Sumber: Kompas.

Nurti Wijayanti (47) membuka dua tas besar, beberapa kotak kardus, serta lemari di ruang tamu dan ruang tengah rumahnya di Jalan Diponegoro 94 Pati, Jawa Tengah. Isinya bukan aneka benda berharga, melainkan ratusan lukisan dan berbagai hasil karya murid-murid sekolah taman kanak-kanak dari berbagai kota, khususnya Kelompok Bermain Aisyiyah 02 Pati.

Bagi Nurti, itulah salah satu koleksi dan barang yang tidak ternilai harganya. Hal ini disebabkan koleksinya itu mampu mengangkat dirinya menjadi juara pertama tingkat nasional lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran Tahun 2006 dan juga juara pertama lomba Karya Nyata Pendidik Pendidikan Anak Usia Dini tingkat nasional 2006.

“Bukan berarti saya bekerja dan berkarya hanya untuk mengincar juara dalam ajang perlombaan. Tetapi, saya sangat berharap pengembangan kreativitas merupakan pilihan utama bagi pendidikan nasional, terutama metode pembelajaran bagi anak usia dini (0-6 tahun) karena pada usia inilah saat menentukan kepribadian seorang anak,” tuturnya.

Nurti selama ini dikenal sebagai Kepala Kelompok Bermain Aisyiyah 02 Pati, dengan masa kerja 18 tahun. Ia mulai memperkenalkan metode belajar mengajar dengan media wayang beber dan wayang kardus secara terprogram sejak Agustus 2005-Mei 2006. Wayang beber adalah lukisan yang dibuat pada kain atau kertas yang dimainkan dengan cara membeber kain atau kertas.

Kenapa memilih wayang beber sebagai media peningkatan kreativitas? Menurut Nurti, yang pernah kuliah di Fisipol UGM, idiom wayang beber mengandung unsur menggambar atau melukis dan bercerita.

Bagi anak usia dini, menggambar atau melukis adalah media pengungkapan perasaan atau ketertarikan pada sesuatu, termasuk media kegiatan emosi, sehingga dapat dijadikan sarana merangsang kecerdasan emosional dan menumbuhkan kemampuan nonverbal.

Imaji luar biasa

Untuk konteks bercerita, Nurti lebih memilih tidak menyusun cerita yang kemudian diceritakan kepada anak didik. Nurti membiarkan mereka menyusun ceritanya sendiri, kemudian menceritakannya dengan media wayang beber kepada teman-temannya.

“Metode ini saya pilih karena sering terjadi kesalahan persepsi, khususnya di kalangan sebagian besar guru taman kanak- kanak yang cenderung memfokuskan kemampuan berbahasa dengan kemampuan membaca dan menulis saja,” tutur Nurti ibu tiga anak yang bersuamikan Anis Sholeh Shing. Seperti istrinya, Anis juga hidup berkesenian.

Pentingnya berkata-kata atau mampu berbicara dengan baik merupakan sarana agar anak mengetahui dan mengenal dirinya sendiri, mempunyai perasaan setara dengan teman sebaya, serta memperlancar proses belajar selanjutnya.

Untuk membuat wayang beber dibutuhkan bahan kertas koran, kertas semen, kain belacu berbagai ukuran (45 x 200 cm atau 100 x 200 cm) atau kain bekas berbagai variasi ukuran. Ditambah spidol, tinta hitam, cat sablon, cat arturo, cat tembok, dan konstruksi kayu atau bambu untuk memasang wayang.

Proses membuatnya, setiap anak diberi kesempatan menggambar bebas di atas kertas atau kain dan bebas memilih warna. Ketika sudah jadi, guru membantu memasangkan pada alat peraga dan selanjutnya dilakukan masing-masing anak. “Untuk memainkannya, setiap anak diminta bercerita dengan dibekali tongkat penunjuk gambar dan diiringi tetabuhan dari mulut atau alat yang ada,” ujar Nurti.

Perempuan bertubuh langsing ini bereksperimen dengan menyediakan baju, rompi, atau rok berbahan baku belacu, dengan ukuran disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Kemudian setiap anak menggambar atau melukis, mengenakan kain yang telah dilukis atau digambar serta menceritakannya.

“Busana hasil kreasi anak- anak tersebut sempat dipamerkan dan diperagakan sendiri dalam berbagai kegiatan. Tidak hanya itu, kami juga menyediakan sarung bantal, selimut, tas dengan bahan berharga murah,” ujar Nurti.

Bahkan, sebelum wayang beber, Nurti juga membuat wayang dari kardus. Diawali dengan menggambar pada kardus atau koran ukuran kecil dengan menggunakan spidol atau pastel. Lalu diguntingi sesuai gambar dan seorang guru membantu membuat dan memasang gapit yang terbuat dari bambu dan berfungsi sebagai penjepit.

Selanjutnya, wayang dari kardus itu dimainkan bagai seorang dalang wayang kulit yang tengah beraksi. Tentu saja dilengkapi layar, daun atau batang pisang, atau media lainnya yang berfungsi untuk ditancapi wayang kardus.

Seperti halnya proses pembuatan, dalam proses pementasan pada awalnya dengan cerita sederhana, kosakata terbatas, dan waktu bercerita singkat. Namun, akhirnya cerita bertambah kompleks, kosakata semakin beragam dan durasinya panjang.

Dengan metode belajar mengajar seperti itu, Nurti yang lahir di Magelang, 26 Maret 1960, ini dapat menyimpulkan, anak usia dini memiliki daya imaji yang luar biasa. Mereka mampu mengembangkan kecerdasan, kreativitas, cepat berinteraksi, kreatif berimprovisasi, kesadaran tentang orisinalitas yang begitu tinggi, dan terdorong setiap saat semakin kreatif.

Kardus bekas, wayang beber, wayang kardus, baju, rompi, sarung bantal, selimut, hingga tas koleksi Nurti itu terus bertambah banyak karena dengan predikat juara pertama lomba keberhasilan Guru dalam Pembelajaran dan lomba Karya Nyata Pendidik PAUD tingkat nasional 2006, undangan dari berbagai pihak dari luar kota Pati mengalir deras. []