Sumber: Kompas.

Kematian tidak lagi ditakuti. Daripada hidup tanpa teman, lebih baik mati bersama-sama. Karena itulah Markam (52) berani menerjang lautan selatan pada musibah gempa yang diikuti tsunami, beberapa waktu lalu, demi menyelamatkan delapan temannya sesama nelayan.

Sesungguhnya sempat tebersit rasa gamang saat memutuskan menjemput para nelayan yang saat itu belum pulang karena masih di tengah laut berjarak sekitar dua mil dari rumah mereka di Pantai Gesing, Kecamatan Purwosari, Kabupaten Gunung Kidul. Warga begitu ketakutan ketika melihat air laut tiba-tiba surut lebih dari 100 meter, diikuti sebuah gelombang pasang. Namun, Markam segera memutuskan membawa kapal jungkungnya melaju ke tengah laut untuk mencari delapan nelayan yang menggunakan empat jungkung. Tak sampai satu jam, mereka seluruhnya berhasil mencapai tepian.

Jiwa pelaut tumbuh sejak Markam masih kecil. Pada usia 13 tahun, lelaki yang berasal dari Pantai Ayah, Gombong, ini sudah berani ke tengah laut seorang diri, menggunakan sampan. Bisa dibilang dia satu-satunya anak kecil yang sudah berani melaut tanpa bantuan nelayan dewasa. Hanya dua ekor ikan tenggiri yang dapat dia peroleh, dengan berbekal sebuah alat pancing biasa dan umpan pompong/selep. Namun, hasil tangkapan itu telah memacunya untuk membuat jaring sendiri sepanjang 30 meter dari bahan senar. Lalu, sampannya dipasangi layar dari jalinan kantong-kantong gandum.

Segalanya berlanjut dari hasil lihat-lihat. Mulai dari membuat jaring, menyiapkan umpan, hingga teknik melaut itu sendiri didapatnya dari melihat laku para nelayan setempat. Ayahnya yang bukan nelayan pada akhirnya mengetahui minat anak lelaki satu-satunya itu, lalu memberi uang supaya sampannya dibuatkan jadi kapal jungkung. Dengan demikian, kapal baru itu dapat dimuati dua orang. “Sejak saat itu saya bisa melaut bersama teman, tidak sendirian lagi. Senang rasanya,” ujar pria yang hanya sampai kelas III sekolah rakyat ini.

Markam dikenal sebagai salah satu nelayan ulung di Pantai Ayah. Hingga tahun 1982, ia mendapat tawaran Bupati Gunung Kidul, Provinsi DI Yogyakarta, untuk merintis pembukaan kawasan pesisir laut selatan menjadi pantai dilengkapi sarana pelelangan ikan. Ia pun berangkat bersama 15 nelayan setempat menuju Gunung Kidul, menggunakan kapal-kapal jungkung bermesin tempel.

Sempat bingung saat melihat begitu berbedanya budaya masyarakat pesisir Pantai Ayah dan masyarakat laut selatan Gunung Kidul yang mengandalkan penghidupannya dari bertani. Sama sekali tak ada kapal, bahkan perahu, di sepanjang pesisir. Minat masyarakat petani itu hanya suam-suam kuku saat diajari melaut. Namun, bersama para perintis, ia mengajari pembuatan kapal, jaring, maupun umpan. Lalu, cara menangkap ikan yang beragam jenis, cara menabur jaring di kedalaman yang berbeda, hingga cara memperbaiki dan menambal kapal yang bocor, atau menyulam jaring yang terkoyak oleh ikan.

Para nelayan perintis juga memamerkan hasil tangkapan mereka kepada petani-petani ini. Sedikit demi sedikit sejumlah orang tertarik. Mulai saat itulah diadakan pelatihan bagi para petani yang berminat menjadi nelayan. Mereka begitu tertarik saat melihat bermacam jenis jaring. Ada jaring bawal untuk menangkap ikan bawal, ciker (ikan), kanyut (udang cerbung), lingkaran, bentur (keong), hingga nilon (tenggiri besar). Jaring-jaring ini mampu menggaet berbagai jenis ikan, yang setelah dijual ternyata hasilnya sangat menguntungkan.

Saat mencapai 70-an nelayan baru di Kecamatan Tanjungsari, satu pantai kemudian dibuka pada tahun 1986, yaitu Pantai Baron. Pemerintah daerah setempat menyediakan fasilitas kapal-kapal baru untuk dimanfaatkan para nelayan.

Selanjutnya bukan lagi kerja yang sulit. Markam mulai terbiasa menghadapi para petani yang masih gagap menggunakan kapal jungkung. Namun, nelayan-nelayan baru terus berdatangan. Di beberapa lokasi sepanjang pesisir pantai pada Kecamatan Tanjungsari hingga Tepus, pemerintah meresmikan Pantai Sadeng, Pantai Ngrenehan, Pantai Drini, Pantai Siung, Pantai Sundak, dan Pantai Krakal. Markam dan para nelayan asal Gombong inilah yang merintis lahirnya nelayan-nelayan baru di Gunung Kidul. Bahkan, para nelayan di Pantai Sadeng kini memiliki kapal-kapal yang berukuran lebih besar sehingga mampu menjangkau perairan hingga keluar dari jalur satu (di atas empat mil).

Nama laut

Nama sebenarnya bukanlah Markam, namun Waluyo Adi Saputro. Para nelayan di Pantai Ayah-lah yang menamainya Markam, seperti halnya nelayan-nelayan lain yang juga punya nama laut. “Sampai sekarang saya juga tidak tahu apa artinya Markam. Pokoknya mereka panggil saya begitu, ya terima saja. Ini nama saya selama di laut, kalau di darat namanya Waluyo,” jawabnya.

Kini Markam memutuskan menetap di Pantai Gesing. Saat Pantai Gesing semakin ramai, termasuk adanya pendatang dari Cilacap, Gombong, dan Pacitan, tak sedikit pun ayah dari lima anak ini resah hasil tangkapannya akan menurun.

Markam kerap mengatakan kepada para nelayan setempat, asal berani menjelajah ke tengah, ikan di lautan sana tak habis-habisnya mencukupi penghidupan mereka. Karena itulah Markam begitu pasti dengan keyakinan: sawahku adalah laut. Inilah jiwa pelaut yang sesungguhnya. []