Sumber: Kompas.

Untuk membuang kenangan pilu masa lalu atas perceraian dengan pasangan hidupnya, Untung S Widodo memutuskan pindah dari Bogor dan tinggal di Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang, yang berada di sekitar lereng Gunung Merapi.

Di tempat itu, pendiri Balai Penelitian Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (BP GAKI) yang merupakan satu-satunya di Indonesia dan ditempatkan di Kecamatan Borobudur ini menghabiskan hari-harinya dengan menjalankan penelitian dampak kekurangan yodium pada manusia dan penanggulangannya.

Ia menjalankan penelitian dan eksperimennya selama 10 tahun, dari tahun 1994 sampai tahun 2004. Penelitian ini ia jalankan dengan bantuan dana dari Departemen Kesehatan yang membiayai studi doktoralnya di Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Gadjah Mada dan dari Dewan Riset Nasional, yang jumlahnya mencapai Rp 1 miliar. Penelitian dilakukan dengan model partisipasi-observasi. Ahli gizi lulusan program pascasarjana studi ilmu gizi dari Universitas Filipina ini ikut menetap di Srumbung hingga tahun 2000 untuk mengamati secara langsung obyek penelitiannya.

Riset ini berhubungan dengan manusia sehingga saya harus benar-benar mengamatinya. Apakah ada penyimpangan atau tidak. Kalau ada dampak negatif, meski itu bukan disebabkan dari kita, maka kita harus tetap cawe-cawe (ikut campur) karena mereka adalah sampel kita. Etikanya kan begitu, tutur pria kelahiran Madiun, Jawa Timur, 9 Maret, 51 tahun yang lalu itu.

Lebih dari 700 perempuan usia subur menjadi sampel penelitiannya. Menurut Untung, perempuan usia subur relatif lebih rentan mengalami kekurangan yodium. Kekurangan ini dapat berakibat fatal terhadap janin yang dikandung bila perempuan itu hamil. Antara lain, katanya, ibu yang kekurangan yodium dapat melahirkan anak down syndrome.

Riset seperti ini mungkin juga satu-satunya di dunia. Karena ia mengamati perkembangan perempuan usia subur sejak belum hamil, masuk fase hamil, sampai melahirkan. Sampel yang saya gunakan sebanyak 778 perempuan. Ini selalu saya pantau untuk membuktikan terapi yang saya lakukan ini memiliki pengaruh, tuturnya.

Sebelumnya, menurut Untung, banyak praktisi kesehatan maupun pemerintah menganggap gangguan akibat kekurangan yodium tak dapat disembuhkan. Namun, katanya, setelah mendalami ilmu gizi dan tumbuh kembang anak di Universitas Filipina dan selama berkarya di Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi di Bogor, ia membuktikan anak-anak kekurangan yodium dapat tumbuh normal melalui serangkaian terapi. Begitu juga dengan ibu hamil yang kekurangan yodium, mereka dapat melahirkan anak yang sehat.

Kekurangan yodium ini menurut Untung, yang juga aktif sebagai pengajar di Ilmu Kesehatan Masyarakat program Pascasarjana UGM ini, merupakan satu dari fenomena alam yang harus ditangani lewat intervensi pemerintah. Sebab, kadar yodium dalam tubuh hanya bisa disuplai dari kadar yodium yang disediakan dari alam. Seperti di Indonesia, katanya, endemik yodium terjadi di sejumlah kabupaten di 22 provinsi.

Ketemu jodoh

Dunia ini sudah tua sehingga kadar mineral yodium di dalam tanah itu semakin habis. Untuk mengembalikan dan memproduksi kadar yodium di dalam alam itu pun membutuhkan waktu yang lama sekali. Membutuhkan waktu jutaan tahun, paparnya.

Meski merasa kecewa terhadap kurangnya perhatian pemerintah terhadap pengadaan garam beryodium bagi masyarakat, kerjanya selama 10 tahun menjalankan penelitian dan eksperimen telah memberikannya semangat karena membawa hasil yang baik.

Ratusan anak di Kecamatan Srumbung dan Kecamatan Salam dapat tumbuh normal dan terhindar dari kretin atau kekerdilan akibat kekurangan yodium. Ratusan perempuan usia subur di kedua kecamatan itu, yang sebelumnya tak dapat hamil karena kekurangan yodium, dapat hamil dan melahirkan bayi yang sehat.

Berhasil membuat pulih ribuan orang kekurangan yodium lewat terapi yang dijalankannya di BP GAKI, Untung S Widodo yang sudah menduda selama 10 tahun lebih ini juga berhasil memperoleh jodoh kembali di balai penelitian yang didirikannya.

Ia bertemu seorang ibu dari anak penderita autis asal Tasikmalaya, Jawa Barat, yang datang ke BP GAKI untuk ikhtiar mengobati anaknya. “Dia itu sudah sendiri, tapi masih aktif di PKK untuk melakukan studi banding kesehatan dan juga mencari pengobatan yang tepat untuk anaknya yang autis. Kebetulan suaminya itu dulu juga Kepala Dinas Kesehatan di sana,” ungkap Untung.

Dari pertemuan itu, Untung melangsungkan pernikahan dua tahun yang lalu. Adapun anak istrinya yang menderita autis telah pulih dan dapat berinteraksi secara normal.

Pernikahan ini bisa berlangsung juga karena ibu itu sudah bersumpah. Kalau ada yang bisa mengobati anaknya sampai sembuh, maka bersedia dinikahi. Mungkin itu memang kehendak Tuhan dan saya pun sudah memiliki perasaan itu. Apalagi saya sudah duda, ujar Untung dengan senyum lebar. []