Sumber: Republika.

Pada mulanya ia menyaksikan kondisi penduduk di desanya, banyak yang tidak sampai tamat Sekolah Dasar (SD). Mereka umumnya anak-anak muda, berusia di bawah 25 tahun. Hanya sedikit di antaranya yang mampu mengenal huruf dan angka. Keseharian penduduk desa tersebut lebih banyak dihabiskan di sawah atau di tambak.

Saat itu, 2002, hanya bisa dihitung dengan jari penduduk desa ini yang tamat di perguruan tinggi. Itu pun, hampir semuanya bekerja di Jakarta, meninggalkan Cibeuteung Muara, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, tempat mereka dilahirkan. Kenyataan ini yang menggugah hati kecil A Tohawi Husnullah SH, salah seorang penduduk desa itu yang sudah mengenyam kuliah di perguruan tinggi.

Dia lalu mengumpulkan warga masyarakat yang tergabung dalam kelompok tani desa itu. Mereka bersama-sama membicarakan bagaimana bisa mengembangkan diri di bidang pertanian dan tambak ikan sesuai pekerjaan keseharian masing-masing. Mereka kemudian membentuk kelompok belajar usaha untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. ”Saya bilang, mari kita ubah nasib kita bareng-bareng,” tuturnya.

Dari sinilah dia memasukkan program pembelajaran. Tohawi mengajak anggota kelompoknya untuk belajar program Paket A (setara SD) dan Paket B (setara SMP). Semula terkumpul sekitar 40 buruh tani untuk ikut dalam program ini. Di dekat persawahan dibuat pondok untuk tempat belajar, selain di rumah tempat tinggalnya. Kegiatan tersebut bernaung di bawah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Kopses yang diketuai Tohawi.

Pembelajaran diselengarakan dua kali sepekan. Setelah sekitar 6 bulan proses belajar mengajar berlangsung, hasilnya sudah mulai tampak. ”Dari 40 orang yang ikut, ada 60 persen bisa membaca dan berhitung. Sekitar 30 persen yang masih meraba-raba,” ujarnya. Anggota yang sudah bisa membaca atau menghitung, mengajari temannya yang belum tahu. Peserta pun bertambah yang semula 40 orang, menjadi 85 orang. Bahkan, kata Tohawi, ada yang sudah berusia 50 tahun, ikut belajar bersama dua anaknya.

Pembelajaran diselenggarakan, disesuaikan dengan keseharian warga belajar. Membaca, misalnya, pelajaran ini senantiasa dikaitkan dengan hal-hal yang berhubungan dengan pertanian. Semua aktivitas dilakukan tanpa memungut biaya. Gratis. ”Kalau berbau duit, bubar,” katanya. Untuk itu, dia harus merogoh kocek, membiayai proses pembelajaran, seperti menyediakan buku atau pensil.

Tak urung, kegiatan yang diselenggarakan Tohawi sempat mengundang kecurigaan. ”Saya pernah difitnah, katanya dapat dana Rp 50 juta,” tuturnya. Tapi setelah ditelusuri, tuduhan itu tidak benar. Bahkan buntutnya, kata dia, seorang aparat pemerintah yang ikut-ikutan menyebarkan kabar tak benar itu dipindahtugaskan ke tempat lain. Lalu, apa sebenarnya yang kau cari Tohawi? ”Saya ingin selamat dunia akhirat,” ucapnya.

Sebelum ikut membina masyarakat desa, lelaki kelahiran 2 November 1971 ini sudah merasakan bekerja di berbagai tempat dengan penghasilan yang lumayan. Selain di kontraktor, dia mengaku pernah menjadi pengacara. Tapi, penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan itu, kerap tidak membuat batinnya tenang. ”Saya berhenti karena tidak ada ketenangan jiwa,” ujar penerima penghargaan Pemuda Pelopor

Setamat dari SMA di Bogor, ia memperoleh kesempatan membaca doa dalam sebuah acara di MPR. Masa itu, ia temasuk aktivis Pramuka. Usai membacakan doa, tak ia nyana, seseorang menghampirinya. Dia kemudian ditawari kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia (STHI) di Jakarta. Karena ikut membantu-bantu, dia tidak bayar uang kuliah.

Berbekal ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi ini membawanya menjadi pengacara dan sempat bekerja di kontraktor. Tapi, itu tadi, pekerjaan tersebut tidak membuat batinnya tenang. Dia akhirnya kembali ke daerah asalnya di Cibeuteung Muara, ikut membina masyarakat desa dan menjadi ketua PKBM/P4S Kopses.

Kini, warga belajar binaannya sudah ada yang menamatkan pendidikan program Paket setelah mengikuti ujian. Dari 25 peserta Paket A yang ikut ujian, 17 dinyatakan lulus. Selain itu, 17 peserta program Paket B yang ikut ujian, 12 di antaranya yang lulus. Aktivitas yang dilakukan itu, justru membuat hatinya merasa lebih tenang.

Pangabdian kepada masyarakat, boleh jadi, memang sudah panggilan jiwanya. Buktinya, ”Tahun 1992 saya mendapatkan penghargaan sebagai Pemuda Pelopor dari Presiden Soeharto,” tuturnya. []