiap hari Rabiah mengarungi lautan luas dan ombak tinggi menuju pulau yang satu ke pulau yang lain. Jarak antarpulau ditempuh minimal tiga jam dan terjauh Pulau Kapoposan dan Pulau Sabaru selama 13 jam. ”Kadang saya pergi malam, besok baru sampai di pulau. Jadi, semalaman di lautan dengan perahu kecil,” ujar Rabiah.

Rute yang dipilih perempuan kurus ini tidak tentu. Semua itu tergantung ada atau tidak adanya perahu yang akan menuju ke suatu pulau. ”Kalau ada perahu, saya menumpang, tapi kalau tidak ada, saya harus menunggu sampai ada perahu akan ke pulau tertentu. Kalau ada pasien di pulau, biasanya menjemput saya dengan perahu,” papar Rabiah dengan logat kental Makassar. Menjadi suster apung sejak 1997, membuat Rabiah hafal jenis penyakit di setiap pulau. Ada pulau yang masyarakatnya menderita malaria, tifus, penyakit kulit, diare, TBC, dan kusta. Oleh karena itu, sebelum menuju pulau tertentu Rabiah sudah bisa memilih obat-obatan yang diperlukan, ditambah infus dan antibiotik.

Selama menangani pasien, perempuan berkerudung ini mengaku paling sulit berhadapan dengan persalinan. Rabiah tidak memiliki keahlian di bidang kebidanan. Fasilitasnya pun kurang memadai. Rabiah hanya mengandalkan infus dan obat-obatan. ”Alhamdulillah, selama ini semuanya bisa tertangani dengan selamat. Bahkan pernah ada yang melahirkan dengan placenta tertinggal, tapi selamat,” ujar Rabiah lega.

Untuk pasien yang harus dirujuk ke rumah sakit (RS), Rabiah pun mengantarkan sampai ke RS tujuan. Untuk pasien yang tinggal di pulau-pulau kawasan barat dirujuk ke rumah sakit di Sumbawa atau Lombok (NTB). Jaraknya sekitar enam jam mengarungi lautan. Kalau dibawa ke RS di Makassar, perjalanan di laut bisa mencapai dua hari dua malam. Sedangkan pasien yang berada di pulau-pulau sebelah timur dirujuk ke Makassar dengan waktu perjalanan satu hari satu malam memakai perahu kecil.

Mengarungi lautan lepas beratapkan langit, diterjang badai, ombak tinggi membasahi pakaian –dan kering kembali di badan– menjadi ‘hiburan’ sehari-hari. Lumba-lumba sering menjadi sahabat selama perjalanan. Ikan hiu, membuat nyalinya ciut, tapi belum ada kejadian yang mengkhawatirkan dengan ikan hiu.

Kecelakaan pernah ia alami di delapan bulan pertama ia menjadi suster apung. Saat itu perahunya hancur akibat ombak dahsyat. Dia terdampar di karang. Kayu pecahan kapal ia dijadikan kayu bakar untuk penghangat badan. Mencari bantuan dilakukan dengan melelehkan besi lalu ditulis di atas bekas tempurung penyu. Isi pesan singkat ‘Pelita Jaya terdampar sejak 6 Maret 1997 di Karangan Kapas’. Tempurung penyu lalu dihanyutkan.

Syukurlah ada nelayan yang membaca dan melaporkan ke kepala dusun. Hari ketiga, seharusnya Rabiah sudah bisa dievakuasi. Namun, cuaca yang tidak mendukung, mengharuskan dia menunggu sampai tujuh hari tujuh malam. Pengalaman serupa, kembali terjadi ketika Rabiah bersama perawat lain melaksanakan program PIN, di tahun 1997 pula. Dari pantai dia naik sampan kecil, lalu di tengah laut pindah ke perahu lebih besar. Di tengah perjalanan, sampan terbalik, semua penumpang berhamburan ke laut. Saat itu pukul 20.30 WIT. Rabiah jatuh dan menyelam entah sampai kedalaman berapa. Temannya pingsan, harus diangkut ke rumah kepala desa.

Perempuan kelahiran 29 Juni 1957 ini mengaku lega kalau pasien yang dirawatnya kembali sehat. Jasa Rabiah akan terus diingat keluarga pasien sampai kapan pun. Kehadirannya pun selalu di nanti-nanti masyarakat di setiap pulau. ”Mungkin kalau saya pindah ke darat atau kota, tidak dibutuhkan seperti di pulau. Makanya, saya ingin tetap di pulau,” tambah Rabiah, yang menjanda sejak 1990.

Suami Rabiah adalah kepala Puskesmas di Pulau Sapuka. Ketika suaminya meninggal, masyarakat khawatir Rabiah akan hengkang dari pulau. Masyarakat memohon-mohon agar Rabiah tidak pindah. Rabiah memang telah betah melayani msayrakat di pulau-pulau, sehingga dia harus menitipkan anak-anaknya sejak kecil kepada saudaranya di Pangkep. ”Yang bungsu, sejak umur delapan bulan sudah saya tinggal-tinggal, kadang sampai tiga bulan, enam bulan baru ditengok lagi,” kata Rabiah yang menggunakan Rp 1,7 juta gaji kotornya per bulan untuk biaya anak-anaknya.

Tinggal di pulau, kebutuhannya sudah tercukupi. Dari hasil kerjanya sebagai perawat, Rabiah sudah dua kali menunaikan ibadah haji. Tahun 1993, membayar setengah ONH, sedangkan sisanya ditanggung bupati. Setahun kemudian, berangkat lagi sebagai petugas kesehatan kloter (TKHI). Setelah 12 tahun berselang, Rabiah mengaku rindu ingin kembali berhaji. Namun, belum ada biaya.

Kini, Rabiah tengah mencari perahu yang memadai, bagaikan ambulans terapung. Wapres Jusuf Kalla memberinya bantuan Rp 200 juta. ”Yang penting, perahu itu harus cocok dengan Suharto,” ujar Rabiah menyebut jurumudi yang selama ini mengantarnya ke berbagai pulau.

Rabiah hendak melengkapi perahunya dengan handytalky (HT). Telepon satelit mahal biayanya, sedangkan telepon seluler tiada sinyal. HT bisa ditaruh di puskesmas, di perahu, dan di pulau. Pernah, ada yang menyumbang HT, tapi hanya satu buah. ”Bagaimana komunikasinya kalau hanya satu HT,” ujarnya polos. []