Sumber: Kompas.

Jangankan bepergian jauh. Mau pergi ke sawah saja Suryasim mengaku harus berpedoman pada urige atau warige. Dan tak hanya Suryasim (70). Umumnya warga Dusun Belencong, Desa Mumbulsari, Kecamatan Bayan, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, menjadikan urige atau kalender tradisional Lombok ini sebagai pedoman untuk segala aktivitas mereka.

Semua aktivitas yang dimaksud di antaranya adalah memulai kegiatan di sawah, berdagang, menagih utang, mencari barang yang hilang, menentukan acara perkawinan. Juga membangun rumah, kenduri, sehubungan dengan siklus hidup manusia.

Almanak tradisional itu berupa garis empat persegi yang digambar pada sebuah papan kayu. Gambar empat persegi itu dibagi menjadi enam kolom ke kiri-kanan serta lima kolom dari atas ke bawah. Kolom itu berisi simbol titik (naptu) yang jumlah dari satu sampai sembilan, tanda kali (X), namun ada pula kolom yang tidak terisi simbol/kosong (sung). Kolom dari kiri ke kanan berisi jumlah hari dalam seminggu, dibaca dari kanan mulai hari Jumat.

Sedangkan kolom dari atas ke bawah adalah penunjuk waktu. Penentuan baik-buruknya waktu dimulai atau dibaca dari bawah pada kolom penunjuk waktu yang terdiri sung (sepi—tidak terisi simbol), perang bakat (dilambangkan tanda X), kala (satu titik), lampan (mulai kerja, tiga titik) dan rame (ramai, enam titik).

Urige itu dilengkapi gambar penjuru mata angin. Fungsinya, suatu pekerjaan terpaksa harus dilakukan, maka agar pekerjaan tidak sia-sia, dicarikan strategi pelaksanaan melalui penjuru mata angin. Misalnya, memulai langkah pertama dari rumah diawali kaki kiri, atau melewati jalan tertentu yang tidak pernah dilalui orang banyak.

Mata angin itu dibaca berlawanan arah jarum jam dimulai arah kedatangan (barat, timur, dan seterusnya). Perhitungan dengan urige berpedoman pada tahun Hijriah, dan Penanggalan Sasak yang disebut Tahun Baluk seperti Tahun Alif, Ehe, Jimawal, Se, Dal, Be, Wau, dan Jimahir, yang masing-masing memiliki karakteristik iklim.

Tempat bertanya

Sedikit sekali orang yang bisa membaca dan menerjemahkan simbol-simbol dalam urige itu, Suryasim di antaranya yang dianggap pakar. Lelaki yang tidak pernah sekolah tersebut kini menjadi tempat warga bertanya berbagai hal terkait dengan kehidupan komunal dusun itu, karena hasil “telaah”- nya nyaris tidak pernah meleset.

Suatu saat ada satu keluarga yang punya hajat kenduri perkawinan, namun hampir tidak ada tamu yang menghadiri undangan. Masakan lauk-pauk dan penganan bakal hidangan para tamu pun menjadi basi. Padahal, “Saran saya, acaranya hari ini, pukul sekian. Tapi epen gawe (yang berhajat) keliru mendengar saran saya,” ucap suami Narsanom (41).

Kemampuan membaca urige didapat dari orangtuanya, Inarja (almarhum). Simbol-simbol dalam urige dipelajari puluhan tahun, apalagi dalam simbol urige —substansi dan pengamalannya—ada muatan sistem budaya setempat, selain nilai keislaman, seperti tertulis dalam Kitab Tajul Muluk dan Betaljemur. Pesan dan isi kitab-kitab itu banyak ditulis dalam naskah lontar.

Oleh karenanya, urige selain “dikuasai” para tokoh agama dan sesepuh adat, juga simbol dalam urige berkaitan dengan daur-hidup manusia, hubungan Tuhan dengan manusia, antarmanusia dan makhluk hidup. “Wet telu memang ada, bukan Islam wektu telu (mengerjakan tiga shalat dari lima yang diwajibkan), melainkan simbol bubur pute’ (putih), bubur bea’, dan maulid,” Suryasim mengatakan persepsi yang keliru tentang tradisi wetu telu di wilayah Kecamatan Bayan.

Simbol bubur putih, bubur merah, dan maulid (dilambangkan naptu tiga dalam urige), adalah simbolisasi darah dan sperma yang melengkapi kehidupan manusia sebelum kelahirannya (maulid). Naptu empat dalam urige melambangkan asal-muasal manusia dari air, tanah, api, dan angin, dan naptu lima (rukun Islam).

Apa yang terjadi pada tahun 2007? Suryasim melihat urige, konsentrasi sejenak, kemudian mengatakan, tahun ini jatuh pada Tahun Be, hari Jumat, naptu-nya enam (aras kembang). Artinya, curah hujan cukup tinggi namun kurang merata, ada serangan hama pada tanaman dan palawija, meski hasil panen cukup baik.

Meski punya keahlian, namun ayah dari delapan anak (dari dua istri) ini tetap hidup bersahaja. Tinggal di rumah gubuk, menggarap ladang seluas dua hektar, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota. Keterbatasan akses informasi dan transportasi, itu membuat ilmu urige-nya lestari dan menjadi pedoman warga menjalani kehidupan bertani.

Atas jasanya itu, Suryasim tidak menentukan tarif. “Lamun arak sedekah, tiang terima, lamun ndek arak, tiang ikhlas tulung sementon jari (jika ada sedekah, saya terima, bila tidak ada, saya pun ikhlas membantu saudara-saudara),” ujarnya. []