Sumber: Kompas.

Kalangan ibu rumah di desa maupun di kota agaknya tidak perlu khawatir akan kesulitan minyak tanah untuk memasak. Alfy Chalidyanto (38) menawarkan bahan energi alternatif baru berupa kompor tanpa sumbu berbahan bakar pasta biji jarak pagar.

“Saya terinspirasi oleh dila jojor,” ujar warga Lingkungan Sukaraja, Barat, Kelurahan Ampenan Tengah, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dila jojor (obor suluh) biasa dinyalakan seminggu menjelang hari raya Idul Fitri, atau setelah 20 hari kaum Muslimin menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan. Lampu itu bahan bakunya dari biji jarak yang ditumbuk/digiling dan dicampur dengan buah jamplung. Hasil tumbukan itu dilekatkan pada rautan bambu sebagai bahan penerang bagi rakyat pedesaan pada masa lalu.

Menggiling biji jarak untuk bahan bakar kompornya kini tetap ditempuh Alfy, meski prosesnya ditambah, dengan menjemur biji jarak selama dua-tiga hari guna mengurangi kadar air dan getahnya, kemudian biji jarak digiling sehingga menyerupai pasta/odol. Biar kekentalannya terjaga dan kecepatan nyalanya (kapileritas) menyamai minyak tanah, pasta biji jarak ditambah dengan larutan tertentu berbahan alami yang dibuat sendiri oleh Alfy.

Pasta dalam tabung

Pasta itu dimasukkan dalam tabung kompor, yang memiliki tuas dan roda pendorong yang fungsinya membesarkan-mengecilkan nyala api kompor yang dilengkapi 16 lubang sumbu. Lewat lubang sumbu itulah pasta itu keluar-masuk jika tuasnya itu digerakkan. Seluruh bahan kompor tanpa sumbu itu dibikin dari barang bekas yang dibeli di pasar loak. “Pelat, seng, mur, baut saya potong dan las sendiri”.

Untuk menguji temuannya itu, Alfy mencobanya di rumahnya untuk memasak kebutuhan sehari-hari. Hasilnya, satu kilogram pasta jarak cukup untuk kebutuhan sehari, dan kompor tahan menyala empat sampai lima jam. Proses penelitian dan temuan formula itu berjalan selama September 2005 hingga Februari 2006.

Untuk memublikasikan formula dan kompornya, Alfy mengikuti pameran Teknologi Tepat Guna/TTG 2-6 September 2006 di Pontianak. Di situlah pejabat dari Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat Desa, tertarik oleh temuan Alfy. Seorang pejabat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral pun memediasinya dengan Recognition and Mentoring Program (RAMP) Indonesia, lembaga yang menyediakan biaya untuk penelitian, di Jakarta. RAMP sudah menyetujui proposal Alfy untuk dikaji lebih lanjut. Kini ia tinggal menunggu realisasi.

Atas karyanya itu, Alfy mendapat anugerah Teknologi Tepat Guna, kategori Penemu, yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi NTB. Ayah empat anak itu juga mendapat hadiah uang sebesar Rp 4,1 juta dari total hadiah yang diterima Rp 4,9 juta.

Pegawai negeri sipil

Mestinya, suami Dwi Susiani ini, menjadi pegawai negeri sipil, alias Tenaga Penyuluh Perikanan, mengingat dia lulusan Sekolah Menengah Pertanian Menengah Atas Mataram tahun 1987. “Setelah lulus saya sempat jadi tenaga honorer, selama tahun 1988. Tapi saya keluar karena lebih suka menjadi wiraswasta,” ujarnya.

Apalagi selama sekolah, anak pertama dari delapan bersaudara pasangan M Chalid-Lilik Musliha ini gemar berjualan, seperti menjual ikan laut di pasar. Dari situ, Alfy menangkap aspirasi rakyat kecil yang selalu mengeluhkan minyak tanah yang “kalau tidak harganya naik, maka selalu saja ada waktunya limit di pasaran”.

“Saya membuat kompor berikut formulanya karena tiap satu keluarga baru (menikah) pasti memerlukan kompor. Di sisi lain kita ini sedang menyiasati ketergantungan terhadap energi yang sumbernya kian terbatas,” ujarnya sungguh-sungguh.

Sambil berjualan kecil-kecilan di pasar dan membuka usaha sablon, Alfy terus mewujudkan obsesinya. Bahkan untuk membiayai penelitiannya, Alfy menjual sepeda motornya seharga Rp 8 juta. Upaya Pemerintah Provinsi NTB menggalakkan tanaman jarak pagar membuatnya semakin bersemangat. Sumber bahan bakar kompornya diberi merek Jipi Subayu. Jipi akronim dari jarak pagar, adapun Subayu kependekan dari kekuatan (su) dan angin (bayu).

Dia mengaku, kompornya masih perlu disempurnakan, terutama konstruksinya. Tuas pemutar tabung bahan bakar sebaiknya diletakkan di samping, bukan di bawah seperti saat ini. Malah ke depan kompor itu dibuat portabel, biar gampang dibongkar pasang sekaligus muda dibawa.

Diperkirakan, jika dijual di pasaran, per satu unit kompor harganya Rp 125.000, di luar harga pasta biji jarak Rp 1.500 per kilogram. Atau lebih murah dibanding harga kompor bikinan pabrik dari kualitas baik yang berharga di atas Rp 300.000 per unit. Kini Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bermaksud melakukan uji emisi hasil temuan Alfy. []